แชร์

Bab 6 - Racun suci

ผู้เขียน: BabyCaca
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-22 13:33:37

Lantai kuil terlarang di bawah tanah Kastil Obsidian terasa seperti es yang membeku. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendar biru dari kolam Aura Abyss yang konon bisa menghancurkan jiwa manusia biasa dalam hitungan detik.

Xaverius berdiri di tepi kolam, jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. Di sampingnya, Aurelia berdiri dengan lutut yang saling beradu. Ia baru saja diseret ke sini setelah perjamuan kacau tadi.

"Kenapa kita ke sini, Yang Mulia?" tanya Aurelia, suaranya bergetar. "Tempat ini... baunya seperti kematian."

Xaverius berbalik, menatapnya tajam. "Kau bilang kau merindukan cahaya Valeraine, bukan? Kolam ini berisi ekstrak energi yang diambil dari musuh-musuh Nocturnia. Jika kau memang manusia biasa yang 'suci', air ini akan terasa seperti mandi di pagi hari. Tapi jika kau menyembunyikan sesuatu..."

Xaverius melangkah mendekat, mengurung Aurelia di antara tubuhnya dan pilar batu yang dingin. "Air ini akan membakarmu hidup-hidup."

Aurelia menelan ludah. Pikirannya tiba-tiba melayang, tersedot ke dalam memori yang tidak ingin ia ingat.

Di dunia nyata, di sebuah apartemen yang sempit, Alya duduk di meja kerja sambil memegang draf novel terbarunya. Pintu terbuka, dan kakaknya, Sarah, masuk bersama Elias—kekasih Alya saat itu.

"Alya, jangan terlalu lelah menulis," ucap Sarah dengan suara manis yang kini terdengar seperti racun di telinga Alya. "Sini, biar Elias yang membantumu merapikan meja."

Alya tersenyum saat itu, tidak menyadari bahwa di belakang punggungnya, Elias dan Sarah sudah lama bermain api. Elias yang selalu memberinya susu cokelat setiap malam—susu yang ternyata dicampur obat tidur agar mereka bisa bersama tanpa gangguan Alya. Kenangan akan rasa manis susu cokelat itu kini berubah menjadi rasa mual yang hebat.

"Aku membenci bau susu cokelat," gumam Aurelia tanpa sadar di tengah lamunannya.

"Apa?" Xaverius mengernyit. "Susu cokelat? Apa kau sudah gila karena ketakutan?"

Aurelia tersentak kembali ke kenyataan. "T-tidak! Bukan apa-apa. Hanya... hanya ingatan buruk."

[Ding!] [Peringatan! Fluktuasi emosi terdeteksi.] [Status Keturunan Elf: Tidak Stabil. Jangan menyentuh air kolam!]

"Masuk, Aurelia," perintah Xaverius, suaranya tidak menerima bantahan. "Celupkan tanganmu ke dalam kolam itu."

"Aku tidak mau! Itu berbahaya!" seru Aurelia. Ia mencoba mundur, tapi sifat cerobohnya kembali beraksi. Kakinya tersangkut undakan tangga batu yang licin.

"Aaa!"

Byur!

Bukannya mencelupkan tangan, Aurelia justru jatuh sepenuhnya ke dalam kolam Aura Abyss.

"Aurelia!" Xaverius berteriak, tangannya terjulur namun terlambat.

Di dalam air biru yang pekat itu, Aurelia merasa seperti ditikam oleh ribuan jarum es. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di tengah rasa sakit itu, sebuah kehangatan muncul dari pusat dadanya. Simbol bunga perak di telapak tangannya bersinar terang di bawah air.

Aura Abyss yang seharusnya menghancurkan jiwanya, justru mulai terserap ke dalam tubuhnya, berubah menjadi energi murni yang menenangkan.

Xaverius tanpa pikir panjang langsung melompat masuk ke dalam kolam. Ia merengkuh pinggang Aurelia dan menariknya ke permukaan. Tubuh mereka basah kuyup, menempel erat satu sama lain.

"Uhuk! Uhuk!" Aurelia terbatuk-batuk, bersandar di dada Xaverius yang keras.

Xaverius menatap wajah Aurelia dengan ngeri. Ia mengharapkan kulit gadis itu melepuh atau hangus. Namun, kulit Aurelia justru tampak lebih putih, lebih bersinar, dan luka memar di pipinya akibat tamparan ibunya tadi pagi... hilang tanpa bekas.

"Kau... kau tidak mati?" bisik Xaverius, suaranya penuh ketidakpercayaan.

Aurelia menatap tangannya sendiri yang kini terlihat transparan dalam kegelapan. "Aku... aku tidak tahu. Rasanya hangat, Yang Mulia. Seperti pelukan yang tidak pernah kudapatkan."

Xaverius mencengkeram bahu Aurelia, memaksanya menatap matanya. "Hangat? Air ini adalah racun bagi semua makhluk hidup! Hanya satu ras yang bisa mengubah kutukan menjadi berkat... Bangsa Elf."

"Elf?" Aurelia tertawa getir, meski air mata mulai mengalir. "Mana mungkin? Aku ini sampah Valeraine. Jika aku seorang Elf, kenapa orang tuaku membuangku? Kenapa mereka membenciku?"

Xaverius terdiam. Ia bisa merasakan jantung Aurelia yang berdetak kencang melawan dadanya. Hawa panas yang ia rasakan di perjamuan tadi kini kembali, lebih kuat, membakar telapak tangannya.

"Mungkin karena mereka takut padamu," desis Xaverius. "Mungkin Valeraine menyimpan monster yang lebih mengerikan daripada aku."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari kegelapan pintu masuk kuil.

"Sungguh pemandangan yang menyentuh, Yang Mulia Raja Iblis. Memeluk musuh bebuyutanmu di kolam kematian."

Aurelia membeku. Ia mengenali suara itu. Suara yang selalu terdengar suci namun menyimpan duri.

Dari kegelapan muncul seorang wanita cantik dengan gaun putih bersih yang bercahaya. Rambut emasnya tergerai sempurna, dan di tangannya ia memegang sebuah tongkat emas.

"Lyra?" bisik Aurelia kaget. "Bagaimana bisa kau ada di sini?"

Lyra tersenyum—senyuman yang sangat mirip dengan cara Sarah menatapnya sebelum pengkhianatan itu terungkap. "Aku datang untuk menjemput kakakku yang tersayang, tentu saja. Dan untuk memberikan peringatan kepada Raja Iblis bahwa dia sedang mendekap bom waktu yang bisa menghancurkan Nocturnia."

[Ding!] [Peringatan Sistem 0-X!] [Karakter 'Lyra' menggunakan skill: Holy Manipulation.] [Status: Berbahaya!]

Xaverius berdiri di depan Aurelia, melindunginya dengan tubuh besarnya. "Kau berani masuk ke wilayahku tanpa izin, Putri Suci? Apa kau sudah bosan hidup?"

"Aku datang membawa pesan dari dewa," Lyra melangkah maju, matanya tertuju pada Aurelia dengan kilat kebencian yang dalam. "Aurelia bukan manusia. Dia adalah aib yang harus dimurnikan. Berikan dia padaku, atau kuil suci akan meratakan kastil ini dengan api surga."

Aurelia mencengkeram jubah basah Xaverius. "Jangan... jangan berikan aku padanya. Dia akan membunuhku, Xaverius. Dia bukan adikku... dia monster!"

Xaverius menoleh sedikit, menatap Aurelia yang ketakutan. Untuk pertama kalinya, sang Raja Iblis merasakan dorongan untuk melindungi sesuatu yang seharusnya ia benci.

"Dewa kalian tidak punya kekuasaan di sini," ucap Xaverius pada Lyra, suaranya menggetarkan dinding kuil. "Dan kau... Putri Suci gadungan... jika kau melangkah satu kali lagi, aku akan memastikan lidahmu tidak akan pernah bisa mengucapkan doa lagi."

Lyra tertawa renyah. "Kita lihat saja, Xaverius. Kakakku ini ceroboh, bukan? Bagaimana jika aku memberitahumu... bahwa dia sengaja menjatuhkan diri ke kolam itu untuk menyerap kekuatanmu?"

Aurelia menggeleng panik. "Tidak! Aku tidak sengaja! Aku terpeleset!"

"Terpeleset atau terencana, hasilnya sama," Lyra mengangkat tongkatnya. Cahaya biru yang menyilaukan meledak dari ujungnya. "Aurelia, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bersembunyi di balik punggung iblis itu!"

BOOM!

Sebuah ledakan cahaya menghantam perisai bayangan yang dibuat Xaverius. Ruangan itu berguncang hebat. Di tengah kekacauan itu, Aurelia merasakan sistemnya berteriak.

[Misi Darurat!] [Gunakan kekuatan Elf untuk melindungi Raja Iblis!] [Hukuman Kegagalan: Penghapusan Eksistensi!]

"Sialan!" kutuk Aurelia. Ia berdiri, tangannya mulai bersinar perak. "Berhenti, Lyra! Atau aku akan benar-benar menjadi 'Villainess' yang kau inginkan!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 98 - Naskah terbakar

    Aurelia berdiri di depan pintu gubuk tua itu, tangannya terulur hendak menyentuh gagang kayunya yang lapuk. Penjaga Hutan masih berlutut di belakangnya, dan kabut ungu berputar pelan seolah menahan napas. Namun, sebelum jari Aurelia menyentuh kayu itu, sebuah rasa panas yang menyengat tiba-tiba menyerang matanya. "Argh!" Aurelia mundur selangkah, menutup matanya dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada bara api yang ditaruh tepat di balik kelopak matanya. "Aurelia!" Xaverius, yang sedang disandarkan Kael di batang pohon, memaksakan diri untuk berdiri. "Ada apa?!" Aurelia membuka matanya paksa. Dan apa yang ia lihat membuatnya menjerit ngeri. Layar transparan yang selama ini menemaninya—panel sistem yang memberinya peringatan, misi, dan status—kini tidak lagi berwarna biru tenang atau merah bahaya. Layar itu terbakar. Api digital berwarna emas melahap teks-teks yang ada di sana. Bukan api ilusi; Aurelia bisa merasakan panasnya membakar retina matanya. Huruf-huruf di layar itu m

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 97 - Efek penghapusan

    Hutan Terlarang sudah terlihat di depan mata—dinding pepohonan raksasa dengan daun berwarna ungu dan perak yang tertutup kabut abadi. Namun, jarak satu kilometer terakhir ini terasa seperti jarak terjauh yang pernah mereka tempuh seumur hidup. Di belakang mereka, "Tinta Purba" itu tidak lagi berbentuk cairan yang merayap di tanah. Ia telah berubah menjadi tsunami putih raksasa—sebuah dinding ketiadaan setinggi lima puluh meter yang menghapus langit, tanah, dan suara. Tidak ada gemuruh. Itulah bagian yang paling mengerikan. Tsunami itu bergerak dalam keheningan total. Aurelia, yang masih lemas di pelukan Xaverius di atas punggung naga, menoleh ke belakang dengan mata terbelalak. Ia melihat barisan belakang pasukan Aliansi yang masih berusaha lari. Seorang letnan dari pasukan Ksatria Perak, pria gagah yang tadi sempat memberikan Aurelia air minum saat istirahat, tersandung kudanya. Ia jatuh terguling di tanah. "Tolong!" teriak letnan itu, mengulurkan tangan ke arah teman-temannya.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 96 - Retakan realistis

    Naga Bayangan itu membelah angin dengan kecepatan putus asa, sayapnya mengepak panik menjauhi lembah yang kini telah menjadi kawah kematian. Di punggung naga, Xaverius masih memeluk Aurelia, namun cengkeramannya mulai melemah. Darah segar terus merembes dari sela-sela bibir sang Kaisar, menetes mengotori zirah hitam Aurelia yang sudah berdebu. "Xaverius, bertahanlah..." Aurelia terisak, tangannya yang bercahaya perak menekan dada suaminya, mencoba menyalurkan Aether penyembuh. Namun, luka Xaverius bukan luka fisik biasa. Itu adalah luka akibat benturan langsung dengan ketiadaan. Energi penyembuh Aurelia hanya mendesis saat menyentuh kulit Xaverius, seolah ditolak oleh residu Void yang menempel di sana. "Jangan buang tenagamu," Xaverius terbatuk, suaranya parau. Ia menoleh ke belakang, menatap horor yang sedang mengejar mereka. "Lihat..." Aurelia mengikuti arah pandang Xaverius, dan napasnya tercekat di tenggorokan. Lembah Valeraine tidak lagi terlihat seperti lembah. Tanah di san

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 95 - Janji kaisar

    Langit di atas Lembah Valeraine runtuh. Bukan secara metafora, melainkan harfiah. Awan-awan kelabu yang menutupi matahari ditarik paksa ke bawah oleh gravitasi yang diputarbalikkan oleh Sang Bayangan Purba, menciptakan pusaran angin topan yang menghancurkan sisa-sisa hutan mati. "Wadahku... kemarilah." Suara itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung menghantam otak seperti palu godam. Aurelia menjerit tertahan, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di depannya, sosok asap raksasa dengan mata ungu itu mengulurkan tangan yang besarnya seukuran menara istana. "JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Xaverius. Sang Kaisar tidak membuang waktu. Ia tidak mencoba menyerang balik makhluk itu—insting tempurnya yang telah diasah ribuan tahun memberitahunya bahwa makhluk di depan mereka berada di dimensi kekuatan yang berbeda. Ini bukan monster; ini adalah dewa kematian. Xaverius menyambar tubuh Aurelia, mendekapnya erat ke dada bidangnya, lalu berbal

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 94 - Lembah duka

    Debu. Hanya itu yang tersisa. Istana Valeraine, monumen ketakutan yang telah berdiri selama lima ratus tahun dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh benua, kini tak lebih dari tumpukan batu yang hancur. Ledakan jatuhnya istana itu menciptakan kawah raksasa di tengah lembah, mengirimkan awan debu abu-abu pekat yang menutupi matahari, mengubah siang hari menjadi senja yang kelabu. Naga Bayangan Xaverius mendarat dengan berat di sebuah bukit batu, cukup jauh dari pusat reruntuhan agar aman, namun cukup dekat untuk melihat skala kehancurannya. Xaverius melompat turun lebih dulu. Zirah hitamnya yang legendaris kini retak di bahu dan dada, dan wajahnya tergores luka, namun ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia segera berbalik, merentangkan tangannya untuk menurunkan Aurelia. Aurelia turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat sepatu bot besinya menyentuh tanah, ia nyaris ambruk jika Xaverius tidak menahannya. Aurelia tidak terluka parah secara fisik—zirah kembar dan perlindungan

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 93 - Pesan terakhir

    Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan. Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatannya, berubah menjadi butiran cahaya yang rapuh. "Ibu..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Eleanor tidak lagi meronta. Wajahnya yang tadinya retak dan mengerikan kini kembali utuh untuk terakhir kalinya. Kulit abu-abunya memudar, menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang angkuh namun tragis. Mata hitam pekatnya perlahan kembali berwarna cokelat madu—warna mata yang sama dengan milik Aurelia. Eleanor menatap putrinya. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi obsesi gila untuk menjadik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status