Share

BAB 3 - Dia Datang?

Penulis: Cassian Story
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 19:21:05

Suasana menjadi semakin tegang. Orang-orang yang hadir mulai berbisik-bisik satu sama lain, membicarakan apa yang terjadi dan menebak-nebak alasan di balik sikap Livia yang tiba-tiba berubah.

“Kenapa dia bertindak seperti ini? Padahal sebelumnya dia terlihat sangat menyukai Santiago…”

“Mungkin dia hanya lelah atau sedang tidak enak badan hari ini. Bagaimana bisa dia menolak lamaran yang begitu indah?”

“Mungkin dia hanya merasa tertekan karena banyak orang yang hadir, hingga bingung dan bertindak sembarangan…”

Santiago yang mendengar semua bisikan itu merasa sedikit lega. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Livia dengan penuh pengertian dan kesabaran.

“Baiklah, Livia,” ucapnya memaklumi. “Mungkin kau benar. Hari ini kau memang

sibuk dengan pekerjaan, dan pastinya sangat lelah sampai pikiranmu menjadi kacau dan membuat keputusan yang tak seharusnya.”

Livia menahan mual mendengar perkataan manis pria ini.

“Aku mengerti, sungguh. Aku takkan memaksamu untuk memberikan jawaban sekarang. Kita bisa membicarakan hal ini lagi di lain waktu, saat kau sudah merasa lebih baik dan pikiranmu sudah jernih kembali. Aku akan menunggu selama apapun yang kau butuhkan, karena aku yakin bahwa hatimu akan kembali padaku suatu hari nanti,” lanjut Santiago.

Ia berusaha menampilkan citra diri sebagai pria yang sabar dan pengertian, agar pandangan orang-orang di sekitar tetap baik padanya dan buruk pada Livia.

“Haiiish, aku mulai bosan dengan basa-basi yang tidak berguna.” Livia tak mau berlama-lama di tempat yang penuh dengan kepalsuan itu. Ia berbalik, lalu melangkah pergi.

“Livia! Tunggu aku!” teriak Santiago, lalu segera mengejarnya.

Santiago berhasil menyusulnya tepat di depan gerbang utama, dan memegang pergelangan tangan Livia untuk menahan.

“Kau mau ke mana? Kita belum selesai bicara! Apakah ada kesalahpahaman yang harus kita selesaikan bersama? Katakan padaku, apa yang membuatmu berubah seperti ini? Selama ini aku sudah berusaha memberikan segalanya untukmu, mengapa kau malah bersikap seolah aku adalah musuhmu sendiri?”

Livia menoleh menatap wajah pria itu dengan dingin dan penuh penghinaan hingga membuat bulu kuduk Santiago meremang.

“Berusaha memberikan segalanya? Apa yang pernah kau berikan padaku, Santiago? Kata-kata manis? Janji-janji kosong yang takkan pernah kau tepati? Atau mungkin hanya harapan palsu yang kau bangun hanya untuk memanfaatkanku semata?”

'Bahkan celana dalammu, aku yang belikan.' lanjut Livia dalam hati.

“Apa maksudmu dengan memanfaatkan? Aku sungguh-sungguh mencintaimu!” bantah Santiago dengan suara yang sedikit meninggi.

“Cinta?” Livia tertawa kecil. “Kau bahkan tak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku, padahal di dalam hatimu yang paling dalam, kau hanya memandangku sebagai alat untuk mencapai tujuanmu sendiri. Kau kira aku masih gadis bodoh yang bisa kau permainkan sesuka hati? Dengar baik-baik, Santiago… mulai hari ini, jangan pernah lagi berpura-pura di depanku, karena aku sudah tahu segalanya tentang dirimu. Kau bukanlah pria yang aku harapkan, bahkan kau jauh lebih rendah daripada orang-orang rendahan yang ada di jalanan.”

Kata-kata Livia begitu menusuk hati Santiago.

Saat Livia hendak berbalik kembali untuk melanjutkan langkahnya, pandangannya tak sengaja bergerak ke arah ujung jalan.

Di sana, berdiri seorang pria yang membuat jantungnya berdebar dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya.

Ia bersandar di samping mobil mewah berwarna hitam dan mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, membuatnya terlihat gagah sekaligus menakutkan.

Di sekelilingnya berdiri beberapa orang berbadan tegap berpakaian rapi, yaitu pengawal pribadinya.

Ia adalah Alessandro De Luca.

'Dia… dia datang?'

Wajahnya yang tampan terlihat dingin tanpa ekspresi, namun matanya yang tajam terus menatap ke arah Livia dengan pandangan yang dalam.

Livia terdiam sejenak, pikirannya berputar kembali ke kenangan di kehidupan sebelumnya.

Ia ingat, setelah menerima lamaran Santiago, beberapa jam kemudian, Alessandro akan datang dan memaksanya pergi lalu melakukan penculikan yang selama ini membuatnya merasa takut dan benci.

Dulu, ia akan menangis, berteriak, dan berusaha melarikan diri sekuat tenaga, menganggap pria itu sebagai musuh terbesarnya yang ingin merusak kebahagiaannya.

Ia selalu membenci sikapnya yang keras, kejam, dan terobsesi.

Namun sekarang…

Livia menatap pria itu dengan penuh rasa haru, yang tak pernah ia tunjukkan selama ini. Ia ingat kata-kata cinta yang diucapkan Alessandro di saat-saat terakhir hidupnya, bagaimana pria dingin itu menangis untuknya.

'Ah… benar. Dulu aku selalu takut dan berusaha menjauh darimu. Aku mengira kau adalah sumber segala kesulitan dalam hidupku. Padahal kaulah satu-satunya orang yang rela melakukan apapun hanya untuk melindungiku. Kali ini… aku takkan lagi melawan atau lari.'

Saat pikirannya masih melayang jauh, ia melihat Alessandro yang mulai melangkah ke arahnya, diikuti oleh para pengawal yang berjalan di belakang.

Santiago yang juga melihat kedatangan pimpinan mafia yang ditakuti seketika menegang.

Ia tahu betul siapa Alessandro De Luca, pria yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang tak terhitung jumlahnya, orang yang ditakuti oleh seluruh lapisan masyarakat, dan takkan segan-segan menghancurkan siapa saja yang berani menghalangi jalannya.

“Apa… apa yang kau lakukan di sini, Tuan De Luca?” tanya Santiago, berusaha terlihat berani.

Alessandro tak menjawabnya sama sekali. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Santiago, seolah pria itu tak ada artinya sama sekali.

Matanya tetap tertuju pada Livia, dan saat ia berhenti di hadapan wanita itu, Alessandro mengangkat tangannya dan menarik tubuh Livia agar berdiri di sampingnya.

“Kau mau ke mana?” tanyanya dengan suara yang khas. “Sudah kubilang berkali-kali, kau takkan pernah menjadi milik orang lain selain aku. Mengapa kau masih bersikap keras kepala dan membuang-buang waktumu dengan orang yang tak pantas ini?”

Di kehidupan yang lalu, Livia akan segera berteriak, memaki, dan berusaha melepaskan dirinya dari genggaman tangan Alessandro.

Namun kali ini, ia hanya menatap mata Alessandro dengan tenang, lalu mengangguk tanpa ada tanda-tanda penolakan sedikit pun.

“Baiklah,” jawabnya membuat Alessandro tertegun sejenak. “Kalau begitu, bawalah aku pergi. Aku tak mau lagi berada di sini, dan aku tak mau berhadapan dengan orang-orang yang ada di tempat ini.”

Mendengar jawaban yang tak terduga, Alessandro kebingungan, seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Selama ini, setiap kali ia berusaha mendekati atau membawanya pergi, Livia akan melawan dengan sekuat tenaga, namun hari ini… wanita itu justru menyetujuinya dengan begitu mudahnya?

Namun, rasa bingung itu segera digantikan oleh rasa senang yang meluap-luap di dalam hatinya.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Alessandro segera menarik tangan Livia dan membawanya berjalan menuju mobil meninggalkan Santiago yang hanya bisa mematung di tempatnya.

“Livia! Kembalilah! Jangan pergi bersamanya!” teriak Santiago dari belakang. “Tuan De Luca, jangan membawa tunanganku!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Nah Kan, nyesel tuh si Santiago
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 41 - Tekad Livia

    Beberapa hari sejak insiden mencekam di Labirin Mawar Hitam, Livia tidak bisa lagi tinggal diam. Rasa penasarannya telah berubah menjadi sebuah misi. Tekadnya sudah bulat untuk membersihkan nama ibu mertuanya dan mengungkap seluruh kekejaman Nenek.Ia kembali ke kamar di lantai tiga, saat kakinya terhenti di depan sebuah pintu, Livia meraih kenop dan mencoba memutarnya.Cklek. Cklek.“Sial, ternyata dikunci.”Livia mengembuskan napas panjang dengan rahang mengetat karena kesal. "Pasti kuncinya dibawa oleh Tuan Edward," gumamnya. Baru saja ia berbalik arah dan berniat mengatur rencana baru, telinganya menangkap suara dari dalam kamar tersebut. Jantung Livia berdegup kencang. Pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.Tanpa membuang waktu, Livia segera mencari tempat persembunyian. Ia mendorong pintu kamar terdekat yang untungnya tidak terkunci, lalu menyelinap masuk ke dalam dan menyisakan sedikit ruang untuk mengintip.Dari celah pintu, Livia melihat seorang pelayan wanita paruh baya

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 41 - Sebuah Fakta

    Alessandro membawa Livia ke dalam kamar mereka dan langsung merebahkan tubuh istrinya.Tak lama, dokter pribadi keluarga De Luca datang secepat mungkin.Di atas kasur, tubuh Livia tampak bergetar hebat. Matanya melebar karena ketakutan dari kejadian di dalam labirin. Alessandro terus menggenggam tangannya dengan erat, sesekali mengecup keningnya untuk menenangkan."Tenang, Sayang. Kau aman di sini. Aku bersamamu," bisik Alessandro. Setelah dokter tiba dan memeriksa luka di kepala serta memastikan Livia tidak terkena racun mawar, dokter memberikan obat penenang. Perlahan, napas Livia mulai teratur dan ia tampak jauh lebih tenang.Alessandro mengusap pipi Livia dengan lembut. "Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?"Livia menatap Alessandro dengan ragu, bibirnya tergagap untuk menceritakan sosok pria misterius dan tulisan di pilar batu itu, terlebih lagi sebuah fakta yang mengejutkan."A-Ale, sebenarnya di sana ada..."Brak!Pintu kamar digebrak kasar. Ne

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 40 - Sebuah Perbedaan

    Tak berselang lama, sebuah langkah kaki beritme mulai terdengar dari arah lain yang gelap. Tap... tap... tap…Livia tersentak. Ia segera berbalik, lalu menajamkan matanya untuk menembus remang cahaya yang tersisa demi melihat siapa yang datang. Dari balik bayang-bayang sulur mawar, muncullah seorang pria berbadan tegap. Di tangannya, sebuah pistol terarah ke posisi Livia berdiri.Livia mundur selangkah hingga punggungnya merapat pada pilar batu. Namun, ketika siluet wajah pria itu mulai tertangkap oleh matanya, jantung Livia berdegup kencang secara tidak beraturan. "Ale...?" gumam Livia ragu. Apakah Alessandro benar-benar menyelamatkannya seperti janjinya tadi? Ataukah... ini hanya bagian dari halusinasi akibat aroma zat kimia mawar beracun?Pria itu tidak menurunkan senjatanya sama sekali. Langkahnya semakin dekat, menyisakan jarak tak sampai dua meter di antara mereka. Wajahnya yang tertutup sebagian bayangan membuat raut ekspresinya sulit dibaca, memancarkan aura bak eksekutor

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 39 - KEBOHONGAN?

    Pada malam yang telah ditentukan, ketegangan menyelimuti ruang rahasia milik keluarga De Luca. Ruangan labirin yang terletak jauh di bawah tanah mansion utama ternyata sangat luas, menyerupai sebuah aula kuno berbatu yang gelap. Di hadapan mereka, ada sebuah gerbang besi besar yang menjadi pintu masuk menuju Labirin Mawar Hitam. Aroma mawar yang pekat seperti zat kimia beracun mulai tercium, menusuk indra penciuman mereka. Alessandro menggenggam pergelangan tangan Livia dengan sangat erat, dan enggan melepaskannya. Ia sangat cemas, sesuatu yang sangat jarang terlihat dari sang ketua klan mafia."Sayang, belum terlambat untuk mundur," bisik Alessandro. "Per*etan dengan adat atau denda dari Nenek. Aku bisa menghancurkan aturan ini sekarang juga jika kau mau. Jangan masuk ke sana."Livia menoleh pada suaminya dengan senyum yang menenangkan. Ia mengusap rahang tegas Alessandro dengan tangan kirinya yang bebas."Ale, dengarkan aku," ucap Livia. "Jika aku mundur sekarang, Camila akan se

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 38 - Tantangan Tradisi

    Malam harinya, suasana di ruang keluarga utama kediaman De Luca terasa khidmat. Nenek telah mengumpulkan semua orang tanpa terkecuali. Edward berdampingan dengan kedua wanita simpanannya, Elena dan Sofia, yang tampak bersikap manis. Di sisi lain, Alessandro sangat protektif di dekat Livia, menggenggam erat jemari istrinya. Sementara itu, Camila juga ikut hadir dengan senyum penuh kemenangan karena Nenek sendiri yang memintanya datang.Sebelum Nenek memulai pembicaraan, Camila sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Livia. Ia menatap istri Alessandro dengan pandangan meremehkan yang amat ketara."Wah, aku tidak menyangka Nenek akan memintaku hadir di acara sepenting ini," sindir Camila. "Meskipun kau sudah sah menjadi istri Alessandro, keberadaanku di keluarga ini masih jauh lebih dianggap dan diperhitungkan daripada dirimu, Livia."Livia tidak menunjukkan raut terkejut ataupun terpancing emosinya. Ia justru memperbaiki posisi duduknya dengan anggun, lalu melirik Camila d

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 37 - Alessandro Cemburu

    Beberapa hari setelahnya, atmosfer di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota begitu mencekam. Ruang besar itu berbau darah dan anyir yang menyengat hidung. Di tengah ruangan, dua pria penuh luka sedang berlutut dengan tubuh gemetar hebat di atas lantai. Di sekeliling mereka, para anak buah Alessandro berdiri tegak bagai robot bernyawa, memegang senjata laras panjang dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.Alessandro De Luca berdiri layaknya seorang predator di hadapan kedua pria tersebut. Tatapan matanya mengunci pergerakan dua orang yang beberapa hari lalu masih ia sebut sebagai anggota. Mereka pengkhianat yang menjual rute pengiriman logistik De Luca, dan Alessandro selalu memiliki cara sendiri untuk memberi hukuman bagi mereka yang melanggar sumpah setia."T-Tuan De Luca... ampuni kami... kami dijebak..." rintih salah satu pengkhianat dengan suara parau, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang lebam.“Di jebak? Tapi kalian menikmati uang yang didapat kan?” Ia men

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 7 - Sandiwara yang Memilukan

    Camila melebarkan matanya, terkejut mendengar tantangan berani dari Livia. Namun kesombongannya dengan cepat mengambil alih. Ia menghentakkan sepatu hak tingginya ke lantai dengan kasar.“Kau pikir aku takut dengan gertakanmu?!” tantang Camila dengan suara melengking. “Aku yang akan menang! Alessan

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 6 - Bermulut Besar

    Tak berselang lama setelah Livia duduk di meja makan panjang mewah, beberapa pelayan datang membawa nampan-nampan. “Akhirnya,” gumam Livia. Di hadapan Livia kini tersaji steik daging yang empuk, sup krim jamur yang kental, serta pencuci mulut berupa salad buah segar dengan saus yang menggoda sele

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 5 - Aku Tidak Akan Kabur

    Alessandro membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan tawa remeh yang sarat akan ketidakpercayaan.“Menikah?” bisik Alessandro, suaranya terdengar begitu sinis. “Permainanmu semakin berani, Livia. Kemarin kau mengancam akan mati jika aku menyentuhmu, dan sekarang ka

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 4 - Ayo Menikah!

    Saat mereka masuk ke dalam mobil dan pintu ditutup rapat, Livia menoleh pada Alessandro yang masih terlihat bingung, lalu tersenyum. “Jalan!” Perintah Alessandro pada asistennya. Mobil melaju di jalan raya dengan iringan para bodyguardnya. Siapa pun yang bertemu dengan rombongan mereka, pasti aka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status