Se connecterPilar cahaya hitam yang meledak di cakrawala utara bukan sekadar pertunjukan sihir. Itu adalah undangan perang terbuka. Getaran tanah yang dihasilkannya meruntuhkan sisa-sisa kegembiraan Festival Fajar Baru dalam sekejap. Sorak-sorai rakyat yang tadi memuja Aurelia kini berubah menjadi hening yang mencekam, digantikan oleh suara langkah kaki ribuan prajurit yang berlari mengisi pos tempur. Xaverius tidak membuang waktu sedetik pun. Aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya, mengganti kemeja santainya menjadi jubah perang dalam sekejap mata. "Silas!" suara Xaverius menggelegar tanpa perlu sihir pengeras suara. "Aktifkan Protokol Perang Total! Perintahkan seluruh Jenderal untuk membawa pasukan mereka ke Gerbang Utara dalam sepuluh menit. Siapa pun yang terlambat akan kutinggal!" "Siap, Yang Mulia!" Silas membungkuk cepat, lalu menghilang dalam kepulan asap teleportasi. "Kael!" "Hadir, Bos!" Kael muncul, helm perangnya sudah terpasang miring di kepala, menutupi rambutnya yang masih berk
Langit di atas Desa Greymist, yang selama tiga hari terakhir tertutup oleh kubah kaca yang menyesakkan, malam ini dibelah oleh ribuan sayap hitam. Gagak-gagak Bayangan milik Xaverius menukik turun bagaikan hujan meteor gelap, namun cakar mereka tidak membawa kematian. Di kaki mereka, terikat botol-botol kristal kecil berisi cairan perak yang bercahaya—"Cairan Fajar Baru". Pyarr! Pyarr! Pyarr! Sesuai instruksi Silas, gagak-gagak itu menjatuhkan botol tersebut tepat di titik-titik tertinggi desa. Saat botol pecah, cairan perak di dalamnya tidak menetes ke tanah, melainkan meledak menjadi kabut halus yang berkilau. Angin malam membawa kabut itu menyelimuti seluruh desa, menyentuh setiap pohon, setiap rumah, dan setiap makhluk hidup yang telah membeku menjadi patung kristal. Di tengah alun-alun desa, Kael—yang telah dikirim lebih dulu dengan portal darurat—berdiri dengan cemas. Rambutnya yang masih berkedip-kedip warna-warni (Merah-Kuning-Hijau) menjadi satu-satunya sumber cahaya yang
Laboratorium Silas yang biasanya berbau bahan kimia tajam dan debu kuno, malam ini dipenuhi oleh ketegangan yang hening. Di tengah ruangan, Aurelia duduk di kursi periksa dengan lengan baju tersingkap. Sebuah jarum perak yang sangat halus—yang Silas tempa khusus dalam waktu lima menit karena ancaman Xaverius—perlahan mendekati kulit lengan sang Permaisuri. Xaverius berdiri tepat di samping Aurelia, matanya yang merah menyipit tajam, mengawasi setiap pergerakan tangan Silas seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya. "Ingat batasanmu, Silas," suara Xaverius rendah, namun beratnya sanggup meremukkan batu. "Satu cangkir. Jika kau mengambil lebih dari itu, aku akan menguras darahmu sendiri untuk menggantinya." "Saya mengerti, Yang Mulia. Tangan saya stabil seperti batu," jawab Silas, meskipun keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tekanan aura Xaverius jauh lebih menakutkan daripada prosedur medis ini. Cesss. Jarum itu menembus kulit. Aurelia hanya meringis kecil, hampir tida
Cahaya perak yang memancar dari lantai kaca balkon itu tidak hanya menyilaukan mata, tapi juga mengirimkan getaran hangat yang merambat hingga ke tulang sumsum. Xaverius, yang tadinya panik melihat telapak tangan Aurelia yang berdarah, kini terpaku. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana darah merah istrinya yang merembes ke dalam pori-pori kaca itu mengubah struktur sihir di dalamnya. Warna merah pekat dari Bulan Darah di atas sana seolah "ditolak" mentah-mentah oleh area yang terkena darah Aurelia. "Xaverius... lihat ke bawah," bisik Aurelia, suaranya bergetar. Ia mencondongkan tubuhnya ke pagar balkon, mengabaikan rasa perih di tangannya. Xaverius mengikuti arah pandang Aurelia. Jauh di dasar menara, di taman istana yang gelap dan penuh dengan mawar bayangan yang membeku, sebuah keajaiban sedang terjadi. Tetesan darah Aurelia yang tidak terserap oleh kaca balkon jatuh bebas menembus udara malam. Tetesan itu berkilau seperti bintang jatuh berwarna rubi, meluncur ratu
Cahaya merah darah yang memancar dari bulan purnama di atas sana mengubah balkon kaca transparan itu menjadi panggung yang bermandikan warna kirmizi. Di bawah kaki mereka, seluruh Kerajaan Nocturnia yang telah membeku menjadi kristal kini bergetar halus, memantulkan sinar merah itu hingga menciptakan ilusi lautan api beku. Aurelia mundur selangkah, tangannya gemetar. Notifikasi sistem di matanya berkedip liar dengan peringatan bahaya, namun Xaverius melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak memasang kuda-kuda tempur. Ia tidak memanggil pasukan bayangan. Sebaliknya, sang Kaisar Kehancuran menyarungkan pedang hitamnya kembali ke udara kosong dengan gerakan santai, seolah-olah fenomena kiamat di atas kepala mereka hanyalah dekorasi pesta yang sedikit berlebihan. Xaverius berbalik menghadap Aurelia, mengabaikan langit yang bergemuruh. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka ke atas—sebuah gestur undangan dansa bangsawan kuno yang sangat formal. "
Pintu kamar utama Kastil Obsidian terbanting menutup dengan suara dentuman berat yang menggema di lorong sunyi. Bukan dikunci dengan kunci biasa, melainkan disegal dengan sihir bayangan tingkat tinggi yang berdenyut ungu gelap di permukaannya. Di dalam kamar, Aurelia masih duduk mematung di tepi tempat tidur raksasa itu, tempat di mana Xaverius baru saja "melemparnya"—meski mendarat di kasur empuk, tetap saja rasanya seperti ditaruh paksa seperti karung beras. "Diam di sini. Renungkan kebodohanmu," itu kalimat terakhir Xaverius sebelum ia menghilang di balik pintu dengan wajah yang masih menahan amarah gunung berapi. Aurelia memeluk lututnya. Ia melirik ke arah jendela kamar. Di luar sana, dinding kubah kaca yang mengurung Nocturnia semakin tebal, membiaskan cahaya matahari sore menjadi warna oranye yang menyakitkan mata. Rasa bersalah kembali merayap di dadanya. Ia gagal menyelamatkan dunia, dan sekarang ia membuat suaminya murka hingga ke tulang. "Apa yang akan dia lakukan?" bis