LOGIN
“Nyonya Muda… ada kabar buruk, Putri Qing Yuan mengirim pesan, mengatakan bahwa Istana menerima laporan militer… Tuan Muda Ketiga…terluka saat mengawasi pasukan di perbatasan.”
Gu Lang Hua terkejut dan membeku seolah tidak mendengar apa yang baru di katakan Han Yan.
Suara pelayan terdengar di pintu, “Nyonya Tua sudah datang.”
Aroma cendana yang dikenalnya tiba-tiba menyergap, Lang Hua mengulurkan tangan.
“Nenek”
Suaranya agak panik dan sulit dikendalikan, tanganya meraba-raba sekitar.
Setiap kali saat seperti ini, Nyonya Tua Lu akan datang memegang tangannya dan menenangkannya,
“Nenek disini, Jangan terburu-buru.”
Namun kali ini terasa berbeda, akhirnya Han Yan menarik tangannya,
“Nyonya Muda,”
Suasana ruangan menjadi sunyi, Lang Hua melihat sekeliling, gelap gulita, tidak terdengar suara apapun, membuatnya semakin cemas.
“Lang Hua,” suara Nyonya Tua Lu baru terdengar setelah beberapa saat, “kamu sedang hamil.”
Lang Hua terkejut, ternyata ketidaknyamannya selama ini karena dia sedang mengandung anak Lu Ying, anak yang selalu mereka nantikan.
“Nenek,” Bibir Lang Hua bergetar, “bagaimana kondisi Tuan Muda Ketiga? Apakah ada surat ke rumah?”
“Sampai saat ini, masih berani bertanya tentang Ying’er,”
Suara tajam Nyonya Lu menusuk di telinga Lang Hua.
“Ibu”
Tiba-tiba Lang Hua merasa takut, berapa banyak orang didalam ruangan ini, apa yang mereka lakukan disini, mengapa mereka hanya diam dan tidak menjelakan kondisi Lu Ying.
“Tabib, perikan denyut Nadinya.”
Perintah Nyonya Tua Lu.
Lang Hua merasa ada yang menarik Lengannya, ingin melawan tapi bahunya ditekan oleh seseorang.
“Nyonya Muda sedang hamil dua bulan.”
Nyonya Tua Lu mengerutkan alis,
“Menantu perempuan ketiga, cucu ketiga telah gugur di perbatasan karena difitnah, kamu hamil dua bulan sementara Ying’er sudah berada di perbatasan tiga bulan. Saya tidak menyangka kamu akan tergoda oleh pengkhianat itu. Ying’er sangat baik padamu, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu? Peselingkuhanmu dengan Pei Qi Tang sudah diketahui oleh Ibu Suri, demi menjaga kehormatan keluarga Lu, Ibu Suri telah mengeluarkan dekrit kekaisaran yang memberikan kain putih sebagai penghormatan.”
“Nyonya Tua, Nyonya, Nyonya Muda di fitnah… Tuan Muda Ketiga tidak akan membirarkan kalian memperlakukan Nyonya Muda seperti ini… dan Putri Qing Yuan pasti akan menuntut balas untuk Nyonya Muda…”
Nyonya Lu menatap tajam ke arah Han Yan,
“Dia hanyalah budak yang dibeli keluarga Lu, tidak ada hak bicara di sini. Kejahatan tuanmu pasti karena kolusimu. Bawa budak ini dan cambuk sampai mati.”
Pada titik ini Han Yan masih membela Lang Hua, sedangkan mereka yang biasa dianggap ‘keluarga’ dengan tergesa-gesa ingin mengakhiri nyawanya.
Lang Hua berkata dingin,
“Han Yan adalah pelayanku, bunuh saya dulu baru boleh menyentuhnya. Keluarga Lu boleh tidak membela tapi saya harus berjuang untuk harga diriku. Kalian bodoh mempercayai bukti-bukti palsu. Membunuh Lu Ying, apa untungnya bagi saya dan Pei Qi Tang? Aku seorang wanita buta tidak perlu berjuang demi jabatan dan tidak pernah bersaing memperebutkan kekuasaan keluaraga.”
“Nyonya, ada orang dari Istana datang, katanya… Ibu Suri telah menganugerahkan… kain putih…”
“Jika keluarga Lu tidak mau membelaku, maka silakan, lihat berapa banyak orang yang akan kubawa mati bersamaku.”
Saat Lang Hua merasa tekanan dibahunya berkurang, dia segera melepaskan diri dan meraih mangkuk obat yang baru saja di minumnya. Memecahkan mangkuk, menggenggam pecahan ditanganya.
Seseorang berteriak dan maju hendak merebutnya, tapi pecahan itu ditekan ke tenggorokan orang tersebut, darah hangat terus mengalir.
Gu Lang Hua merasakan banyak tangan menekan tubuhnya, dia terus mengayunkan pecahan keramik ditanganya, tanpa sadar mengiris kulit banyak orang, darah hangat menyembur kemana-mana.
Ruangan di penuhi bau darah, kain putih mengikat erat di lehernya, membuatnya sulit bernapas.
Suara Nyonya Lu terdengar di telinganya,
“Wanita beracun sepertimu matilah… Jika bukan karena menikah denganmu, wanita buta, Ying’er pasti sudah menjadi keluarga kerajaaan dan mencapai posisi tertinggi, dan keluarga Lu kami akan makmur dan berjaya. Setelah kamu meninggal masuk ke neraka lapis delapan belas dan jangan pernah datang mengganggu Ying’er-ku lagi!”
Suara Nyonya Lu semakin menjauh, akhirnya tidak terdengar lagi.
Dalam kegelapan yang lebih dalam, Lang Hua perlahan lupa berjuang, juga melupakan rasa sakit, seperti dalam pepatah lama mengatakan hidup dan mati hanyalah masalah satu pikiran.
Suara tangisan terdengar,
“Lang Hua masih sangat kecil, saya rela mati menggantikan dia.”
Itu suara Ibu, kasihan Ibu harus menyaksikan kematiannya dengan mata kepala sendiri.
Meninggal dengan tercekik tanpa mengerti, orang yang membunuhnya pasti sangat bangga, karena sampai kematian datang menjemput pun dia, si buta, tidak tahu siapa yang menyakitinya.
Lang Hua berusaha keras membuka matanya, menatap ke arah suara tangisan, meski tahu itu sia-sia.
Akhrinya sedikit cahaya perlahan masuk, setelah cahaya terang menyilaukan wajah ramah muncul di hadapannya.
Siapa ini? Bahkan dalam mimpi pun dia tidak pernah melihat wajah seseorang sejelas ini.
Orang ini meski sudah banyak keriput di wajahnya, matanya tetap jernih, eskpresinya ramah dengan sedikit kesedihan, kelihatan sedikit bahagia, berkata dengan suara serak,
“Lang Hua kita sudah sadar.”
Cahaya matahari menembus jendela, Lang Hua seolah-olah meleleh terbakar, dirinya demam, sehelai kain dingin diletakkan di dahinya, tapi segera menjadi hangat oleh tubuhnya.
Dalam keadaan setengah sadar, suara bisikan terdengar di telinganya, seperti ada yang memanggil namanya, ada juga yang berbisik,
“Kalau dia meninggal seperti ini, malah menghemat urusanku. Wanita jalang itu menggunakan dia untuk menyenangkan Nyonya Tua, sehingga Nyonya Tua selalu berpihak pada mereka berdua. Jangan lupa keluarga Gu, saya yang meminpin.”
Keluarga Gu? Bagaimana bisa keluarga Gu? Meski dia tidak meninggal, seharusnya dia berada di keluarga Lu. Keluarga Gu sudah lama tiada.
Sekitar mulai menjadi sunyi, Lang Hua berjuang membuka matanya, meski tahu itu tidak ada artinya, namun saat membuka mata cahaya terang dan menyilaukan tiba-tiba menusuk masuk. Rasa mual dan pusing membuatnya ketakutan dan segera menutup mata.
Lang Hua dengan perlahan membuka kembali matanya, setelah cahaya putih, perlahan bayangan manusia dan benda-benda samar-samar bergoyang di matanya.
Lang Hua terus berkedip, segala sesuatu disekitarnya pelahan menjadi jelas.
Apakah ini mimpi?
Lang Hua terdiam dengan mata terbuka lebar.
“Lang Hua, lihat Nenek, Nenek ada di sini.”
Nenek? Nyonya Tua keluarga Lu? Tidak, ini bukan Nyonya Tua keluarga Lu.
Wajah penuh kasih ini selalu ada dalam ingatannya, ya, ini nenek kandungnya, orang yang paling dia ingat sebelum kehilangan penglihatan.
Apakah dia sudah benar-benar meninggal? Nenek sudah meninggal saay dia berusia delapan tahun, tahun itu dia terkena cacar, demam selama tujuh hari, mesti beruntung tidak mati, tetapi menjadi buta.
Nyonya Su menghapus matanya yang merah,
“Lang Hua baru delapan tahun, kenapa justru dia yang terkena cacar, asalkan dia bisa hidup dengan baik, aku rela mati menggantikannya.”
Delapan tahun, cacar, jantung Lang Hua berdebar kencang. Apakah ini pengalaman setelah kematian. Tapi kenapa bermimpi tentang kejadian saat berumur delapan tahun?
Lang Hua merasakan angin yang menerbangkan pakaiannya, dulu dia selalu bersembunyi dalam kegelapan, hanya sekarang dia merasa berdiri tegak di dunia ini.Benar, mulai sekarang, siapa pun, baik bangsawan tinggi maupun pejabat penting, selama berani menyakitinya, dia akan membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih buruk dari kematian. “Paman, ada apa ini?”Lang Hua mendengar suara Lu Ying.Lu Ying datang tepat pada waktunya, setelah dia memastikan tuduhan terhadap keluarga Wang, barulah dia muncul, keluarga Wang sama sekali tidak akan curiga bahwa dia terlibat.Memang sangat cermat dan penuh perhitungan.Lu Ying berjalan mendekat dengan heran, tampak sangat terkejut dengan tindakan semua orang, matanya berputar mengamati Lang Hua, lalu bertanya dengan bingung,“Adik Lang Hua, kenapa kamu keluar? Apakah Nenekmu tahu?”Lang Hua melihat Lu Ying yang
Namun sekarang, di depan umum, keluarga Gu malah dengan begitu saja menuduhnya secara salah. Wang Rui melihat ke arah Lie Zheng di sampingnya, wajahnya sudah berubah menjadi sangat pucat, dan saat bertatapan dengannya, matanya memancarkan ketakutan.Jelas Lie Zheng sudah percaya.Wang Rui marah besar, siapa sebenarnya yang memikirkan ide seperti ini, siapa? Matanya dengan gila mencari-cari di antara kerumunan.Akhirnya, dia menundukkan kepala, pandangannya tertuju pada gadis kecil itu.Dia dengan mata terbuka lebar melihat gadis kecil itu berjalan menuju Lie Zheng, menyerahkan sebuah saputangan kepadanya.Lie Zheng mengenali itu adalah saputangan Lie Momo.“Lie Momo sudah mengatakan,”Lang Hua berkata dengan sangat serius,“kalian telah dipengaruhi oleh orang lain, selama kalian mengungkapkan kebenaran, keluarga Gu akan memberikan perlakuan ringan. Ibu pergi ke rumahmu, katanya... ada beberapa orang jahat yang datan
Cheng Yi tiba-tiba berkata, “Aneh, bukankah itu Wang Rui yang ada di sisi Paman?”Lu Ying segera mengangkat kepala dan melihat ke arah sana, langit sudah cukup terang untuk melihat seseorang dengan jelas.Benar-benar Wang Rui yang ada di sisi Pamannya.Dia tidak tahu mengapa Wang Rui ada di sini, tetapi yang pasti, anak Lie Momo datang untuk meminta bantuan Pamannya.Cheng Yi berkata, “Masalah ini benar-benar berkaitan dengan Nyonya.”Jika di sini ditemukan Pamannya dan Wang Rui, maka seluruh masalah tidak bisa dipisahkan dari Paman dan Ibu.Meskipun Ibu tidak mengakuinya, paling banyak dia tidak bisa dihukum oleh pemerintah.Namun keluarga Gu bukan orang bodoh.Hubungan antara keluarga Gu dan Lu tidak hanya benar-benar putus pada saat ini, Ibu juga akan diragukan di keluarga Lu.Begitu Cheng Yi selesai bicara, Lu Ying melihat sebuah kereta ber
Lu Ying menemukan dirinya tidak bisa menahan diri untuk ingin memahami Gu Lang Hua dengan jelas dan tuntas.Namun semua itu bukanlah hal yang seharusnya dia pikirkan sekarang.Lu Ying dengan santai menyerahkan kue kacang madu di atas meja kepada Cheng Yi, Cheng Yi tersenyum menerimanya,“Kue yang enak seperti ini, Tuan Muda juga tidak mencicipinya, sungguh sayang. Ngomong-ngomong, Nona Besar Gu juga sangat memperhatikan Tuan Muda.”Lu Ying mengangkat cangkir teh dan menyeruputnya,“Itu semua adalah kehendak Nyonya Tua dari kedua keluarga, Nona Besar Gu masih muda, belum mengerti hal-hal ini.”Cheng Yi memasukkan kue kacang madu ke mulutnya, wajahnya segera menunjukkan ekspresi puas,“Saya rasa belum tentu, Nona Besar Gu selalu berbeda perlakuannya terhadap Tuan Muda.”Apa bedanya? Saat dia sedang minum teh di halaman, Gu Lang Hua datang dan meng
Kotak makanan sudah kosong, hanya tersisa piring kosong, Lang Hua mengulurkan tangan dan membalik piring itu, daun emas yang semula menempel di piring sudah hilang.Amo agak terkejut, “Benar-benar diambil.”Lang Hua bertanya, “Bhikkhuni Jing Ming yang terakhir mengambil makanan itu?”Amo mengangguk,“Ah Qiong melihat sendiri Bhikkhuni Jing Ming mengambil sepotong kue keberuntungan terakhir dari piring itu.”Bukan hanya kue keberuntungan, tapi juga daun emas itu.Orang yang tidak punya kemampuan, bagaimana berani menyentuh daun emas itu.Hanya Bhikkhuni tua yang sering masuk ke dalam rumah, melakukan berbagai tipu muslihat untuk menyakiti orang yang berani melakukan hal itu.Lie Momo dan Menantu Gu Chun sedang diperiksa, Bhikkhuni tua pasti mengira ada orang yang membayar agar dia tetap diam.Xiao Momo melihat kotak makanan itu lalu melihat Nona Gu, dia tidak menyangka Nona Gu pun
Kakek menghargai dan membiarkan mereka tinggal di halaman luar sebagai keluarga, suami Xiao Momo selalu bekerja di luar bersama ayahnya, sedangkan anaknya Xiao Yi selalu menjadi pelayan kecil di depan ayahnya, itu pun baru diberitahu Xiao Momo kemudian.Xiao Momo sering berkata, Xiao Yi bisa sampai seperti sekarang ini, semuanya berkat ayahnya.Lang Hua sangat sedikit memiliki ingatan tentang ayahnya, saat dia berumur lima tahun, ayahnya pergi dan tidak pernah kembali lagi, dia hanya tahu tidak ada lagi yang mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.Banyak hal tentang ayahnya selain yang Xiao Momo ucapkan dengan sedih saat berkumur-kumur, sebagian besar berasal dari Xiao Momo dan Xiao Yi.Ingatan yang paling dalam adalah ketika Xiao Yi memberitahunya bahwa ayah mereka pernah berkata, setiap gerak-gerik dan setiap kata yang diucapkan seseorang pasti meninggalkan jejak. Dia tahu Xiao Momo dan Xiao Yi ingin agar dia, yang buta, bisa mengenali hati manusia







