Accueil / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 4 - Pelayan bermata dua

Share

Bab 4 - Pelayan bermata dua

Auteur: BabyCaca
last update Dernière mise à jour: 2026-01-19 20:58:11

Lampu minyak di dinding kamar berpijar redup, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer hitam. Aurelia masih terpaku di posisinya, menatap pergelangan tangan pelayan yang baru saja meletakkan nampan air hangat di meja samping tempat tidur.

Tato itu. Sebuah simbol sabit bulan yang dilingkari duri. Itu adalah simbol rahasia para pengikut Order of the Holy Sun, organisasi yang secara buta menyembah Lyra di kuil suci.

"Mari saya bantu membersihkan luka Anda, Putri," suara pelayan itu datar, namun ada nada dingin yang tidak pas untuk seorang bawahan.

Aurelia menelan ludah. Jantungnya berpacu. Kenapa mata-mata Lyra bisa ada di sini? Nocturnia adalah wilayah iblis, bagaimana manusia dari kuil bisa menyusup sejauh ini?

"Siapa namamu?" tanya Aurelia berusaha menstabilkan suaranya.

"Panggil saya Mara, Putri," jawabnya tanpa menatap mata Aurelia. Ia mulai memeras kain basah ke dalam baskom.

Aurelia teringat plot twist yang baru saja ia sadari: Lyra juga seorang transmigrator. Jika Lyra memiliki sistem atau kekuatan yang sama dengannya, maka keberadaan Mara di sini bukan sekadar kebetulan. Mara ada di sini untuk memastikan Aurelia benar-benar mati, atau mungkin untuk memfitnahnya di depan Xaverius.

"Mara... kau tahu?" Aurelia sengaja menjeda kalimatnya, memasang wajah yang tampak linglung dan sedih. "Aku sangat merindukan adikku, Lyra. Rasanya aku ingin sekali mengirim surat padanya."

Tangan Mara berhenti bergerak sesaat. Gerakan kecil itu tidak luput dari penglihatan Aurelia.

"Putri Lyra adalah Anak Suci yang dicintai semua orang," sahut Mara, kini menatap Aurelia dengan tatapan yang sedikit lebih tajam. "Tentu saja beliau juga mengkhawatirkan Anda."

Pembohong, maki Aurelia dalam hati. Lyra pasti sedang berpesta sekarang.

"Aku tahu dia sangat baik," Aurelia mendesah panjang, matanya mulai berkaca-kaca—akting yang sempurna untuk menutupi kecurigaannya. "Tapi aku takut di sini. Raja Iblis itu... dia bilang ingin memakanku. Apa kau bisa membantuku?"

Mara mendekat, suaranya kini berbisik pelan. "Jika Putri ingin, saya bisa membantu Anda mengirim pesan keluar dari kastil ini. Namun, ada harga yang harus dibayar."

Aurelia hampir saja tersenyum sinis. Kena kau.

"Harga apa?"

"Informasi mengenai pertahanan kastil ini. Putri hanya perlu memperhatikan di mana para penjara bayangan ditempatkan," Mara berkata sambil menempelkan kain hangat ke pipi Aurelia yang memar.

"Aduh! Pelan-pelan!" pekik Aurelia, sengaja menarik diri dengan gerakan tiba-tiba yang membuat baskom di tangan Mara hampir terguling.

"Maaf, Putri."

"Aku tidak tahu soal pertahanan. Aku hanya seorang gadis bodoh yang tersandung gaunku sendiri," ucap Aurelia sambil mengerucutkan bibirnya. "Lagi pula, aku baru saja sampai. Bagaimana kalau aku berikan yang lain? Sesuatu yang lebih... berharga?"

"Apa itu?" Mara tampak tertarik.

"Sesuatu yang kusembunyikan di balik gaunku," Aurelia mulai meraba-raba saku tersembunyi di lapisan roknya. Ia berpura-pura sedang mencari sesuatu yang sangat penting. "Ini adalah permata dari ibu suri, Lyra sangat menginginkannya..."

Saat Mara mencondongkan tubuhnya karena penasaran, Aurelia sengaja menyenggol nampan perak di meja dengan sikunya.

BRAKK!

Nampan itu jatuh menghantam lantai dengan suara dentuman yang sangat keras. Air panas membasahi sepatu Mara dan sebagian karpet.

"Oh! Astaga! Aku benar-benar minta maaf! Tanganku... tanganku licin sekali!" Aurelia berteriak panik, menutupi mulutnya dengan ekspresi bersalah yang sangat berlebihan.

"Putri! Apa yang Anda lakukan?!" Mara mendesis marah, lupa akan penyamarannya sejenak.

"Aku tidak sengaja! Benar-benar tidak sengaja!" Aurelia mulai terisak lagi, matanya yang besar dan basah menatap Mara dengan penuh permohonan. "Jangan laporkan aku pada Raja Iblis, kumohon... dia akan membunuhku jika tahu aku merusak barang-barangnya!"

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan kasar.

Xaverius berdiri di sana, matanya merah menyala karena terganggu oleh keributan itu. "Ada apa ini? Kenapa kamarku berantakan seperti pasar?"

Mara langsung bersujud di lantai yang basah. "Ampun, Yang Mulia! Putri Aurelia... beliau tidak sengaja menjatuhkan nampannya."

Xaverius melangkah masuk, matanya beralih dari nampan yang jatuh ke wajah Aurelia yang sembab. "Lagi-lagi kau jatuh atau menjatuhkan sesuatu? Apa tanganmu itu terbuat dari mentega, Aurelia?"

Aurelia berlari kecil ke arah Xaverius, namun lagi-lagi ia "tersandung" karpet dan hampir menubruk dada bidang sang Raja Iblis. Xaverius menangkap bahunya dengan kasar namun sigap.

"Hiks... Yang Mulia... pelayan ini... dia sangat baik," ucap Aurelia sambil menunjuk Mara dengan tangan gemetar.

Xaverius memicingkan mata. "Baik? Dia membiarkan air tumpah ke mana-mana."

"Bukan begitu... dia tadi bilang ingin membantuku," Aurelia menatap Mara dengan tatapan polos yang mematikan. "Dia bilang dia bisa membantuku bicara dengan orang-orang di Valeraine. Bukankah itu sangat baik?"

Wajah Mara seketika menjadi pucat pasi. Ia membeku di lantai.

Xaverius terdiam. Hawa dingin di ruangan itu mendadak turun drastis. Ia menatap Mara dengan intensitas yang mengerikan. "Membantu tawananku bicara dengan musuh? Silas tidak pernah merekrut pelayan dengan mulut seberani itu."

"A-ampun, Yang Mulia! Saya tidak bermaksud..."

"Putri Aurelia," potong Xaverius tanpa mengalihkan pandangan dari Mara. "Apa lagi yang dia katakan padamu?"

Aurelia memainkan ujung jarinya, tampak ragu-ragu. "Uhm... dia tanya soal penjaga bayangan. Aku bilang aku tidak tahu karena aku terlalu sibuk menangis tadi. Apa itu pertanyaan yang salah?"

Xaverius melepaskan bahu Aurelia. Ia berjalan mendekati Mara dengan langkah yang sangat pelan namun penuh tekanan. "Penjaga bayangan? Informasi yang hanya dicari oleh tikus-tikus kuil."

"T-tidak! Putri itu berbohong! Beliau yang menawarkan diri!" teriak Mara putus asa.

Xaverius mencengkeram leher Mara dan mengangkatnya hanya dengan satu tangan. "Seorang manusia menyusup ke kastilku sebagai pelayan, dan sekarang mencoba menuduh tawananku yang bahkan tidak bisa berjalan tanpa tersandung? Kau pikir aku sebodoh itu?"

Krak.

Suara itu kecil, tapi cukup untuk membuat Aurelia merinding. Xaverius tidak mematahkan lehernya, tapi tekanan itu cukup untuk membuat Mara pingsan karena kehabisan napas.

"Bawa tikus ini ke ruang bawah tanah. Aku ingin tahu siapa yang membantunya melewati perlindungan gerbang," perintah Xaverius pada dua bayangan yang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan.

Setelah Mara diseret keluar, ruangan itu kembali hening. Xaverius berbalik, menatap Aurelia yang kini menyusut di pojok tempat tidur, memeluk bantal hitam.

"Kau," ucap Xaverius pendek.

"Y-ya?"

"Apa kau benar-benar sebodoh itu sampai menceritakan rahasia pada pelayan baru, atau kau baru saja menjebaknya?"

Aurelia menelan ludah. Ia harus menjaga aktingnya. "Aku... aku hanya ingin pulang. Dia bilang dia bisa membantuku. Kenapa Anda marah? Bukankah itu hal yang bagus jika aku punya teman?"

Xaverius mendengus, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi seluruh tubuh Aurelia. Ia mencondongkan tubuhnya, meletakkan tangannya di atas bantal di samping kepala Aurelia.

"Dengarkan baik-baik, kelinci bodoh. Di sini tidak ada 'teman'. Semua orang ingin melihatmu mati, termasuk mereka yang tersenyum padamu di Valeraine," suara Xaverius rendah dan mengancam. "Jika bukan karena kecerobohanmu yang membongkar mulutnya tadi, kepalamu mungkin sudah hilang besok pagi."

Aurelia menatap mata merah itu, jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas dingin Xaverius. "Lalu kenapa Anda menyelamatkanku? Kenapa tidak biarkan saja dia membunuhku?"

Xaverius menarik helai rambut pirang Aurelia, membelitnya di jarinya dengan gerakan posesif yang perlahan. "Karena aku belum selesai bermain denganmu. Kau adalah sanderaku, Aurelia. Dan tidak ada yang boleh menyentuh sanderaku selain aku."

Tiba-tiba, perut Aurelia berbunyi sangat nyaring di tengah suasana yang tegang itu.

Kruyuuuk...

Wajah Aurelia memerah seketika. "I-itu... aku belum makan sejak kemarin..."

Xaverius tertegun sejenak, lalu tawa singkat dan dingin lolos dari bibirnya. "Bahkan di saat seperti ini, perutmu lebih jujur daripada mulutmu."

Xaverius berdiri tegak lagi. "Pelayan lain akan datang membawa makanan. Kali ini, cobalah untuk tidak menumpahkannya ke lantai jika kau tidak ingin makan dari bawah karpet."

"T-terima kasih, Yang Mulia..." bisik Aurelia.

Saat Xaverius sampai di pintu, ia berhenti tanpa menoleh. "Satu hal lagi, Aurelia. Jangan pernah mencoba mencari 'teman' lagi. Jika kau butuh sesuatu, kau harus memohon padaku. Hanya padaku. Mengerti?"

"I-iya..."

Pintu tertutup rapat. Aurelia mengembuskan napas panjang dan jatuh terkapar di ranjang.

"Hampir saja..." gumamnya.

[Ding!] [Misi Berhasil: Menyingkirkan Mata-Mata Tanpa Terdeteksi.] [Poin Kecerdikan: +50] [Kewaspadaan Raja Iblis terhadap Anda: Berkurang.] [Ketertarikan Raja Iblis: Meningkat (5%)]

Aurelia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran naga hitam. "Satu mata-mata hilang, tapi aku tahu Lyra tidak akan berhenti. Dan Raja Iblis ini... dia mulai bersikap aneh."

Aurelia bangkit menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia melihat sebuah cermin perak. Di sana, pantulan wajahnya yang memar terlihat menyedihkan. Namun, saat ia menyeka sisa air matanya, sebuah penglihatan aneh muncul di permukaan cermin.

Itu bukan wajahnya. Itu adalah wajah Lyra, yang sedang duduk di sebuah ruangan gelap, dikelilingi oleh cahaya biru aneh. Lyra sedang tersenyum menatap sebuah papan catur, dan di papan itu, bidak yang melambangkan "Putri Kedua" baru saja terjatuh.

"Mainkan peranmu dengan baik, Alya," suara Lyra seolah berbisik di telinga Aurelia. "Karena di kesempatan ketiga ini, pemenangnya tetap aku."

Aurelia tersentak mundur, membuat cermin itu jatuh ke lantai dan retak menjadi seribu keping.

"Dia... dia bisa melihatku?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 3

    Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General (Jenderal Bayangan), The Silent Blade (Pedang Sunyi), atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 2

    Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya (yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf), langsung tersedak. Mata merah-emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun-nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balkon

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 1

    Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus—warisan mutlak dari sang Ibu—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul dengan sua

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 121 - Persaingan

    Taman Istana bagian barat kini telah disulap menjadi area piknik pribadi. Di atas rumput hijau yang dipangkas rapi, terbentang tikar kain sutra bermotif bunga. Tumpukan bantal empuk berserakan di sekitarnya, menciptakan suasana santai yang sangat tidak cocok untuk dua pria paling kuat di benua itu yang kini sedang saling menatap dengan aura membunuh. Di sisi kiri, duduklah Theron, Pangeran Elf dengan rambut emas yang berkilauan. Ia memegang sebuah piring perak berisi buah-buahan eksotis yang sudah dikupas dengan seni potongan tingkat dewa. Di sisi kanan, duduklah Xaverius, Kaisar Iblis Pensiunan. Ia memegang garpu emas dengan cengkeraman yang seolah ingin membengkokkan logam itu, matanya menyipit tajam ke arah Theron. Di tengah-tengah mereka, Aurelia duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Makanlah, Adikku," Theron menyodorkan piring buah itu ke depan mulut Aurelia dengan senyum malaikat. "Ini Moonberry langka yang hanya tumbuh di mata air suci Hutan Elf. Mengandu

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 125 - Akhir yang bahagia

    Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari. Musik, tarian, dan arak madu mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki. Sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom karena kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut, menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot. Tapi hatiku penuh." Mereka s

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 124 - Pernikahan megah

    Lonceng Katedral Agung Nocturnia berdentang, suaranya menggema hingga ke ujung benua, menandakan dimulainya perhelatan terbesar dalam sejarah dunia baru ini. Di dalam ruang ganti pengantin pria, Xaverius Dracul—Kaisar yang pernah menelan kiamat dan membunuh dewa—sedang mengalami krisis kepercayaan diri yang parah. Ia berdiri kaku di depan cermin, menarik kerah jas putih formalnya yang dihiasi sulaman benang emas. "Kael," panggil Xaverius datar, namun ada getaran halus dalam suaranya. "Apakah dasiku miring?" Kael, yang mengenakan setelan jas Best Man berwarna merah marun (yang dia pilih sendiri agar mencolok), memutar bola matanya. Dia berjinjit untuk merapikan dasi tuannya yang sebenarnya sudah sempurna. "Tuan, ini sudah kesepuluh kalinya Tuan tanya soal dasi dalam lima menit," keluh Kael. "Dasinya lurus. Rambut Tuan badai. Wajah Tuan ganteng maksimal. Kalau Tuan tanya sekali lagi, saya akan panggil Theron buat gantiin posisi Tuan di altar." Mata Xaverius menyipit tajam. "Coba sa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status