LOGIN“Tapi ini juga salah Cassian, Bu. Dia tidak bilang kalau kamarnya dengan Sarah berdampingan dan sepertinya Sarah dengar kalau sebelum dengannya Cassian menyukai Cassey.”Ratu ingin mengomel lagi, tetapi ia sudah lelah memikirkan semua itu. Jadi, ia menelan lagi semua omelannya karena ia paham. Bukan hanya Sarah yang terluka, Cassian pun terluka. “Bagaimana kalau sampai Theodore tahu?” tanya Ratu was-was. “Kalian tidak seharusnya membahas hal seperti ini sembarangan.”Lucien dan Cassian saling tatap. Dan itu cukup bagi ratu untuk tahu bahwa pertanyaannya terlambat. Theodore sudah mengetahui kebenaran itu. “Aku sudah tidak tahu harus mengatakan apa, Arvandor,” keluh Ratu Eloria pada sang raja. Ia langsung duduk sambil memijati pelipisnya. “Kau saja yang bicara pada anak-anak ini! Mereka membuatku gila!”Raja menatap dua putranya yang terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun itu. Ia menarik napas sebelum berkata, “Cassian, jelaskan pada Sarah! Lucien, jangan datangi kediaman Cassian d
“Sarah? Kau tidak apa-apa, Nak?” Ratu dan yang lainnya tampak khawatir karena pagi ini Sarah terlihat benar-benar tidak bahagia. Padahal sudah satu minggu berlalu sejak hari ia demam. Tiba-tiba saja, Sarah meneteskan air mata. Semakin lama semakin banyak dan akhirnya ia hanya bisa menangis tanpa sanggup menceritakan apapun di depan semua anggota pesta teh keluarga kerajaan. Terlebih di depan Cassey. “Aku sudahi acara pagi ini. Kalian semua pergilah. Aku akan bicara dengan Sarah berdua.”Hari ini, Duchess Forbe tidak bisa bergabung dengan pesta teh kecil mereka. Jadi, hanya ada Amaryl dan Cassey. Keduanya pun langsung pamit dengan wajah sedih dan penasaran.“Putri Amaryl, sepertinya aku akan pulang saja ke kediaman Pangeran Theo,” pamit Isolde membawa segala pertanyaan terkait Sarah dalam hatinya. “Aku juga akan kembali, Putri Cassey.” Amaryl mengangguk setuju. Ia merasa akan mendapat semua jawaban mengenai perilaku Sarah dan Cassian dari suaminya. Sekejap, mereka berpisah jalan.
Sementara itu, di kediaman Cassian. Sarah tidak lagi ‘menyerang’ Cassian tengah malam seperti yang selama ini dia lakukan. Dan sekarang Cassian jadi memikirkan tingkah Sarah yang tadi mengintai pria lain.‘Apa mungkin karena aku tidak memberikannya malam pertama, dia jadi mencari pria lain? Apa pernikahan ini akan gagal karena itu? Apa malam pertama memang harus dilakukan setelah pernikahan?’Tengah pusing dengan pikirannya sendiri, Lucien datang dengan tatapan penuh pertanyaan. Cassian bisa menebak kenapa adiknya itu mendatanginya. “Kau mau mengorek apa?”Lucien menarik napas panjang, lalu berjalan menuju sofa dan duduk di seberang Cassian. Kemudian ia berkata, “Alasan kau tidak melakukan malam pertama. Apa?”“Itu pernikahan politik,” jawab Cassian. “Aku hanya memberi Sarah ruang untuk menerima sepenuhnya pernikahan ini.”Lucien ternganga sesaat sebelum menepuk wajahnya sendiri. Frustrasi. “Dia bahkan mengejarmu, Cass! Apa lagi yang kau pertimbangkan? Kejam sekali kau membuat seora
“Wow! Aku tidak menyangka, Duke Forbe setampan itu?!” pekik Amaryl kaget. Cassey pun ikut mengangguk. “Aku juga baru kali ini melihat beliau. Ternyata dia kekar sekali.”“Bahkan para pangeran kalah!” gumam Sarah dengan mata berbinar. “Biasanya aku hanya melihat dari jauh. Dia susah sekali didekati.”Ketiga putri yang baru bergabung dengan keluarga kerajaan itu pada akhirnya tak bisa menahan rasa penasaran mereka dan memutuskan untuk mengintai di balik semak.Mereka tidak sadar kalau suami mereka mendapat laporan tingkah tak biasa ini dari prajurit bayangan milik Theodore dan langsung menuju titik di mana mereka sibuk mengintai pria lain. Pria yang sudah beristri pula. Karena tidak menyadarinya, ketiga putri itu tetap saja bertukar opini soal Duke Forbe.“Memangnya Pangeran Cassian tidak tampan?” tanya Cassey sedikit berbisik. Cassian menegang menunggu apa jawaban istrinya. Hatinya geram ketika Sarah menggelengkan kepala.“Tampan lah!” tukas Sarah bangga. “Tapi Duke Forbe tuh ketamp
“Dia sedang … liburan! Iya, liburan!” jawab Theodore sambil tersenyum. Namun, ketika Cassey tak melihat, Theodore langsung memelototi semua staf untuk meyakinkan Cassey bahwa jawabannya benar. Staf yang mengetahui kejadian pagi ini pun langsung berkata, “Benar Putri. Kepala pelayan sudah terlalu lama tidak berlibur. Dia berlibur dengan 3 pelayan lainnya.”Cassey pun mengangguk menerima informasi itu. Kemudian Thedore menambahkan, “Ingat tata krama di istanaku! Selama istriku belum membunyikan lonceng atau keluar dari kamar tidak ada satupun yang boleh mengetuk pintu kamarnya. Paham?!”“Paham, Yang mulia Pangeran!”Kepala Theodore mengangguk singkat. Memberi isyarat pada mereka untuk segera kembali bekerja. Melihat acara perkenalan sudah selesai, Cassey pun langsung mengusulkan, “Theo, ayo kita menyapa Ibunda. Ini sudah sedikit terlambat.”Setuju dengan usulan itu, Theodore pun segera meminta Adam menyiapkan kereta kuda sementara mereka berjalan menuju teras mansion.Setelah Cassey
Makan waktu 3 jam untuk Theodore dan Cassey keluar dari ruang pemandian. Selain keduanya memang harus mandi, banyak hal yang tidak bisa ditahan oleh Theodore ketika melihat Cassey.“Gaunmu di kamar,” ujar Theodore meringis. “Aku lupa menyuruh mereka membawakannya ke sini.”“Lalu bagaimana caranya aku berpakaian, Theo?” tanya Cassey panik. “Pakai jubah mandi saja dulu.”“Tapi jubahnya basah karena ulahmu!”Theodore meringis lagi. “Aku akan suruh mereka pergi dan kita bisa berlari tanpa baju ke kembali ke kamar. Bagaimana?”“Ide gila! Tidak mau!” tukas Cassey sambil mengamati sekitar. “Apa aku boleh pakai tirai ini?”Theodore mengangguk. “Ide bagus!”Baru saja Theodore berniat menarik tirai, sebuah ketukan terdengar diiringi suara seorang pelayan wanita. “Yang mulia Putri Cassey, saya membawakan pakaian putri dan pangeran.”“Oh! Ada juga yang bekerja dengan baik di mansion ini,” gumam Theodore riang. Theodore segera membuka pintu dan mengambil pakaian mereka. “Pangeran, apa nyonya b







