LOGINMatahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi.
Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap dengan nyamannya. Tidak peduli jika saat ini jarum jam sudah menunjukkan di angka 10. Pergulatan yang dilakukan mereka tadi malam menghabiskan banyak tenaga juga usaha serta keringat. Sosok itu adalah Laura, perempuan yang baru kehilangan keperawanannya tadi malam. Laura tertidur dengan pulasnya. Posisinya telungkup dengan salah satu tangannya berada di bawah tempat tidur, juga rambutnya yang setengah menjuntai ke bawah. Sementara sosok lain terbaring dengan nyamannya, menyandarkan kepalanya di atas punggung Laura. Laura menggeliat ketika merasakan beban berat di punggungnya. Perempuan cantik itu menggeser tubuhnya sedikit, namun sosok lain juga ikut bergerak dengan satu tangan yang kini sudah berada di atas bokong Laura. "Ugh!" Laura mengeluh, menggeser tangan tersebut dari atas kulit tubuhnya sendiri. Namun, bukannya berhenti, pemilik tangan justru kini mulai meraba ke arah pahanya, membuat Laura segera membuka kelopak matanya dengan sempurna. Ditatapnya sekeliling kamar dan baru teringat olehnya tentang kejadian yang terjadi tadi malam. "Ini pasti di kamar hotel," ujar Laura, dengan mata masih mengantuk. Ingatannya berputar pada kejadian tadi malam saat dia mencium bibir pria yang tidak dikenalnya. Merasakan bibir yang membuatnya tertarik, Laura langsung menawarkan untuk tidur bersama yang langsung di iyakan oleh laki-laki itu. Mereka kemudian pindah ke hotel yang berada di sebelah kelab karena memang masih berada di bawah naungan pemilik yang sama. "Ben, bisakah tanganmu untuk berhenti meraba-raba?" Laura langsung memutar kepalanya menatap ke arah pemilik tangan yang sejak tadi terus berada di atas tubuhnya. "Umm." Laura kembali mendengus saat mendengar respon singkat dari laki-laki itu. "Tuan Bernard, tolong singkirkan tanganmu dan juga tubuhmu. Aku ingin pergi dari sini," ujar Laura, memutar bola matanya malas. Sepertinya ia baru ingat jika dirinya memiliki jadwal mengajar hari ini. Beruntungnya, saat tidak sengaja melihat ke arah nakas, ia melihat ada sebuah buku yang mengingatkannya pada profesinya sebelumnya. "Apakah kamu akan lari dari tanggung jawab?" "Tanggung jawab apa? Kita melakukan atas dasar suka sama suka. Kamu tidak dirugikan di sini karena kamu laki-laki. Sedangkan aku, wanita, yang mengalami kerugian lebih parah." Laura segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Tak sengaja tatapannya jatuh pada bentuk tubuh pria itu yang terlihat sangat seksi dan juga berotot, membuatnya menelan ludah karena tidak menyangka jika tadi malam tangan laknatnya bisa meraba tubuh panas pria ini. "Kamu tahu kalau aku adalah laki-laki lajang yang banyak digilai oleh wanita. Tadi malam mungkin kamu menggunakan semacam obat sehingga membuat aku mengiyakan ketika kamu mengajakku," kata pria itu dengan tenangnya. "Jadi, aku ingin kamu bertanggung jawab atas diriku, atas apa yang sudah kamu lakukan dengan menodai kesucianku sebagai seorang laki-laki," tambahnya, membuat Laura membelalakkan mata. Hei, Laura merasa jika ini agak aneh. Bukankah posisi yang dilakukan oleh pria di hadapannya ini harus dilakukan olehnya? Mengapa justru terbalik? Batinnya bertanya-tanya. Laura ingat jika tadi malam saat pertama kali ketika kain penutup matanya terbuka, dikejutkan dengan sosok yang diambilnya sebagai teman tidurnya tidak lain adalah Bernard, yang beberapa waktu lalu pernah bertemu di acara pesta pernikahan adiknya. Banyak yang bilang kalau Bernard adalah pria terhormat yang tidak pernah dekat dengan wanita. Sepertinya ungkapan itu sangat salah karena ternyata Bernard cukup ahli untuk memuaskan wanita termasuk dirinya. Hii, berhenti berbicara seperti itu, rutuk Laura di dalam hatinya. "Kamu terlalu aneh." Laura segera melompat dari tempat tidur, mengambil pakaian yang berserakan di lantai, kemudian segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Bernard yang masih ingin mengungkapkan beberapa patah kata. Bernard tahu jika Laura sudah memiliki suami. Namun, anehnya wanita ini masih perawan. "Apa jangan-jangan suaminya tidak sanggup atau tidak memiliki kemampuan sebagai seorang laki-laki?" Bernard bertanya pada dirinya sendiri. Ditariknya selimut saat tidak sengaja ia melihat noda merah di atas sprei putih. "Benar-benar perawan," ungkapnya, sambil menggelengkan kepala. Bernard mengambil ponsel yang ada di sisi tempat tidurnya, menghubungi anak buahnya untuk membawakan pakaian baru. Kemudian, segera turun dari tempat tidur dan melangkah dengan tubuh polos menuju kamar mandi. Sesampainya di depan kamar mandi ternyata pintu terkunci, membuat Bernard kembali lagi ke tempatnya semula dan mengambil celana agar bisa dikenakan olehnya. Nanti ia akan berbicara empat mata dengan Laura yang ternyata masih sama seperti dirinya, sama-sama masih perjaka dan perawan. "Aku ingin kamu menikahiku." "Aku ingin kamu melupakan apa yang terjadi tadi malam." Dua kalimat diucapkan dalam satu momen dengan dua keinginan yang berbeda di antara dua orang yang terlibat one night stand, tanpa mengenal satu sama lain lebih dalam. Tatapan Bernard langsung menajam, dengan rahang yang mengetat, menatap perempuan yang saat ini sudah mengenakan pakaian rapi, baru keluar dari kamar mandi. Mengenakan celana pendek setengah paha, dengan tubuh atas yang terekspos, Bernard melangkah mendekati perempuan itu. Tangan pria itu terangkat membelai rambut Laura dengan gerakan lembut, sementara matanya masih terlihat tajam, membuat Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Inikah tatapan tiran yang kejam itu? Batin Laura bertanya-tanya. "Kamu mau melarikan diri dari tanggung jawab?" Suara Bernard terdengar pelan, namun anehnya mampu membuat Laura merinding seketika itu. Perempuan cantik itu mencoba menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman yang terlihat semakin aneh. "Tuan Bernard, k-kita tidak membuat kesepakatan tadi malam bukan? Tidak ada perjanjian di mana aku harus bertanggung jawab setelah tidur denganmu. Jadi, Tuan Bernard tidak perlu meminta hal seperti ini." Laura dengan gugup menyingkirkan tangan Bernard dari kepalanya, mundur selangkah menjaga jarak dari pria yang agak menyeramkan ini. Laura menelan ludahnya ketika melihat mata Bernard yang sedikit menyipit, dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman diikuti suara kekehan yang semakin membuat bulu kuduknya terangkat naik. Tidak tertawa saja wajahnya sudah terlihat sangat menyeramkan, apalagi mendengar suara tawanya dan matanya sedikit menyempit. Ini benar-benar menyeramkan, batin Laura berucap. Tiba-tiba saja Bernard sudah menarik pinggangnya hingga tubuh mereka saling bersentuhan, membuat jantung Laura berdegup kencang. Suasana hangat di dalam kamar terasa sangat tegang dan mencekam, membuat siapapun pasti tidak akan nyaman berada dalam posisi Laura. "Laura, benar itu namamu, bukan? Baiklah kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab. Tidak masalah." Bernard tersenyum miring sebelum akhirnya pria itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, bersiap untuk membersihkan diri. Melihat Bernard yang sepertinya tidak peduli, membuat Laura berpikir untuk cepat-cepat pergi meninggalkan kamar hotel. Segera perempuan itu melarikan diri sebelum Bernard selesai mandi. Laura merasa lega saat sudah berhasil melarikan diri, namun tidak menyadari jika ada kejutan yang sedang menunggunya.Laura dan Jackson resmi bercerai setelah melewati beberapa proses dan tahapan. Memegang selembar kertas sebagai pertanda jika dirinya adalah wanita single, Laura tersenyum tipis. Mungkin ini adalah langkah paling berani yang diambil olehnya tanpa diketahui oleh ayahnya. Hal ini dilakukan untuk kebahagiaannya sendiri. Sudah cukup Laura memendam semua ini dan saatnya memang ia harus bangkit untuk memberanikan diri melawan dan mengambil apa yang memang sudah menjadi haknya. Laura menatap ke arah Jackson yang juga sedang menatap kertas di tangannya. "Kalau begitu, selamat menempuh hidup baru Tuan Jackson. Meskipun pernikahan kita tidak dilandasi dengan rasa suka ataupun saling percaya, tapi terima kasih karena sedikit banyaknya kamu sudah membantuku," kata Laura. Jackson menatap Laura, lalu menganggukkan kepalanya. "Aku juga minta maaf sudah beberapa kali melakukan tindakan kasar terhadapmu karena Ariana. Aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu.""Tidak apa-apa tidak bisa menj
Laura menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya dengan mata terpejam. Wanita itu baru saja tiba di rumahnya dengan tubuh yang agak lelah karena harus ke sana kemari untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terutama melakukan negosiasi dengan Richard. Untuk membalas dendam, Laura tentu saja tidak membabi buta. Manusia yang tidak bersalah tidak akan menjadi targetnya. Contohnya Richard, tidak akan menjadi target Laura karena ia tahu Richard juga sama seperti dirinya, korban dari keegoisan kedua orang tua. Richard banyak dibesarkan oleh para pelayan yang saat kecil dulu sering melakukan kekerasan terhadapnya. Baru kemudian setelah Laura mengetahuinya dan langsung menghukum para pelayan yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada Richard, hidup Richard pada saat berusia 8 tahun baru bisa aman dan tentram. Jangan tanyakan keberadaan Edward maupun Lina. Edward sibuk dengan mengumpulkan prestasi, relasi, reputasi, dan eksistensi demi bisa dikenal sebagai pria penuh wiba
Laura bersandar malas pada kursi di belakangnya sambil menatap Richard yang duduk di hadapannya. Dia baru saja menjemput Richard pulang dari sekolah dan membawanya ke sebuah restoran untuk makan bersama. Hari sudah menjelang sore dan Laura seharusnya sudah bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya. Hanya saja, berkat bantuan Richard dan upaya tutup mulut remaja satu ini yang sejujurnya agak sulit untuk dipercaya oleh Laura, mereka bisa keluar rumah dengan sukses tanpa ketahuan saat kejadian kemarin malam.Yeah, sosok yang memergoki mereka adalah Richard. Remaja itu baru saja pulang dari rumah temannya dan menyadari keanehan yang terjadi di rumahnya. Richard sudah curiga jika ada seseorang yang masuk ke dalam rumah mereka dan tujuan orang itu masuk ke kamar orang tuanya. Maka dari itu ketika Richard berada di dalam kamar orang tuanya, remaja itu langsung menyalakan lampu utama di dalam kamar sambil memegang tongkat baseball takut jika orang jahat yang datang. Te
Laura melangkahkan kakinya ke area parkir menuju mobilnya. Sementara Kevin sudah pergi lebih dulu karena ada urusan yang harus dikerjakan oleh pria itu.Saat kaki wanita itu sudah mendekat ke arah mobilnya, tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya, kemudian menghimpit di antara mobil di belakangnya, membuat Laura bersiap melayangkan tinju. Namun, tinjunya justru tertahan di udara karena tangan besar pria itu lebih dulu menahannya.Laura sedikit membelalakkan matanya saat melihat kehadiran sosok yang tidak disangkanya muncul di hadapannya dalam kondisi seperti ini."Bernard? Apa yang kamu lakukan?" Laura bertanya dengan nada sedikit marah karena merasa terkejut atas tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh pria ini.Terlihat rahang Bernard mengeras. Tatapan tajam yang ditujukan kepadanya membuat Laura menelan ludah dengan susah payah.Seram sekali ekspresi wajah pria ini, pikir Laura di dalam hati."Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini? Tidak bisakah kamu muncul dengan cara yang
Laura saat ini sedang bersantai bersama Kevin menikmati kopi yang disajikan oleh pelayan.Kevin tertawa mendengar celoteh Laura yang menurutnya sangat lucu, terutama ketika menceritakan pengalaman masa kuliahnya."Andai saja aku tahu kalau bebek yang diberikan oleh paman di sebelah adalah bebek milik nenek itu, aku pasti tidak akan mau menerimanya." Laura cemberut mengingat kejadian masa lalu saat ia mengikuti masa pelatihan kuliah di sebuah desa.Laura yang mudah berbaur tentu disambut hangat oleh para penduduk sehingga ia terkadang menerima buah-buahan ataupun sayuran yang diberikan oleh mereka.Saat itu Laura tidak tahu ketika salah satu paman di sana memberinya bebek panggang yang ia terima dengan senang hati. Tidak tahunya, bebek panggang itu berasal dari bebek hidup milik salah seorang nenek paling galak di desa tersebut yang disembelih oleh paman itu."Apakah kamu masih menyalahkan paman itu sampai sekarang?"Laura terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya merasa
Audi kembali meletakkan tabletnya di atas lantai. Tatapannya tidak pernah lepas dari brankas baja raksasa yang berdiri kokoh di hadapan mereka.Wanita itu mengusap wajahnya perlahan, berusaha menenangkan pikirannya sebelum kembali bekerja."Kalau lapisan terakhir ini gagal, semua sistem akan mengulang dari awal," ucap Audi dengan suara pelan.Laura yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala. "Berapa peluang kita?"Audi tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan rasa percaya diri. "Lima puluh persen.""Kenapa hanya lima puluh?""Karena aku belum pernah bertemu sistem keamanan seperti ini."Laura tidak lagi bertanya. Ia memilih mengarahkan cahaya senter tepat ke permukaan brankas agar Audi bisa melihat setiap detail dengan jelas.Di bagian bawah keypad digital terdapat sebuah lubang kecil yang sebelumnya tidak begitu terlihat. Audi segera berjongkok. Jari-jarinya menyentuh bagian itu dengan sangat hati-hati."Ada apa?" tanya Laura."Aku menemukan sesuatu."Wan
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny
Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men
Suasana ballroom yang terlihat mewah dan megah, di iringi suara tawa penuh pesona serta muslihat seolah menjadi backsound di setiap sudut ruangan yang saat ini dihadiri oleh banyak manusia dari berbagai macam kalangan. Malam ini, sebuah pesta mewah digelar dengan sangat meriah dan dihadiri oleh p
Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand







