แชร์

Hari Lamaran

ผู้เขียน: Anny Djumadi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-06 12:20:16

"Nona Zafira?"

Suara pelayan yang terdengar dari ambang pintu membuat Zafira perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya masih terpaku pada kalender yang tergantung di dinding kamar. Tanggal yang tertera di sana begitu jelas hingga mustahil untuk disalahartikan.

Tiga tahun. Ia benar-benar kembali tiga tahun ke masa lalu. Kembali sebelum pernikahan itu terjadi. Sebelum dirinya mengandung. Sebelum semua kebahagiaan palsu yang pernah ia percaya berubah menjadi mimpi buruk yang merenggut nyawanya dan nyawa anaknya.

Tanpa sadar, tangannya bergerak menuju perutnya. Kosong. Tidak ada lagi kehidupan kecil yang pernah tumbuh di sana. Tidak ada lagi tendangan-tendangan kecil yang selalu membuatnya tersenyum setiap malam. Yang ada hanyalah kehampaan dan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Bayangan hari itu kembali muncul dengan begitu jelas. Tangga yang panjang. Darah yang mengalir di lantai marmer. Tatapan dingin Vivi yang menyaksikan semuanya tanpa sedikit pun rasa iba. Dan suara Albert yang masih terngiang hingga sekarang.

"Aku menyesal, Fira."

"Padahal aku sudah berusaha melindungimu."

Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi. Melindunginya?Bagaimana mungkin pria itu mengucapkan kalimat seperti itu setelah semua yang terjadi?

Jika memang ingin melindunginya, mengapa Albert tetap menikahinya dan menjadikannya tumbal? Mengapa membiarkannya hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun? Mengapa menjadi bagian dari hal mengerikan yang tidak dia mengerti? Semakin dipikirkan, semakin sulit baginya memahami pria itu.

"Nona, apakah Anda baik-baik saja?"

Pelayan itu kembali bertanya dengan nada khawatir. Zafira segera mengusap air matanya dan berusaha menenangkan diri. Ini bukan waktunya larut dalam kesedihan. Ia telah diberi kesempatan kedua. Kesempatan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan dimiliki. Dan kali ini, ia tidak akan mati dengan bodoh.

"Aku baik-baik saja," jawabnya pelan.

Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum berkata, "Keluarga Pratama sudah tiba. Tuan meminta Nona segera turun."

Jantung Zafira seolah berhenti berdetak sesaat. Keluarga Pratama. Artinya Albert ada di bawah. Hari ini adalah hari lamaran mereka. Hari ketika semua tragedi dalam hidupnya dimulai.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia menyambut hari ini dengan hati yang penuh kebahagiaan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang melangkah masuk ke dalam sebuah jebakan yang telah disiapkan dengan rapi. Namun sekarang semuanya berbeda.

"Baik. Aku akan segera turun."

Setelah pelayan itu pergi, Zafira berdiri di depan cermin. Pantulan wajah muda yang menatap balik ke arahnya terasa begitu asing sekaligus akrab. Wajah yang belum mengenal kehilangan. Wajah yang belum menangisi anaknya. Wajah yang belum mati. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pantulan dirinya sendiri.

"Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil hidupku dan ayahku," bisiknya pelan.

Dengan tekad yang perlahan menguat, Zafira membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Ruang tamu keluarga Hendro tampak ramai dan hangat seperti yang diingatnya. Ayahnya sedang berbincang dengan keluarga Pratama sambil sesekali tertawa. Dari luar, semuanya terlihat begitu sempurna.

Namun Zafira tahu bahwa tidak semua yang terlihat indah benar-benar seperti itu. Pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk tidak jauh dari ayahnya. Vivi, kakak tirinya. Wanita yang telah membunuhnya.

Vivi segera berdiri begitu melihatnya turun dari tangga. Senyum hangat yang dulu selalu membuat Zafira merasa nyaman kembali menghiasi wajah cantiknya.

"Fira."

Vivi berjalan mendekat dan menggenggam tangannya dengan akrab.

"Akhirnya kau turun juga. Kami semua menunggumu."

Zafira menatap wajah di depannya tanpa berkedip. Begitu cantik, begitu lembut, begitu sempurna.

Tidak ada seorang pun yang mungkin akan percaya bahwa wanita yang kini tersenyum hangat di hadapannya pernah berdiri di atas tangga sambil menyaksikan dirinya dan anaknya kehilangan nyawa. Untuk sesaat, bayangan masa lalu kembali bertumpuk dengan kenyataan di depan matanya. Senyuman yang sama. Tatapan yang sama. Namun kini Zafira tahu apa yang tersembunyi di balik semuanya.

"Fira?"

Vivi terlihat bingung ketika Zafira terus menatapnya.

"Ada apa?"

Zafira segera menarik dirinya kembali dari kenangan itu.

"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya sedikit lelah."

Senyum Vivi sempat membeku sepersekian detik sebelum kembali seperti semula. Perubahan kecil yang mungkin tidak akan pernah diperhatikan Zafira di kehidupan sebelumnya. Namun sekarang berbeda. Sekarang ia memperhatikan semuanya.

"Fira."

Suara ayahnya memanggil.

"Duduklah."

Zafira mengangguk dan berjalan menuju kursi yang telah disiapkan. Namun langkahnya terhenti sesaat ketika matanya bertemu dengan pria yang duduk di seberang. Albert Pratama.

Napasnya tercekat. Untuk sesaat, suara-suara di sekitarnya seakan menghilang. Yang tersisa hanyalah wajah pria itu. Wajah yang pernah dicintainya sepenuh hati. Wajah yang berdiri di samping tubuhnya saat ia sekarat. Wajah yang berbisik penuh penyesalan ketika semuanya sudah terlambat.

Tubuh Zafira menegang tanpa sadar. Sementara itu, Albert mengernyit pelan. Ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Zafira yang biasanya penuh rasa malu dan kekaguman kini terasa asing baginya. Wanita itu memandangnya seolah sedang menilai sesuatu. Seolah sedang berusaha menemukan jawaban yang tidak diketahui orang lain.mPerasaan aneh itu membuat Albert terus memperhatikannya. Apakah dia mengetahui sesuatu?

"Kalau begitu," ujar Hendro sambil tersenyum puas, "karena semua orang sudah berkumpul, mari kita bicarakan tujuan kedatangan keluarga Pratama hari ini."

Pembicaraan tentang lamaran pun dimulai. Namun Zafira hampir tidak mendengar satu pun yang dibicarakan. Pikirannya dipenuhi oleh satu pertanyaan yang terus berulang. Apakah Albert benar-benar orang yang bertanggung jawab atas kematiannya?

Jika memang demikian, mengapa pria itu terlihat begitu hancur saat dirinya meninggal? Dan apa maksud dari kalimat terakhir yang diucapkannya? "Padahal aku sudah berusaha melindungimu."

Semakin dipikirkan, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Pada akhirnya, Zafira menarik napas panjang dan mengambil keputusan.

Ia akan tetap menikah dengan Albert. Bukan karena cinta. Bukan karena perasaan yang pernah dimilikinya. Melainkan karena ia membutuhkan jawaban. Jika ada seseorang yang mengetahui sebagian dari kebenaran itu, maka orang tersebut adalah Albert.

Dan kali ini, sebelum semuanya terlambat, ia akan mengungkap seluruh rahasia yang pernah merenggut hidupnya dan ayahnya. Saat tekad itu terbentuk di dalam hatinya, Zafira tidak menyadari bahwa Albert masih memperhatikannya dari seberang meja.

Pria itu merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Seolah wanita yang duduk di hadapannya bukan lagi Zafira yang selama ini dikenalnya. Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah keluarga Hendro hari itu, Albert memiliki firasat aneh.

Bersambung.........

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Pria di Balik Kematian Palsu

    Pagi itu, Albert baru saja menyelesaikan rapat ketika Pak Ardi mengetuk pintu ruang kerjanya.“Maaf, Pak. Saya sudah berhasil menghubungi pemilik toko tempat Teddy pernah bekerja.”Albert mengangkat wajahnya.“Bagaimana hasilnya?”“Pemilik toko bersedia memberikan keterangan. Dia juga sudah memeriksa beberapa foto yang saya bawa.”Pak Ardi meletakkan sebuah map di atas meja.“Ada satu foto yang langsung dikenali olehnya.”Albert membuka map itu. Di antara beberapa foto yang dikumpulkan Pak Ardi, terdapat foto Pak Garda.Alis Albert langsung berkerut.“Pak Garda?”“Benar, Pak. Pemilik toko mengenali beliau sebagai pria yang pernah datang bersama Vivi untuk menemui Teddy.”Albert terdiam.Untuk beberapa saat, dia hanya menatap foto tersebut, seolah berharap ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.Pak Garda bukan orang asing baginya. Selama ini, Albert menghormati pria itu karena pernah memberikan peringatan yang menyelamatkannya dari kecelakaan pesawat. Bahkan, beberapa kali dia masi

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Jejak yang Belum Terhapus

    Pagi itu, Albert berangkat ke kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi percakapannya dengan Zafira semalam.Istrinya mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, Albert tahu ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu darinya. Bukan sekadar rahasia kecil, melainkan sesuatu yang membuat Zafira terus menahan diri setiap kali pembicaraan mereka menyentuh masa lalu Teddy.Satu hal yang pasti, dia tidak akan membiarkan orang yang pernah membahayakan istrinya berkeliaran tanpa diketahui.Begitu tiba di kantor, Albert langsung memanggil Pak Ardi.“Bagaimana perkembangan penyelidikan kita?”Pak Ardi membuka berkas yang dibawanya.“Saya sudah menghubungi beberapa orang yang pernah bekerja di toko tempat Teddy bekerja sebelum dibawa Vivi ke rumah keluarga Hendro. Sayangnya, pemilik toko yang lama sudah pindah. Namun, saya berhasil mendapatkan alamat tempat tinggalnya.”“Bagus. Hubungi dia dan atur pertemuan. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika Teddy bekerja di sana.”“

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Rahasia yang Tak Boleh Terungkap

    Malam itu, Zafira duduk sendirian di tepi ranjang. Albert belum kembali ke kamar karena masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya. Sementara itu, Zafira terus memikirkan percakapan mereka sore tadi.Bagaimana kau bisa mengetahui begitu banyak hal tentang Teddy?Pertanyaan Albert terus terngiang di kepalanya.Dia tahu suaminya mulai curiga. Bukan karena Albert menganggapnya pembohong, melainkan karena terlalu banyak hal yang dia ketahui tanpa alasan yang masuk akal.Zafira menunduk, menatap kedua tangannya.Dia ingin menceritakan semuanya.Dia ingin mengatakan bahwa Teddy bukan sekadar mantan pekerja mansion Hendro. Pria itu adalah orang yang telah menghancurkan hidupnya dalam kehidupan pertama. Dia juga ingin mengungkapkan bahwa Vivi bukan perempuan baik yang selama ini ditampilkan di hadapan Albert.Namun, bagaimana mungkin dia menjelaskan bahwa dirinya telah mati, kemudian mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali?Siapa yang akan percaya pada cerita seperti itu?Alb

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Rahasia Anak Panti

    Albert masih memikirkan kesaksian Jatmiko ketika Pak Ardi mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerjanya."Pak, saya sudah mendapatkan informasi tentang masa lalu Teddy."Albert segera mengalihkan pandangan dari layar laptopnya."Apa yang kau temukan?""Ternyata Teddy dibesarkan di sebuah panti asuhan. Dia tinggal di sana sejak kecil dan tidak memiliki keluarga yang diketahui oleh pengurus panti."Albert mengernyitkan dahi."Apakah kau sudah menemukan seseorang yang mengenalnya sejak kecil?""Sudah, Pak. Kami mendapatkan informasi mengenai seorang pria yang pernah tinggal di panti yang sama. Namanya Bima. Sekarang dia bekerja di sebuah bengkel di luar kota."Albert menutup laptopnya."Hubungi dia. Aku ingin berbicara dengannya.""Baik, Pak."Ardi segera mengatur pertemuan. Siang harinya, Bima datang ke kantor Albert dengan wajah sedikit gugup. Pria itu duduk di hadapan Albert sambil sesekali memperhatikan ruangan yang luas dan mewah."Terima kasih sudah datang," ujar Albert. "Saya ingin m

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Saksi yang Mulai Mengingat

    Albert belum puas dengan laporan yang diberikan Pak Ardi. Semakin banyak hal yang diketahuinya tentang Teddy, semakin besar pula keyakinannya bahwa pria itu bukan sekadar pekerja biasa di mansion Hendro."Ardi, aku ingin kau menemukan salah satu pekerja lama yang pernah berinteraksi langsung dengan Teddy," ujar Albert sambil menutup map di hadapannya. "Terutama orang yang mengetahui bagaimana dia bekerja di sana.""Baik, Pak. Saya akan mencarinya.""Dan jangan hanya mencari informasi tentang kematiannya. Aku ingin tahu kehidupan Teddy sebelum dia dinyatakan meninggal."Pak Ardi mengangguk, lalu keluar dari ruang kerja.Albert kembali menatap foto Teddy. Dalam foto itu, pria tersebut tampak biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa dia pernah menjadi orang kepercayaan Vivi.Namun, Zafira menyebut namanya dengan ketakutan yang begitu nyata.Albert masih mengingat bagaimana istrinya menangis ketika menuduh Vivi terlibat dalam kejadian-kejadian yang tidak pernah dia pahami. Saa

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Topeng si Bisu

    Vivi meninggalkan kafe dengan langkah tenang. Dari luar, tidak ada yang berbeda dari dirinya. Dia masih tampak seperti perempuan anggun yang tidak memiliki masalah apa pun. Namun, setelah masuk ke mobil, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Albert mulai menyelidiki Teddy.Sebenarnya, Vivi sudah memperkirakan kemungkinan itu sejak Zafira menyebut nama Teddy di hadapan Albert. Hanya saja, dia tidak menyangka Albert akan bergerak secepat ini.Untungnya, dia tidak pernah meremehkan pentingnya menjaga jarak di depan orang lain. Selama ini, Teddy menjalankan tugasnya tanpa menarik perhatian. Bahkan ketika semua orang mengira pria itu telah meninggal, dia tetap menjalankan perintah Vivi secara diam-diam.Vivi mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat.Aku perlu bertemu denganmu malam ini. Ada perkembangan baru.Balasan datang tidak lama kemudian.Baik. Aku akan datang.Vivi menyimpan ponselnya.Dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada Teddy. Pria itu sudah mengenalnya

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Aku dan Anakku Mati Hari Ini

    “Albert mulai berubah.”Tubuh Zafira langsung menegang. Ia baru saja tiba di mansion keluarga ketika suara itu terdengar dari balik pintu ruang kerja ayahnya.“Bukankah itu berbahaya?” tanya seorang pria yang tidak dikenalnya.“Aku tahu.”Zafira membeku. Ia mengenali suara itu. Vivi, kakak tirinya.

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Melepaskan Perasaan

    Zafira tidak tahu bagaimana ia bisa keluar dari rumah Pak Garda dengan langkah yang masih terlihat tenang. Padahal di dalam dirinya, semuanya seperti sedang runtuh.,Suara-suara yang baru saja ia dengar terus berputar di kepalanya."Aku khawatir Zafira mulai mencurigai sesuatu.""Bukankah sejak awal

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Rahasia di Balik Pintu

    Pagi-pagi sekali Zafira sudah meninggalkan rumah. Ia tidak memberi tahu siapa pun ke mana akan pergi. Bahkan ketika Vivi bertanya mengapa ia tampak terburu-buru saat sarapan, Zafira hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa ia ingin berjalan-jalan.Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbaga

  • Kehidupan Kedua Pengantin Pengganti    Orang yang Melihat Takdir

    Sebenarnya Pak Garda bukan sosok asing bagi keluarganya. Ayahnya mengenal pria itu cukup lama dan sesekali masih mengundangnya ke rumah untuk berbincang. Meski begitu, Hendro tidak pernah menjelaskan secara rinci urusan mereka. Dulu Zafira tidak terlalu memperhatikan keberadaan pria itu.Namun seka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status