LOGINsesampainya di penthouse, Hazel langsung menguasai area dapur. Ia memutar musik santai dari ponselnya, memotong sosis, dan merebus air dengan lincah. Lucas menduduki salah satu kursi bar, memperhatikan gerak-gerik gadis Vance itu dengan tenang.
"Kamu biasa memasak sendiri?" tanya Lucas memecah keheningan yang tersisa di antara keasulan aroma kuah mie yang gurih. "Kadang-kadang," jawab Hazel tanpa menoleh. "Kalau Kak Daniel sibuk dan bibi pulang kampung, aku suka eksperimen. Tapi Papi paling benci melihatku di dapur. Katanya putri keluarga Vance tidak boleh mengotori tangan dengan urusan domestik." Lucas menyimak diam-diam. "Keluargamu sangat ketat?" "Sangat," Hazel berbalik, menopangkan kedua tangannya di atas counter sembari menunggu kuah mendidih. "Papi mau semuanya sempurna. Aku harus anggun, lulusan universitas ternama, lalu menikah dengan pria pilihan bisnisnya. Boring banget, kan?" "Itu cara mereka melindungimu," sahut Lucas datar. "Itu cara mereka mengontrol hidupku, Lucas," ralat Hazel dengan pandangan serius. "Hidup cuma sekali. Masa aku harus menjalani naskah yang ditulis orang lain? Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu senang hidupmu dikendalikan ibumu?" Pertanyaan lugas Hazel membungkam Lucas. Pria itu menatap gelas air di tangannya. Sepanjang hidupnya, ia memang selalu melakukan ekspektasi orang lain: menjadi lulusan terbaik, memimpin Sterling Group, dan menjaga citra. "Aku tidak punya pilihan," sahut Lucas pelan. "Tanggung jawabku terlalu besar." "Setiap orang punya pilihan, Lucas. Kamu cuma terlalu takut untuk melompat keluar dari garis yang mereka buat," ujar Hazel lembut. Bunyi letupan air mendidih memutus suasana emosional itu. Hazel berbalik cepat, mengolah bahan-bahan hingga menyajikannya ke dalam dua mangkuk keramik besar. Ia meletakkannya tepat di hadapan Lucas bersama sepasang sumpit. "Nih, mahakarya malam pertama kita!" seru Hazel bangga. Lucas menatap kuah pekat berwarna merah dengan lelehan keju itu dengan penuh keraguan. Hazel yang sudah menyuap ramyeonnya lebih dulu terkekeh melihat kebingungan pria itu. "Mencicipinya tidak akan membunuhmu, Bos Kaku." Perlahan, Lucas menyumpit sedikit mie dan memasukannya ke dalam mulut. Rasa pedas, gurih, dan lezatnya keju langsung meledak menembus indra pengecapnya—sangat kontras dengan masakan steril dari koki pribadinya. Wajah Lucas tetap datar, tetapi tangannya kembali menggerakkan sumpit untuk suapan kedua. "Bagaimana?" tanya Hazel berbinar penuh antisipasi. "Lumayan," jawab Lucas pendek. Hazel tertawa puas. "Lumayan tapi nambah suapan terus! Akui saja kalau ini enak!" Lucas tidak membalas lagi dan memilih terus menghabiskan isi mangkuknya. Suara tawa Hazel dan denting sumpit beradu perlahan melunakkan atmosfer penthouse yang tadinya serba kaku. Seusai makan, Lucas menyandarkan punggungnya di kursi bar, memegang gelas air putihnya. Hazel yang berdiri di sisi lain counter menyadari ada sedikit noda merah bumbu ramyeon menempel tepat di sudut bibir kanan Lucas. Sebuah ide jahil mendadak melintas di kepala Hazel. Jiwa usilnya bergolak membayangkan reaksi pria dingin ini jika digoda. Hazel mengikis jarak di antara mereka, membungkukkan tubuhnya melintasi meja counter. Ia menatap lurus ke dalam iris mata abu-abu milik Lucas, mengikis habis jarak hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter. "Lucas..." panggil Hazel dengan suara yang disengaja bernada lembut dan berbisik manja. Lucas tidak bergerak, namun tatapannya menajam, mengunci wajah Hazel. "Apa?" "Ada sesuatu di bibirmu," bisik Hazel dengan senyum goda yang sarat kepura-puraan. Ia mengangkat jari telunjuknya perlahan, lalu mengusapkan jemari lembutnya di sudut bibir Lucas, mengusap noda bumbu itu dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk membuat pria itu salah tingkah. Hazel menahan tawa dalam hatinya, menanti ekspresi panik atau canggung yang akan terpancar dari CEO kaku di depannya. Ia yakin usahanya untuk mengusili Lucas berhasil sepenuhnya. Namun, prediksi Hazel melesat tajam. Bukannya menjauh atau tersipu malu, jemari kekar Lucas justru meluncur kilat cengkeramannya ke pergelangan tangan Hazel, mengunci gerakan gadis itu. Sebelum Hazel sempat menarik tangannya kembali karena terkejut, Lucas menarik jemari Hazel mendekati mulutnya dan... Lucas menggigit ujung jari telunjuk Hazel cukup keras! "Aww! Sakit!" jerit Hazel memekik nyaring, menarik tangannya kencang-kencang sambil meringis kesakitan. Ia mengusap jarinya yang kini memerah dan membekas bekas gigitan tajam pria itu. Lucas tidak sedikit pun merasa bersalah. Ia mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jarinya secara santai, lalu menatap Hazel dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan dingin. "Jangan pernah mencoba bermain api denganku, nona Vance," bisik Lucas berat, tatapannya menyapu Hazel dari atas ke bawah sebelum ia berbalik melangkah santai menuju kamarnya. Hazel berdiri terpaku di tempatnya dengan dada berombak kencang, menatap punggung Lucas yang menjauh dengan jari telunjuk yang masih terasa ngilu. Niatnya untuk mengusili pria itu justru berbalik mematikan baginya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Hazel sadar betul bahwa pria bernama Lucas Sterling ini jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.Di ambang pintu aula utama, Thomas melangkah masuk lebih dulu untuk membukakan jalan. Beberapa langkah di belakang sang asisten, Lucas Sterling berjalan dengan langkah tegap. Pria itu tampak sangat gagah mengenakan setelan tuxedo hitam khusus buatan penjahit Italia. Wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasanya. Namun, perhatian ratusan pasang mata malam itu bukan tertuju pada ketampanan kaku sang CEO, melainkan pada jemari kekarnya yang melingkar posesif di pinggang ramping seorang wanita di sampingnya. Wanita itu adalah Hazel Vance. Hazel tampil luar biasa memukau malam itu. Ia mengenakan gaun malam berwarna emerald green rancangan desainer ternama—hadiah pemberian khusus dari Nyonya Eleanor. Gaun itu melekat sempurna di tubuh rampingnya, memamerkan bahu indahnya yang halus. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya, dipadukan dengan set perhiasan berlian yang berkilau di bawah tembusan cahaya lampu kristal. Lan
Kepanikan hebat melingkupi benak mereka saat suara dering intercom terus bergema di seluruh ruangan. Dalam hitungan detik, Hazel dan Lucas bergerak cepat membersihkan kekacauan di ruang tamu. Hazel dengan sigap menyapu puluhan kantong belanjaan mahalnya dan menyembunyikannya secara darurat di balik sofa besar, sementara Lucas melangkah terburu-buru ke dapur untuk menyingkirkan gelas berisi es dan kain basah sembari merapikan kemejanya yang kusut. Begitu pintu penthouse terbuka, napas Hazel tertahan sejenak. Nyonya Eleanor Sterling ternyata tidak datang sendirian seperti tadi pagi. Di sampingnya berdiri Tuan Richard Sterling—pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang sangat dominan, sosok di balik kejayaan Sterling Group sebelum dilanjutkan oleh Lucas. Lima menit kemudian, suasana canggung menyelimuti area ruang tamu. Hazel duduk berdampingan dengan Lucas di atas sofa empuk. Untuk memoles kebohongan mereka agar tampak meyakinkan, Lucas melingkarkan lengan tegapnya di bahu Haze
Suara erangan kesakitan yang sangat tertahan meluncur dari tenggorokan Lucas. Wajah tampan yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi itu seketika menegang hebat. Warna kulitnya berubah pucat, sementara matanya memejam erat saat rasa nyeri yang luar biasa menjalar menuju seluruh saraf pusatnya. Tubuh tegap Lucas langsung ambruk sepenuhnya ke samping kiri, jatuh terhempas ke marmer dingin di samping sofa. Pria perkasa yang ditakuti di dunia bisnis kota Verdelia itu kini meringkuk terlentang di lantai, membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan memegangi area bawah perutnya. "Hah... hah..." Lucas merintih pelan dengan gigi bergelut rapat. Hazel tersentak kaget. Rasa panik yang tadi menguasainya kini berganti menjadi ketakutan yang jauh lebih besar. Gadis itu buru-buru berlutut di samping Lucas di atas lantai marmer. "L-Lucas?!" jerit Hazel panik. "Kamu kenapa?!" "Hazel... kamu..." desis Lucas dengan suara yang amat sangat serak. "Aku tidak sengaja! Sumpah, demi apa pun aku tidak
Hazel meremas kantong-kantong belanjaan mahalnya, berusaha mengendalikan deru napasnya. Ketakutan diseret kembali ke rumah dan dijodohkan secara paksa membakar keberaniannya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, membuka blokir kontak sang papi, lalu segera menekan tombol panggil. Hanya dua detik, panggilan langsung tersambung. "Papi, aku tidak mau pulang!" seru Hazel tanpa basa-basi begitu suara berat ayahnya terdengar. "Jangan keras kepala, Hazel! Pulang dengan mereka sekarang atau kamu mau bagian warisanmu Papi alihkan pada kakakmu, Daniel?" ancam Arthur Vance dingin dari seberang telepon. Hazel menghembuskan napas pendek, mengukir senyum miring. "Terserah, aku tidak peduli! Sekalian saja jodohkan Kak Daniel dengan pilihan Papi. Sekarang suruh orang-orangmu menyingkir, atau aku akan lompat dari balkon atrium mal ini sekarang juga. Papi tahu betul aku nekat!" Tanpa menunggu jawaban, Hazel langsung memutus sambungan dan memblokir kembali nomor ayahnya. Kedua peng
"Sekitar dua bulan, Nyonya," kebohongan pertama meluncur mulus dari bibir Hazel. "Dua bulan?" Eleanor memiringkan kepalanya. "Jika kamu memang kekasihnya, kenapa kamu tidak menyiapkan sarapan atau mengantarnya ke depan pintu saat dia berangkat jam tujuh pagi tadi?" Hazel menyunggingkan senyum manis, menyodorkan kertas catatan kecil dan kartu kredit hitam di atas meja. "Lucas yang melarang saya bangun awal pagi ini, Nyonya. Dia bilang saya harus istirahat karena semalam menemaninya memeriksa beberapa dokumen hingga larut. Bahkan dia menyeduh kopi sendiri dan meninggalkan catatan ini serta kartu kreditnya untuk saya." Eleanor meraih kertas itu, mengamati tulisan tangan rapi putranya dan inisial L.S. di sudut bawah. Tatapannya pada Hazel perlahan berubah, dipenuhi analisis mendalam. "Baguslah kalau begitu," ujar Eleanor perlahan. "Tapi jangan senang dulu, Hazel. Minggu depan adalah acara ulang tahun pernikahan kami. Lucas harus membawamu ke sana. Kamu harus bersikap sesuai denga
Sinar matahari pagi yang menembus dinding kaca penthouse tidak mampu mengusik tidur lelap Hazel Vance hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Bangun kesiangan adalah kebiasaan lamanya jika tidak ada agenda mendesak—terlebih saat ini statusnya adalah seorang pengangguran. Tunggu! Pengangguran? Hazel mendadak membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar bernuansa krem yang asing. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum terduduk kaget di atas kasur empuk. "Tunggu dulu... aku kan sekarang bekerja!" gumam Hazel dengan suara serak khas bangun tidur. Memori tentang dokumen tebal berstempel hukum yang ia tandatangani kemarin sore berputar cepat di kepalanya. Pekerjaannya sangat jelas: menjadi kekasih bayaran dari CEO triliuner dingin bernama Lucas Sterling. Hazel segera menyibak selimut dan bergegas melangkah keluar kamar tanpa sempat merapikan rambut cokelatnya yang mengembang. Langkah kakinya menyusuri koridor yang teramat sunyi. "Lucas?" panggil Hazel pel







