LOGIN‘Aku baru ingat.’
Cassey terdiam sesaat. Mencoba mengatur kepingan ingatan tiba-tiba bermunculan karena satu kata itu. Obat.
‘Setelah gaun dibeli, persiapan berangkat ke ibukota sudah lengkap, kondisiku justru menurun,’ pikir Cassey. ‘Pada akhirnya kami tidak jadi berangkat dengan kesehatanku sebagai alasan utama.’
“Sa—saya pulang dulu, Komandan!”Cassey segera berlari menjauh dari arena latihan, membuat Theodore panik. “Diam kalian!” tukas Theodore setengah tersipu. “Pulang semua!”Namun para prajurit hanya terkekeh-kekeh menertawakan kisah perjuangan cinta Theodore yang selama ini sebenarnya terkenal di belakang Cassey. Karena dulu Theodore benar-benar memastikan mereka tidak pernah membicarakan hal itu di depan Cassey. Ditambah lagi, Cassey memang bukan orang yang peka dengan topik seperti itu.Dengan cepat Theodore mengejar Cassey. Dia tidak mau kehilangan wanita itu setelah penantiannya selama ini dan kesempatan yang sekarang terbuka lebar untuknya. “Cass! Kita janji untuk pergi mencari gaun!” seru Theodore mempercepat larinya. Mendengar itu, ternyata Cassey berhenti berlari. Ia berbalik, tetapi sambil menutupi wajahnya. “Tapi saya malu sekali. Apa Anda tidak masalah, Komandan?!”Tawa Theodore meledak melihat gemasnya Cassey. Dengan begini, Theodore merasa ia semakin punya celah. Cassey
“Kau pasti paham, Cassey. Apalagi para Vendetta itu. Jangan sampai mereka mendengar hal ini. Ayah tidak mau kau diperalat dan digunakan untuk tujuan mereka.”Cassey terdiam. Ia tidak menyangkal orang-orang yang disebut sang ayah memang bukan orang sebaik jabatan mereka. “Aku paham, Ayah. Akan kupertimbangkan lagi bagaimana menggunakan kekuatan ini.”Namun, Willbert tidak puas dengan jawaban Cassey. Ia menekankan, “Tidak! Jangan dipakai sama sekali. Cukup Aura-mu saja. Kau tidak perlu membawa beban berat itu sendirian.”Nellysa melihat keduanya dan semakin mengerti kenapa dulu sang ibu tidak pernah memberitahunya apa-apa. “Cassey, demi Cezar, tolong turuti ayahmu. Kau punya Cezar sekarang Nak.”Cassey terlihat pucat. Namun, untuk sementara ia mengangguk, menerima usulan mereka. “Baiklah, Yah, Bu. Kalian tenang saja.”*** Keesokan harinya, Cassey kembali bekerja seperti biasa. Ia baru mendengar bahwa masa tahanan keluarga Hall dipersingkat menjadi 3 tahun saja. Dan semua itu adalah per
“Aku sudah menyiapkan kereta kuda, Cassey.”Theodore tersenyum sambil berdiri di samping pintu kereta kuda. Ia bahkan sudah mendatangkan orang untuk membawa kuda Cassey ke ibukota. Cassey mulai memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Theodore dengan sudut pandang berbeda. Selama ini, ia kira yang dilakukan Theodore murni karena memang mereka sudah bersama dalam pekerjaan sejak lama. ‘Apa ini maksudnya ia memperhatikanku?’ batin Cassey yang tiba-tiba mulai membandingkan dan melihat maksud di balik setiap perbuatan sang komandan. Namun, pemikiran itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Sayang, ia melewatkan perasaan menggelitik yang mulai hadir ketika Theodore berada di dekatnya. “Terima kasih, Komandan.” Cassey bergegas naik dan duduk dengan canggung. Selain bersama Willbert, ia tidak pernah mengendarai kereta kuda dengan lelaki lain. Biasanya, menunggang kuda saja sudah cukup.Sepanjang perjalanan, Theodore dan Cassey membahas mengenai progres pengejaran sisa-s
“Ehm! Aku mengira kau dalam bahaya, Cassey,” ujar Theodore beralasan.Namun, Cassey masih tidak mengerti. Apa yang membuat Theodore mengira ia akan mendapatkan masalah? Begitu pun, ia hanya berterima kasih pada sang komandan dan tidak mempertanyakan lebih jauh lagi.“Kalau begitu, ini sudah larut, Yang mulia pangeran. Di mana Anda akan bermalam?” tanya Nenek Aira, bergabung dalam percakapan mereka. Theodore tersenyum dan berkata, “Saya akan bermalam di motel dekat sini.”“Apa Anda akan pulang besok, Komandan?” tanya Cassey lagi. Namun, Theodore menggeleng. “Aku akan menunggu urusanmu di sini selesai.”Cassey semakin bingung. ‘Apa urusanku jadi menghalangi Komandan untuk bekerja? Apa dia sebenarnya butuh bantuan? Bukankah dia sedang mengejar sisa-sisa pengkhianat yang bekerja sama dengan Gregoire?’Namun lagi-lagi Cassey tidak mempertanyakan itu pada Theodore. Ia hanya berkata, “Saya akan segera menyelesaikan urusan saya, Komandan.”Setelah itu, Theodore pun pamit. Cassey dan Aira ke
“Apa kau tidak sadar selama ini, Cassey? Tanpa darah Ovnyx, mungkin kau sudah mati di medan perang.”Dahi Cassey berkerut, mencoba mengingat kalau-kalau ada hal yang tidak masuk akal, yang pernah menyelamatkannya di medan perang.Saat itulah ia teringat beberapa kali ada yang mengatakan kalau seharusnya Cassey tadi terkena panah atau tombak. Bahkan ketika semua orang sakit perut karena makanan di kemah perang, hanya Cassey yang tidak merasakan sakit itu. “Apa iya itu karena darah Ovnyx?” gumam Cassey hampir tidak percaya. Selama ini, ia kira semua itu karena kekuatan Aura-nya.Seolah mengerti kebingungan cucunya, Aira pun menjelaskan lebih detail lagi. “Aura-mu itu hanya mempertajam serangan pedangmu dan memberikan dampak 10 kali lipat dalam tebasannya. Kekuatan itu tidak terlalu membantu dalam hal pemulihan dan pertahanan tubuh, Cassey.”Lagi-lagi ia menyadari sesuatu. ‘Benar juga. Waktu itu, Komandan tidak ikut makan, makanya dia tidak ikut sakit.’“Kalau begitu, tidak ada kekuat
Mendengar semua kekacauan di ruang dalam, Cassey pun langsung melesat untuk membantu neneknya yang mungkin sedang mengalami kesulitan. “Nenek! Apa yang terjadi?!”Sang Nenek ternyata hanya menjatuhkan panci yang baru saja dicucinya.Dari belakang punggung Cassey, penjaga tua tadi tertawa geli. “Dia pasti senang mendengarmu datang, Nona Cassey. Nenek ceroboh itu memang tidak ada duanya di desa ini.”“Kau diam saja, Ged! Cepat keluar dari rumahku! Mata cucuku bisa sakit melihat keriputmu!”Cassey terkekeh mendengarnya. Ia tidak menyangka, celotehan para orang tua akan seseru ini didengar. Dan karena sudah tahu nama penjaga tua itu, Cassey pun membungkuk penuh hormat. “Kakek Ged, terima kasih sudah mengantarku bertemu Nenek.”Kakek Ged nyengir lebar, kemudian mulai mempromosikan cucunya. “Kalau kau belum punya kekasih, kau bisa bertemu cucuku, Nona. Dia pemuda yang kekar dan sangat tampan!”Namun, Nenek Kallein sudah mengangkat alat memasaknya tinggi-tinggi. Berniat mengusir Kakek Ged







