LOGINSamuel pulang ke rumah dan mendapati ibunya sedang menangis di ruang tamu sementara sang ayah mulai dingin dan menjaga jarak. Sang Paman, Bima, duduk di sisi kiri Ibu. Alih-alih menghiburnya, ia malah sibuk berceloteh riang. Dengan nada membujuk, Paman mengutarakan keinginannya meminjam uang dengan dalih investasi yang menghasilkan keuntungan fantastis.
"Aku tidak setuju, Bima!" tolak Prajogo Adiwijaya, ayah Samuel. Bima tersenyum mendengar penolakan iparnya itu. "Mas, ini jalan terakhir yang aku punya. Melalui investasi ini, aku bisa melunasi semua utang-utangku dan juga mengembalikan uang yang dipinjamkan oleh Mbak Susan. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Hanya saja..." Bima terdiam beberapa saat. Dia melihat ibu Samuel dengan raut wajah memelas. "Investasi selalu membutuhkan seseorang dengan nama yang masih bersih dan tidak memiliki riwayat masalah keuangan," lanjut Bima dengan nada memohon. Susan, ibu Samuel, dengan segera memeluk Bima dan menangis. "Cukup, Mas! Aku yang akan menandatangani!" seru Susan mutlak. "Ayah! Ibu!” Semua langsung memandang ke arah Samuel yang pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Samuel berjalan cepat, lalu duduk di samping kanan Susan. "Samuel? Bukannya masih jam sekolah?" tanya Susan heran. "Ada apa, Nak? Kamu sakit?" sambung Prajogo sambil berdiri. "Perutku sakit, Bu. Jadi, aku izin pulang," keluh Samuel dengan suara dibuat selemas mungkin. "Sakit?! Ayo cepat, kita ke rumah sakit sekarang!" panik Susan khawatir. “Aku akan siapkan mobil,” kata Prajogo sambil berdiri. "Berhenti!" seru Bima. Bima berjalan mendekat ke arah Samuel. "Nak, berbohong itu dosa. Paman tahu, pasti kamu ingin bolos, kan?" tanya Bima menyelidik sambil mengamati raut wajah Samuel. Samuel tersenyum. "Kita tidak perlu ke rumah sakit, Bu. Perutku sudah mendingan dan kebetulan sekali Paman ada disini." "Iya. Pamanmu mau menawarkan investasi dan Ibu sedang mempertimbangkannya,” jawab Susan lembut. "Itu penipuan, Bu,” kata Samuel tanpa rasa ragu. Senyum palsu Bima seketika langsung menghilang. "Bisa dikatakan investasi bodong. Perusahaannya tidak jelas bahkan tidak ada. Kenyataanya, uang semua investor bakalan dibawa kabur,” jelas Samuel serius. "Kamu dengar dari mana? Kamu bahkan tidak tahu apa-apa!" tanya Bima meremehkan sambil tertawa sinis. "PT. Freedom," jawab Samuel sambil menunjuk surat yang ada di atas meja. "Perusahaan ini sudah banyak menipu. Salah satu korbannya adalah wali murid di sekolahku." Samuel mengeluarkan bukti-bukti yang tadi dia bawa. "Kami menemukan alamat kantor mereka dan tempat itu kosong. Hanya bekas gudang," jelas Samuel. "Aku bahkan membantu mencari izin usahanya, tetapi nomor registrasinya nihil." "Keuntungan tiga puluh lima persen setiap bulan. Bukankah sangat janggal?” komentar Samuel. Ayah merebut bukti-bukti itu dan mencocokkannya dengan kertas perjanjian yang dibawa Bima. Ekspresi Prajogo perlahan berubah masam. "Sudah kuduga..." Samuel menatap kedua orang tuanya dengan mata yang mulai memerah menahan tangis. "Ayah, Ibu, kali ini aku akan menjaga kalian,” batinnya. "Samuel, sejak kapan kamu ikut campur urusan orang tua, hah?!" tegur Bima marah. Samuel tidak menjawab, tetapi ia menatap Bima dengan dingin. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak menaruh curiga sedikitpun kepada Pamannya. Ia mengira Pamannya orang yang serakah dan bodoh karena mudah tertipu. Namun itu semua berubah saat dia mendapat laporan dari detektif. Pamannya tidak pernah ditipu, ia justru anggota dari sindikat penipuan itu. Bima mendapatkan bonus besar setiap berhasil mengajak orang bergabung, termasuk ibu Samuel. Setelah kasus penipuan itu viral, Bima segera menghilang tanpa jejak. Hanya beban hutang yang tertinggal membuat depresi ibu Samuel semakin berat. Sayangnya, sekarang Samuel belum mempunyai bukti kuat untuk itu. "Maaf, Bima. Tapi, saya tetap menolak tawaran mu," kata Prajogo memutuskan. Kali ini Susan terdiam dan tidak membela adiknya lagi. "Hmm! Baiklah! Jangan pernah menyesal!" teriak Bima geram sambil bergegas meninggalkan rumah. Samuel menarik napas. Ia berhasil menghentikan tragedi yang pernah menghancurkan keluarganya. Namun Samuel sadar ini belum berakhir. Mengusir pamannya tidaklah cukup. Bayang-bayang tragedi berikutnya masih mengancam. Dia harus segera mengamankan aset ibunya dan menyelidiki hubungan gelap sang ayah dengan rival bisnisnya sebelum terlambat."Halo?" "Tuan Muda? Ini saya Untung, mau mengabarkan kondisi Pak Prajogo. Saya harap Tuan Muda tetap tenang.” Suara tergesa-gesa itu berhasil membuat Samuel terbangun. "Di mana Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?" tanya Samuel panik. "Tuan Besar mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit," jawab Pak Untung. Jantung Samuel seperti berhenti berdetak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. "Apakah parah? Bagaimana kata dokter, apakah Ayah bisa diselamatkan?" cecar Samuel dengan suara gemetar. "Untunglah Tuan Besar selamat. Beliau duduk di kursi belakang sehingga mengalami luka ringan sedangkan bagian depan mobil ringsek parah," jawab Pak Untung cepat. Samuel menghembuskan napas lega. Ia segera menanyakan nama rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Setelah mendapat info nama rumah sakit tempat ayahnya dirawat, Samuel bergegas memakai jaket dan menelepon taksi. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Samuel berusaha mencerna informasi yang ia
"Kira-kira masalah apa lagi sekarang?" gumam Samuel sambil memasuki rumah. Tidak berapa lama pertanyaan Samuel terjawab. Terlihat Bima bersama satu orang yang tidak dikenalnya duduk berhadapan dengan Susan yang sendirian. Kebetulan sekali, Prajogo sedang bertugas ke luar kota. "Untuk apa paman datang pagi-pagi sekali? Paman belum kapok dengan kejadian kemarin, ya?" ledek Samuel. "Diam kamu! Dasar bocah ingusan!" balas Bima sengit. "Bima! Jaga ucapanmu!" tegur Susan. "Dia adalah keponakanmu!" Wajah Bima memerah menahan amarah. Tiba-tiba dengan suara percaya diri, ia melanjutkan. "Mbak, aku datang untuk membahas masalah warisan Ayah." Bima mengenalkan pria di sampingnya. "Ini, Pak Baya, notaris yang diam-diam ditunjuk Ayah untuk menangani setelah beliau wafat." Susan mengernyit. "Bukannya pembagian warisan sudah dilakukan sebelum Ayah meninggal?"
"Ayah." Prajogo mengangkat kepala, lalu memandang ke arah Samuel yang baru masuk ke dalam ruang kerjanya. "Ada apa, Nak?" tanya Prajogo lembut. "Aku ingin belajar bisnis keluarga,” jawab Samuel, padahal itu hanya siasatnya saja. Kalimat itu membuat Prajogo tertawa. "Kamu serius?! Kamu ini masih SMA. Anak SMA fokus sekolah saja,” remeh Prajogo. "Aku bukan anak kecil lagi," protes Samuel. Di masa depan aku yang akan meneruskan perusahaan ini. Kuharap ayah mengizinkanku belajar dari sekarang,” jelas Samuel mencari celah. Prajogo menatap anaknya. Selama ini Samuel tidak pernah menunjukkan minat terhadap perusahaan. Kini, melihat kesungguhan Samuel, tentu saja Prajogo merasa senang. "Baiklah," kata Prajogo menyetujui. "Kalau Ayah tidak keberatan, bagaimana kalau dimulai dari sekarang?" tawar Samuel sambil merenggut dokumen dari tangan Prajogo. "Hahaha...Ayo, tanya saja ke ayah bila kamu tidak mengerti." *** Sejak malam itu, Prajogo mulai mengajak Samuel berdiskusi
Keesokan harinya sesampainya Samuel di sekolah, ia segera menuju ruang administrasi untuk membatalkan permohonan tinggal di asrama. Setelah kemarin mengungkapkan kebohongan pamannya, Samuel memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Untuk mempermudah kegiatannya, dia berencana untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Di kehidupan sebelumnya, ketika orang tuanya menghadapi kesulitan akibat ulah sang paman, ia tidak berada di sisi mereka. Sekarang, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Setelah semua urusan selesai, masih tersisa waktu lima belas menit sebelum bel berbunyi. Samuel melangkah menuju kelas dengan langkah santai. Saat melewati tikungan lorong, tak sengaja Samuel mendengar keributan disertai tawa ejekan. "Pantas kamu selalu sendirian. Berani-beraninya kamu ke sekolah dengan penampilan lusuh sepert
Samuel pulang ke rumah dan mendapati ibunya sedang menangis di ruang tamu sementara sang ayah mulai dingin dan menjaga jarak. Sang Paman, Bima, duduk di sisi kiri Ibu. Alih-alih menghiburnya, ia malah sibuk berceloteh riang. Dengan nada membujuk, Paman mengutarakan keinginannya meminjam uang dengan dalih investasi yang menghasilkan keuntungan fantastis. "Aku tidak setuju, Bima!" tolak Prajogo Adiwijaya, ayah Samuel. Bima tersenyum mendengar penolakan iparnya itu. "Mas, ini jalan terakhir yang aku punya. Melalui investasi ini, aku bisa melunasi semua utang-utangku dan juga mengembalikan uang yang dipinjamkan oleh Mbak Susan. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Hanya saja..." Bima terdiam beberapa saat. Dia melihat ibu Samuel dengan raut wajah memelas. "Investasi selalu membutuhkan seseorang dengan nama yang masih bersih dan tidak memiliki riwayat masalah keuangan," lanjut Bima de
Samuel berdiri di depan makam adiknya dengan mata berkaca-kaca. Dia sadar bahwa adiknya tidak bisa kembali lagi ke dunia. Kring! Kring! Kring! Ponsel Samuel tiba-tiba berdering, dengan segera Samuel mengangkat panggilan teleponnya. "Pak, ini saya detektif Arief. Saya berhasil menemukan Ibu anda, Pak." "Benarkah?! Di mana?!" tanya Samuel bersemangat. "Di..rumah sakit jiwa, Pak," jawab detektif Arief terbata-bata. "Bagaimana bisa...?" Suara telpon tiba-tiba terputus seiring tubuh Samuel tersungkur lemas ke tanah. Samuel menyesal. Samuel menangis, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. “Andaikan saja aku tidak mengabaikan Ibu dan Adikku saat itu. Tidak sibuk membalas dendam atas kematian Ayah. Mungkin mereka sekarang masih hidup,” batinnya menyesal. Samuel bergegas menuju rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat. Selama perjalanan, Samuel mengendarai mobil dengan raut wajah kosong dan hampa. Ia merasa putus asa dan lelah. BRAK! Samuel kehilangan fokus. Benturan keras dua







