LOGIN"Maaf, aku nggak bisa kasih tahu," jawab Valerie, akhirnya.
Setelah ia menoleh ke arah Bianca dan menahan pintu yang sudah terbuka. Bianca mengerutkan kening. "Emangnya kenapa?" "Kalau aku kasih tahu, kamu pasti bakal datang buat lihat Ethan. Terus kalau sampai ketahuan dan mengganggu aktifitas dia, pasti aku yang akan kena batunya." Bianca langsung tertawa kecil. "Emang, bisa ketahuan ya?" Valerie menggedikkan bahu pelan. "Bisa saja, kan? Masa depan tidak ada yang tahu, Bi." 'Seperti sekarang. Bisa-bisanya aku berada dalam tubuh perempuan ini!' batin Valerie. "Ya ampun, Ser... Kamu serius amat sih?! Aku kan cuma pengen liat Ethan dari jauh...," tanya Bianca, seraya memohon kepada Valerie. Dengan cepat, Valerie menggelengkan kepala. "Lain kali saja! Kalau memang ada kesempatan, pasti akan aku kasih tau. Untuk sekarang, aku benar-benar harus pergi." Bianca menghembuskan napas pelan dan mengangkat kedua tangan, seolah menyerah dengan permintaan tadi. "Baiklah! Hati-hati, di jalan!" "Iya," jawab Valerie. Ia melangkah ke luar, lalu menutup pintu minimarket perlahan. Setelah itu, Valerie mengambil ponsel dari dalam saku dan memesan ojek online. Sekitar tiga puluh menit kemudian, ojek yang ditumpangi Valerie berhenti di depan sebuah rumah mewah. Ia segera turun dan memeriksa kembali alamat yang dikirim Evelyn semalam. "Benar, ini rumahnya," gumam Valerie. Ia berjalan menuju pos keamanan. Setelah petugas memastikan identitas yang ia miliki dan telah dikonfirmasi rumah utama, gerbang besar itu pun dibuka. Valerie melangkah memasuki halaman rumah yang luas. Tatapannya sempat berkeliling mengamati kediaman megah tersebut sebelum ia lanjut berjalan menuju pintu utama. Belum sempat Valerie mengetuk pintu, seorang pembantu rumah tangga telah lebih dulu membukakan. "Selamat pagi. Apa anda Nona Valerie?" tanya pembantu itu dengan nada sopan. Saat Valerie baru membuka mulut, suara langkah kaki yang terburu-buru langsung terdengar. Ethan muncul dari ruang tengah sambil membawa sebuah tas besar di tangan kanannya. Sekilas ia melirik Valerie, lalu mengangguk tipis. "Oh, kamu dateng juga! Niat kerja nggak sih?!" "Selamat pagi, Pak Ethan. Maaf saya datang terlambat. Saya..." Tanpa banyak basa-basi, Ethan melihat jam yang ada di tangan kanan dan memotong ucapan Valerie. "Waktu kita nggak banyak! Cepat, ikuti saya!" Valerie mengangguk pelan. "Baik, Pak." Ethan menaiki tangga menuju lantai dua, sementara Valerie mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara. Langkah mereka berhenti di depan sebuah kamar berukuran besar. Ethan membuka pintu, lalu masuk lebih dulu. "Ini kamar saya." Valerie kembali mengangguk. Matanya menyapu seluruh ruangan yang tertata rapi dengan nuansa elegan. Ethan kemudian mengarahkan telunjuk ke sebuah pintu di sisi dalam kamar. "Di balik pintu itu ada ruangan khusus! Semua pakaian, sepatu, tas, jam tangan, aksesori, dan perlengkapan pribadi saya ada di sana. Mulai sekarang, semua itu menjadi tanggung jawab kamu!" "Baik, Pak," jawab Valerie, singkat. "Oke. Saya cuma bisa jelaskan sekilas." Ethan kembali melirik jam tangan. "Untuk jadwal kerja, manajer saya yang akan jelaskan nanti. Pembantu rumah juga akan memberi tau semua aturan di rumah ini." "Kalau ada yang belum jelas, langsung tanya mereka," lanjut Ethan. "Siap, Pak." Ethan membuka tas besar yang ia bawa tadi. "Siapkan pakaian ganti, pakaian olahraga, dan perlengkapan pribadi saya. Setelah itu, masukkan ke dalam sini. Untuk kostum syuting sudah ada di lokasi." "Baik." Valerie segera bekerja. Gerakannya cepat dan rapi. Meskipun baru pertama kali melakukan hal itu, pengalaman mengurus pakaian mewah saat masih menjadi permaisuri membuat Valerie cukup teliti. Ethan sempat melirik hasil lipatan dan kelengkapan pakaian yang akan dia bawa. Dan hasilnya, rapi. Meski ia tidak mengatakan apa pun, tetapi dalam hati Ethan mengakui kalau Valerie bekerja lebih baik daripada yang ia bayangkan. Tak lama kemudian, Donald, yang merupakan sahabat dan Manajer Ethan datang. "Kalian udah siap?" tanya Donald. "Sudah," jawab Ethan. Beberapa menit kemudian, seluruh barang yang diperlukan sudah masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung sekitar empat puluh menit. Sepanjang perjalanan, Ethan lebih banyak membaca naskah. Sedangkan Valerie duduk diam di kursi depan sambil sesekali mencatat jadwal yang dijelaskan oleh Donald. Setibanya di lokasi syuting, suasana sudah sangat ramai. Puluhan kru lalu-lalang menyiapkan kamera, pencahayaan, dan beberapa properti. "Kak Ethan, lima belas menit lagi akan dilakukan pengambilan gambar," ujar salah seorang kru. "Oke." Ethan menyerahkan botol minumnya kepada Valerie. "Simpan ini dulu!" "Baik." Hari pertama Valerie bekerja cukup melelahkan. Ia harus memastikan pakaian cadangan dan perlengkapan yang diperlukan tersedia. Selain itu, ia juga harus mengingat seluruh jadwal Ethan yang sangat padat. Meski sedikit ketus, Ethan tidak pernah membentaknya. Instruksi yang diberikan juga selalu singkat dan jelas. Seperti air minum, masker, naskah, atau hal lainnya. Setiap kali Valerie menyerahkan barang yang diminta, Ethan juga sering mengucapkan terima kasih. Hubungan mereka memang masih terasa canggung. Namun keduanya tetap bekerja secara profesional. *** Hari berganti hari. Valerie mulai terbiasa dengan ritme pekerjaan barunya. Ia sudah hafal kebiasaan Ethan. Jam berapa pria itu biasa minum kopi dan barang apa saja yang selalu dibawa. Bahkan, ia mulai bisa menyiapkan semuanya sebelum diminta. Meski begitu, Ethan masih menjaga jarak. Baginya, Valerie tetaplah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya. Dan hari ini, setelah jadwal syuting selesai, ponsel Ethan berdering. Nama Nenek muncul di layar. Ethan segera mengangkatnya. "Halo, Nek," ucap Ethan, saat telpon tersambung. "Ethan, malam ini datang ke restoran biasa, ya!" titah Evelyn. "Apa ada sesuatu, Nek?" tanya Ethan, penasaran. "Tidak ada apa-apa. Hanya makan malam saja seperti biasa aja," jawab Evelyn. "Tumben. Bukannya kita baru makan malam beberapa hari lalu?" tanya Ethan lagi. Bukannya menjawab, Evelyn justru balik bertanya, "Memangnya kenapa? Apa kamu nggak kangen sama Nenek yang udah sepuh ini?" Suaranya terdengar parau. Ethan yang terbiasa tidak pernah menolak permintaan Evelyn, menghembuskan nafas pelan. "Baiklah." "Bagus! Jangan lupa, ajak Serena juga!" Ethan sedikit mengernyit. Ia melihat ke arah Serena yang saat ini ada di hadapannya. "Ngapain Serena ikut makan malam bersama kita, Nek?" "Tidak apa-apa. Nenek cuma ingin bertemu dan ngobrol juga sama dia." Ethan menggeleng pelan. "Baiklah." Telepon pun berakhir. Ethan memandang layar ponsel beberapa saat. Aneh. Baru beberapa hari yang lalu mereka makan malam bersama. Sekarang, Evelyn kembali mengundang Ethan bersama Serena pula. 'Pasti ada sesuatu yang akan Nenek sampaikan. Tapi apa?' tanya Ethan, dalam hati. Entah mengapa firasat Ethan mulai tidak enak. Malam harinya, Valerie dan Ethan tiba di restoran. Mereka sengaja datang bersamaan dari lokasi syuting untuk mempersingkat waktu. Sedangkan Evelyn sudah menunggu lebih dulu di ruang VIP. "Akhirnya, kalian datang juga." "Maaf aku udah membuat Nenek menunggu lama," tutur Ethan. "Nggak kok. Kalian, duduklah!" ucap Evelyn. Ethan dan Valerie mengangguk lalu duduk berdampingan. Ketiganya mulai menikmati makan malam dengan suasana yang cukup santai. Sesekali, Evelyn menanyakan tentang pekerjaan Valerie. Ia juga bertanya apakah Ethan memperlakukan asistennya dengan baik. "Dia bekerja cukup baik," jawab Ethan, singkat. Valerie ikut mengangguk pelan. "Terima kasih. Pak Ethan juga tidak pernah mempersulit pekerjaan saya." Evelyn tersenyum puas. Selesai makan, ia meletakkan sendok dan garpu. "Sebenarnya ada satu alasan kenapa Nenek mengajak kalian makan malam bersama hari ini." Ethan yang sejak tadi sudah merasa curiga langsung menatap Evelyn. "Alasan apa?" Evelyn tersenyum lebar. "Nenek ingin menjodohkan kalian berdua." Suasana mendadak hening. Tangan Valerie yang hendak mengambil gelas berhenti di udara. "Apa?" tanya Ethan, seolah memastikan apa yang baru saja ia dengar."Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







