Share

Bab 3 - Sang singa

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 20:58:08

Gerbang Kekaisaran Nocturnia terbuka dengan suara derit logam yang mengerikan, seolah-olah menyambut jiwa-jiwa yang akan masuk ke liang kubur. Kastil Obsidian itu berdiri tegak di puncak tebing, dikelilingi oleh awan hitam yang tidak pernah meneteskan hujan, hanya membawa aura kematian.

Xaverius Lucian Dracul melangkah masuk ke aula utama tanpa melepaskan dekapannya pada Aurelia. Di belakang mereka, para pengawal bayangan dan pelayan-pelayan dengan wajah pucat serta mata yang berpendar kuning tunduk memberikan hormat.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia," suara serak seorang pria tua dengan jubah abu-abu bergema. Itu adalah Silas, tangan kanan sang Raja Iblis. "Kulihat Anda membawa... sampah dari kerajaan manusia?"

Aurelia yang masih berada di gendongan Xaverius gemetar. Isak tangisnya yang tadi mereda kini kembali muncul. Ia mendongak, menatap wajah Silas yang penuh luka parut, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Xaverius.

"Bukan sampah, Silas," ucap Xaverius dengan nada datar namun dingin. "Ini adalah Putri Kedua Valeraine. Mainan baruku."

"Tapi Yang Mulia, bukankah kerajaan itu telah membantai garis keturunan kita di masa lalu? Kenapa tidak langsung memenggalnya saja di gerbang?" tanya Silas dengan tatapan haus darah yang tertuju langsung pada Aurelia.

"Membunuhnya terlalu mudah," Xaverius menunduk, menatap Aurelia yang sedang memejamkan mata rapat-rapat. "Aku ingin melihat berapa lama putri manja ini bertahan di tengah-tengah monster."

Xaverius kemudian berjalan menaiki tangga spiral yang besar, menuju sayap barat kastil. Ia menendang pintu sebuah kamar mewah hingga terbuka lebar dan melemparkan Aurelia ke atas ranjang berukuran besar yang dilapisi kain sutra hitam.

"Aduh!" Aurelia memekik. Ia mencoba bangkit, namun karena sifat cerobohnya dan gaunnya yang terlalu lebar, kakinya malah tersangkut sprei.

Bruk!

Ia jatuh tersungkur di atas karpet berbulu, tepat di depan sepatu bot Xaverius.

"L-lagi... kenapa aku selalu jatuh?" bisik Aurelia sambil terisak. Ia menatap lututnya yang kini memerah.

Xaverius menghela napas panjang, terlihat sedikit tidak sabar. "Kau benar-benar putri paling aneh yang pernah kutemui. Di mana harga dirimu, Aurelia? Di mana tatapan tajam yang kulihat saat perjamuan beracun itu?"

Aurelia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Pipinya masih memar bekas tamparan ibunya tadi pagi. "Harga diri? Apa gunanya itu jika semua orang ingin aku mati? Hiks... aku hanya ingin hidup tenang, tapi kenapa semua orang—bahkan Sistem sialan ini—memaksaku jadi jahat!"

Xaverius mengernyit. "Sistem? Apa yang kau bicarakan?"

[Ding!] [Peringatan Keras! Karakter dilarang membocorkan eksistensi Sistem kepada penduduk asli!] [Hukuman: Sengatan Listrik Tingkat 1.]

"Aaakh!" Aurelia tiba-tiba menjerit, tubuhnya berkedut seolah tersengat aliran listrik. Ia ambruk ke lantai, memegang dadanya yang sesak.

Xaverius langsung berlutut, mencengkeram bahu Aurelia. "Ada apa denganmu? Apa kau meracuni dirimu sendiri?!"

"T-tidak... hiks... sakit... sakit sekali..." Aurelia merintih.

Xaverius menatapnya dengan curiga, namun ia bisa melihat bahwa gadis ini benar-benar kesakitan secara fisik. Ia memicingkan mata merahnya. "Jangan mencoba trik apa pun di depanku, Aurelia. Jika kau pikir rasa sakit ini akan membuatku melepaskanmu, kau salah besar."

Aurelia mengatur napasnya yang tersengal. Setelah rasa sakitnya mereda, ia menepis tangan Xaverius dengan lemah. "Lepaskan... Anda bilang aku mainan, kan? Kalau begitu kurung saja aku di penjara. Jangan di kamar mewah ini."

"Oh, kau ingin penjara?" Xaverius berdiri, menatapnya dari ketinggian dengan tatapan merendahkan. "Penjara di sini dihuni oleh monster yang memakan kulit manusia hidup-hidup. Apa kau yakin sanggup?"

Aurelia terdiam. Ia menelan ludah dengan susah payah. "T-tapi kenapa Anda membawaku ke sini? Anda membenci keluargaku, kan? Anda ingin balas dendam karena ayahku membunuh kaum Anda?"

Xaverius tersenyum miring, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya. "Tepat sekali. Aku ingin kau menjadi saksi bagaimana aku meratakan Valeraine dengan tanah. Dan saat hari itu tiba, aku akan mengirim kepalamu ke meja makan ayahmu sebagai hidangan penutup."

Aurelia menatap Xaverius dengan mata berkaca-kaca. Alih-alih marah, ia justru tertawa getir di tengah tangisnya. "Silakan saja. Kirimkan kepalaku pada mereka. Ayah dan Ibu pasti akan senang karena akhirnya noda di keluarga mereka benar-benar hilang."

Xaverius terpaku sejenak. Ia mengharapkan Aurelia memohon-mohon atau memaki, tapi kejujuran pahit dalam suaranya membuat Xaverius merasa ada yang tidak beres. "Apa maksudmu?"

"Mereka tidak mencintaiku, Yang Mulia," Aurelia berdiri perlahan, sambil tertatih karena kakinya yang masih lecet. "Mereka lebih memilih Lyra. Bagi mereka, aku hanyalah sampah yang harus dibuang agar tidak mengotori kesucian adikku."

"Putri Lyra... Sang Anak Suci itu?" Xaverius menyebut nama itu dengan nada jijik.

"Ya. Si malaikat bermuka dua itu," Aurelia mendesis, sesaat karakter villainess-nya muncul karena kebencian pada Lyra. "Anda ingin menghancurkan Valeraine? Silakan. Aku bahkan akan membantumu jika aku bisa."

Xaverius mendekat, memojokkan Aurelia ke dinding kamar. Ia meletakkan satu tangannya di samping kepala Aurelia, mengurung gadis itu. "Kau bersedia mengkhianati negaramu sendiri hanya demi bertahan hidup?"

"Aku tidak mengkhianati siapa pun. Mereka yang mengkhianatiku lebih dulu," jawab Aurelia, menatap langsung ke mata merah Xaverius.

[Ding!] [Skenario Tersembunyi Terdeteksi!] [Misi: Menangkan kepercayaan Raja Iblis.] [Metode: Tunjukkan sisi rapuhmu untuk memicu naluri pelindungnya.]

Aurelia mengumpat dalam hati. Tunjukkan sisi rapuh? Aku bahkan tidak perlu akting, aku memang sudah hancur sekarang!

Tanpa sadar, Aurelia meraih ujung jubah Xaverius. Tangannya yang kecil gemetar saat memegang kain hitam mahal itu. "Yang Mulia... jika aku harus mati di tangan Anda, tolong jangan buat itu terasa sakit. Aku sudah merasakan pedang dan api di masa lalu... aku tidak ingin merasakannya lagi."

Xaverius tertegun. Pedang dan api di masa lalu? Kapan gadis ini merasakannya? Ia memperhatikan luka tamparan di pipi Aurelia dan tangan yang melepuh terkena kopi tadi. Secara impulsif, Xaverius mengulurkan tangannya, mengusap memar di pipi Aurelia dengan ibu jarinya. "Siapa yang berani menyentuh wajahmu seperti ini?"

"Ibuku," bisik Aurelia. "Dia menamparku karena aku... t-tersandung dan menumpahkan kopi adikku."

Xaverius merasakan kemarahan yang aneh membuncah di dadanya. Bukan karena ia peduli pada Aurelia, tapi karena ia membenci kenyataan bahwa ada orang lain yang lebih dulu menyiksa tawanannya.

"Kau benar-benar kelinci yang malang, Aurelia," suara Xaverius melembut, tapi masih terasa tajam. "Dengarkan aku. Di kastil ini, kau adalah milikku. Hanya aku yang boleh menyakitimu, dan hanya aku yang boleh memutuskan kapan kau mati."

Xaverius kemudian berbalik menuju pintu. "Silas!"

Pria tua tadi muncul di ambang pintu. "Ya, Yang Mulia?"

"Panggil pelayan. Bersihkan dia. Obati lukanya. Dan pastikan dia tidak keluar dari kamar ini tanpa seizinku. Jika dia mencoba melarikan diri, patahkan saja kakinya, tapi jangan sampai dia mati."

"Baik, Yang Mulia."

Xaverius menoleh sekali lagi ke arah Aurelia yang masih bersandar di dinding dengan wajah bingung. "Malam ini, makanlah yang banyak. Aku tidak suka melihat tawanan yang hanya tinggal tulang. Itu akan merusak selera makanku saat aku membedahmu nanti."

Setelah Xaverius pergi, Aurelia jatuh terduduk di lantai. Ia mengembuskan napas panjang. "Gila... dia benar-benar gila."

Ia melirik tangannya yang gemetar. Tapi setidaknya, untuk saat ini, aku tidak mati. Maafkan aku, Alya... kita harus bertahan sedikit lebih lama.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lagi. Seorang pelayan wanita dengan telinga panjang runcing masuk membawa nampan berisi air hangat dan kain. Namun, saat pelayan itu menunduk, Aurelia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah simbol kecil di pergelangan tangan pelayan itu... simbol yang sama dengan yang dimiliki Lyra di kuil suci.

Aurelia tersentak. Mata-mata Lyra sudah sampai ke sini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 5 - Perjamuan di sarang serigala

    Suasana ruang makan utama Kastil Obsidian terasa begitu menekan. Meja panjang yang terbuat dari batu basal hitam itu dipenuhi oleh hidangan yang tampak asing bagi mata manusia—daging merah yang masih berasap, buah-buah berwarna ungu gelap yang mengeluarkan aroma tajam, dan anggur merah pekat yang terlihat seperti darah. Aurelia duduk di sebelah kanan Xaverius. Ia merasa seperti domba yang diletakkan di tengah sekumpulan serigala lapar. Di sepanjang meja, para Jenderal Iblis dan petinggi Nocturnia menatapnya dengan tatapan yang bervariasi: jijik, lapar, dan penuh selidik. "Jadi, inilah alasan Anda memanggil kami semua malam ini, Yang Mulia?" Suara itu datang dari Jenderal Kael, pria dengan tanduk melengkung dan luka bakar di sepanjang lengannya. Ia menatap Aurelia dengan tatapan meremehkan. "Hanya untuk memperkenalkan seorang manusia yang bahkan tidak bisa berhenti gemetar saat memegang garpu?" Aurelia memang sedang gemetar. Bukan hanya karena takut, tapi karena sistem di kepalanya

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 4 - Pelayan bermata dua

    Lampu minyak di dinding kamar berpijar redup, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer hitam. Aurelia masih terpaku di posisinya, menatap pergelangan tangan pelayan yang baru saja meletakkan nampan air hangat di meja samping tempat tidur. Tato itu. Sebuah simbol sabit bulan yang dilingkari duri. Itu adalah simbol rahasia para pengikut Order of the Holy Sun, organisasi yang secara buta menyembah Lyra di kuil suci. "Mari saya bantu membersihkan luka Anda, Putri," suara pelayan itu datar, namun ada nada dingin yang tidak pas untuk seorang bawahan. Aurelia menelan ludah. Jantungnya berpacu. Kenapa mata-mata Lyra bisa ada di sini? Nocturnia adalah wilayah iblis, bagaimana manusia dari kuil bisa menyusup sejauh ini? "Siapa namamu?" tanya Aurelia berusaha menstabilkan suaranya. "Panggil saya Mara, Putri," jawabnya tanpa menatap mata Aurelia. Ia mulai memeras kain basah ke dalam baskom. Aurelia teringat plot twist yang baru saja ia sadari: Lyra juga seorang transmi

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 3 - Sang singa

    Gerbang Kekaisaran Nocturnia terbuka dengan suara derit logam yang mengerikan, seolah-olah menyambut jiwa-jiwa yang akan masuk ke liang kubur. Kastil Obsidian itu berdiri tegak di puncak tebing, dikelilingi oleh awan hitam yang tidak pernah meneteskan hujan, hanya membawa aura kematian. Xaverius Lucian Dracul melangkah masuk ke aula utama tanpa melepaskan dekapannya pada Aurelia. Di belakang mereka, para pengawal bayangan dan pelayan-pelayan dengan wajah pucat serta mata yang berpendar kuning tunduk memberikan hormat. "Selamat datang kembali, Yang Mulia," suara serak seorang pria tua dengan jubah abu-abu bergema. Itu adalah Silas, tangan kanan sang Raja Iblis. "Kulihat Anda membawa... sampah dari kerajaan manusia?" Aurelia yang masih berada di gendongan Xaverius gemetar. Isak tangisnya yang tadi mereda kini kembali muncul. Ia mendongak, menatap wajah Silas yang penuh luka parut, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada Xaverius. "Bukan sampah, Silas," ucap Xaverius dengan nada

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 2 - Di buang ke mulut iblis

    Udara pagi di perbatasan Kerajaan Valeraine terasa mencekam. Tidak ada kicauan burung, yang ada hanya suara derap kaki kuda dan gesekan roda kereta tua yang membawa Aurelia von Valeraine menuju nasib buruknya. Di dalam kereta yang pengap itu, Aurelia duduk meringkuk, memeluk lututnya yang masih gemetar karena trauma. Bayangan ban truk yang menghantamnya di kehidupan sebelumnya masih membekas jelas, membuat guncangan kereta ini terasa seperti siksaan tambahan."Turun!" bentak seorang prajurit sambil menyentak pintu kereta hingga terbuka lebar.Aurelia tersentak. Dengan mata sembab dan wajah pucat, ia melangkah turun. Di depannya membentang Hutan Terlarang—sebuah labirin pepohonan hitam raksasa yang diselimuti kabut abadi. Konon, siapa pun yang melangkah masuk ke sana tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernyawa."Ini adalah batasnya, Putri Terbuang," ucap sang komandan prajurit dengan nada mengejek. Ia melempar sebuah tas kecil berisi pakaian tipis ke atas tanah yang berlumpur."T-

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 1 - Air mata sang putri terbuang

    Aroma kopi yang tajam menusuk indra penciuman Aurelia von Valeraine saat kesadarannya perlahan pulih. Kepalanya terasa seakan dihantam godam raksasa, berdenyut menyakitkan mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Ingatan terakhirnya adalah suara decit ban truk yang memekakkan telinga, rasa dingin aspal yang menusuk kulit, dan wajah Elias—kekasihnya—yang hanya berdiri mematung dengan senyuman tipis saat tubuhnya terpental karena dorongan Sarah, kakaknya sendiri.Alya menyadari satu hal yang mengerikan; ia tidak lagi berada di jalanan kota yang sibuk. Ia telah masuk ke dalam dunia novel gelap yang ia tulis sendiri sebagai pelarian hidupnya, terjebak dalam raga seorang wanita yang takdir matanya sudah ia gariskan dengan tinta keputusasaan.“Apakah kau tidak memiliki masa depan? Kau terus larut dengan tulisan-tulisan gila mu, bisa kah kau memikirkan sedikit cara lain untuk mencari uang?”Suara cacian itu terngiang di telinganya, memori pahit tentang kakaknya, Sarah, yang selalu me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status