Beranda / Romansa / Kekasih Bayaran CEO Muda / bab 7 Serangan Tak Terduga

Share

bab 7 Serangan Tak Terduga

Penulis: Ana. R.
last update Tanggal publikasi: 2026-09-21 13:47:14

Hazel meremas kantong-kantong belanjaan mahalnya, berusaha mengendalikan deru napasnya. Ketakutan diseret kembali ke rumah dan dijodohkan secara paksa membakar keberaniannya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, membuka blokir kontak sang papi, lalu segera menekan tombol panggil.

Hanya dua detik, panggilan langsung tersambung.

"Papi, aku tidak mau pulang!" seru Hazel tanpa basa-basi begitu suara berat ayahnya terdengar.

"Jangan keras kepala, Hazel! Pulang dengan mereka sekarang atau kamu mau bagian warisanmu Papi alihkan pada kakakmu, Daniel?" ancam Arthur Vance dingin dari seberang telepon.

Hazel menghembuskan napas pendek, mengukir senyum miring. "Terserah, aku tidak peduli! Sekalian saja jodohkan Kak Daniel dengan pilihan Papi. Sekarang suruh orang-orangmu menyingkir, atau aku akan lompat dari balkon atrium mal ini sekarang juga. Papi tahu betul aku nekat!"

Tanpa menunggu jawaban, Hazel langsung memutus sambungan dan memblokir kembali nomor ayahnya.

Kedua pengawal di hadapannya mendadak tertegun. Ponsel salah satu dari mereka bergetar menyalurkan pesan singkat dari sang tuan besar yang memerintahkan mereka untuk mundur seketika. Tanpa mengucap sepatah kata pun, kedua pria itu membungkuk tipis lalu berbalik pergi.

"Hussst... sana pergi! Mengganggu kesenangan orang saja," gerutu Hazel dengan napas memburu. Meski mood-nya sedikit terganggu, Hazel menolak membiarkan intimidasi papinya merusak hari. Ia menegakkan bahu, siap melanjutkan aksi belanja pembalasan dendamnya.

Di lantai lima puluh gedung Sterling Group, suasana ruang kerja eksekutif dipenuhi denting notifikasi transaksi yang tak kunjung berhenti.

Ting.

Ting.

Ting.

Ponsel di meja kerja Lucas Sterling terus menyala, memamerkan belasan notifikasi penarikan dari bank utama:

Pengeluaran: $12,500 – Maison de Haute Couutam

Pengeluaran: $8,900 – Le Cuir Luxury Bags

Pengeluaran: $4,200 – Starlight Shoes

Thomas yang berdiri di samping meja kerja menyapu pandangannya pada angka-angka fantastis itu. Matanya membelalak kaget. Ia membayangkan skenario terburuk jika bosnya ini murka.

"Ehm... Tuan Sterling," panggil Thomas ragu. "Apakah saya perlu menghubungi pihak bank untuk membatasi limit kartu kredit itu, Tuan? Saya takut Hazel berniat menguras isi kartu Anda dalam sehari."

Lucas tidak memindahkan tatapannya dari berkas laporan akuisisi. "Tidak perlu, biarkan dia memakainya sepuasnya. Selama kontrak berlangsung, dia bebas menggunakannya."

Thomas berkedip bingung. "Anda... tidak marah, Tuan?"

Lucas akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap asistennya datar. "Untuk apa aku marah? Dia sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik pagi ini saat Mom datang. Anggap saja itu kompensasi awal. Lagipula, jika Mom melihatnya tampil buruk, itu justru merusak kredibilitasku."

Thomas menghela napas lega dalam hati.

"Lalu, untuk latihan nanti malam," lanjut Thomas mencoba fokus. "Anda akan melatih Hazel tentang apa, Tuan?"

Lucas menyandarkan punggungnya, mengetuk jemarinya di lengan kursi. "Aku belum tahu. Status sosial kami sama, jadi dia pasti paham tata krama dasar."

"Anda benar," angguk Thomas. "Tapi pesta Nyonya Eleanor adalah arena politik. Apa yang sekiranya kurang dari Anda dan Hazel agar terlihat menyakinkan sebagai pasangan?"

"Menurutmu apa?" gumam Lucas.

Mata Thomas mendadak berbinar cerah. "Dansa, Tuan! Acara Nyonya Eleanor selalu dibuka dengan dansa pasangan. Jika Anda dan Hazel berdansa kaku seperti dua patung yang saling menjaga jarak, Nyonya Eleanor akan langsung tahu hubungan ini palsu!"

Pikiran rasional Lucas mengakui kecerdasan argumen asistennya. Ibunya adalah pengamat yang sangat jeli. "Baiklah. Aku sendiri yang akan melatihnya di penthouse nanti malam."

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Lucas melangkah masuk ke dalam penthouse. Pemandangan puluhan kantong belanja bermerek mewah menyambutnya di sofa ruang tamu.

Di sudut ruangan, Hazel sedang memperagakan gaun malam barunya di depan cermin besar, masih lengkap dengan kacamata hitamnya.

"Wah, calon suamiku sudah pulang!" seru Hazel dengan senyum penuh maksud begitu mendengar pintu terbuka.

"Panggilanmu sangat mengerikan, Hazel," ujar Lucas dingin seraya melepas jasnya.

"Kan latihan, Lucas tersayang," sahut Hazel tanpa rasa dosa. "Oya, terima kasih buat kartunya. Kartumu sakti sekali, aku sangat menyukainya."

"Aku sudah melihat tagihannya," sahut Lucas datar. "Sekarang bersiaplah, Kita ada latihan dansa malam ini."

Mata Hazel melotot. "Dansa? Untuk apa? Aku ini lulusan akademi seni dan etika, Lucas. Aku bisa berdansa waltz bahkan dengan mata terpejam!"

"Aku tidak meragukan kemampuanmu berdansa," potong Lucas sembari menyalakan musik instrumen waltz yang lambat dan elegan dari panel dinding. "Aku meragukan cara kita berinteraksi."

Lucas menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, mendekati Hazel, lalu mengulurkan tangan kanannya secara anggun. "Mari kita mulai, Miss Vance."

Hazel mendengkus pelan, memutar matanya, lalu meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan hangat milik Lucas. "Jangan salahkan aku kalau kakimu terinjak ya, Bos."

"Cobalah kalau berani," balas Lucas dingin.

Lucas menarik tubuh Hazel mendekat. Tangan kirinya berlabuh mantap di pinggang Hazel. Sentuhan yang hangat dan penuh kendali itu membuat dada Hazel mendadak menegang tipis. Langkah pertama mereka dimulai menyusuri lantai marmer. Gerakan mereka sangat presisi, namun atmosfer di antara mereka terasa kaku.

"Hazel," tegur Lucas pelan. "Kamu menatapku seperti sedang melihat musuh bebuyutanmu."

Hazel tertawa hambar. "Bagaimana tidak tegang? Kamu menatapku seolah sedang menghitung dosa-dosaku!"

"Kita sedang berpura-pura menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai," balas Lucas, makin merapatkan pegangannya pada pinggang Hazel hingga jarak dada mereka terkikis habis. "Rilekskan bahumu. Berikan senyuman, bukan tatapan membunuh."

Hazel mendongak, menyerap wangi kayu cendana dan citrus dari tubuh Lucas. Jiwa usilnya mendadak membara untuk menutupi rasa canggungnya. Ia menyunggingkan senyum manis dengan mata berkedip-kedip menggoda.

"Apakah seperti ini, Lucas Sayang? Apakah mataku sudah memancarkan benih cinta yang membara?" goda Hazel dramatis. Aksi itu bernasib sial. CLAK! Ujung sepatu hak tinggi Hazel tak sengaja menginjak sepatu kulit mahal milik Lucas.

"Ouch," gumam Lucas dengan alis menukik tajam.

"Ups! Maaf! Aku bersumpah tidak sengaja!" cicit Hazel panik sambil menarik kakinya cepat-cepat.

"Kita ulangi dari awal," tegas Lucas tak mau bantah.

"Lagi?!" keluh Hazel dramatis. "Lucas, kakiku sudah pegal berjalan-jalan di mal dari siang!"

"Tidak ada alasan. Sampai kamu bisa berdansa tanpa menginjak kakiku dan tanpa wajah menyebalkan itu," balas Lucas kembali mengulurkan tangan.

Dengan bibir memanyun kesal, Hazel akhirnya kembali menerima uluran tangan pria itu. Musik waltz kembali bergema. Di bawah lampu kristal yang hangat, gerakan mereka perlahan menyatu. Tawa kecil dan bisikan ketegangan bergantian mengisi ruang keluarga.

Namun, rasa lelah luar biasa akibat belanja seharian mendadak menyerang Hazel. Matanya kian berat. Langkah kakinya melambat hingga akhirnya Hazel kehilangan keseimbangan saat Lucas melepas pegangan di pinggangnya untuk putaran dansa.

Tubuh Hazel hampir ambruk ke lantai, namun dengan refleks kilat, tangan kokoh Lucas menyergap pinggangnya dan menarik Hazel jatuh tepat ke dada bidangnya.

"Dasar gadis merepotkan," gumam Lucas pelan saat menyadari Hazel telah tertidur pulas dalam pelukannya.

Tanpa mematikan musik, Lucas menggendong Hazel secara bridal style menuju sofa empuk di ruang tamu. Ia membaringkan tubuh ramping itu secara perlahan. Namun saat Lucas hendak melepaskan kebenyokan dekapan dan menegakkan tubuhnya, jemari Hazel yang bergerak refleks dalam tidurnya justru mencengkeram erat kerah kemeja Lucas.

SRET!

Tarikan tak terduga itu membuat keseimbangan Lucas hilang. Tubuh tinggi dan tegap sang CEO langsung ambruk ke bawah, menindih tepat di atas tubuh Hazel di atas sofa!

Hazel yang terkejut oleh guncangan keras itu mendadak membuka matanya lebar-lebar. Pandangan Hazel yang buram langsung bertabrakan dengan sepasang iris mata abu-abu milik Lucas yang berada hanya sejarak satu sentimeter dari wajahnya. Deru napas hangat Lucas berhembus menerpa bibirnya, sementara posisi mereka terunci rapat tanpa celah.

Atmosfer di dalam penthouse megah itu mendadak membeku. Musik instrumen waltz masih mengalun lembut dari sistem suara di dinding, namun melodi indah itu sama sekali tak mampu mencairkan ketegangan yang menyergap secara tiba-tiba.

Jantung Hazel Vance berdegup kencang bagaikan genderang perang. Tatapan matanya terkunci rapat pada sepasang iris mata abu-abu milik Lucas Sterling yang berada hanya sejarak satu sentimeter di atas wajahnya. Hembusan napas hangat pria itu menerpa kulit pipinya, membawa aroma khas kayu cendana dan citrus yang seketika melumpuhkan seluruh indranya.

Kepanikan hebat langsung menguasai benak Hazel. Posisi mereka di atas sofa benar-benar terlalu intim dan sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

"L-Lucas... apa yang kau lakukan?!" bisik Hazel dengan suara bergetar hebat.

Lucas sendiri tidak kalah terkejut. Namun, kontrol dirinya yang sangat tinggi membuat ekspresi wajahnya tetap dingin, meski ada kilat kebingungan yang melintas sangat cepat di matanya. Pria itu baru saja hendak menjelaskan bahwa tarikan jemari Hazel pada kerah kemejanya yang menjadi penyebab ia terjatuh.

"Lepaskan aku, Lucas!" seru Hazel panik.

Tanpa berpikir panjang, Hazel menggerakkan tubuhnya secara mendadak. Kedua tangannya mendorong dada bidang Lucas sekuat tenaga, sementara salah satu kakinya ditarik tajam untuk mencari tumpuan agar bisa bergeser dari bawah tubuh tegap sang CEO.

Namun, gerakan refleks yang tidak terarah itu berakibat fatal. Ujung lutut Hazel yang terangkat tajam meluncur ke atas dan—BRAM!—hantamannya tepat menumbuk area sensitif terlarang di antara kedua paha Lucas.

"Ssshh... AARGH!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 10 Aura Sang Calon Menantu Bayaran

    Di ambang pintu aula utama, Thomas melangkah masuk lebih dulu untuk membukakan jalan. Beberapa langkah di belakang sang asisten, Lucas Sterling berjalan dengan langkah tegap. Pria itu tampak sangat gagah mengenakan setelan tuxedo hitam khusus buatan penjahit Italia. Wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasanya. Namun, perhatian ratusan pasang mata malam itu bukan tertuju pada ketampanan kaku sang CEO, melainkan pada jemari kekarnya yang melingkar posesif di pinggang ramping seorang wanita di sampingnya. Wanita itu adalah Hazel Vance. Hazel tampil luar biasa memukau malam itu. Ia mengenakan gaun malam berwarna emerald green rancangan desainer ternama—hadiah pemberian khusus dari Nyonya Eleanor. Gaun itu melekat sempurna di tubuh rampingnya, memamerkan bahu indahnya yang halus. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya, dipadukan dengan set perhiasan berlian yang berkilau di bawah tembusan cahaya lampu kristal. Lan

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 9 ​Di Antara Restu dan Sandiwara

    Kepanikan hebat melingkupi benak mereka saat suara dering intercom terus bergema di seluruh ruangan. Dalam hitungan detik, Hazel dan Lucas bergerak cepat membersihkan kekacauan di ruang tamu. Hazel dengan sigap menyapu puluhan kantong belanjaan mahalnya dan menyembunyikannya secara darurat di balik sofa besar, sementara Lucas melangkah terburu-buru ke dapur untuk menyingkirkan gelas berisi es dan kain basah sembari merapikan kemejanya yang kusut. Begitu pintu penthouse terbuka, napas Hazel tertahan sejenak. Nyonya Eleanor Sterling ternyata tidak datang sendirian seperti tadi pagi. Di sampingnya berdiri Tuan Richard Sterling—pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang sangat dominan, sosok di balik kejayaan Sterling Group sebelum dilanjutkan oleh Lucas. Lima menit kemudian, suasana canggung menyelimuti area ruang tamu. Hazel duduk berdampingan dengan Lucas di atas sofa empuk. Untuk memoles kebohongan mereka agar tampak meyakinkan, Lucas melingkarkan lengan tegapnya di bahu Haze

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 8 Detik-Detik Pewaris Sterling Terancam

    Suara erangan kesakitan yang sangat tertahan meluncur dari tenggorokan Lucas. Wajah tampan yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi itu seketika menegang hebat. Warna kulitnya berubah pucat, sementara matanya memejam erat saat rasa nyeri yang luar biasa menjalar menuju seluruh saraf pusatnya. Tubuh tegap Lucas langsung ambruk sepenuhnya ke samping kiri, jatuh terhempas ke marmer dingin di samping sofa. Pria perkasa yang ditakuti di dunia bisnis kota Verdelia itu kini meringkuk terlentang di lantai, membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan memegangi area bawah perutnya. "Hah... hah..." Lucas merintih pelan dengan gigi bergelut rapat. Hazel tersentak kaget. Rasa panik yang tadi menguasainya kini berganti menjadi ketakutan yang jauh lebih besar. Gadis itu buru-buru berlutut di samping Lucas di atas lantai marmer. "L-Lucas?!" jerit Hazel panik. "Kamu kenapa?!" "Hazel... kamu..." desis Lucas dengan suara yang amat sangat serak. "Aku tidak sengaja! Sumpah, demi apa pun aku tidak

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 7 Serangan Tak Terduga

    Hazel meremas kantong-kantong belanjaan mahalnya, berusaha mengendalikan deru napasnya. Ketakutan diseret kembali ke rumah dan dijodohkan secara paksa membakar keberaniannya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, membuka blokir kontak sang papi, lalu segera menekan tombol panggil. Hanya dua detik, panggilan langsung tersambung. "Papi, aku tidak mau pulang!" seru Hazel tanpa basa-basi begitu suara berat ayahnya terdengar. "Jangan keras kepala, Hazel! Pulang dengan mereka sekarang atau kamu mau bagian warisanmu Papi alihkan pada kakakmu, Daniel?" ancam Arthur Vance dingin dari seberang telepon. Hazel menghembuskan napas pendek, mengukir senyum miring. "Terserah, aku tidak peduli! Sekalian saja jodohkan Kak Daniel dengan pilihan Papi. Sekarang suruh orang-orangmu menyingkir, atau aku akan lompat dari balkon atrium mal ini sekarang juga. Papi tahu betul aku nekat!" Tanpa menunggu jawaban, Hazel langsung memutus sambungan dan memblokir kembali nomor ayahnya. Kedua peng

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 6 Balas Dendam Pakai Kartu Bos

    "Sekitar dua bulan, Nyonya," kebohongan pertama meluncur mulus dari bibir Hazel. "Dua bulan?" Eleanor memiringkan kepalanya. "Jika kamu memang kekasihnya, kenapa kamu tidak menyiapkan sarapan atau mengantarnya ke depan pintu saat dia berangkat jam tujuh pagi tadi?" Hazel menyunggingkan senyum manis, menyodorkan kertas catatan kecil dan kartu kredit hitam di atas meja. "Lucas yang melarang saya bangun awal pagi ini, Nyonya. Dia bilang saya harus istirahat karena semalam menemaninya memeriksa beberapa dokumen hingga larut. Bahkan dia menyeduh kopi sendiri dan meninggalkan catatan ini serta kartu kreditnya untuk saya." Eleanor meraih kertas itu, mengamati tulisan tangan rapi putranya dan inisial L.S. di sudut bawah. Tatapannya pada Hazel perlahan berubah, dipenuhi analisis mendalam. "Baguslah kalau begitu," ujar Eleanor perlahan. "Tapi jangan senang dulu, Hazel. Minggu depan adalah acara ulang tahun pernikahan kami. Lucas harus membawamu ke sana. Kamu harus bersikap sesuai denga

  • Kekasih Bayaran CEO Muda   bab 5 Ujian Pertama Nona Vance

    Sinar matahari pagi yang menembus dinding kaca penthouse tidak mampu mengusik tidur lelap Hazel Vance hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Bangun kesiangan adalah kebiasaan lamanya jika tidak ada agenda mendesak—terlebih saat ini statusnya adalah seorang pengangguran. Tunggu! Pengangguran? Hazel mendadak membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar bernuansa krem yang asing. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum terduduk kaget di atas kasur empuk. "Tunggu dulu... aku kan sekarang bekerja!" gumam Hazel dengan suara serak khas bangun tidur. Memori tentang dokumen tebal berstempel hukum yang ia tandatangani kemarin sore berputar cepat di kepalanya. Pekerjaannya sangat jelas: menjadi kekasih bayaran dari CEO triliuner dingin bernama Lucas Sterling. Hazel segera menyibak selimut dan bergegas melangkah keluar kamar tanpa sempat merapikan rambut cokelatnya yang mengembang. Langkah kakinya menyusuri koridor yang teramat sunyi. "Lucas?" panggil Hazel pel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status