Share

4 - Sahabat Baru Sang Putri

Penulis: YOLANDA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 19:57:04

Suara gamelan bergema samar dari kejauhan, memenuhi kepalanya. Bersamaan dengan itu, kilasan-kilasan aneh menyeruak dalam pikirannya. Wajah seorang gadis berbusana keraton, seorang pemuda berjubah prajurit, sebuah istana dengan gapura megah, dan suara tangisan yang menusuk hati.

“Rania! Rania, tolong gue!” suara Alea pecah, tubuhnya gemetar hebat.

Rania yang baru menyadari keadaan sahabatnya berlari panik.

“Alea! Ada apa?! Jangan bikin gue takut!”

Beberapa murid lain mulai berkerumun, tapi suara mereka terdengar jauh, semakin jauh. Pandangan Alea berkunang-kunang, sorot cahaya ruangan berganti-ganti dengan bayangan masa lalu yang bukan miliknya. Seketika, kakinya lemas. Tubuhnya terhuyung, lalu tersungkur di lantai dingin museum. Rania menjerit, berlutut sambil mengguncang bahunya. Tapi bagi Alea, suara sahabatnya hanyalah gema samar yang perlahan menghilang. Cahaya putih terakhir meledak dalam kegelapan dan detik berikutnya, dunia yang ia kenal lenyap.

Alea menggeleng cepat sembari memejamkan mata. Ia merasakan kepalanya yang pusing setelah ingatan itu muncul. Napasnya terengah-engah.

“Gusti Rara. Kau baik-baik saja?” tanya dayang muda itu dengan wajah cemas.

Alea membuka kedua mata, dan kembali bersikap normal. Ia menoleh pada dayang muda tersebut.

“Lalu...” Alea menelan ludah lagi, berusaha menata kalimat. “Sekarang, tahun berapa?” tanyanya. Ia tidak menjawab pertanyaan dayang tadi.

Dayang muda itu tampak ragu, seolah khawatir jawabannya dianggap bodoh.

“Tahun ini... tahun Alip, Gusti. Dan kini masa kepemimpinan Panembahan Senopati sudah berjalan.”

Alea terdiam, mencoba mencerna.

“Tahun Alip?” Alea mengesahkan napas, “bahkan penanggalannya aja beda. Aku benar-benar kesasar ke dunia lain.” Batinnya.

Ia lalu menatap dayang itu lebih dekat, untuk pertama kalinya memperhatikan wajahnya yang lembut namun sederhana. “Siapa namamu?” tanyanya pelan.

Dayang itu tampak kaget ditanya demikian. Ia langsung menunduk lebih dalam. “Hamba, hanya seorang abdi, Gusti. Nama hamba, Kenanga.”

Alea tersenyum tipis, meski wajahnya masih lemah.

“Kenanga, ya. Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang, aku ingin kamu menjadi temanku. Dan sebagai teman, kamu nggak perlu bicara seperti seorang bawahan. Bicaralah selayaknya kita berteman. Kamu paham, kan?”

Kenanga terkejut, matanya membesar sebentar sebelum kembali menunduk dengan wajah memerah.

“Ta-tapi, Gusti. Bagaimana mungkin seorang abdi seperti hamba menjadi teman Gusti? Itu tidak mungkin.”

“Tidak mungkin? Kenapa? Apa berdosa jika seorang dayang sepertimu menjadi teman seorang putri sepertiku? Lagipula aku yang meminta. Dan kamu tahu keadaanku sekarang seperti apa. Aku membutuhkan banyak arahan dan pengetahuan. Dan kamu, akan jadi satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Jadi, apa salahnya?”

“Akan tetapi, jika para abdi lain atau bangsawan mengetahui ini, hamba akan dimarahi, Gusti Rara. Maaf, bukan maksud hamba menolak.”

Alea mendengus, lalu berpikir sebentar. Tak lama ia pun menjelaskan lagi.

“Kita nggak perlu terang-terangan berteman saat di depan banyak orang. Tapi, saat berdua seperti sekarang, kamu dan aku bisa mengobrol bebas. Gimana?”

“Nopo, Gusti? Mengo... mengob... borol? Apa itu, Gusti?” Kenanga yang polos, tak mengerti perkataan Alea.

Alea tertawa keras mendengar pengucapan Dayang Kenanga yang melantur. Gadis lugu itu tersentak kaget saat melihat Tuan Putrinya tertawa. Namun, ia tersenyum kagum dan senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya selama mengabdi kepada Putri Nawang, ia bisa melihat Putri Nawang tertawa lepas.

“Lucu banget! Maksudku, berbicara. Ya! Berbicara. Kita bisa bebas berbicara seperti seorang teman jika hanya berdua seperti ini. Kamu mengerti?”

“Oh, nggih, Gusti Rara. Hamba mengerti.”

“Oh, ya, satu lagi. Jangan sebut dirimu “hamba” padaku kalau berdua. Sebut saja “aku atau saya”. Oke?” Alea mengangkat tangannya, membentuk lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuk. Sebuah isyarat oke yang jelas dan meyakinkan.

Kenanga terdiam. Satu lagi tindakan asing yang Putri Nawang lakukan membuatnya kebingungan. Namun Alea yang ada ditubuh Nawang, tersenyum dan seolah menyuruh Kenanga memperagakan hal yang sama. Kenanga dengan ragunya pun akhirnya meniru.

“O-o-oke... Gusti Rara,”

“Nah. Gitu dong!”

Meski terheran-heran dengan tingkah laku tak biasa Tuan Putrinya, ditambah juga bahasa asing yang selalu diucapkannya itu, namun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya Kenanga merasa sangat senang. Ia melihat wajah sumringah dan juga senyum Putri Nawang untuk pertama kali dalam hidupnya. Suatu momen yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Putri Nawang yang ia kenal selama ini sangat pendiam, pemalu, dan tidak banyak bicara, kecuali untuk hal tertentu saja. Tapi hari ini, ia seperti melihat sisi baru Putri Nawang yang lebih berani dan energik. Ini seperti membawa energi baru dalam hidupnya.

⏳️⏳️⏳️

Langkah-langkah prajurit Mataram berderap memasuki halaman keraton. Suara kendang ditabuh perlahan, tanda penyambutan bagi sang pangeran muda yang baru kembali dari medan laga. Raden Wiraguna berjalan paling depan, tegap dengan wajah yang masih menyimpan sisa lelah, namun sorot matanya menyala penuh kemenangan.

Di Balairung Agung, Panembahan Senopati sudah duduk di singgasananya, dikelilingi putra-putranya dan juga para bangsawan lain. Raden Mas Jolang yang tampak kalem dan berwibawa, Raden Purbaya dengan sorot mata tajam penuh karisma. Tak jauh dari sana, Raden Rangga duduk bersila, wajahnya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak, antara senyum tipis dan sinis. Begitu Raden Wiraguna menghadap, ia merundukkan tubuhnya dalam hormat.

“Sendika dawuh, Kanjeng Rama. Wilayah pesisir yang kanjeng titahkan kini telah tunduk pada Mataram.”

Senopati mengangguk perlahan, sorot matanya penuh kebanggaan.

“Bagus, Raden Wiraguna. Kau membuktikan dirimu layak menjadi pemimpin pasukan.”

Raden Mas Jolang menepuk bahunya ringan, sementara Raden Purbaya hanya mengangguk dengan senyum tipis.NNamun suasana berubah saat Raden Rangga akhirnya bersuara. Ia menyilangkan tangan di dada, suaranya datar namun jelas terdengar di seluruh ruangan.

“Kabar kemenanganmu memang menggembirakan, Wiraguna. Tetapi apakah kau sudah mendengar kabar dari Keputren?”

Wiraguna menoleh dengan alis berkerut.

“Kabar apa yang kau maksud, Kangmas Rangga?”

Rangga menarik napas pendek, matanya berkilat, seolah menikmati momen menyampaikan berita itu.

“Calon tunanganmu, Gusti Raden Rara Nawang... ia bertingkah aneh sejak sakit beberapa hari lalu. Dayang-dayang mengatakan tutur katanya berubah, bahkan sikapnya tak lagi sehalus dahulu. Seperti bukan dirinya.”

Raden Wiraguna terdiam, tubuhnya menegang. Raden Purbaya dan Raden Mas Jolang saling bertukar pandang.

“Apakah itu benar?” suara Wiraguna berat, penuh tekanan.

Rangga mengangkat alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum samar.

“Itu yang beredar di Keputren. Sebagai calon istrimu, seharusnya kau tahu lebih dulu. Tapi rupanya kau terlalu sibuk dengan medan perang.”

Balairung keraton hening setelah Raden Rangga menyampaikan kabar itu. Hanya menyisakan ketegangan di antara suadara-saudara itu. Semua mata kini tertuju pada Panembahan Senopati yang duduk tegak di singgasananya. Sorot matanya yang dalam memandang ke arah anak-anaknya, lalu menatap lurus ke arah abdi dalem yang baru saja membawa kabar dari Keputren, tepat setelah Raden Rangga menyampaikan kabarnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   106 - Sahabat

    "Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   105 - Waktu Pun Berlalu

    "Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   104 - Sahabat Kecil Nawang

    Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   103 - Permohonan Ratu

    Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   102 - Prosesi Pemakaman di Kotagede

    Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan

  • Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan   101 - Kematian Ki Ageng Mangir

    Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status