Masuk"Bekerja dengan Pak Ethan?" tanya Valerie pelan.
Tadi, ia sempat membeku selama beberapa saat. Sebelum akhirnya menatap Evelyn, untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar. "Iya," jawab Evelyn sambil tersenyum. "Bagaimana menurut kamu?" Belum sempat Valerie memberikan jawaban, Ethan sudah lebih dulu angkat bicara sambil mengerutkan kening. "Sebentar, maksud Nenek apa?! Dia mau bekerja sebagai apa?!" Nada suara Ethan terdengar tenang. Namun tetap tegas. Evelyn menoleh ke arah cucunya seolah pertanyaan itu sudah ia duga sejak awal. "Sebagai asisten pribadi kamu." Ethan langsung menggeleng kepala perlahan. "Nggak perlu! Aku bisa urus semua sendiri, Nek!" Meski mendengar jawaban itu dari Ethan, Evelyn tetap terlihat tenang. "Betul. Tapi, bukan berarti kamu harus mengerjakan semua sendirian terus, Ethan." "Iya. Dan perlu Nenek ingat, aku sudah punya manajer!" "Manajer hanya mengurus jadwal pekerjaan, kontrak, dan urusan dengan agensi." Evelyn meletakkan cangkir teh perlahan sebelum akhirnya melanjutkan. "Tapi, siapa yang memastikan kebutuhan kamu sehari-hari? Yang memastikan kamu sudah makan dengan baik, mengingatkan barang-barang yang harus kamu bawa dan memastikan semua kebutuhan sudah tersedia setiap saat?!" Ethan tidak langsung menjawab. "Tapi, Nek!" "Kamu terlalu sering pulang larut malam, berangkat sebelum matahari terbit, pulang dini hari, dan mengulang rutinitas yang sama setiap harinya. Saat ini kamu masih muda, jadi belum ada dampak yang terlihat Ethan." Tatapan Evelyn berubah menjadi lembut. "Nenek hanya ingin kamu sehat. Tidak terlalu lelah dan beban kamu sedikit berkurang, Ethan." Valerie yang berada di antara keduanya hanya duduk diam tidak memberikan komentar apapun. Karena sebenarnya, ia merasa tidak pantas ikut masuk ke dalam pembicaraan keluarga mereka. Meski demikian, mau tidak mau karena ia duduk di sana, dia harus mendengar semua itu. Beberapa saat kemudian, Ethan kembali bersuara. "Aku tetap merasa belum butuh, Nek." "Kamu belum coba, Ethan!" ucap Evelyn, sambil tersenyum tipis. "Lagipula, kalau nanti ternyata memang tidak cocok, kamu masih bisa evaluasi pekerjaan Serena." Ethan menghembuskan napas pelan dan memijat pelipisnya perlahan. "Nenek terlalu berlebihan." Evelyn menggeleng pelan. "Itu hanya perasaan kamu aja. Lagi pula, Nenek sudah lihat sendiri tadi gimana Serena bekerja. Dia cekatan, sopan, dan bisa dipercaya." Ethan mengikuti arah pandangan Neneknya. Tatapannya kembali bertemu dengan Valerie. Gadis itu masih duduk dengan kedua tangan bertumpu rapi di atas pangkuannya. Wajahnya tampak tenang meski jelas ia sedang merasa canggung. Setelah beberapa saat berpikir, Ethan akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah kalau begitu. Tapi, aku menerima dia murni hanya karena permintaan Nenek." Evelyn mengangguk pelan, sudut-sudut bibirnya tertarik cukup lebar membentuk senyuman. Lalu, ia kembali menatap Valerie. "Kalau begitu, sekarang giliran kamu. Bagaimana pendapat kamu, Serena?" Valerie terdiam sejenak. Ini benar-benar di luar dugaan. Padahal semalam, ia masih memikirkan bagaimana cara menambah penghasilan agar bisa bertahan hidup. Dan hari ini, seseorang yang baru ia kenal malah menawarkan pekerjaan baru. Meski begitu, ia tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah. Valerie menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Jujur, saya belum pernah bekerja sebagai asisten pribadi, Bu." "Itu bukan masalah besar. Karena, kamu bisa bertanya dan pelajari semua secara perlahan, Serena." Valerie terdiam sesaat. Sedangkan Evelyn kembali berbicara dengan suara yang lembut. Evelyn tau kalau Serena tidak akan menerima pekerjaan tersebut begitu saja. "Kalau kamu bekerja dengan Ethan, kamu tidak perlu lagi membagi tenaga di dua tempat. Kamu juga akan punya waktu yang cukup untuk istirahat." "Dan yang paling penting, kamu bisa lebih fokus menyelesaikan kuliah." Ucapan itu tepat mengenai sasaran. Valerie benar-benar merasa sangat lelah karena harus berpindah dari minimarket ke restoran setiap harinya. Tubuh Valerie memang sudah mulai terbiasa, tetapi rasa lelah itu tidak pernah benar-benar hilang. Selain itu, meski biaya kuliah sudah ditanggung asuransi, ada banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan atau sekedar duplikat buku. Terlebih, ia juga masih harus bayar hutang mendiang orang tua Serena dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga Tantenya. Melihat Valerie masih berpikir, Evelyn kembali berkata, "Kamu tidak perlu khawatir soal penghasilan. Karena saya bisa pastikan gajinya jauh lebih baik dibanding dua pekerjaan yang kamu jalani sekarang." Ethan hanya melihat dan mendengar sambil makan makanan yang ada dihadapannya. Ia sama sekali tidak berniat untuk ikut bicara. Kemudian, Evelyn membuka tas tangan dan mengambil ponsel yang tergeletak di dalamnya. Evelyn tersenyum kecil. "Kalau begitu, boleh Nenek minta nomor rekening kamu? Anggap saja sebagai uang muka gaji. Agar kamu tidak perlu khawatir dengan kebutuhan beberapa hari ke depan." "Maaf, Bu. Saya belum mulai bekerja. Jadi, saya rasa belum pantas untuk menerimanya." "Betul. Meski begitu, Nenek yakin kamu pasti punya banyak kebutuhan. Jadi sesuai yang Nenek bilang tadi, uang muka ini akan diperhitungkan sebagai bagian dari gaji pertamamu." Valerie masih terdiam sesaat, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, Bu." Ia memberikan nomor rekeningnya kepada Evelyn. Dan Evelyn segera mentransfer sejumlah uang ke rekening Valerie. Tak lama kemudian, ponsel Valerie bergetar. Notifikasi transfer masuk membuat matanya membelalak karena jumlah yang diberikan cukup fantastis. "Terima kasih, Bu," ucap Valerie. "Sama-sama," jawab Evelyn lembut. "Jadi, mulai besok kamu akan bekerja dengan Ethan ya." Valerie kembali mengangkat wajahnya. "Besok, Bu?""Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







