เข้าสู่ระบบ"Iya. Kamu harus sampai sana sekitar jam lima pagi untuk mengurus semua keperluan Ethan. Tidak masalah, kan?" tanya Evelyn.
Valerie terdiam sejenak lalu berkata pelan, "Tidak. Hanya saja jika Ibu mengizinkan, besok pagi saya ingin mengurus pengunduran diri dari pekerjaan saya di minimarket terlebih dahulu. Setelah itu, saya akan langsung menuju rumah Pak Ethan." "Saya pastikan tidak akan memakan waktu lama," lanjut Valerie. Evelyn tersenyum kecil dan kembali melihat ponsel yang masih ada di tangan. "Baiklah. Kalau begitu, tolong berikan nomor telponmu." Valerie segera menyebutkan nomor ponsel. Sedangkan Evelyn, langsung menyimpan nomor telpon dan mengirim pesan singkat. "Itu nomor Nenek. Sekaligus nomor telpon dan alamat lengkap rumah Ethan. Kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, kamu bisa langsung hubungi Ethan," ucap Evelyn, sambil melihat ke arah Ethan. Sedangkan Ethan, masih tidak perduli. Ia lebih memilih fokus dengan makanan kesukaannya. Karena sejak terbangun tadi pagi, ia belum sempat makan apapun. Valerie menganggukkan kepala. Jujur, ia masih belum bisa percaya kalau dalam satu malam, hidup yang ia jalani bisa berubah dengan cepat. Beberapa saat kemudian, Valerie bangkit dari kursi. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu, Pak. Masih ada beberapa pekerjaan yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu." Evelyn menganggukkan kepala perlahan. "Iya. Terima kasih sudah menemani Nenek, Serena." "Sama-sama, Bu. Sebenarnya, saya yang seharusnya berterima kasih karena Ibu sudah bermurah hati." Valerie membungkukkan badan dengan sopan kepada Evelyn, kemudian mengangguk hormat kepada Ethan sebelum melangkah ke luar dari ruang VIP. Sesaat setelah pintu tertutup, Valerie mengembuskan napas panjang dan tersenyum kecil. Ia berfikir kalau ini mungkin akan menjadi awal kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Valerie kembali berjalan menuju area restoran. Suasana di sana jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Beberapa pelayan terlihat sibuk mengantarkan pesanan, sementara suara peralatan makan sesekali terdengar dari arah dapur. Setelah itu, ia segera kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Hingga menjelang jam operasional berakhir, seluruh pekerja akhirnya mulai merapikan restoran. Valerie mengembalikan baki terakhir ke dapur sebelum menghampiri seorang pria yang sedang memeriksa laporan penjualan harian. "Permisi Pak Dion," panggil Valerie. Dion sedikit mengangkat kepala. "Iya, Serena. Ada apa?" Dengan tatapan lurus ke arah Dion, Valerie kembali bicara, "Ada yang ingin saya sampaikan, Pak." 'Tidak seperti biasanya Valerie menghampiri aku seperti ini,' batin Dion. Ia menutup map yang sedang dipegang secara perlahan dan melihat ke arah Valerie untuk bisa fokus mendengarkan. Valerie menghembuskan napas pelan. "Saya mau mengundurkan diri, Pak. Dan hari ini, adalah hari terakhir saya bekerja." Dion tampak sedikit terkejut. "Hari terakhir?" "Iya, Pak," jawab Valerie sambil menganggukkan kepala. "Kenapa mendadak sekali, Serena?" tanya Dion dengan kening berkerut. "Saya baru saja mendapat pekerjaan, Pak Dion," jawab Valerie. Dion memperhatikan Valerie selama beberapa saat. "Apa pekerjaan itu gajinya lebih baik dibandingkan dengan restoran ini?" Valerie mengangguk pelan. "Iya, Pak." Ekspresi Dion perlahan melunak. "Kalo begitu, saya ikut senang. Terima kasih ya, selama ini kamu sudah bekerja dengan sangat baik." Valerie tersenyum tipis. "Saya juga berterima kasih karena sudah diberi kesempatan bekerja, Pak." Dion menganggukkan kepala. "Terkait upah untuk bulan berjalan, akan dibayarkan pada akhir bulan seperti biasanya." "Kalau nanti sudah ditransfer, saya akan menghubungi kamu." "Baik. Terima kasih, Pak." Dion mengulurkan tangan. "Semoga sukses di tempat kerja yang baru." Valerie menjabat tangan atasannya dengan sopan. "Terima kasih banyak, Pak." Setelah berpamitan kepada atasan dan beberapa rekan kerja yang masih berada di restoran, Valerie mengambil tas dan meninggalkan tempat itu. *** Keesokan harinya, matahari bahkan belum meninggi, ketika Valerie sudah berdiri di depan kantor pusat minimarket tempat ia bekerja. Map berisi surat pengunduran diri sudah berada di tangan kanan. Dan, setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi yang diperlukan, Valerie keluar dari ruang personalia dengan perasaan lega. Karena kini, ia benar-benar telah resmi mengundurkan diri. Karena kantor dan toko tempat ia bekerja sebelumnya tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, Valerie berpikir untuk mampir sebentar ke toko sebelum ia pergi ke rumah Ethan. "Pagi, Bianca!" panggil Valerie. Bianca menoleh ke arah Valerie. Sedangkan Valerie berjalan mendekati Bianca di meja kasir. "Pagi. Kok kamu belum pake seragam? bukannya hari ini kamu masuk pagi, bareng aku?!" tanya Bianca sambil mengerutkan kening. Valerie tersenyum kecil. "Aku sudah tidak bekerja di sini lagi, Bianca. Aku cuma mampir sebentar." Bianca sedikit mengernyit. "Loh, kenapa emangnya?" Valerie tersenyum kecil. "Tadi, aku sudah datang ke kantor untuk mengundurkan diri." Mata Bianca langsung membulat. "Hah? Serius? Kok tiba-tiba banget." Valerie mengangguk pelan. "Iya. Semalam, aku dapat pekerjaan baru." Bianca masih tampak belum percaya, namun ia tetap memberikan senyum terbaik untuk memberi semangat kepada Valerie. "Wah, selamat ya." "Terima kasih." Karena minimarket masih sepi pelanggan, Bianca ke luar dari meja kasir dan menyenggol pelan lengan Valerie. "Emang kamu kerja di mana sih?! Aku jadi penasaran." Valerie terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. "Di rumah Ethan Miller." Bianca mengedipkan mata beberapa kali. "Ethan Miller? Artis terkenal yang sedang naik daun itu?!" Valerie menganggukkan kepala perlahan. "Betul, ceritanya panjang. Aku akan cerita lain kali. Sekarang, aku harus segera pergi ke rumah dia." "Aku tidak mau Ethan berubah pikiran dan memecat aku begitu saja." "Tapi, Ser.." Valerie menggelengkan kepala. Seolah menyatakan kalau ia tidak punya waktu lebih. Akhirnya, meski Bianca sangat penasaran, ia terpaksa harus mengurungkannya dan berakhir dengan menghembuskan napas pelan. "Baiklah kalo begitu. Tapi ingat, kamu janji untuk menceritakan semua nanti!" "Siap," jawab Valerie. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu ke luar. Dengan mata berbinar dan senyum tipis, Bianca bertanya, "Oh ya, rumah Ethan di mana, Ser?""Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







