Share

38 - Gedhong Pusaka Prabayeksa

Author: YOLANDA
last update Last Updated: 2026-01-19 10:59:26

“Semoga Panembahan benar… bahwa setiap izin membawa bayangan. Aku hanya berharap bayangan itu tidak menelan adikku.”

Dari balik tiang berukir di sudut serambi, sepasang mata mengintip dalam diam. Sekar Wangi berdiri di sana, separuh tubuhnya tersembunyi di balik tirai tipis yang bergoyang pelan tertiup angin. Wajahnya tampak manis seperti biasa, tapi sorot matanya mengeras, menandakan gelombang perasaan yang ia sembunyikan rapat.

Ia memperhatikan langkah Nawang yang berjalan sejajar denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   106 - Sahabat

    "Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   105 - Waktu Pun Berlalu

    "Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   104 - Sahabat Kecil Nawang

    Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   103 - Permohonan Ratu

    Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   102 - Prosesi Pemakaman di Kotagede

    Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   101 - Kematian Ki Ageng Mangir

    Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status