Mag-log inLaura berusaha menarik tangannya yang masih dicekal oleh Bernard saat mereka turun di sebuah gedung tinggi yang entah memiliki berapa lantai.Beberapa kali ia berusaha melepaskan cengkeraman Bernard dari tangannya, tetapi tangan pria itu sudah seperti besi panas yang melingkar, terlalu sulit untuk dilepaskan."Sayang, kamu jangan terlalu agresif seperti itu. Saat ini kita berada di area parkir kantor. Bagaimana kalau ada orang yang melihat kita?" Bernard bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada Laura hingga membuat perempuan itu sedikit menjauh."Menjauhlah dariku. Bisakah kamu berhenti menggangguku?""Tidak, Sayang. Mengganggumu adalah kepastian yang memang harus aku jalani. Aku suka mengganggumu," ucap Bernard, tidak lupa mengedipkan sebelah matanya. "Kita akan mengobrol di kantorku saja."Pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada Laura hingga membuat perempuan itu mundur dan tidak sengaja menabrak sebuah mobil di belakangnya, menimbulkan suara yang cukup keras.Alarm mobil itu lan
Jackson menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya. Ia tidak menyangka jika Ariana akan membohonginya dan bahkan membuatnya harus menampar wajah Laura di depan banyak orang.Belum lagi kalimat-kalimat provokasi yang dilontarkan oleh Ariana. Rasanya Jackson tidak percaya jika wanita lemah lembut yang tidak pernah menyakiti orang lain seperti Ariana bisa mengatakannya.Wajah pria itu terlihat tegang, bercampur dengan emosi dan rasa malu. Belum lagi para sepupunya yang kini sudah menatap ke arahnya dengan tatapan aneh, membuat Jackson merasa tidak memiliki muka lagi untuk berdiri di depan mereka.Jackson kemudian langsung berbalik pergi tanpa mengatakan apa pun, membuat Ariana segera menyusulnya.Ariana yang gemetar tentu saja tidak ingin kehilangan Jackson. Pria ini adalah sumber kehidupannya karena dengan menjalin hubungan dengannya, ia bisa hidup mewah.Ariana tidak menyangka jika apa yang diperbuat olehnya direkam oleh Abigail--keponakan Jackson--yang tidak perna
Elma menatap kecewa pada putranya yang lagi-lagi lebih membela wanita lain daripada istrinya sendiri. Lebih kecewa lagi ketika melihat putranya dengan enteng menampar istrinya di depan orang banyak dan mempermalukannya.Elma benar-benar tidak habis pikir mengapa putranya bisa seperti ini pada seorang perempuan yang bahkan tidak melakukan kejahatan apa pun."Kamu benar-benar keterlaluan sekali, Jackson. Tidak bisakah kamu mencari tahu semuanya terlebih dahulu sebelum memutuskan orang lain bersalah, terutama istrimu? Kamu bahkan dengan tega menampar pipinya. Apa kamu pikir kamu tidak cukup kejam?" Elma menatap putranya dengan tatapan kecewa. "Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi laki-laki brengsek. Tapi mengapa sikapmu seperti ini?"Jackson tertegun. Tidak menyangka jika mamanya akan membela Laura dan bahkan menamparnya. Rahang pria itu mengeras, tidak merasa bersalah sama sekali. Pipinya terasa panas dan kebas, namun meski begitu ia tidak bisa memarahi mamanya karena bagaim
Laura mengganti pakaian biasanya menjadi bikini. Perempuan cantik itu tampak anggun dan menggoda hanya dengan mengenakan bikini model yang sedikit tertutup. Tentunya tidak benar-benar terbuka karena ia masih mengenakan kain tipis yang menutupi hingga setengah pahanya.Laura sedang mengambil beberapa pose di pinggir kolam renang mengikuti arahan Abigail yang ingin mengambil fotonya dari seberang kolam."Bibi sudah lelah, Abigail. Nanti lagi," kata Laura pada Abigail.Abigail yang berusia enam tahun mengacungkan jempolnya dari seberang kolam renang, membuat Laura tersenyum.Perempuan itu memainkan kedua kakinya di dalam air sambil menikmati pemandangan kolam renang dengan mata air panas yang memang sudah disediakan.Tempat Laura duduk saat ini memang berada di bagian terdalam karena Abigail ingin mengambil foto dari jarak jauh menggunakan ponsel baru yang dibelikan oleh mamanya.Laura tersenyum melihat Abigail yang memasang gaya centil di depan kamera sehingga membuatnya membayangkan ji
Laura turun dari mobilnya setelah diantar oleh Bernard. Mereka menghabiskan waktu beberapa jam di restoran, kemudian Laura memutuskan untuk pulang ke rumah.Laura menatap mobil Bernard yang sudah menjauh darinya. Baru kemudian wanita cantik itu melangkah masuk ke dalam rumah dan sedikit terkejut dengan kehadiran Jackson yang sudah tiba lebih dulu daripada dirinya.Padahal pria ini biasanya tidak ada di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di apartemen ataupun di tempat Ariana.Entah mengapa akhir-akhir ini ia justru melihat keberadaan Jackson di rumah ini.Tidak mungkin Jackson menunggunya pulang. Maka dari itu, Laura memutuskan untuk mengabaikannya dan langsung menuju kamarnya.Langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara Jackson yang memanggilnya."Dari mana kamu? Mengapa kamu baru pulang terlalu larut?"Tiba-tiba saja Jackson mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Laura memutar tubuhnya, menatap pria itu dengan kerutan di dahi.Apa peduli Jackson jam berapa ia pul
Langkah kaki Laura melambat sesaat ketika tiba di depan restoran yang sudah disebutkan Bernard dalam pesan singkatnya.Dari luar, bangunan itu terlihat elegan dengan dominasi dinding kaca tinggi yang memantulkan cahaya lampu kota di malam hari. Sebuah papan nama berwarna emas terpasang sederhana di bagian depan, justru menampilkan kesan eksklusif yang tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kemewahannya.Begitu memasuki area dalam, Laura langsung disambut oleh suasana hangat dan berkelas. Lampu gantung kristal menjuntai indah dari langit-langit tinggi, memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Lantai marmer mengilap membentang luas, berpadu dengan dekorasi bernuansa cokelat tua dan emas yang memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Selera pria itu memang terlalu tinggi untuk aku yang hanya rakyat biasa," gumam Laura pada dirinya sendiri.Di tempat ini Bernard mengajaknya bertemu. Sebenarnya Laura sudah menolak, namun ancaman pria itu membuatnya mau tidak mau datang ke tempat
"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?" Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.Gadis itu menatap teman-temanny
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny
Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men
Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den







