Share

5 - Ketegangan Di Balairung

Penulis: YOLANDA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 20:05:50

Suara Panembahan Senopati terdengar berat namun terkontrol.

“Benarkah kabar yang kau sampaikan itu? Raden Rara Nawang, calon menantu Mataram, bertingkah laku aneh?”

Abdi dalem itu merunduk makin dalam, hampir menyentuh lantai.

“Leres, Kanjeng Panembahan. Dayang-dayang sami bingung, awit kersa lan tuturipun Gusti Raden Rara boten kados biyasa.” Jawab Sang Abdi Dalem tersebut. Yang mengatakan bahwa para dayang bingung dengan perubahan Nawang.

Panembahan Senopati menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Semua yang hadir menahan napas. Mereka tahu, Panembahan bukan hanya seorang raja, melainkan sosok yang diyakini memiliki ikatan batin dengan jagat gaib. Perlahan, Panembahan Senopati membuka matanya kembali. Tatapannya teduh namun penuh wibawa.

“Kadang kala, perubahan dalam diri seorang putri bukan semata karena sakit jasmani. Bisa jadi ada perkara yang lebih halus, yang tidak kasat mata.”

Di sana, Ki Juru Martani menimpali, “Benar, Gusti Kanjeng. Kita tidak perlu tergesa-gesa dalam menilai. Sebaiknya, kita lihat dulu perubahan yang mereka katakan itu. Terlebih lagi, Raden Rara Nawang, baru saja mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya.”

“Yang dikatakan Ki Juru memang benar. Kita tidak boleh gegabah. Adipati Agung Mangkura dari Lasem akan sangat murka jika kita menyakiti putri kesayangannya. Jangan sampai dia mengetahui kabar ini dulu.”

Ia lalu menoleh pada Raden Wiraguna, sorotnya tajam namun penuh arti.

“Raden Wiraguna, kau adalah calon suaminya. Tugasmulah memastikan kebenaran kabar ini. Bila benar adanya, kau harus menjaga Raden Rara Nawang dengan sepenuh hati. Ingatlah, takdir sering kali bersembunyi di balik peristiwa yang kita anggap salah.”

Wiraguna menunduk dalam, menahan gejolak hatinya. “Sendika dawuh, Kanjeng Rama.”

Raden Mas Jolang dan Raden Purbaya saling bertukar pandang, khawatir tapi juga penasaran. Raden Rangga tersenyum tipis, seolah puas melihat ketegangan itu. Suasana Balairung kembali hening, hanya suara desir angin yang menyelinap dari sela-sela jendela. Aura misteri menggantung di udara, seakan menegaskan bahwa kabar mengenai Putri Nawang bukanlah perkara sepele. Akan tetapi di tengah keheningan yang tegang itu, Raden Rangga mengatakan hal yang menyindir perasaan Raden Wiraguna, dan juga membuat seluruh bangsawan dan abdi dalem yang hadir disitu saling memandang.

“Kanjeng Rama,” ujarnya sambil menyilangkan tangan di dada, “ampun hamba lancang. Namun, apakah tepat menyerahkan Raden Rara Nawang, kepada seseorang yang tak layak menjaganya?”

Seisi ruangan menoleh serentak. Tatapan mereka jatuh pada Raden Wiraguna, yang masih duduk bersila menunduk. Raden Rangga melanjutkan, kali ini dengan nada menyelidik.

“Wiraguna terlalu sibuk dengan gejolak hatinya terhadap Sekar Wangi, putri Tumenggung Prabasena. Mungkin itu sebabnya, ia tak sempat memperhatikan perubahan calon istrinya.”

Kata-kata itu menghentak semua yang hadir. Ruangan yang sebelumnya hening kini dipenuhi bisik-bisik tertahan. Raden Mas Jolang mengerutkan dahi, Raden Purbaya menoleh dengan sorot mata tajam. Panembahan Senopati tetap duduk tegak, wajahnya nyaris tanpa ekspresi, meski matanya berkilat tajam. Wiraguna, yang sedari tadi menahan diri, akhirnya mengangkat wajahnya, napasnya memburu.

“Kangmas Rangga! Kata-katamu sudah melewati batas!” suaranya nyaring, penuh amarah yang berusaha ditahan. Ia hampir saja berdiri, tangannya mengepal, namun Raden Mas Jolang segera mengangkat tangan memberi isyarat.

“Cukup! Ini bukan tempat untuk adu sengketa saudara!” Raden Purbaya ikut menambahkan, suaranya tegas.

“Wiraguna, Rangga! Kalian berdua putra Mataram. Jagalah kata-kata dan tingkah laku kalian di hadapan Kanjeng Rama. Jangan sampai urusan pribadi merusak kewibawaan kita di Balairung.”

Wiraguna terhenti, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. Raden Rangga hanya menundukkan kepala, menyembunyikan senyum samar di bibirnya.

Para bangsawan saling bertukar pandang dengan gelisah. Di sudut ruangan, wajah Tumenggung Prabasena, Ayah Sekar Wangi memucat. Ia menunduk dalam-dalam, hatinya diliputi rasa canggung. Ia tahu kedekatan putrinya dengan Raden Wiraguna sering jadi bahan bisik-bisik, tetapi mendengarnya disebut terang-terangan di depan Panembahan membuatnya tak enak hati, seolah keluarganya terseret ke dalam persoalan istana.

Suasana Balairung mencekam. Semua mata menunggu dawuh Panembahan Senopati. Sang raja yang sejak tadi berdiam, perlahan menghela napas panjang. Suaranya tenang, namun bergetar dengan wibawa yang membuat semua orang menunduk.

“Raden Rangga...” panggilnya pelan, namun jelas terdengar di setiap sudut ruangan.

“Engkau putraku. Mulutmu tajam, dan hatimu penuh api. Namun ketahuilah, kata-kata di Balairung ini tak ubahnya panah. Sekali melesat, takkan kembali. Jangan sampai kelak kau menyesal karena panahmu melukai saudara sendiri.” Raden Rangga menunduk dalam, sambil tersenyum.

“Daulat, Kanjeng Rama...” suaranya nyaris berbisik.

Panembahan lalu mengalihkan pandangannya pada Raden Wiraguna. Tatapannya teduh, namun mengandung peringatan.

“Dan kau, Raden Wiraguna... Putra yang aku percayai untuk menjaga Putri Lasem itu.. Jangan biarkan hatimu goyah oleh perkara lain. Ingatlah, kedekatanmu dengan Sekar Wangi hanyalah bayangan masa kecil. Kau telah dijodohkan dengan Raden Rara Nawang. Itu adalah garis yang harus kau junjung.” Raden Wiraguna menunduk dalam, wajahnya memerah menahan rasa malu dan sesal.

“Daulat, Kanjeng Rama. Hamba salah. Hamba akan menjaga janji dan kehormatan yang telah ditetapkan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Panembahan mengangguk tipis, lalu menatap seluruh bangsawan yang hadir.

“Ingatlah kalian semua. Persatuan keluarga ini adalah tonggak Mataram. Bila kalian biarkan retak karena iri atau cinta, maka bukan hanya hati yang hancur, tapi juga negeri.”

Balairung kembali hening. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Hanya gema suara Panembahan yang tersisa, menggantung berat di udara, menjadi pengingat yang takkan mudah hilang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   22 - Tatapan Di Balik Tirai Pawiyatan

    “Apa yang terjadi padamu dan Raden Wiraguna, Nawang? Mengapa kalian muncul dalam pikiranku? Namun... tubuh ini juga bukan milikku. Lalu, ingatan itu... sebenarnya milikku atau milik Nawang?” hati Alea bergumam. Suasana Pendopo Pawiyatan masih tenggelam dalam keheningan. Para murid duduk bersila, mata terpejam, mengikuti wejangan Ki Jayengkara. Cahaya matahari mulai menembus, menimpa wajah Nawang yang tampak damai, meski sesekali jemarinya bergetar halus. “Belajarlah mengenali suara hatimu sendiri…” suara Ki Jayengkara mengalun pelan. “Karena di sanalah tempat semesta berbisik.” Namun tanpa sepengetahuan siapa pun di dalam pendopo, di luar halaman rombongan Panembahan Senopati baru saja lewat. Langkah mereka berhenti begitu suara lembut Ki Jayengkara terdengar sampai ke jalan batu yang membelah taman. Panembahan menoleh ke arah pendopo, memicingkan mata. “Pawiyatan?” gumamnya. Ki Juru Martani yang berjalan di sampingnya ikut menunduk hormat. “Benar, Kanjeng. Hari ini gilir

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   21 - Melihat Jiwanya Yang Lain

    “Anak-anakku,” suaranya dalam namun lembut, “dalam jagad manusia, yang paling sukar dikalahkan bukan musuh di medan perang, melainkan nafsu dalam diri sendiri.” Semua murid menunduk. Suasana seketika hening. Ki Jayengkara melanjutkan, “Banyak yang belajar menulis aksara, membaca kitab, menembang tembang. Namun sedikit yang mau belajar mengenal dirinya sendiri. Padahal, tanpa mengenal diri, ilmu lain akan kehilangan maknanya.” Alea memperhatikan dengan saksama, merasa kata-kata itu seperti menampar pelan. “Kenal diri sendiri…” gumamnya pelan, seolah kata itu punya bobot lain untuknya yang sedang terjebak di tubuh orang lain. Ki Jayengkara lalu mengambil kendi kecil di depannya, menuangkan air ke mangkuk tanah liat. “Air ini,” katanya, “bening karena diam. Jika kau goyangkan, ia menjadi keruh. Begitulah batin manusia. Siapa yang hatinya tak tenang, maka takkan mampu melihat kebenaran.” Alea terpaku. Sekilas, wajahnya memantul di permukaan air dalam kendi kecil itu, yang s

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   20 - Pertemuan Dengan Pembayun dan Sekar Wangi

    Pendopo Pawiyatan terletak di luar Keputren, di sisi barat taman keraton. Bangunannya besar, terbuka di keempat sisinya, dengan tiang-tiang jati tinggi menjulang dan lantai batu hitam berkilat. Di dalamnya, sudah terdengar suara gamelan disetem pelan dan beberapa putri duduk bersila, masing-masing ditemani dayang mereka. Alea menelan ludah. "Jadi ini… kayak kelas seni-nya kerajaan, ya?" Kenanga mengangguk. “Benar, Gusti. Di sinilah para putri dan bangsawan muda berlatih kehalusan tutur dan gerak. Kadang Panembahan pun datang diam-diam untuk melihat hasil didikan para guru.” “Wah… tekanan banget itu.” Alea berbisik, tapi tetap melangkah masuk. Begitu sampai di sana, beberapa kepala menoleh. Beberapa putri berbisik pelan, mungkin membicarakan penampilan Nawang yang sempat dikabarkan sakit. Di antara mereka, ada satu sosok yang menonjol, wajahnya teduh, senyumnya lembut tapi auranya kuat. Raden Ajeng Pembayun. Busananya putih gading dengan selendang merah muda di bahu, sed

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   19 - Bayangan Tentang Raden Rangga

    Hatinya tiba-tiba bergetar. Ada sesuatu yang terasa ganjil, seolah potongan puzzle masa lalu mulai menyatu di kepalanya. Ia menatap ke arah taman dalam yang mulai tersinari mentari. Cahaya keemasan menyentuh dedaunan basah, tapi pikirannya melayang jauh. “Raden Rangga…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Bukankah… dia yang akhirnya—” Suara itu terhenti di tenggorokan. Napasnya tertahan. Dalam ingatannya, kilasan sejarah yang pernah ia baca di buku muncul seperti bayangan kabur. Raden Rangga, putra Panembahan Senopati, cerdas, gagah, sakti dan berbakat. Tapi juga, terlalu berani menentang takdir. Ia pernah diyakini akan menjadi penerus tahta. Adipati Anom Mataram sebelum akhirnya keadaan berubah. Panembahan memilih Raden Mas Jolang. Dan Rangga… merasa dikhianati. Alea menatap kosong ke tanah, jantungnya berdetak pelan namun berat. Dalam benaknya, adegan-adegan dari catatan sejarah muncul bagai film yang tak ingin ia tonton. Pemberontakan Raden Rangga. Pertumpaha

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   18 - Diantara Ratu Dan Selir

    Dengan langkah kaku, Alea mendekat. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwibawa, Nyai Mas Semangkin yang masih dalam balutan busana sederhana untuk beribadah, namun aura mereka jauh lebih berat dari siapapun yang pernah Alea temui. Sang Nyai menatapnya lembut, senyumnya samar. “Rara Nawang… kau tampak lelah. Namun kau tetap hadir bersama kami pagi ini. Itu pertanda baik.” Alea, masih kikuk, menunduk dalam-dalam. “I-iya… maksud saya… nggih, Gusti Nyai.” Nyai Mas Semangkin menatap lembut, tapi di balik sorot matanya terselip sesuatu yang sulit ditebak. Sebelum Alea sempat merespons lebih lanjut, langkah halus terdengar dari belakang. Para dayang langsung menunduk serempak. Suara lembut tapi berwibawa terdengar, “Pagi yang sejuk, bukan begitu, Semangkin?” Alea menelan ludah. Kanjeng Ratu Waskitajawi berdiri tak jauh darinya cahaya lampu minyak menyorot wajah Sang Ratu yang tampak tenang, namun setiap gerakannya memancarkan kekuasaan. Nyai Mas Semangkin segera menu

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   17 - Ibadah Pertama Di Mataram

    Cahaya rembulan masih samar bergantung di langit, sementara kokok ayam pertama baru saja terdengar dari kejauhan. Di dalam Keputren, Kenanga berjalan perlahan mendekati amben Putri Nawang, membawa lampu minyak kecil di tangannya. Ia mendekat, lalu berbisik lembut. “Gusti Rara, sudah waktunya bersiap untuk ibadah pagi.” Nawang atau Alea yang kini mengisi raganya, bergerak sedikit di balik kelambu. Dengan mata setengah terpejam, ia mengibaskan tangan malas. “Apa-apaan sih! Masih gelap gini udah ribut-ribut!” gumamnya kesal. Kenanga tetap sabar, menunduk sedikit. “Mohon maaf, Gusti Rara. Kalau terlambat sholat subuh nanti tidak baik.” Belum sempat kalimat itu selesai, Nawang tiba-tiba bangun setengah duduk dengan rambut awut-awutan, wajah masih kucel karena kebluk. “APA? Subuh-subuh? Aku aja baru tidur dua jam yang lalu! Kenapa, sih, di sini orang-orang nggak bisa kasih aku tidur tenang sedikit aja?” Kenanga terkejut, buru-buru menunduk dalam-dalam. “Aku hany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status