LOGINSuara gamelan bergema samar dari kejauhan, memenuhi kepalanya. Bersamaan dengan itu, kilasan-kilasan aneh menyeruak dalam pikirannya. Wajah seorang gadis berbusana keraton, seorang pemuda berjubah prajurit, sebuah istana dengan gapura megah, dan suara tangisan yang menusuk hati.
“Rania! Rania, tolong gue!” suara Alea pecah, tubuhnya gemetar hebat. Rania yang baru menyadari keadaan sahabatnya berlari panik. “Alea! Ada apa?! Jangan bikin gue takut!” Beberapa murid lain mulai berkerumun, tapi suara mereka terdengar jauh, semakin jauh. Pandangan Alea berkunang-kunang, sorot cahaya ruangan berganti-ganti dengan bayangan masa lalu yang bukan miliknya. Seketika, kakinya lemas. Tubuhnya terhuyung, lalu tersungkur di lantai dingin museum. Rania menjerit, berlutut sambil mengguncang bahunya. Tapi bagi Alea, suara sahabatnya hanyalah gema samar yang perlahan menghilang. Cahaya putih terakhir meledak dalam kegelapan dan detik berikutnya, dunia yang ia kenal lenyap. Alea menggeleng cepat sembari memejamkan mata. Ia merasakan kepalanya yang pusing setelah ingatan itu muncul. Napasnya terengah-engah. “Gusti Rara. Kau baik-baik saja?” tanya dayang muda itu dengan wajah cemas. Alea membuka kedua mata, dan kembali bersikap normal. Ia menoleh pada dayang muda tersebut. “Lalu...” Alea menelan ludah lagi, berusaha menata kalimat. “Sekarang, tahun berapa?” tanyanya. Ia tidak menjawab pertanyaan dayang tadi. Dayang muda itu tampak ragu, seolah khawatir jawabannya dianggap bodoh. “Tahun ini... tahun Alip, Gusti. Dan kini masa kepemimpinan Panembahan Senopati sudah berjalan.” Alea terdiam, mencoba mencerna. “Tahun Alip?” Alea mengesahkan napas, “bahkan penanggalannya aja beda. Aku benar-benar kesasar ke dunia lain.” Batinnya. Ia lalu menatap dayang itu lebih dekat, untuk pertama kalinya memperhatikan wajahnya yang lembut namun sederhana. “Siapa namamu?” tanyanya pelan. Dayang itu tampak kaget ditanya demikian. Ia langsung menunduk lebih dalam. “Hamba, hanya seorang abdi, Gusti. Nama hamba, Kenanga.” Alea tersenyum tipis, meski wajahnya masih lemah. “Kenanga, ya. Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang, aku ingin kamu menjadi temanku. Dan sebagai teman, kamu nggak perlu bicara seperti seorang bawahan. Bicaralah selayaknya kita berteman. Kamu paham, kan?” Kenanga terkejut, matanya membesar sebentar sebelum kembali menunduk dengan wajah memerah. “Ta-tapi, Gusti. Bagaimana mungkin seorang abdi seperti hamba menjadi teman Gusti? Itu tidak mungkin.” “Tidak mungkin? Kenapa? Apa berdosa jika seorang dayang sepertimu menjadi teman seorang putri sepertiku? Lagipula aku yang meminta. Dan kamu tahu keadaanku sekarang seperti apa. Aku membutuhkan banyak arahan dan pengetahuan. Dan kamu, akan jadi satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Jadi, apa salahnya?” “Akan tetapi, jika para abdi lain atau bangsawan mengetahui ini, hamba akan dimarahi, Gusti Rara. Maaf, bukan maksud hamba menolak.” Alea mendengus, lalu berpikir sebentar. Tak lama ia pun menjelaskan lagi. “Kita nggak perlu terang-terangan berteman saat di depan banyak orang. Tapi, saat berdua seperti sekarang, kamu dan aku bisa mengobrol bebas. Gimana?” “Nopo, Gusti? Mengo... mengob... borol? Apa itu, Gusti?” Kenanga yang polos, tak mengerti perkataan Alea. Alea tertawa keras mendengar pengucapan Dayang Kenanga yang melantur. Gadis lugu itu tersentak kaget saat melihat Tuan Putrinya tertawa. Namun, ia tersenyum kagum dan senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya selama mengabdi kepada Putri Nawang, ia bisa melihat Putri Nawang tertawa lepas. “Lucu banget! Maksudku, berbicara. Ya! Berbicara. Kita bisa bebas berbicara seperti seorang teman jika hanya berdua seperti ini. Kamu mengerti?” “Oh, nggih, Gusti Rara. Hamba mengerti.” “Oh, ya, satu lagi. Jangan sebut dirimu “hamba” padaku kalau berdua. Sebut saja “aku atau saya”. Oke?” Alea mengangkat tangannya, membentuk lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuk. Sebuah isyarat oke yang jelas dan meyakinkan. Kenanga terdiam. Satu lagi tindakan asing yang Putri Nawang lakukan membuatnya kebingungan. Namun Alea yang ada ditubuh Nawang, tersenyum dan seolah menyuruh Kenanga memperagakan hal yang sama. Kenanga dengan ragunya pun akhirnya meniru. “O-o-oke... Gusti Rara,” “Nah. Gitu dong!” Meski terheran-heran dengan tingkah laku tak biasa Tuan Putrinya, ditambah juga bahasa asing yang selalu diucapkannya itu, namun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya Kenanga merasa sangat senang. Ia melihat wajah sumringah dan juga senyum Putri Nawang untuk pertama kali dalam hidupnya. Suatu momen yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Putri Nawang yang ia kenal selama ini sangat pendiam, pemalu, dan tidak banyak bicara, kecuali untuk hal tertentu saja. Tapi hari ini, ia seperti melihat sisi baru Putri Nawang yang lebih berani dan energik. Ini seperti membawa energi baru dalam hidupnya. ⏳️⏳️⏳️ Langkah-langkah prajurit Mataram berderap memasuki halaman keraton. Suara kendang ditabuh perlahan, tanda penyambutan bagi sang pangeran muda yang baru kembali dari medan laga. Raden Wiraguna berjalan paling depan, tegap dengan wajah yang masih menyimpan sisa lelah, namun sorot matanya menyala penuh kemenangan. Di Balairung Agung, Panembahan Senopati sudah duduk di singgasananya, dikelilingi putra-putranya dan juga para bangsawan lain. Raden Mas Jolang yang tampak kalem dan berwibawa, Raden Purbaya dengan sorot mata tajam penuh karisma. Tak jauh dari sana, Raden Rangga duduk bersila, wajahnya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak, antara senyum tipis dan sinis. Begitu Raden Wiraguna menghadap, ia merundukkan tubuhnya dalam hormat. “Sendika dawuh, Kanjeng Rama. Wilayah pesisir yang kanjeng titahkan kini telah tunduk pada Mataram.” Senopati mengangguk perlahan, sorot matanya penuh kebanggaan. “Bagus, Raden Wiraguna. Kau membuktikan dirimu layak menjadi pemimpin pasukan.” Raden Mas Jolang menepuk bahunya ringan, sementara Raden Purbaya hanya mengangguk dengan senyum tipis.NNamun suasana berubah saat Raden Rangga akhirnya bersuara. Ia menyilangkan tangan di dada, suaranya datar namun jelas terdengar di seluruh ruangan. “Kabar kemenanganmu memang menggembirakan, Wiraguna. Tetapi apakah kau sudah mendengar kabar dari Keputren?” Wiraguna menoleh dengan alis berkerut. “Kabar apa yang kau maksud, Kangmas Rangga?” Rangga menarik napas pendek, matanya berkilat, seolah menikmati momen menyampaikan berita itu. “Calon tunanganmu, Gusti Raden Rara Nawang... ia bertingkah aneh sejak sakit beberapa hari lalu. Dayang-dayang mengatakan tutur katanya berubah, bahkan sikapnya tak lagi sehalus dahulu. Seperti bukan dirinya.” Raden Wiraguna terdiam, tubuhnya menegang. Raden Purbaya dan Raden Mas Jolang saling bertukar pandang. “Apakah itu benar?” suara Wiraguna berat, penuh tekanan. Rangga mengangkat alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum samar. “Itu yang beredar di Keputren. Sebagai calon istrimu, seharusnya kau tahu lebih dulu. Tapi rupanya kau terlalu sibuk dengan medan perang.” Balairung keraton hening setelah Raden Rangga menyampaikan kabar itu. Hanya menyisakan ketegangan di antara suadara-saudara itu. Semua mata kini tertuju pada Panembahan Senopati yang duduk tegak di singgasananya. Sorot matanya yang dalam memandang ke arah anak-anaknya, lalu menatap lurus ke arah abdi dalem yang baru saja membawa kabar dari Keputren, tepat setelah Raden Rangga menyampaikan kabarnya.“Apa yang terjadi padamu dan Raden Wiraguna, Nawang? Mengapa kalian muncul dalam pikiranku? Namun... tubuh ini juga bukan milikku. Lalu, ingatan itu... sebenarnya milikku atau milik Nawang?” hati Alea bergumam. Suasana Pendopo Pawiyatan masih tenggelam dalam keheningan. Para murid duduk bersila, mata terpejam, mengikuti wejangan Ki Jayengkara. Cahaya matahari mulai menembus, menimpa wajah Nawang yang tampak damai, meski sesekali jemarinya bergetar halus. “Belajarlah mengenali suara hatimu sendiri…” suara Ki Jayengkara mengalun pelan. “Karena di sanalah tempat semesta berbisik.” Namun tanpa sepengetahuan siapa pun di dalam pendopo, di luar halaman rombongan Panembahan Senopati baru saja lewat. Langkah mereka berhenti begitu suara lembut Ki Jayengkara terdengar sampai ke jalan batu yang membelah taman. Panembahan menoleh ke arah pendopo, memicingkan mata. “Pawiyatan?” gumamnya. Ki Juru Martani yang berjalan di sampingnya ikut menunduk hormat. “Benar, Kanjeng. Hari ini gilir
“Anak-anakku,” suaranya dalam namun lembut, “dalam jagad manusia, yang paling sukar dikalahkan bukan musuh di medan perang, melainkan nafsu dalam diri sendiri.” Semua murid menunduk. Suasana seketika hening. Ki Jayengkara melanjutkan, “Banyak yang belajar menulis aksara, membaca kitab, menembang tembang. Namun sedikit yang mau belajar mengenal dirinya sendiri. Padahal, tanpa mengenal diri, ilmu lain akan kehilangan maknanya.” Alea memperhatikan dengan saksama, merasa kata-kata itu seperti menampar pelan. “Kenal diri sendiri…” gumamnya pelan, seolah kata itu punya bobot lain untuknya yang sedang terjebak di tubuh orang lain. Ki Jayengkara lalu mengambil kendi kecil di depannya, menuangkan air ke mangkuk tanah liat. “Air ini,” katanya, “bening karena diam. Jika kau goyangkan, ia menjadi keruh. Begitulah batin manusia. Siapa yang hatinya tak tenang, maka takkan mampu melihat kebenaran.” Alea terpaku. Sekilas, wajahnya memantul di permukaan air dalam kendi kecil itu, yang s
Pendopo Pawiyatan terletak di luar Keputren, di sisi barat taman keraton. Bangunannya besar, terbuka di keempat sisinya, dengan tiang-tiang jati tinggi menjulang dan lantai batu hitam berkilat. Di dalamnya, sudah terdengar suara gamelan disetem pelan dan beberapa putri duduk bersila, masing-masing ditemani dayang mereka. Alea menelan ludah. "Jadi ini… kayak kelas seni-nya kerajaan, ya?" Kenanga mengangguk. “Benar, Gusti. Di sinilah para putri dan bangsawan muda berlatih kehalusan tutur dan gerak. Kadang Panembahan pun datang diam-diam untuk melihat hasil didikan para guru.” “Wah… tekanan banget itu.” Alea berbisik, tapi tetap melangkah masuk. Begitu sampai di sana, beberapa kepala menoleh. Beberapa putri berbisik pelan, mungkin membicarakan penampilan Nawang yang sempat dikabarkan sakit. Di antara mereka, ada satu sosok yang menonjol, wajahnya teduh, senyumnya lembut tapi auranya kuat. Raden Ajeng Pembayun. Busananya putih gading dengan selendang merah muda di bahu, sed
Hatinya tiba-tiba bergetar. Ada sesuatu yang terasa ganjil, seolah potongan puzzle masa lalu mulai menyatu di kepalanya. Ia menatap ke arah taman dalam yang mulai tersinari mentari. Cahaya keemasan menyentuh dedaunan basah, tapi pikirannya melayang jauh. “Raden Rangga…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Bukankah… dia yang akhirnya—” Suara itu terhenti di tenggorokan. Napasnya tertahan. Dalam ingatannya, kilasan sejarah yang pernah ia baca di buku muncul seperti bayangan kabur. Raden Rangga, putra Panembahan Senopati, cerdas, gagah, sakti dan berbakat. Tapi juga, terlalu berani menentang takdir. Ia pernah diyakini akan menjadi penerus tahta. Adipati Anom Mataram sebelum akhirnya keadaan berubah. Panembahan memilih Raden Mas Jolang. Dan Rangga… merasa dikhianati. Alea menatap kosong ke tanah, jantungnya berdetak pelan namun berat. Dalam benaknya, adegan-adegan dari catatan sejarah muncul bagai film yang tak ingin ia tonton. Pemberontakan Raden Rangga. Pertumpaha
Dengan langkah kaku, Alea mendekat. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwibawa, Nyai Mas Semangkin yang masih dalam balutan busana sederhana untuk beribadah, namun aura mereka jauh lebih berat dari siapapun yang pernah Alea temui. Sang Nyai menatapnya lembut, senyumnya samar. “Rara Nawang… kau tampak lelah. Namun kau tetap hadir bersama kami pagi ini. Itu pertanda baik.” Alea, masih kikuk, menunduk dalam-dalam. “I-iya… maksud saya… nggih, Gusti Nyai.” Nyai Mas Semangkin menatap lembut, tapi di balik sorot matanya terselip sesuatu yang sulit ditebak. Sebelum Alea sempat merespons lebih lanjut, langkah halus terdengar dari belakang. Para dayang langsung menunduk serempak. Suara lembut tapi berwibawa terdengar, “Pagi yang sejuk, bukan begitu, Semangkin?” Alea menelan ludah. Kanjeng Ratu Waskitajawi berdiri tak jauh darinya cahaya lampu minyak menyorot wajah Sang Ratu yang tampak tenang, namun setiap gerakannya memancarkan kekuasaan. Nyai Mas Semangkin segera menu
Cahaya rembulan masih samar bergantung di langit, sementara kokok ayam pertama baru saja terdengar dari kejauhan. Di dalam Keputren, Kenanga berjalan perlahan mendekati amben Putri Nawang, membawa lampu minyak kecil di tangannya. Ia mendekat, lalu berbisik lembut. “Gusti Rara, sudah waktunya bersiap untuk ibadah pagi.” Nawang atau Alea yang kini mengisi raganya, bergerak sedikit di balik kelambu. Dengan mata setengah terpejam, ia mengibaskan tangan malas. “Apa-apaan sih! Masih gelap gini udah ribut-ribut!” gumamnya kesal. Kenanga tetap sabar, menunduk sedikit. “Mohon maaf, Gusti Rara. Kalau terlambat sholat subuh nanti tidak baik.” Belum sempat kalimat itu selesai, Nawang tiba-tiba bangun setengah duduk dengan rambut awut-awutan, wajah masih kucel karena kebluk. “APA? Subuh-subuh? Aku aja baru tidur dua jam yang lalu! Kenapa, sih, di sini orang-orang nggak bisa kasih aku tidur tenang sedikit aja?” Kenanga terkejut, buru-buru menunduk dalam-dalam. “Aku hany







