Share

6 - Bara Di Antara Para Raden

Penulis: YOLANDA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 20:28:18

Setelah pertemuan di Balairung bubar, halaman dalam keraton sepi hanya dijaga beberapa prajurit. Raden Wiraguna melangkah cepat, napasnya masih panas oleh ucapan Raden Rangga tadi. Di sebuah pendopo samping, ia akhirnya menemukan Raden Rangga yang duduk santai bersila, meneguk wedang jahe seolah tak terjadi apa-apa.

“Kangmas Rangga,” suara Wiraguna berat, menahan gejolak amarah.

“Apa maksudmu menyinggung namaku dan Sekar Wangi di hadapan Kanjeng Rama dan para bangsawan lain?”

Rangga mendongak perlahan, senyumnya tipis.

“Maksudku? Tidak ada. Aku hanya berkata apa yang semua orang sudah bisikkan. Bukankah lebih baik terbuka daripada berpura-pura?”

Raden Wiraguna mengepalkan tangan. “Kau tahu betul itu bukan tempatnya! Kau sengaja mempermalukanku!”

Raden Rangga meletakkan cawan wedangnya, menatap lurus dengan mata berkilat.

“Kalau kau merasa terhina, itu bukan salahku. Itu karena hatimu sendiri goyah. Kau tak bisa menjaga janji pada Rara Nawang, sementara bayangan Sekar Wangi masih mengikatmu. Itu kelemahanmu, Wiraguna. Kau tahu kalau Nawang hampir mati! Tapi berani-beraninya kau masih mengingat gadis itu!”

Raden Wiraguna hampir melangkah maju, wajahnya merah padam.

“Cukup! Jangan coba-coba menginjak kehormatanku lagi!”

Suara bentakan mereka akhirnya menarik perhatian. Raden Mas Jolang dan Raden Purbaya yang baru keluar dari Balairung segera menghampiri.

“Sudahlah!” kata Raden Mas Jolang, nadanya berwibawa meski tetap tenang.

“Kalian berdua saudara, darah yang sama. Apa pantas bertengkar di halaman keraton setelah tadi mendapat dawuh Kanjeng Rama?” Raden Purbaya menambahkan, suaranya lebih tajam.

“Rangga, Wiraguna. Apakah kalian ingin Mataram retak hanya karena perempuan? Ingat, kita sedang dalam masa menguatkan negeri.”

Wiraguna menunduk sebentar, menahan gejolak. Namun Rangga justru mendengus, lalu menoleh ke arah Mas Jolang dengan tatapan sinis.

“Jolang… kau bicara seakan-akan kau selalu benar. Kau memang anak kesayangan Kanjeng Rama, calon pewaris singgasana. Tapi jangan kira semua orang menghormatimu karena itu.”

Mas Jolang menegang, meski wajahnya tetap kalem. Purbaya melangkah maju, mencoba meredam.

“Rangga! Jangan melewati batas!”

Namun Rangga hanya tersenyum dingin, lalu berdiri perlahan. Ia menepuk bahu Wiraguna sambil berbisik tajam, “Jaga baik-baik Putri Nawangmu. Kalau tidak, jangan salahkan aku bila orang lain yang menjaganya.”

Raden Wiraguna mengibaskan bahunya, napasnya memburu. Raden Mas Jolang menatap Raden Rangga dengan mata kecewa, sementara Purbaya mengepalkan tangan menahan diri. Keempat saudara itu berdiri dalam ketegangan yang membeku. Hanya obor yang bergoyang ditiup angin, seolah ikut menyaksikan api kecil yang suatu hari bisa berubah menjadi kobaran besar di dalam keluarga Mataram.

Di antara ketiga saudaranya, Raden Rangga yang terlihat paling sering memberontak kepada Raden Mas Jolang. Ini dikarenakan ada api cemburu dan persaingan posisi putra mahkota. Raden Rangga adalah anak Nyai Mas Semangkin, seorang garwa ampeyan atau selir Panembahan Senopati. Meski putra selir, ia cukup disayang oleh Panembahan dan desas-desus mengatakan Raden Rangga yang akan diangkat menjadi Adipati Anom karena ia dianggap gagah dan bijak. Serta kemampuannya luar biasa. Namun, semenjak kelahiran Raden Mas Jolang yang merupakan putra dari permaisuri utama, sudah tentu mengancam haknya itu. Ia mulai meragukan Ayahnya.

⏳️⏳️⏳️

Alea tiba-tiba terbangun dengan gelisah seolah seperti habis mimpi buruk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.

“Jam berapa ini? Jam berapa?!” Paniknya.

Kenanga yang mendengar suara gelisah Putri Nawang langsung mendekat dengan penuh kekhawatiran.

“Gusti Rara! Ada apa, Gusti Rara?!”

“Sekarang jam berapa?”

“Jam? Nopo niku, Gusti Rara? Kulo mboten ngertos,” tanya Kenanga yang tak mengerti apa itu jam.

Alea ditubuh Putri Nawang pun mendengus, lupa kalau ia berada di Mataram, bukan di rumahnya sendiri.

“Maksudku... hmmm... sekarang waktu siang atau sudah menjelang ashar, Kenanga?”

“Sekarang sudah menjelang ashar, Gusti Rara,”

“Berarti sudah sore, ya,” Alea menghela napas panjang.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa disini,” ujar Alea dengan nada sedih.

Kenanga menatap dengan sorot mata sedih. Lalu ia berkata dengan sopan dan hati-hati.

“Apakah Gusti Rara benar-benar tidak ingat apapun? Sungguh, saya benar-benar merasa sedih,”

Alea menoleh. Ada rasa menyesal dengan dirinya sendiri begitu melihat wajah sedih Kenanga yang sepertinya merasa kehilangan Tuan Putri aslinya.

“Maafkan aku, Kenanga. Aku benar-benar nggak ingat apapun. Dan sejujurnya aku bukanlah Nawang tapi percuma... kamu nggak akan percaya juga kalau aku jelaskan. Keadaanku saat ini, tidak sesederhana yang orang pikirkan.”

Mendengar itu, Kenanga langsung menggeleng cepat, “tidak, Gusti Rara! Jangan meminta maaf kepadaku. Ini semua bukan kesalahan Gusti Rara,”

Alea terdiam. Hening sesaat menguasai ruangan itu. Dalam benaknya ia berkata, “apa ya yang bikin aku ditakdirkan untuk masuk ke raga putri ini? Dan kalau aku ada ditubuh Nawang, lalu jiwa Nawang yang asli ada dimana? Dan tubuhku di masa depan, apa yang terjadi sama tubuhku?! Bunda... aku pengin pulang.” Cicitnya dalam hati.

"Tadi... apa yang tejadi denganmu, Gusti? Mengapa kau terbangun dalam keadaan panik?" tanya Kenanga yang penasaran.

Alea menatap lagi gadis muda itu. Ia tersenyum singkat dan kemudian menjawab dengan tenang.

"Aku baik-baik aja, kok. Kamu nggak usah khawatir, ya?" katanya.

"Syukurlah jika kau benar baik-baik saja, Gusti. Aku khawatir kau mengalami mimpi buruk," timpal Kenanga.

Alea terdiam. Perkataan Kenanga sebenarnya memang benar. Ia baru saja bermimpi. Namun bukan mimpi yang buruk. Justru, mimpi itu sekarang menciptakan rindu yang tak terobati. Alea memimpikan saat-saat dirinya mengobrol dengan Bundanya, yaitu Ayuna saat malam sebelum keberangkatannya ke Yogyakarta.

Di malam hari sebelum keberangkatannya ke Yogyakarta, Alea menghampiri Ayuna yang sedang duduk di kursi panjang berukir jati. Lampu minyak yang diletakkan di atas meja kecil memancarkan cahaya temaram, membuat bayangan wajah mereka menari-nari di dinding.

Ayuna menatap putrinya lekat, seolah ingin menghafal setiap garis wajahnya. Tangannya yang hangat menggenggam jemari Alea.

"Besok, ketika kamu sampai di Yogya, ingatlah satu hal, Nak..." suara Ayuna terdengar pelan namun tegas, ada getar aneh yang membuat dada Alea ikut berdebar.

"Apa itu, Bun?" Alea mencoba tersenyum, meski matanya menyimpan keraguan.

"Dengarkan hatimu. Kadang, hatimu akan lebih jujur daripada logikamu. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata... hanya bisa dirasakan." Ayuna berhenti sebentar, menatap lampu minyak seakan mencari jawaban di sana. "Dan jangan takut jika kamu merasa asing, atau jika sesuatu terasa... seperti pernah kamu alami. Itu bukan sekadar kebetulan."

Alea mengerutkan dahi. "Maksud Bunda apa? Aku makin bingung."

Ayuna tersenyum samar, senyum yang anehnya membuat bulu kuduk Alea berdiri. Ia mengusap kepala putrinya lembut.

"Suatu hari kamu akan mengerti. Darah yang mengalir dalam dirimu akan menuntunmu pada jalannya sendiri. Kamu hanya perlu berani melangkah, meski jalan itu tampak seperti membawa ke masa yang bukan milikmu."

Alea terdiam, hatinya berdesir tanpa alasan. Kata-kata ibunya terasa seperti ramalan, samar, namun seolah menyimpan sesuatu yang lebih besar. Malam itu, ia tak berani bertanya lebih jauh.

Begitu mimpi itu selesai, Alea terbangun tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang. Dan kini, ia merasa merindukan Ayuna.

Dalam hatinya Alea berkata, "kenapa, ya, Bunda bilang gitu ke aku? Apa Bunda udah ngerasa kalau aku akan pergi jauh?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   106 - Sahabat

    "Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   105 - Waktu Pun Berlalu

    "Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   104 - Sahabat Kecil Nawang

    Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   103 - Permohonan Ratu

    Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   102 - Prosesi Pemakaman di Kotagede

    Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   101 - Kematian Ki Ageng Mangir

    Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status