공유

Bab 5. Lari

작가: Ratu Tiana
last update 게시일: 2026-05-14 10:00:09

Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi.

Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat.

Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap dengan nyamannya. Tidak peduli jika saat ini jarum jam sudah menunjukkan di angka 10.

Pergulatan yang dilakukan mereka tadi malam menghabiskan banyak tenaga juga usaha serta keringat.

Sosok itu adalah Laura, perempuan yang baru kehilangan keperawanannya tadi malam.

Laura tertidur dengan pulasnya. Posisinya telungkup dengan salah satu tangannya berada di bawah tempat tidur, juga rambutnya yang setengah menjuntai ke bawah. Sementara sosok lain terbaring dengan nyamannya, menyandarkan kepalanya di atas punggung Laura.

Laura menggeliat ketika merasakan beban berat di punggungnya. Perempuan cantik itu menggeser tubuhnya sedikit, namun sosok lain juga ikut bergerak dengan satu tangan yang kini sudah berada di atas bokong Laura.

"Ugh!"

Laura mengeluh, menggeser tangan tersebut dari atas kulit tubuhnya sendiri. Namun, bukannya berhenti, pemilik tangan justru kini mulai meraba ke arah pahanya, membuat Laura segera membuka kelopak matanya dengan sempurna.

Ditatapnya sekeliling kamar dan baru teringat olehnya tentang kejadian yang terjadi tadi malam.

"Ini pasti di kamar hotel," ujar Laura, dengan mata masih mengantuk.

Ingatannya berputar pada kejadian tadi malam saat dia mencium bibir pria yang tidak dikenalnya.

Merasakan bibir yang membuatnya tertarik, Laura langsung menawarkan untuk tidur bersama yang langsung di iyakan oleh laki-laki itu.

Mereka kemudian pindah ke hotel yang berada di sebelah kelab karena memang masih berada di bawah naungan pemilik yang sama.

"Ben, bisakah tanganmu untuk berhenti meraba-raba?" Laura langsung memutar kepalanya menatap ke arah pemilik tangan yang sejak tadi terus berada di atas tubuhnya.

"Umm."

Laura kembali mendengus saat mendengar respon singkat dari laki-laki itu.

"Tuan Bernard, tolong singkirkan tanganmu dan juga tubuhmu. Aku ingin pergi dari sini," ujar Laura, memutar bola matanya malas.

Sepertinya ia baru ingat jika dirinya memiliki jadwal mengajar hari ini. Beruntungnya, saat tidak sengaja melihat ke arah nakas, ia melihat ada sebuah buku yang mengingatkannya pada profesinya sebelumnya.

"Apakah kamu akan lari dari tanggung jawab?"

"Tanggung jawab apa? Kita melakukan atas dasar suka sama  suka. Kamu tidak dirugikan di sini karena kamu laki-laki. Sedangkan aku, wanita, yang mengalami kerugian lebih parah."

Laura segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Tak sengaja tatapannya jatuh pada bentuk tubuh pria itu yang terlihat sangat seksi dan juga berotot, membuatnya menelan ludah karena tidak menyangka jika tadi malam tangan laknatnya bisa meraba tubuh panas pria ini.

"Kamu tahu kalau aku adalah laki-laki lajang yang banyak digilai oleh wanita. Tadi malam mungkin kamu menggunakan semacam obat sehingga membuat aku mengiyakan ketika kamu mengajakku," kata pria itu dengan tenangnya. "Jadi, aku ingin kamu bertanggung jawab atas diriku, atas apa yang sudah kamu lakukan dengan menodai kesucianku sebagai seorang laki-laki," tambahnya, membuat Laura membelalakkan mata.

Hei, Laura merasa jika ini agak aneh. Bukankah posisi yang dilakukan oleh pria di hadapannya ini harus dilakukan olehnya? Mengapa justru terbalik? Batinnya bertanya-tanya.

Laura ingat jika tadi malam saat pertama kali ketika kain penutup matanya terbuka, dikejutkan dengan sosok yang diambilnya sebagai teman tidurnya tidak lain adalah Bernard, yang beberapa waktu lalu pernah bertemu di acara pesta pernikahan adiknya.

Banyak yang bilang kalau Bernard adalah pria terhormat yang tidak pernah dekat dengan wanita. Sepertinya ungkapan itu sangat salah karena ternyata Bernard cukup ahli untuk memuaskan wanita termasuk dirinya.

Hii, berhenti berbicara seperti itu, rutuk Laura di dalam hatinya.

"Kamu terlalu aneh." Laura segera melompat dari tempat tidur, mengambil pakaian yang berserakan di lantai, kemudian segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Bernard yang masih ingin mengungkapkan beberapa patah kata.

Bernard tahu jika Laura sudah memiliki suami. Namun, anehnya wanita ini masih perawan.

"Apa jangan-jangan suaminya tidak sanggup atau tidak memiliki kemampuan sebagai seorang laki-laki?" Bernard bertanya pada dirinya sendiri. Ditariknya selimut saat tidak sengaja ia melihat noda merah di atas sprei putih. "Benar-benar perawan," ungkapnya, sambil menggelengkan kepala.

Bernard mengambil ponsel yang ada di sisi tempat tidurnya, menghubungi anak buahnya untuk membawakan pakaian baru. Kemudian, segera turun dari tempat tidur dan melangkah dengan tubuh polos menuju kamar mandi.

Sesampainya di depan kamar mandi ternyata pintu terkunci, membuat Bernard kembali lagi ke tempatnya semula dan mengambil celana agar bisa dikenakan olehnya. Nanti ia akan berbicara empat mata dengan Laura yang ternyata masih sama seperti dirinya, sama-sama masih perjaka dan perawan.

"Aku ingin kamu menikahiku."

"Aku ingin kamu melupakan apa yang terjadi tadi malam."

Dua kalimat diucapkan dalam satu momen dengan dua keinginan yang berbeda di antara dua orang yang terlibat one night stand, tanpa mengenal satu sama lain lebih dalam.

Tatapan Bernard langsung menajam, dengan rahang yang mengetat, menatap perempuan yang saat ini sudah mengenakan pakaian rapi, baru keluar dari kamar mandi.

Mengenakan celana pendek setengah paha, dengan tubuh atas yang terekspos, Bernard melangkah mendekati perempuan itu.

Tangan pria itu terangkat membelai rambut Laura dengan gerakan lembut, sementara matanya masih terlihat tajam, membuat Laura menelan ludahnya dengan susah payah.

Inikah tatapan tiran yang kejam itu? Batin Laura bertanya-tanya.

"Kamu mau melarikan diri dari tanggung jawab?" Suara Bernard terdengar pelan, namun anehnya mampu membuat Laura merinding seketika itu.

Perempuan cantik itu mencoba menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman yang terlihat semakin aneh.

"Tuan Bernard, k-kita tidak membuat kesepakatan tadi malam bukan? Tidak ada perjanjian di mana aku harus bertanggung jawab setelah tidur denganmu. Jadi, Tuan Bernard tidak perlu meminta hal seperti ini." Laura dengan gugup menyingkirkan tangan Bernard dari kepalanya, mundur selangkah menjaga jarak dari pria yang agak menyeramkan ini.

Laura menelan ludahnya ketika melihat mata Bernard yang sedikit menyipit, dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman diikuti suara kekehan yang semakin membuat bulu kuduknya terangkat naik.

Tidak tertawa saja wajahnya sudah terlihat sangat menyeramkan, apalagi mendengar suara tawanya dan matanya sedikit menyempit.

Ini benar-benar menyeramkan, batin Laura berucap.

Tiba-tiba saja Bernard sudah menarik pinggangnya hingga tubuh mereka saling bersentuhan, membuat jantung Laura berdegup kencang.

Suasana hangat di dalam kamar terasa sangat tegang dan mencekam, membuat siapapun pasti tidak akan nyaman berada dalam posisi Laura.

"Laura, benar itu namamu, bukan? Baiklah kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab. Tidak masalah."

Bernard tersenyum miring sebelum akhirnya pria itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, bersiap untuk membersihkan diri.

Melihat Bernard yang sepertinya tidak peduli, membuat Laura berpikir untuk cepat-cepat pergi meninggalkan kamar hotel.

Segera perempuan itu melarikan diri sebelum Bernard selesai mandi.

Laura merasa lega saat sudah berhasil melarikan diri, namun tidak menyadari jika ada kejutan yang sedang menunggunya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kekasihku, Bos Suamiku    87. Berkas Penting

    Laura duduk di kursi kerja Bernard sambil menatap sekeliling. Pria yang membawanya ke kantor saat ini sedang rapat. Laura ditinggalkan di dalam ruang kerja dan bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Itu yang dikatakan oleh Bernard sebelum meninggalkannya. Rasanya bosan sekali untuk menunggu di sini. Laura ingin pergi, namun para pengawal Bernard yang berada di depan pintu tentu tidak mengizinkannya. Ada makanan dan juga snack yang sudah disiapkan untuknya. Sayangnya, Laura tidak tertarik untuk menikmatinya. Perempuan cantik itu melihat-lihat rak buku yang ada di dalam ruang kerja, mengambil beberapa buku dan membacanya. Sudah 2 jam berlalu, namun Bernard belum juga kembali. Tak sengaja tatapan Laura tertuju pada laci yang ada di sisi mejanya. Jika di rumah biasanya Laura akan menyimpan pernak-pernik lucu di dalam lacinya. Mungkin Bernard juga menyimpan pernak-pernik lucu khusus pria? Pikir Laura di dalam hatinya. Perempuan cantik itu menarik laci atas dan menemukan banyak

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 86. Target Pembunuhan

    Rumah besar yang biasanya diisi dengan anggota keluarga lengkap kini tampak lengang. Para petugas sudah pergi membawa barang bukti dan juga para tersangka yang mereka tangkap. Di rumah ini hanya menyisakan para pelayan, Richard, Laura, dan Audi. Para pelayan sudah membubarkan diri, menyembunyikan diri karena takut terlibat. Sementara Laura masih duduk di ruang tamu bersama Richard dan Audi setelah kepergian orang-orang itu. "Kamu akan menempati rumah ini. Rumah ini atas nama mamaku, bukan atas nama Edward. Jadi, pihak berwenang tidak akan menyita rumah ini. Paling sesekali mereka akan datang untuk melakukan pemeriksaan," kata Laura sambil menatap Richard. "Jika aku tinggal di rumah besar ini, bagaimana dengan biaya hidupku? Aku tidak punya uang untuk membayar konsumsi di rumah ini. Belum lagi pelayan yang perlu digaji." Richard terlihat pasrah dengan keadaan. Paling-paling nanti jika memang Laura ingin menendangnya dari kehidupannya, mungkin Richard akan memohon pada wanita sat

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 85. Fakta Gila

    Laura melangkah menuju kamarnya, sebelum akhirnya perempuan cantik itu kembali dengan membawa beberapa berkas yang langsung dia tunjukkan pada Edward. Tim investigasi sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Edward. Termasuk, memeriksa ruang bawah tanah di mana banyak sekali harta yang tersembunyi di dalamnya. "Kamu lihat ini. Ini adalah berkas medis kesehatan kamu. Dari tahun sebelum mamaku menikah denganmu, kamu adalah seorang pria yang tidak bisa memiliki keturunan. Ini adalah data lengkapnya." Laura menunjuk salah satu kertas di hadapan Edward yang dibaca pria itu dengan sangat teliti. "Kamu ingat saat itu mamaku harus pura-pura berada di luar negeri untuk melahirkan aku. Padahal mamaku tidak berada di luar negeri. Mamaku mengadopsi aku yang kebetulan saat itu masih bayi. Saat itu kamu tidak peduli dengan ibuku melahirkan atau tidak. Saat itu kamu sedang sibuk dengan selingkuhan kamu."Laura tidak lupa untuk menatap ke arah Lina yang kedua tangannya juga sudah diborgol. Edward

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 84. Penangkapan Edward

    Laura turun dari mobilnya setelah tiba di bagian jalan menuju samping rumah tempat biasa ia masuk jika halaman depan rumahnya sedang dipadati banyak kendaraan atau orang-orang. Perempuan itu turun tidak sendiri melainkan bersama Audi.Saat mereka melangkah memasuki halaman samping rumah, kebetulan mereka bertemu dengan Richard yang berada di pintu bagian samping. Pemuda itu berdiri dengan tenang sambil melipat tangannya di dada, membuat Laura segera menghampirinya diikuti oleh Audi. "Mama, papa, dan Kak Alena sudah ditangkap. Saat ini mereka sedang di ruang tamu karena aparat kepolisian sedang mengumpulkan barang-barang bukti kejahatan mereka," kata Richard.Mendengar jika Lina juga masuk dalam daftar penangkapan, Laura dan Audi saling menatap. "Mamamu terlibat dengan masalah yang menimpa Edward juga?" Audi lah yang pertama bertanya, membuat Richard menggelengkan kepala."Mama dilaporkan oleh teman-teman sosialitanya karena menjual barang-barang palsu. Dari berlian sampai tas dan

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 83. Bergerak

    "Alena, aku benar-benar tidak menyangka jika kamu ternyata sejahat ini. Aku benar-benar tidak bisa hidup dengan wanita yang penuh dengan dosa sepertimu." Jason menatap Alena dengan tatapan kecewa yang tidak bisa ditutupi. Ekspresi wajahnya terlihat sedih, membuat Alena panik. Skandal yang menimpa padanya tidak bisa ditutupi. Berusaha untuk dihapus namun tetap tidak bisa hingga membuat Alena merasa putus asa.Belum lagi Jason belum pernah memperkenalkannya dengan keluarganya yang berada di Brinetea, membuat Alena tidak bisa kehilangan Jason. "Jason, aku pasti akan menjelaskan padamu tentang semua ini. Ini semua fitnah untuk membuat nama baik papaku dan aku buruk. Percaya padaku, aku tidak pernah menyakiti orang." Alena berusaha untuk memegang tangan Jason, namun pria itu langsung melepaskannya sambil mundur selangkah. Jason menggelengkan kepalanya. "Keluargaku di Brinetea tidak akan bisa menerima skandal semacam ini, Alena. Mereka pasti tidak akan mengizinkan kamu masuk sebagai a

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 82. Konferensi Pers

    Laura mematikan sambungan telepon dengan rasa sebal karena Bernard lagi-lagi mengganggunya. Wanita itu bukannya tidak bahagia karena Bernard rajin berkomunikasi dengannya. Hanya saja ia merasa aneh karena seharusnya pria yang memiliki tanggung jawab penuh atas perusahaan disibukkan dengan pekerjaan, justru sibuk menghubunginya hanya untuk menanyakan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Laura yang saat ini sedang bersantai menikmati hari-harinya karena tidak bisa lagi mengajar akibat skorsing yang diterima dari pihak kampus, membuatnya lebih santai. Membaca novel, berenang, menyiram tanaman, dan melakukan kegiatan-kegiatan kecil untuk mengisi hari-harinya itulah yang dilakukan oleh Laura selama beberapa hari ini. Wanita itu juga jarang keluar. Masih banyak wartawan yang berkeliaran mencari informasi tentangnya yang diduga melakukan perselingkuhan dengan sahabatnya sendiri. Ngomong-ngomong soal Kevin, pria itu tidak ada di negara ini. Dia sedang berada di luar negeri untuk memperi

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 6. Tamparan

    Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 4. Taruhan

    "Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?" Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.Gadis itu menatap teman-temanny

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 3. Pertemuan Ketiga

    Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 2. Pesona Bernard Berzone

    Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status