LOGIN"Apa kalian saling kenal?" tanya Evelyn penasaran.
Dahinya sedikit mengernyit dan Evelyn memandang ke arah Valerie dan Ethan secara bergantian. Sedangkan kedua orang itu masih terkejut karena keberadaan satu sama lain. Beberapa detik kemudian, Ethan menghela napas pelan. Lalu, ia kembali berjalan menghampiri meja makan. "Iya, Nek," jawab Ethan. Ia menarik kursi yang berada tidak jauh dari Evelyn, lalu duduk dengan santai. "Kami sempat bertemu beberapa hari yang lalu," lanjut Ethan. Evelyn tersenyum tipis. "Oh, ya? Di mana?" "Di minimarket." Tatapan Ethan beralih ke arah Valerie. "Waktu itu ada sedikit masalah, terus dia bantu aku." Valerie menggeleng pelan. "Saya tidak melakukan sesuatu yang istimewa." "Meski begitu, kamu udah bantu," tutur Ethan. Evelyn memandang Valerie dengan senyum yang semakin hangat. "Kalau begitu, berarti bukan cuma Nenek yang pernah ditolong sama kamu." Valerie tampak bingung. Sedangkan Evelyn hanya tertawa kecil melihat ekspresi Valerie. "Maksud Nenek?" tanya Ethan dengan kening berkerut. "Kamu masih ingat waktu Nenek pingsan di taman 'kan?" tanya Evelyn. Ethan menganggukkan kepalanya perlahan. Evelyn menoleh ke arah Valerie. "Gadis ini yang sudah membantu dan membawa Nenek ke rumah sakit waktu itu." Alis sebelah kanan Ethan sedikit terangkat. "Oh ya?" "Iya," jawab Evelyn, sambil mengangguk mantap. "Dokter bilang, kalau dia tidak bergerak cepat mencari bantuan dan membawa Nenek ke rumah sakit, mungkin keadaan Nenek waktu itu akan jauh lebih buruk." Ethan kembali memandang Valerie. Kali ini tatapannya sedikit berbeda. Bukan kagum, tapi lebih seperti heran. Valerie tersenyum tipis. "Itu hanya kebetulan, Bu." "Tidak semua orang mau repot membantu orang asing, Nak," ujar Evelyn lembut. "Makanya Nenek sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu lagi dengan kamu." Valerie tersenyum tipis. "Saya hanya melakukan apa yang menurut saya memang seharusnya dilakukan." Evelyn tersenyum puas mendengar jawaban itu. "Makanya Nenek semakin yakin kalau kamu memang anak yang baik." Lalu, ia menunjuk kursi kosong di samping meja. "Ayo, duduk sebentar. Anggap saja kamu sedang menemani Nenek makan." Valerie tampak ragu. "Maaf, Bu. Tapi saat ini saya masih bekerja." "Tidak apa-apa. Kamu nggak usah takut," ucap Evelyn sambil melirik ke arah pintu. "Nanti kalau supervisor kamu tanya, biar Nenek yang jelasin ke dia." Valerie masih terdiam beberapa saat. Setelah ia kembali mengingat dan meyakini kalau tidak ada lagi yang perlu dilakukan untuk sementara waktu, akhirnya ia menganggukkan kepala perlahan. "Kalau begitu, baiklah," jawab Valerie. Ia menarik kursi, lalu duduk dengan posisi yang tetap tegak dan sopan. Evelyn memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali membuka percakapan. "Ngomong-ngomong, siapa nama kamu?" Jantung Valerie berdetak sedikit lebih cepat. Nama Valerie Onderson jelas tidak mungkin ia gunakan saat ini. Ia tersenyum tipis. "Serena, Bu." "Serena," ucap Evelyn, seraya mengulang ucapan Valerie. Lalu, Evelyn mengangguk pelan, seolah sedang menyimpan nama itu dalam benaknya. "Nama yang bagus." "Terima kasih," jawab Valerie. Evelyn kembali bertanya,"Kamu masih kuliah?" "Iya, Bu," jawab Valerie. "Jurusan apa?" tanya Evelyn lagi. "Manajemen bisnis, Bu." Evelyn tampak cukup kaget. "Wah! Berarti, kamu kerja sambil kuliah?" "Iya, Bu," jawab Valerie. "Jadwal kamu gimana? Apa nggak terlalu padat?" tanya Evelyn, penasaran. Valerie menjawab dengan tenang. "Lumayan, Bu. Kalau hari kerja, pagi sampai sore saya bekerja di minimarket. Lalu setelah itu, saya langsung ke restoran ini untuk kerja paruh waktu sampai malam." "Sedangkan saat akhir pekan, saya kuliah dari pagi sampai sore. Setelah kuliah selesai, saya langsung masuk kerja di restoran seperti biasa." Ruangan mendadak hening. Evelyn menatap Valerie beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Ethan yang sejak tadi lebih banyak diam pun, ikut menoleh ke arah Valerie. Evelyn akhirnya menggelengkan kepala. "Kamu hampir tidak punya waktu untuk istirahat, Serena." Valerie tersenyum kecil. "Untuk itu, saya masih bisa atur, Bu." "Benar. Tapi tetap saja semua yang kamu jalani itu sangat melelahkan," tutur Evelyn. Valerie menganggukkan kepalanya perlahan. "Awalnya memang iya. Tapi sekarang, saya sudah mulai terbiasa." Evelyn menghela napas pelan. "Anak seusiamu seharusnya masih punya banyak waktu untuk menikmati hidup." "Setiap orang punya keadaan dan situasi yang berbeda, Bu," ucap Valerie sambil tersenyum tipis. Jawaban itu membuat Evelyn terdiam. Lalu, ia melirik ke arah Ethan yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir miliknya sendiri. Selama ini, cucunya memang memiliki seorang manajer yang mengurus jadwal pekerjaan dan kontrak. Namun, Ethan tidak pernah memiliki seseorang yang mendampingi untuk membantu. Padahal, jadwal Ethan sangat padat setiap harinya. Evelyn kembali memandang Valerie. Tatapan itu perlahan berubah, seolah sebuah ide baru saja muncul di dalam kepalanya. Ethan yang sedang mengangkat cangkir teh perlahan menghentikan gerakan karena melihat senyuman penuh arti dari tatapan Evelyn tadi. Entah mengapa, firasat Ethan tiba-tiba mengatakan bahwa pertanyaan neneknya kali ini tidak akan sederhana. Evelyn tersenyum lembut. "Serena, apa kamu pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain?" Valerie tampak sedikit bingung. "Pekerjaan lain?" Evelyn menganggukkan kepala perlahan. "Iya. Semisal ada pekerjaan dengan jam kerja yang lebih teratur dan penghasilan yang lebih baik, apa kamu bersedia mempertimbangkannya?" Valerie sedikit terkejut, namun ia tetap menjawab dengan tenang. "Jika memang pekerjaan itu baik dan aman, mungkin saya akan mempertimbangkan, Bu." "Oke. Kalo gitu, Gimana kalo kamu bekerja untuk Ethan?""Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







