Beranda / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 5 - Perjamuan di sarang serigala

Share

Bab 5 - Perjamuan di sarang serigala

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 20:58:15

Suasana ruang makan utama Kastil Obsidian terasa begitu menekan. Meja panjang yang terbuat dari batu basal hitam itu dipenuhi oleh hidangan yang tampak asing bagi mata manusia—daging merah yang masih berasap, buah-buah berwarna ungu gelap yang mengeluarkan aroma tajam, dan anggur merah pekat yang terlihat seperti darah.

Aurelia duduk di sebelah kanan Xaverius. Ia merasa seperti domba yang diletakkan di tengah sekumpulan serigala lapar. Di sepanjang meja, para Jenderal Iblis dan petinggi Nocturnia menatapnya dengan tatapan yang bervariasi: jijik, lapar, dan penuh selidik.

"Jadi, inilah alasan Anda memanggil kami semua malam ini, Yang Mulia?"

Suara itu datang dari Jenderal Kael, pria dengan tanduk melengkung dan luka bakar di sepanjang lengannya. Ia menatap Aurelia dengan tatapan meremehkan. "Hanya untuk memperkenalkan seorang manusia yang bahkan tidak bisa berhenti gemetar saat memegang garpu?"

Aurelia memang sedang gemetar. Bukan hanya karena takut, tapi karena sistem di kepalanya sedang berisik.

[Peringatan! Tingkat Bahaya: Tinggi.] [Misi: Bertahan hidup di perjamuan tanpa merusak martabat Raja Iblis.] [Saran: Gunakan kepolosanmu untuk meredam kecurigaan.]

"Dia bukan sekadar manusia, Kael," sahut Xaverius dengan nada santai, namun ia menyesap anggurnya dengan elegan. "Dia adalah perwakilan dari Valeraine. Bukankah sangat menyenangkan melihat putri dari musuh bebuyutan kita duduk di sini, menunggu perintahku untuk sekadar bernapas?"

Aurelia menunduk, mencoba memotong daging di piringnya. Namun, tangannya yang licin karena keringat dingin membuat pisau peraknya tergelincir.

Ting!

Pisau itu menghantam piring porselen dengan suara nyaring, memecah keheningan perjamuan. Semua mata langsung tertuju padanya.

"M-maaf... pisaunya sangat licin," bisik Aurelia dengan wajah memerah. Ia benar-benar ingin menghilang ke bawah meja sekarang juga.

"Cih, bahkan memotong daging saja tidak mampu," gumam seorang jenderal wanita di ujung meja. "Apa Kerajaan Valeraine hanya mengajarkan cara bersolek tanpa memberikan otak dan otot pada putrinya?"

Aurelia merasa perih di dadanya. Bukan karena hinaan itu, tapi karena teringat bagaimana Ratu Eleanor selalu memandangnya dengan cara yang sama. 'Kau memalukan, Aurelia. Kenapa kau tidak bisa anggun seperti Lyra?'

Aurelia menarik napas panjang. Ia harus memainkan perannya. Ia mengangkat kepalanya, matanya yang besar dan basah menatap jenderal wanita itu. "Maafkan aku, Jenderal. Di kerajaanku, aku tidak pernah memotong daging sendiri. Selalu ada pelayan yang melakukannya karena... karena aku selalu tidak sengaja melukai tanganku."

Xaverius sedikit memiringkan kepalanya, menatap Aurelia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian mengambil pisau dari tangan Aurelia, memotong daging di piring gadis itu dengan gerakan yang sangat efisien, lalu meletakkannya kembali.

"Makanlah," perintah Xaverius singkat.

Seluruh ruangan terdiam. Seorang Raja Iblis melayani tawanannya? Itu adalah pemandangan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Nocturnia.

"Yang Mulia!" Jenderal Kael berdiri dengan marah. "Anda terlalu memanjakan manusia ini! Dia adalah keturunan Valeraine! Mereka yang telah mengkhianati perjanjian kuno dan membantai klan bayangan!"

"Duduk, Kael," suara Xaverius merendah, seketika aura kegelapan memenuhi ruangan hingga lampu-lampu minyak meredup. "Aku yang memutuskan siapa yang layak mendapatkan perhatianku. Kau meragukan keputusanku?"

Kael mengepalkan tinjunya, namun ia perlahan duduk kembali dengan wajah merah padam. "Tidak, Yang Mulia."

Di tengah ketegangan itu, seorang penasihat tua bernama Lord Valerius—yang dikenal memiliki kepekaan terhadap energi spiritual—tiba-tiba berdeham. Ia menatap Aurelia dengan mata yang menyipit. "Putri, bolehkah aku bertanya satu hal?"

Aurelia menelan potongan dagingnya dengan susah payah. "Ya, Lord Valerius?"

"Saat tanganmu menyentuh pisau tadi, aku merasakan sesuatu yang aneh," Valerius mencondongkan tubuhnya. "Aura manusia biasanya terasa... hambar. Tapi auramu, ada sedikit kilatan yang sangat murni. Seperti... sesuatu yang berasal dari langit?"

Jantung Aurelia seolah berhenti. Kekuatan Elf? Apa dia merasakannya?

[Ding!] [Peringatan! Identitas Tersembunyi dalam Bahaya!] [Alihkan pembicaraan segera atau sistem akan memberikan hukuman!]

Aurelia langsung memasang wajah bingung yang paling meyakinkan. "Langit? Ah... mungkin itu karena aku selalu berdoa di kuil suci agar Lyra tetap diberkati? Ibu bilang aku harus terus memberikan auraku pada Lyra supaya dia menjadi Anak Suci yang sempurna."

Aurelia menunduk lagi, air mata mulai jatuh ke piringnya. "Tapi ternyata... meskipun aku memberikan segalanya, aku tetap dibuang. Mungkin cahaya yang Anda rasakan itu adalah sisa-sisa doa yang tidak berguna."

Aurelia menangis tersedu-sedu sekarang, suaranya yang parau membuat suasana perjamuan yang dingin menjadi sedikit canggung. Para jenderal yang tadinya siap menyerangnya kini saling pandang dengan bingung. Iblis sangat membenci tangisan manusia, tapi tangisan Aurelia terasa berbeda—terasa begitu tulus dan menyakitkan.

"Berhenti menangis," ucap Xaverius, namun tangannya secara tidak sadar menarik kursi Aurelia lebih dekat ke arahnya. "Kau membuat makanan ini terasa asin karena air matamu."

"Hiks... m-maaf... aku hanya... aku merindukan kamarku yang kecil di Valeraine... setidaknya di sana tidak ada yang ingin memakan jantungku," isak Aurelia.

Xaverius menghela napas, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat semua orang di meja makan hampir menjatuhkan rahang mereka. Ia mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Aurelia dengan ibu jarinya.

Namun, saat kulit Xaverius bersentuhan dengan kulit Aurelia, sebuah percikan kecil yang hampir tidak terlihat muncul. Xaverius merasakan sensasi panas yang asing, seperti tersengat sinar matahari yang terik. Ia menarik tangannya kembali dengan cepat, matanya menatap telapak tangannya sendiri dengan heran.

Apa itu tadi? batin Xaverius. Hanya Elf yang memiliki sentuhan sehangat ini... tapi itu mustahil. Bangsa Elf sudah lama menghilang dari bumi ini.

"Yang Mulia?" Aurelia menatapnya dengan mata merah dan sembab, tampak benar-benar tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Xaverius mengepalkan tangannya. Ia harus mengabaikan firasat itu. "Cukup. Perjamuan selesai. Silas, bawa semua jenderal ke ruang strategi. Aku akan menyusul."

Xaverius berdiri dan menarik tangan Aurelia untuk ikut berdiri. Karena terburu-buru dan lemas, Aurelia lagi-alih tersandung kaki kursinya sendiri.

"Ah!"

Aurelia jatuh tepat ke pelukan Xaverius. Wajahnya terbenam di dada bidang pria itu. Di saat itulah, aroma tubuh Aurelia tercium oleh Xaverius—bukan aroma manusia biasa yang penuh dengan rasa takut, melainkan aroma bunga lili putih dan embun pagi yang sangat segar. Aroma khas dari Hutan Langit.

Xaverius memegang bahu Aurelia dengan erat, menahannya agar tidak jatuh. Matanya menatap Aurelia dengan intensitas yang lebih dalam dari biasanya. "Kau... siapa kau sebenarnya, Aurelia?"

"A-aku? Aku hanya Aurelia yang tidak berguna..." jawab Aurelia dengan suara gemetar.

"Kita lihat saja nanti," desis Xaverius. "Jika aku menemukan satu saja kebohongan di matamu, aku tidak akan hanya mengirim kepalamu ke Valeraine, tapi aku akan memastikan jiwamu tidak akan pernah bisa beristirahat."

Xaverius melepaskan Aurelia dan memberi isyarat pada pelayan untuk membawanya kembali ke kamar.

Saat Aurelia berjalan menjauh, Lord Valerius mendekati Xaverius dan berbisik pelan, "Yang Mulia... jika dia benar-benar 'itu', maka memeliharanya di sini adalah bencana. Elf dan Iblis tidak akan pernah bisa bersatu tanpa menghancurkan satu sama lain."

Xaverius hanya diam, matanya terus mengikuti punggung Aurelia yang berjalan tertatih. "Maka aku akan menghancurkannya terlebih dahulu sebelum dia sempat menghancurkanku."

Di kamarnya yang sunyi, Aurelia duduk di depan jendela, menatap bulan yang berwarna merah. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang.

"Sistem... apa yang terjadi padaku? Kenapa badanku terasa panas saat Xaverius menyentuhku?"

[Menjawab...] [Kekuatan suci dalam tubuh Anda mulai bereaksi terhadap energi kegelapan.] [Saran: Segera lakukan meditasi atau identitas Anda sebagai Keturunan Elf akan terbongkar dalam 30 hari.]

Aurelia memejamkan mata. Tiba-tiba, sebuah suara bergema di pikirannya. Bukan suara sistem, melainkan suara lembut seorang pria yang terdengar sangat jauh.

"Anakku... kembalilah ke langit. Jangan biarkan kegelapan menelan cahayamu."

Aurelia tersentak bangun. Di telapak tangannya, muncul sebuah simbol bunga perak yang bersinar redup sebelum akhirnya menghilang.

"Pulang? Ke mana aku harus pulang?" bisiknya pahit. "Ke dunia nyata di mana aku dikhianati, atau ke langit yang bahkan tidak aku ketahui?"

Tanpa ia sadari, di balik pintu kamar, Xaverius berdiri diam. Ia melihat kilatan cahaya perak dari celah pintu sebelum akhirnya padam. Kepalan tangannya mengeras.

"Jadi benar... kau adalah musuhku yang paling nyata, Aurelia."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 3

    Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General (Jenderal Bayangan), The Silent Blade (Pedang Sunyi), atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 2

    Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya (yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf), langsung tersedak. Mata merah-emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun-nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balkon

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   SIDE STORY PART 1

    Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus—warisan mutlak dari sang Ibu—berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul dengan sua

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 121 - Persaingan

    Taman Istana bagian barat kini telah disulap menjadi area piknik pribadi. Di atas rumput hijau yang dipangkas rapi, terbentang tikar kain sutra bermotif bunga. Tumpukan bantal empuk berserakan di sekitarnya, menciptakan suasana santai yang sangat tidak cocok untuk dua pria paling kuat di benua itu yang kini sedang saling menatap dengan aura membunuh. Di sisi kiri, duduklah Theron, Pangeran Elf dengan rambut emas yang berkilauan. Ia memegang sebuah piring perak berisi buah-buahan eksotis yang sudah dikupas dengan seni potongan tingkat dewa. Di sisi kanan, duduklah Xaverius, Kaisar Iblis Pensiunan. Ia memegang garpu emas dengan cengkeraman yang seolah ingin membengkokkan logam itu, matanya menyipit tajam ke arah Theron. Di tengah-tengah mereka, Aurelia duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Makanlah, Adikku," Theron menyodorkan piring buah itu ke depan mulut Aurelia dengan senyum malaikat. "Ini Moonberry langka yang hanya tumbuh di mata air suci Hutan Elf. Mengandu

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 125 - Akhir yang bahagia

    Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari. Musik, tarian, dan arak madu mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki. Sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom karena kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut, menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot. Tapi hatiku penuh." Mereka s

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 124 - Pernikahan megah

    Lonceng Katedral Agung Nocturnia berdentang, suaranya menggema hingga ke ujung benua, menandakan dimulainya perhelatan terbesar dalam sejarah dunia baru ini. Di dalam ruang ganti pengantin pria, Xaverius Dracul—Kaisar yang pernah menelan kiamat dan membunuh dewa—sedang mengalami krisis kepercayaan diri yang parah. Ia berdiri kaku di depan cermin, menarik kerah jas putih formalnya yang dihiasi sulaman benang emas. "Kael," panggil Xaverius datar, namun ada getaran halus dalam suaranya. "Apakah dasiku miring?" Kael, yang mengenakan setelan jas Best Man berwarna merah marun (yang dia pilih sendiri agar mencolok), memutar bola matanya. Dia berjinjit untuk merapikan dasi tuannya yang sebenarnya sudah sempurna. "Tuan, ini sudah kesepuluh kalinya Tuan tanya soal dasi dalam lima menit," keluh Kael. "Dasinya lurus. Rambut Tuan badai. Wajah Tuan ganteng maksimal. Kalau Tuan tanya sekali lagi, saya akan panggil Theron buat gantiin posisi Tuan di altar." Mata Xaverius menyipit tajam. "Coba sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status