Startseite / Romansa / Kekasih Bayaran CEO Muda / bab 3 Satu Atap, Dua Dunia

Teilen

bab 3 Satu Atap, Dua Dunia

last update Veröffentlichungsdatum: 21.09.2026 13:30:15

Sebuah sedan hitam berhenti di area parkir privat sebuah apartemen paling mewah di pusat kota Verdelia. Hazel keluar dari mobil, menyapu pandangannya ke sekeliling area yang sunyi dan sangat terjaga. Thomas membantunya membawakan koper besar dari dalam bagasi.

"Lantai paling atas, Hazel. Unit penthouse nomor satu," kata Thomas seraya mengantar Hazel hingga ke depan pintu lift khusus pemilik unit.

Hazel menoleh heran ketika melihat Thomas menghentikan langkahnya. "Kak Thomas tidak ikut naik?"

"Aku harus kembali ke kantor. Tuan Sterling masih ada rapat sampai jam enam sore. Ini kartu aksesmu," jawab Thomas sembari menyerahkan kartu mengkilap berwarna hitam murni. "Ingat pesananku, Hazel. Jangan merusak barang-barang berharga di dalam. Tempat itu isinya barang koleksi mahal semua."

Hazel memutar matanya pelan sambil menekan tombol lift. "Iya, Kak Thomas penakut banget sih. Aku cuma mau tinggal, bukan mau meruntuhkan gedung ini."

"Aku serius, Hazel," ringis Thomas memegang pelipisnya. "Selamat menikmati rumah barumu."

Pintu lift terbuka dan Hazel melangkah masuk. Lift meluncur naik dengan sangat cepat namun begitu halus tanpa suara. Ketika pintu berdenting halus dan terbuka di lantai teratas, Hazel terhenyak pelan.

Penthouse milik Lucas Sterling sangat luar biasa luas. Dinding-dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan fantastis lanskap gedung perkotaan Verdelia. Namun interiornya didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih yang teratur rapi. Sangat bersih, elegan, dan... terasa begitu dingin.

"Wah, ini sih bukan rumah. Ini museum vampir," gumam Hazel sembari menyeret kopernya melintasi lantai marmer yang berkilau.

Ia berjalan menyusuri koridor, melewati dapur bersih berkonsep terbuka dengan peralatan canggih serta ruang keluarga luas bersofa hitam. Setelah membuka beberapa pintu di koridor lantai satu—mulai dari kamar mandi tamu hingga ruang kerja kaku penuh buku bisnis—ia akhirnya menemukan sebuah kamar tidur luas bernuansa krem hangat dengan kasur berukuran king size.

"Nah, ini baru nyaman!" sorak Hazel girang. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu, menikmati kebebasan barunya sesaat.

Beberapa menit berlalu, perut Hazel mendadak berbunyi nyaring. Rasa lapar mulai menyerang. Hazel segera bangkit dan melangkah ke dapur untuk mencari bahan makanan. Namun saat ia membuka pintu lemari es besar berbahan stainless steel, bahunya langsung lemas.

"Kosong? Yang benar saja!" keluh Hazel kesal. Isi lemari es raksasa itu hanya dipenuhi botol air mineral premium, beberapa botol anggur mahal, dan sekotak kecil buah beri. "Pria itu makan apa sehari-hari? Batu es?"

Gemas, Hazel mencabut ponselnya untuk memesan makanan cepat saji melalui aplikasi. Namun baru saja ia hendak memilih menu burger, denting pintu utama yang terbuka membuat atensinya teralih.

Lucas melangkah masuk. Jas hitamnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan, sementara dasinya sedikit dikendorkan—memberikan impresi santai yang sangat jarang lihat di kantor.

"Kamu sudah sampai?" tanya Lucas datar saat mendapati Hazel berdiri di dekat area counter dapur.

"Sudah dari sejam yang lalu," jawab Hazel sembari menopang sikutnya di atas meja. "Dan aku baru tahu kalau triliuner seperti Lucas Sterling ternyata memelihara kelaparan di rumahnya sendiri."

Lucas mengerutkan dahi, berjalan mendekat. "Apa maksudmu?"

"Lemari esmu kosong melompong, Lucas. Cuma ada air dan buah tua ini," tuduh Hazel santai. "Aku mau pesan makanan. Kamu mau titip apa?"

"Staf pembersih biasanya baru menyuplai bahan makanan besok pagi. Dan aku tidak makan makanan cepat saji," sahut Lucas tenang, meraih satu botol air mineral.

"Lalu kamu mau makan apa malam ini?"

"Aku bisa memesan dari restoran di bawah."

Hazel memutar matanya. "Restoran bintang lima butuh waktu sejam hanya untuk mengantar porsi kecil yang cuma hiasan daun di atas piring! Aku lapar sekarang!"

Lucas menatap Hazel yang tampak tidak bisa diajak kompromi jika menyangkut urusan perut. Pria itu menekan pelipisnya perlahan, terjelas tidak terbiasa berdebat soal makanan di hunian pribadinya. "Lalu kamu mau makan apa?"

Hazel mendadak tersenyum lebar. Matanya berbinar jahil. "Aku mau makan ramyeon pedas pakai telur dan keju. Dan karena kamu bos yang baik, kamu harus menemaniku membelinya di minimarket bawah!"

Lucas membeku seketika. "Minimarket? Aku tidak pernah ke tempat seperti itu."

"Makanya, ini saatnya kamu belajar hidup sebagai manusia normal, Lucas tersayang," goda Hazel dengan kedipan mata yang membuat Lucas sadar malamnya tidak akan berjalan tenang.

Minimarket dua puluh empat jam di dekat kompleks penthouse tampak lengang saat mereka melangkah masuk. Lucas yang mengenakan kemeja putih tergulung dan celana kain hitam terlihat sangat mencolok di antara rak-rak makanan ringan berwarna-warni. Ia berjalan di belakang Hazel dengan kedua tangan terbenam di saku celana.

"Kenapa kamu melihat rak keripik kentang itu seperti sedang menganalisis dokumen bangkrut?" bisik Hazel sembari mengambil keranjang belanjaan.

"Tempat ini terlalu terang dan baunya aneh," cetus Lucas pelan.

"Ini bau makanan enak, Lucas. Kamu saja yang terlalu lama hidup di dalam ruang steril," balas Hazel santai.

Gadis itu mengambil beberapa bungkus mie instan pedas, sosis, keju lembaran, dan soda. Lucas terus memperhatikan gerakan Hazel dengan alis bertaut tajam.

"Makanan seperti itu tidak sehat untuk tubuhmu," tegur Lucas.

"Ini sangat sehat untuk jiwaku," tangkis Hazel cepat. Ia lalu menyodorkan sebungkus keripik ke depan wajah pria itu. "Nah, sekarang giliranmu. Mau camilan apa?"

"Aku tidak mau."

"Ayo lah, Lucas. Jangan kaku begitu!" Hazel memajukan langkahnya, mendesak Lucas hingga punggung pria itu tersudut di depan rak minuman dingin. "Kalau kamu tidak mau pilih, aku pilihkan. Tapi kamu yang bayar!"

Hazel menatap lekat iris mata abu-abu milik Lucas yang berada begitu dekat dengannya. Di bawah pendar lampu neon minimarket, Hazel menyadari betapa tajam namun dalamnya tatapan pria kaku ini. Ada jarak yang tidak biasa di antara mereka.

"Baiklah. Pilih saja," ujar Lucas akhirnya, menyerah pada desakan gadis di depannya.

Hazel bersorak kecil penuh kemenangan lalu membawa keranjang belanjaannya ke kasir. Pemuda petugas kasir tersenyum ramah melayani Hazel, lalu melirik Lucas yang berdiri tegak di belakangnya dengan aura kaku yang mengintimidasi.

"Pacarnya ya, Kak? Ganteng tapi serem banget, kayak pengawal pribadi," bisik pemuda kasir itu pelan pada Hazel.

Hazel tidak sanggup menahan tawa. Ia menyadari Lucas mendengar bisikan itu dari cara alisnya menukik semakin tajam. "Ini pacar bayaranku," ceplos Hazel asal sambil mengedipkan mata.

Petugas kasir itu tertawa terkekeh, menganggapnya lelucon semata. Sementara Lucas hanya menghembuskan napas berat. Pria itu melangkah maju dan mengeluarkan kartu kredit hitam tanpa batas dari dompetnya untuk memproses pembayaran, membuat si kasir terpana kaku saat menerimanya.

Selesai bertransaksi, Lucas langsung merebut kantong plastik besar dari tangan Hazel.

"Ayo pulang," potong Lucas singkat lalu berbalik pergi.

Hazel menyusul langkah lebar pria itu dengan senyum puas melingkupi bibirnya. "Hei, Lucas! Tunggu aku! Nanti reputasimu sebagai CEO dingin rusak kalau ketahuan membawa kantong plastik belanjaan!"

"Diamlah, Hazel," sahut Lucas datar dari depan, meski ekspresi wajahnya tak lagi sesombong sebelumnya.

Mendengar langkah kaki Hazel yang riang menyusul di belakangnya, Lucas melirik sekilas dari sudut mata. Keraguan tipis menyelinap di benaknya—apakah keputusannya menjadikan gadis liar tak tertebak ini sebagai mitra adalah langkah yang benar, atau justru rencana besarnya akan hancur berantakan di tangan Hazel Vance?

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 10 Aura Sang Calon Menantu Bayaran

    Di ambang pintu aula utama, Thomas melangkah masuk lebih dulu untuk membukakan jalan. Beberapa langkah di belakang sang asisten, Lucas Sterling berjalan dengan langkah tegap. Pria itu tampak sangat gagah mengenakan setelan tuxedo hitam khusus buatan penjahit Italia. Wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasanya. Namun, perhatian ratusan pasang mata malam itu bukan tertuju pada ketampanan kaku sang CEO, melainkan pada jemari kekarnya yang melingkar posesif di pinggang ramping seorang wanita di sampingnya. Wanita itu adalah Hazel Vance. Hazel tampil luar biasa memukau malam itu. Ia mengenakan gaun malam berwarna emerald green rancangan desainer ternama—hadiah pemberian khusus dari Nyonya Eleanor. Gaun itu melekat sempurna di tubuh rampingnya, memamerkan bahu indahnya yang halus. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya, dipadukan dengan set perhiasan berlian yang berkilau di bawah tembusan cahaya lampu kristal. Lan

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 9 ​Di Antara Restu dan Sandiwara

    Kepanikan hebat melingkupi benak mereka saat suara dering intercom terus bergema di seluruh ruangan. Dalam hitungan detik, Hazel dan Lucas bergerak cepat membersihkan kekacauan di ruang tamu. Hazel dengan sigap menyapu puluhan kantong belanjaan mahalnya dan menyembunyikannya secara darurat di balik sofa besar, sementara Lucas melangkah terburu-buru ke dapur untuk menyingkirkan gelas berisi es dan kain basah sembari merapikan kemejanya yang kusut. Begitu pintu penthouse terbuka, napas Hazel tertahan sejenak. Nyonya Eleanor Sterling ternyata tidak datang sendirian seperti tadi pagi. Di sampingnya berdiri Tuan Richard Sterling—pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang sangat dominan, sosok di balik kejayaan Sterling Group sebelum dilanjutkan oleh Lucas. Lima menit kemudian, suasana canggung menyelimuti area ruang tamu. Hazel duduk berdampingan dengan Lucas di atas sofa empuk. Untuk memoles kebohongan mereka agar tampak meyakinkan, Lucas melingkarkan lengan tegapnya di bahu Haze

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 8 Detik-Detik Pewaris Sterling Terancam

    Suara erangan kesakitan yang sangat tertahan meluncur dari tenggorokan Lucas. Wajah tampan yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi itu seketika menegang hebat. Warna kulitnya berubah pucat, sementara matanya memejam erat saat rasa nyeri yang luar biasa menjalar menuju seluruh saraf pusatnya. Tubuh tegap Lucas langsung ambruk sepenuhnya ke samping kiri, jatuh terhempas ke marmer dingin di samping sofa. Pria perkasa yang ditakuti di dunia bisnis kota Verdelia itu kini meringkuk terlentang di lantai, membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan memegangi area bawah perutnya. "Hah... hah..." Lucas merintih pelan dengan gigi bergelut rapat. Hazel tersentak kaget. Rasa panik yang tadi menguasainya kini berganti menjadi ketakutan yang jauh lebih besar. Gadis itu buru-buru berlutut di samping Lucas di atas lantai marmer. "L-Lucas?!" jerit Hazel panik. "Kamu kenapa?!" "Hazel... kamu..." desis Lucas dengan suara yang amat sangat serak. "Aku tidak sengaja! Sumpah, demi apa pun aku tidak

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 7 Serangan Tak Terduga

    Hazel meremas kantong-kantong belanjaan mahalnya, berusaha mengendalikan deru napasnya. Ketakutan diseret kembali ke rumah dan dijodohkan secara paksa membakar keberaniannya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, membuka blokir kontak sang papi, lalu segera menekan tombol panggil. Hanya dua detik, panggilan langsung tersambung. "Papi, aku tidak mau pulang!" seru Hazel tanpa basa-basi begitu suara berat ayahnya terdengar. "Jangan keras kepala, Hazel! Pulang dengan mereka sekarang atau kamu mau bagian warisanmu Papi alihkan pada kakakmu, Daniel?" ancam Arthur Vance dingin dari seberang telepon. Hazel menghembuskan napas pendek, mengukir senyum miring. "Terserah, aku tidak peduli! Sekalian saja jodohkan Kak Daniel dengan pilihan Papi. Sekarang suruh orang-orangmu menyingkir, atau aku akan lompat dari balkon atrium mal ini sekarang juga. Papi tahu betul aku nekat!" Tanpa menunggu jawaban, Hazel langsung memutus sambungan dan memblokir kembali nomor ayahnya. Kedua peng

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 6 Balas Dendam Pakai Kartu Bos

    "Sekitar dua bulan, Nyonya," kebohongan pertama meluncur mulus dari bibir Hazel. "Dua bulan?" Eleanor memiringkan kepalanya. "Jika kamu memang kekasihnya, kenapa kamu tidak menyiapkan sarapan atau mengantarnya ke depan pintu saat dia berangkat jam tujuh pagi tadi?" Hazel menyunggingkan senyum manis, menyodorkan kertas catatan kecil dan kartu kredit hitam di atas meja. "Lucas yang melarang saya bangun awal pagi ini, Nyonya. Dia bilang saya harus istirahat karena semalam menemaninya memeriksa beberapa dokumen hingga larut. Bahkan dia menyeduh kopi sendiri dan meninggalkan catatan ini serta kartu kreditnya untuk saya." Eleanor meraih kertas itu, mengamati tulisan tangan rapi putranya dan inisial L.S. di sudut bawah. Tatapannya pada Hazel perlahan berubah, dipenuhi analisis mendalam. "Baguslah kalau begitu," ujar Eleanor perlahan. "Tapi jangan senang dulu, Hazel. Minggu depan adalah acara ulang tahun pernikahan kami. Lucas harus membawamu ke sana. Kamu harus bersikap sesuai denga

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 5 Ujian Pertama Nona Vance

    Sinar matahari pagi yang menembus dinding kaca penthouse tidak mampu mengusik tidur lelap Hazel Vance hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Bangun kesiangan adalah kebiasaan lamanya jika tidak ada agenda mendesak—terlebih saat ini statusnya adalah seorang pengangguran. Tunggu! Pengangguran? Hazel mendadak membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar bernuansa krem yang asing. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum terduduk kaget di atas kasur empuk. "Tunggu dulu... aku kan sekarang bekerja!" gumam Hazel dengan suara serak khas bangun tidur. Memori tentang dokumen tebal berstempel hukum yang ia tandatangani kemarin sore berputar cepat di kepalanya. Pekerjaannya sangat jelas: menjadi kekasih bayaran dari CEO triliuner dingin bernama Lucas Sterling. Hazel segera menyibak selimut dan bergegas melangkah keluar kamar tanpa sempat merapikan rambut cokelatnya yang mengembang. Langkah kakinya menyusuri koridor yang teramat sunyi. "Lucas?" panggil Hazel pel

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status