Share

Bab 4. Taruhan

Author: Ratu Tiana
last update publish date: 2026-05-10 18:43:12

"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?"

Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.

Gadis itu menatap teman-temannya yang saat ini sudah berjumlah 10 orang.

Mereka awalnya berjumlah 18 orang, namun karena 8 orang sudah tidak perawan lagi, jadi tidak masuk ke dalam hitungan.

Grup Virgin love dibuat sekitar 8 tahun lalu ketika mereka semua menginjak usia 17 tahun dengan kesepakatan setiap tahun bagi anggota yang namanya keluar dari botol kristal akan menjadi orang yang mencari pasangan untuk memecahkan perawan mereka.

"Aku tidak menyangka jika Laura yang sudah menikah 6 bulan yang lalu bahkan masih perawan. Apakah suamimu tidak bisa berdiri, Lau?" Sosok Gladys menatap Laura yang duduk dengan tenang sambil memegang sloki di tangannya, menatap ke arah mereka.

"Aku juga tidak menyangka jika Laura masih berada di sini. Hei, 6 bulan menikah dan dianggurkan, apa tidak berjamur?" Sosok yang berbicara pertama tadi masih berdiri menatap mengejek pada Laura yang tersenyum, tidak merasa tersinggung sama sekali.

Dia adalah Lauren, sebagai ketua pelaksana dan juga anggota yang masih mempertahankan keperawanannya. Malam ini mereka berkumpul dalam jumlah 10 orang di sebuah kelab malam terkenal yang ada di kota ini.

Acara malam ini memang berada di sebuah kelab malam yang sudah menjadi basis mereka sejak 8 tahun yang lalu.

Kelab malam itu memancarkan kemewahan sejak langkah pertama memasuki area VIP. Cahaya lampu kristal berkilau dari langit-langit tinggi, memantulkan kilatan emas dan ungu tua yang memberi kesan eksklusif dan intim.

Dentuman musik elektronik berpadu dengan bass yang dalam, terasa menggema lembut di dada, cukup kuat untuk membangkitkan adrenalin.

Area VIP terpisah dengan sofa kulit premium berwarna hitam dan marun, ditata rapi mengelilingi meja kaca berlapis cahaya LED halus. Botol-botol minuman mahal berdiri anggun dalam bucket es berlapis logam mengkilap, disajikan oleh pelayan berbusana formal dengan gerakan cekatan dan senyum profesional.

Pemandangan asap tipis dari mesin fog menari di udara, menambah nuansa misterius dan glamor.

Para tamu tampil berkelas, pria dalam setelan jas mahal atau kasual dengan jam tangan berkilau di pergelangan, perempuan dalam gaun malam yang memeluk siluet, parfum mereka meninggalkan jejak mewah setiap kali melintas.

Percakapan terdengar rendah dan penuh percaya diri, diselingi tawa singkat dan sorot mata yang tajam.

Di sudut ruangan, DJ booth berlapis kaca menjadi pusat perhatian, dengan visual futuristik yang bergerak selaras dengan irama. Seluruh suasana terasa eksklusif, tertutup dari dunia luar, sebuah panggung rahasia bagi kekuasaan, uang, dan ambisi, tempat malam terasa tak pernah ingin berakhir.

Ini merupakan tempat surga bagi para pencari kebahagiaan.

Termasuk rombongan Laura bersama teman-temannya. Berbeda dengan suasana yang berada di bawah, suasana di lantai atas juga tentunya tidak kalah eksklusif, namun hanya orang-orang tertentu yang bisa memesan lantai atas.

"Tidak usah membicarakan Laura. Tidak seru karena tidak ada cerita yang menarik. Bagaimana kalau kita memulai permainan?" Audi mengangkat tangannya dengan rasa bosan akibat basa-basi yang dilakukan oleh teman-temannya.

Para wanita mulai bersorak dengan jantung berdebar.

Ini adalah sebuah taruhan yang memang selalu rutin diadakan.

"Hanya saja aku ingin malam ini kita mengadakan dengan cara yang berbeda." Alexi meletakkan gelasnya di atas meja sambil menatap teman-temannya dengan seringai yang terlihat jelas dari raut wajahnya.

"Berbeda bagaimana maksudmu?" Lauren mengerut keningnya, tidak mengerti dengan tujuan Alexi.

"Kita membuat tantangan. Bagi siapapun namanya yang keluar malam ini, maka mereka harus menutup mata keluar dari ruangan ini dan mencari sendiri laki-laki yang akan diajak tidur," ujar Alexi sambil berdiri. "Di lantai ini, semuanya merupakan lantai VIP. Tidak ada laki-laki tua di sini. Aku juga sudah mencari informasi jika semua yang hadir di sini anak-anak orang kaya dan kebanyakan pengusaha. Ada juga selebriti dan aktor terkenal."

"Lalu, maksudmu, siapapun namanya yang keluar malam ini, harus keluar dari ruangan ini dengan mata tertutup dan mencari sendiri pasangannya. Lalu, jika laki-laki itu menolak bagaimana?" Gladys  menatap Alexi dengan kening mengerut. Segala sesuatu mungkin akan terjadi, tentunya ia harus bertanya.

"Itu mudah saja. Cium laki-laki itu dulu, tanpa membuka penutup mata. Jika laki-laki itu terus melanjutkan, maka kamar VIP yang berada di lantai 3 sudah dibuka dan ditetapkan untuk nama yang keluar malam ini.  Namun, jika laki-laki itu menolak sentuhan, maka nama yang keluar malam ini akan melanjutkan tanpa membuka penutup mata," jawab Alexi dengan lantang.

"Aku setuju dengan ide ini. Ini jauh lebih menantang dan lebih memicu adrenalin," timpal Audi, dengan penuh semangat. "Bagaimana menurutmu, Lau?"

"Aku setuju saja," jawab Laura, sambil menganggukkan kepalanya.

Akhirnya Lauren sebagai ketua mengambil sebuah botol kristal dengan nama-nama yang sudah tertulis di dalamnya. Mereka semua menatap dengan hati-hati pada kocokan yang dilakukan oleh Lauren sebelum akhirnya sebuah bola berukuran kecil dengan nama salah satu dari mereka keluar dengan sendirinya dan berputar di atas meja.

Hap!

Lauren segera menangkap bola kecil itu, kemudian membukanya sampai kemudian ia melihat sebuah nama tertulis dengan sangat indah di sebuah kertas.

Semua menunggu dengan jantung berdebar kencang.

Tatapan Lauren kemudian tertuju pada mereka satu persatu sampai kemudian sebuah nama disebutkan.

"Laura Gwenchi."

Namanya yang disebutkan langsung membuat si empunya menegakkan tubuh, menunjuk dirinya sendiri dengan tak percaya.

"Aku?"

"Yup. Ini benar-benar kamu.  Ini mungkin jawaban Tuhan untuk kamu karena kasihan dengan kamu yang sudah 6 bulan menikah tapi masih perawan. Saatnya malam ini kamu pecah perawan." Alexi menjawab dengan penuh semangat dan segera mengeluarkan sebuah kain cantik berwarna merah dari dalam tasnya yang sudah ia persiapkan. "Ding Ding Ding. Aku sudah menyiapkan perlengkapannya. Laura, kamu harus semangat."

Sekali lagi Laura menegakkan tubuhnya, tidak percaya jika berapa kali mereka mengadakan undian dan baru kali ini ia mendapatkan giliran.

Laura segera berdiri, dengan Alexi yang sudah memasang penutup mata sambil menyeringai menatap temannya.

Audi sebagai sahabat juga ikut berdiri. "Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika laki-laki yang tidur dengan Laura,  memiliki penyakit menular?"

"Aku sudah menyelidiki para tamu di lantai ini. Tidak ada laki-laki aneh, dan semuanya laki-laki normal serta sehat," kata Alexi. "Di lantai ini hanya ada dua kelompok yang hadir. Pertama, kelompok kita, yang kedua sekumpulan pria-pria pebisnis di ruangan lain," tambah Alexi.

Teman-teman Laura langsung memberi dukungan pada gadis itu sehingga membuat Laura kini melangkah keluar dari ruangan dengan mata tertutup sambil meraba sekitar.

Ruangan tidak terlalu terang, namun lampu-lampu kristal masih menyala di langit, juga kelap-kelip di beberapa tempat. Meski begitu tetap agak menyulitkan Laura yang harus melangkah dengan hati-hati.

Tangannya meraba sekitar, sampai kemudian ia menemukan sesuatu yang diyakininya jika ini adalah manusia.

Laura berjinjit sedikit menarik leher pria itu, kemudian tanpa aba-aba, ia langsung meraba wajahnya, dan setelah menemukan bibir pria itu barulah Laura segera menempelkan bibirnya dengan bibir pria tersebut.

Dingin.

Tidak ada bau asap rokok.

Tidak ada bau mulut berlebihan.

Justru ada aroma mint yang menyegarkan, terasa.

Laura menggerakkan bibirnya, menjilat dan menghisap bibir yang terasa empuk dan lembut.

Mengira jika laki-laki itu tidak mau merespon dan tidak mau bersamanya, Laura yang sudah 2 menit menjelajahi bibir pria itu akhirnya menarik diri.

Baru saja perempuan itu akan melangkah pergi, namun tubuhnya tiba-tiba ditarik lalu ciuman yang kasar dan ganas berlangsung begitu saja.

Ciuman mereka berlanjut sampai 2 menit kemudian, baru kemudian Laura menarik kepalanya.

"Ingin tidur bersamaku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 72. Hukuman Bernard

    Laura dan Jackson resmi bercerai setelah melewati beberapa proses dan tahapan. Memegang selembar kertas sebagai pertanda jika dirinya adalah wanita single, Laura tersenyum tipis. Mungkin ini adalah langkah paling berani yang diambil olehnya tanpa diketahui oleh ayahnya. Hal ini dilakukan untuk kebahagiaannya sendiri. Sudah cukup Laura memendam semua ini dan saatnya memang ia harus bangkit untuk memberanikan diri melawan dan mengambil apa yang memang sudah menjadi haknya. Laura menatap ke arah Jackson yang juga sedang menatap kertas di tangannya. "Kalau begitu, selamat menempuh hidup baru Tuan Jackson. Meskipun pernikahan kita tidak dilandasi dengan rasa suka ataupun saling percaya, tapi terima kasih karena sedikit banyaknya kamu sudah membantuku," kata Laura. Jackson menatap Laura, lalu menganggukkan kepalanya. "Aku juga minta maaf sudah beberapa kali melakukan tindakan kasar terhadapmu karena Ariana. Aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu.""Tidak apa-apa tidak bisa menj

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 71. Rasa Penasaran Berta

    Laura menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya dengan mata terpejam. Wanita itu baru saja tiba di rumahnya dengan tubuh yang agak lelah karena harus ke sana kemari untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terutama melakukan negosiasi dengan Richard. Untuk membalas dendam, Laura tentu saja tidak membabi buta. Manusia yang tidak bersalah tidak akan menjadi targetnya. Contohnya Richard, tidak akan menjadi target Laura karena ia tahu Richard juga sama seperti dirinya, korban dari keegoisan kedua orang tua. Richard banyak dibesarkan oleh para pelayan yang saat kecil dulu sering melakukan kekerasan terhadapnya. Baru kemudian setelah Laura mengetahuinya dan langsung menghukum para pelayan yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada Richard, hidup Richard pada saat berusia 8 tahun baru bisa aman dan tentram. Jangan tanyakan keberadaan Edward maupun Lina. Edward sibuk dengan mengumpulkan prestasi, relasi, reputasi, dan eksistensi demi bisa dikenal sebagai pria penuh wiba

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 70. Richard Aneh

    Laura bersandar malas pada kursi di belakangnya sambil menatap Richard yang duduk di hadapannya. Dia baru saja menjemput Richard pulang dari sekolah dan membawanya ke sebuah restoran untuk makan bersama. Hari sudah menjelang sore dan Laura seharusnya sudah bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya. Hanya saja, berkat bantuan Richard dan upaya tutup mulut remaja satu ini yang sejujurnya agak sulit untuk dipercaya oleh Laura, mereka bisa keluar rumah dengan sukses tanpa ketahuan saat kejadian kemarin malam.Yeah, sosok yang memergoki mereka adalah Richard. Remaja itu baru saja pulang dari rumah temannya dan menyadari keanehan yang terjadi di rumahnya. Richard sudah curiga jika ada seseorang yang masuk ke dalam rumah mereka dan tujuan orang itu masuk ke kamar orang tuanya. Maka dari itu ketika Richard berada di dalam kamar orang tuanya, remaja itu langsung menyalakan lampu utama di dalam kamar sambil memegang tongkat baseball takut jika orang jahat yang datang. Te

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 69. Aku, Kamu, Suamiku & Sahabatku

    Laura melangkahkan kakinya ke area parkir menuju mobilnya. Sementara Kevin sudah pergi lebih dulu karena ada urusan yang harus dikerjakan oleh pria itu.Saat kaki wanita itu sudah mendekat ke arah mobilnya, tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya, kemudian menghimpit di antara mobil di belakangnya, membuat Laura bersiap melayangkan tinju. Namun, tinjunya justru tertahan di udara karena tangan besar pria itu lebih dulu menahannya.Laura sedikit membelalakkan matanya saat melihat kehadiran sosok yang tidak disangkanya muncul di hadapannya dalam kondisi seperti ini."Bernard? Apa yang kamu lakukan?" Laura bertanya dengan nada sedikit marah karena merasa terkejut atas tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh pria ini.Terlihat rahang Bernard mengeras. Tatapan tajam yang ditujukan kepadanya membuat Laura menelan ludah dengan susah payah.Seram sekali ekspresi wajah pria ini, pikir Laura di dalam hati."Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini? Tidak bisakah kamu muncul dengan cara yang

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 68. Kemarahan Bernard

    Laura saat ini sedang bersantai bersama Kevin menikmati kopi yang disajikan oleh pelayan.Kevin tertawa mendengar celoteh Laura yang menurutnya sangat lucu, terutama ketika menceritakan pengalaman masa kuliahnya."Andai saja aku tahu kalau bebek yang diberikan oleh paman di sebelah adalah bebek milik nenek itu, aku pasti tidak akan mau menerimanya." Laura cemberut mengingat kejadian masa lalu saat ia mengikuti masa pelatihan kuliah di sebuah desa.Laura yang mudah berbaur tentu disambut hangat oleh para penduduk sehingga ia terkadang menerima buah-buahan ataupun sayuran yang diberikan oleh mereka.Saat itu Laura tidak tahu ketika salah satu paman di sana memberinya bebek panggang yang ia terima dengan senang hati. Tidak tahunya, bebek panggang itu berasal dari bebek hidup milik salah seorang nenek paling galak di desa tersebut yang disembelih oleh paman itu."Apakah kamu masih menyalahkan paman itu sampai sekarang?"Laura terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya merasa

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 67. Ada Seseorang!

    Audi kembali meletakkan tabletnya di atas lantai. Tatapannya tidak pernah lepas dari brankas baja raksasa yang berdiri kokoh di hadapan mereka.Wanita itu mengusap wajahnya perlahan, berusaha menenangkan pikirannya sebelum kembali bekerja."Kalau lapisan terakhir ini gagal, semua sistem akan mengulang dari awal," ucap Audi dengan suara pelan.Laura yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala. "Berapa peluang kita?"Audi tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan rasa percaya diri. "Lima puluh persen.""Kenapa hanya lima puluh?""Karena aku belum pernah bertemu sistem keamanan seperti ini."Laura tidak lagi bertanya. Ia memilih mengarahkan cahaya senter tepat ke permukaan brankas agar Audi bisa melihat setiap detail dengan jelas.Di bagian bawah keypad digital terdapat sebuah lubang kecil yang sebelumnya tidak begitu terlihat. Audi segera berjongkok. Jari-jarinya menyentuh bagian itu dengan sangat hati-hati."Ada apa?" tanya Laura."Aku menemukan sesuatu."Wan

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 2. Pesona Bernard Berzone

    Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 1. Pesta Gwenchi

    Suasana ballroom yang terlihat mewah dan megah, di iringi suara tawa penuh pesona serta muslihat seolah menjadi backsound di setiap sudut ruangan yang saat ini dihadiri oleh banyak manusia dari berbagai macam kalangan. Malam ini, sebuah pesta mewah digelar dengan sangat meriah dan dihadiri oleh p

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 6. Tamparan

    Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand

  • Kekasihku, Bos Suamiku    Bab 5. Lari

    Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status