Masuk"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?"
Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya. Gadis itu menatap teman-temannya yang saat ini sudah berjumlah 10 orang. Mereka awalnya berjumlah 18 orang, namun karena 8 orang sudah tidak perawan lagi, jadi tidak masuk ke dalam hitungan. Grup Virgin love dibuat sekitar 8 tahun lalu ketika mereka semua menginjak usia 17 tahun dengan kesepakatan setiap tahun bagi anggota yang namanya keluar dari botol kristal akan menjadi orang yang mencari pasangan untuk memecahkan perawan mereka. "Aku tidak menyangka jika Laura yang sudah menikah 6 bulan yang lalu bahkan masih perawan. Apakah suamimu tidak bisa berdiri, Lau?" Sosok Gladys menatap Laura yang duduk dengan tenang sambil memegang sloki di tangannya, menatap ke arah mereka. "Aku juga tidak menyangka jika Laura masih berada di sini. Hei, 6 bulan menikah dan dianggurkan, apa tidak berjamur?" Sosok yang berbicara pertama tadi masih berdiri menatap mengejek pada Laura yang tersenyum, tidak merasa tersinggung sama sekali. Dia adalah Lauren, sebagai ketua pelaksana dan juga anggota yang masih mempertahankan keperawanannya. Malam ini mereka berkumpul dalam jumlah 10 orang di sebuah kelab malam terkenal yang ada di kota ini. Acara malam ini memang berada di sebuah kelab malam yang sudah menjadi basis mereka sejak 8 tahun yang lalu. Kelab malam itu memancarkan kemewahan sejak langkah pertama memasuki area VIP. Cahaya lampu kristal berkilau dari langit-langit tinggi, memantulkan kilatan emas dan ungu tua yang memberi kesan eksklusif dan intim. Dentuman musik elektronik berpadu dengan bass yang dalam, terasa menggema lembut di dada, cukup kuat untuk membangkitkan adrenalin. Area VIP terpisah dengan sofa kulit premium berwarna hitam dan marun, ditata rapi mengelilingi meja kaca berlapis cahaya LED halus. Botol-botol minuman mahal berdiri anggun dalam bucket es berlapis logam mengkilap, disajikan oleh pelayan berbusana formal dengan gerakan cekatan dan senyum profesional. Pemandangan asap tipis dari mesin fog menari di udara, menambah nuansa misterius dan glamor. Para tamu tampil berkelas, pria dalam setelan jas mahal atau kasual dengan jam tangan berkilau di pergelangan, perempuan dalam gaun malam yang memeluk siluet, parfum mereka meninggalkan jejak mewah setiap kali melintas. Percakapan terdengar rendah dan penuh percaya diri, diselingi tawa singkat dan sorot mata yang tajam. Di sudut ruangan, DJ booth berlapis kaca menjadi pusat perhatian, dengan visual futuristik yang bergerak selaras dengan irama. Seluruh suasana terasa eksklusif, tertutup dari dunia luar, sebuah panggung rahasia bagi kekuasaan, uang, dan ambisi, tempat malam terasa tak pernah ingin berakhir. Ini merupakan tempat surga bagi para pencari kebahagiaan. Termasuk rombongan Laura bersama teman-temannya. Berbeda dengan suasana yang berada di bawah, suasana di lantai atas juga tentunya tidak kalah eksklusif, namun hanya orang-orang tertentu yang bisa memesan lantai atas. "Tidak usah membicarakan Laura. Tidak seru karena tidak ada cerita yang menarik. Bagaimana kalau kita memulai permainan?" Audi mengangkat tangannya dengan rasa bosan akibat basa-basi yang dilakukan oleh teman-temannya. Para wanita mulai bersorak dengan jantung berdebar. Ini adalah sebuah taruhan yang memang selalu rutin diadakan. "Hanya saja aku ingin malam ini kita mengadakan dengan cara yang berbeda." Alexi meletakkan gelasnya di atas meja sambil menatap teman-temannya dengan seringai yang terlihat jelas dari raut wajahnya. "Berbeda bagaimana maksudmu?" Lauren mengerut keningnya, tidak mengerti dengan tujuan Alexi. "Kita membuat tantangan. Bagi siapapun namanya yang keluar malam ini, maka mereka harus menutup mata keluar dari ruangan ini dan mencari sendiri laki-laki yang akan diajak tidur," ujar Alexi sambil berdiri. "Di lantai ini, semuanya merupakan lantai VIP. Tidak ada laki-laki tua di sini. Aku juga sudah mencari informasi jika semua yang hadir di sini anak-anak orang kaya dan kebanyakan pengusaha. Ada juga selebriti dan aktor terkenal." "Lalu, maksudmu, siapapun namanya yang keluar malam ini, harus keluar dari ruangan ini dengan mata tertutup dan mencari sendiri pasangannya. Lalu, jika laki-laki itu menolak bagaimana?" Gladys menatap Alexi dengan kening mengerut. Segala sesuatu mungkin akan terjadi, tentunya ia harus bertanya. "Itu mudah saja. Cium laki-laki itu dulu, tanpa membuka penutup mata. Jika laki-laki itu terus melanjutkan, maka kamar VIP yang berada di lantai 3 sudah dibuka dan ditetapkan untuk nama yang keluar malam ini. Namun, jika laki-laki itu menolak sentuhan, maka nama yang keluar malam ini akan melanjutkan tanpa membuka penutup mata," jawab Alexi dengan lantang. "Aku setuju dengan ide ini. Ini jauh lebih menantang dan lebih memicu adrenalin," timpal Audi, dengan penuh semangat. "Bagaimana menurutmu, Lau?" "Aku setuju saja," jawab Laura, sambil menganggukkan kepalanya. Akhirnya Lauren sebagai ketua mengambil sebuah botol kristal dengan nama-nama yang sudah tertulis di dalamnya. Mereka semua menatap dengan hati-hati pada kocokan yang dilakukan oleh Lauren sebelum akhirnya sebuah bola berukuran kecil dengan nama salah satu dari mereka keluar dengan sendirinya dan berputar di atas meja. Hap! Lauren segera menangkap bola kecil itu, kemudian membukanya sampai kemudian ia melihat sebuah nama tertulis dengan sangat indah di sebuah kertas. Semua menunggu dengan jantung berdebar kencang. Tatapan Lauren kemudian tertuju pada mereka satu persatu sampai kemudian sebuah nama disebutkan. "Laura Gwenchi." Namanya yang disebutkan langsung membuat si empunya menegakkan tubuh, menunjuk dirinya sendiri dengan tak percaya. "Aku?" "Yup. Ini benar-benar kamu. Ini mungkin jawaban Tuhan untuk kamu karena kasihan dengan kamu yang sudah 6 bulan menikah tapi masih perawan. Saatnya malam ini kamu pecah perawan." Alexi menjawab dengan penuh semangat dan segera mengeluarkan sebuah kain cantik berwarna merah dari dalam tasnya yang sudah ia persiapkan. "Ding Ding Ding. Aku sudah menyiapkan perlengkapannya. Laura, kamu harus semangat." Sekali lagi Laura menegakkan tubuhnya, tidak percaya jika berapa kali mereka mengadakan undian dan baru kali ini ia mendapatkan giliran. Laura segera berdiri, dengan Alexi yang sudah memasang penutup mata sambil menyeringai menatap temannya. Audi sebagai sahabat juga ikut berdiri. "Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika laki-laki yang tidur dengan Laura, memiliki penyakit menular?" "Aku sudah menyelidiki para tamu di lantai ini. Tidak ada laki-laki aneh, dan semuanya laki-laki normal serta sehat," kata Alexi. "Di lantai ini hanya ada dua kelompok yang hadir. Pertama, kelompok kita, yang kedua sekumpulan pria-pria pebisnis di ruangan lain," tambah Alexi. Teman-teman Laura langsung memberi dukungan pada gadis itu sehingga membuat Laura kini melangkah keluar dari ruangan dengan mata tertutup sambil meraba sekitar. Ruangan tidak terlalu terang, namun lampu-lampu kristal masih menyala di langit, juga kelap-kelip di beberapa tempat. Meski begitu tetap agak menyulitkan Laura yang harus melangkah dengan hati-hati. Tangannya meraba sekitar, sampai kemudian ia menemukan sesuatu yang diyakininya jika ini adalah manusia. Laura berjinjit sedikit menarik leher pria itu, kemudian tanpa aba-aba, ia langsung meraba wajahnya, dan setelah menemukan bibir pria itu barulah Laura segera menempelkan bibirnya dengan bibir pria tersebut. Dingin. Tidak ada bau asap rokok. Tidak ada bau mulut berlebihan. Justru ada aroma mint yang menyegarkan, terasa. Laura menggerakkan bibirnya, menjilat dan menghisap bibir yang terasa empuk dan lembut. Mengira jika laki-laki itu tidak mau merespon dan tidak mau bersamanya, Laura yang sudah 2 menit menjelajahi bibir pria itu akhirnya menarik diri. Baru saja perempuan itu akan melangkah pergi, namun tubuhnya tiba-tiba ditarik lalu ciuman yang kasar dan ganas berlangsung begitu saja. Ciuman mereka berlanjut sampai 2 menit kemudian, baru kemudian Laura menarik kepalanya. "Ingin tidur bersamaku?""Laura, jika kamu ingin bicara seperti itu kamu harus melampirkan bukti. Apa buktinya jika Ariana adalah korban pemerkosaan para preman itu?" Jackson menegakkan tubuhnya menatap Laura dengan tatapan tajamnya. "Bukannya justru kamu yang selalu dengan sukarela melayani para preman itu? Menyerahkan dirimu pada para preman itu untuk memuaskan hasratmu?"Laura menatap Jackson dengan sebelah alis terangkat. Oh, seperti ini rupanya alasan mengapa Jackson begitu membencinya. Jackson dulu membenci Laura karena dihasut oleh Ariana yang mengatakan jika Laura adalah perempuan yang haus akan belaian laki-laki dan bahkan rela melayani preman-preman yang ada di dekat gang sekolah. Hal ini yang membuatnya memberikan stigma negatif pada Laura. Entahlah, bukan untuk menghakimi ataupun berpikir agak kolot, namun jika sudah dikeroyok preman seperti itu, Jackson tanpa sadar menumbuhkan rasa tidak suka. Terlebih lagi Ariana sering mengatakan jika Laura memang perempuan gampangan dan sangat mudah membu
Laura datang ke rumah tempat di mana keluarga Jackson tinggal. Setelah tiba di dalam rumah itu ternyata sudah banyak anggota keluarga yang tiba lebih dulu daripada dirinya. Maklum saja memang Laura sengaja datang lebih lambat 2 jam dari waktu yang dijanjikan."Dari mana saja kamu? Kenapa kamu datang terlambat sekali? Apakah kamu tahu seberapa lama kami menunggumu di sini?" Emma lebih dulu menyerbu Laura bahkan sebelum wanita itu duduk.Laura tersenyum tipis menatap Emma, kemudian beralih menatap ke arah anggota keluarga Jackson yang lain. Terlihat juga pria itu duduk bersama Ariana dengan wajah mendung, sementara Ariana sendiri terlihat menangis dengan suara isak yang memenuhi ruangan. "Maaf, aku datang terlambat karena ada urusan yang harus aku selesaikan dulu." Laura berbicara sambil duduk. "Ada apa kalian memanggilku kemari? Apakah masih masalah Ariana? Aku sudah katakan pada kalian jika aku tidak akan mencabut laporanku. Begitu juga dengan orang-orang yang akan menuntut Elina."
Laura duduk di kursi kerja Bernard sambil menatap sekeliling. Pria yang membawanya ke kantor saat ini sedang rapat. Laura ditinggalkan di dalam ruang kerja dan bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Itu yang dikatakan oleh Bernard sebelum meninggalkannya. Rasanya bosan sekali untuk menunggu di sini. Laura ingin pergi, namun para pengawal Bernard yang berada di depan pintu tentu tidak mengizinkannya. Ada makanan dan juga snack yang sudah disiapkan untuknya. Sayangnya, Laura tidak tertarik untuk menikmatinya. Perempuan cantik itu melihat-lihat rak buku yang ada di dalam ruang kerja, mengambil beberapa buku dan membacanya. Sudah 2 jam berlalu, namun Bernard belum juga kembali. Tak sengaja tatapan Laura tertuju pada laci yang ada di sisi mejanya. Jika di rumah biasanya Laura akan menyimpan pernak-pernik lucu di dalam lacinya. Mungkin Bernard juga menyimpan pernak-pernik lucu khusus pria? Pikir Laura di dalam hatinya. Perempuan cantik itu menarik laci atas dan menemukan banyak
Rumah besar yang biasanya diisi dengan anggota keluarga lengkap kini tampak lengang. Para petugas sudah pergi membawa barang bukti dan juga para tersangka yang mereka tangkap. Di rumah ini hanya menyisakan para pelayan, Richard, Laura, dan Audi. Para pelayan sudah membubarkan diri, menyembunyikan diri karena takut terlibat. Sementara Laura masih duduk di ruang tamu bersama Richard dan Audi setelah kepergian orang-orang itu. "Kamu akan menempati rumah ini. Rumah ini atas nama mamaku, bukan atas nama Edward. Jadi, pihak berwenang tidak akan menyita rumah ini. Paling sesekali mereka akan datang untuk melakukan pemeriksaan," kata Laura sambil menatap Richard. "Jika aku tinggal di rumah besar ini, bagaimana dengan biaya hidupku? Aku tidak punya uang untuk membayar konsumsi di rumah ini. Belum lagi pelayan yang perlu digaji." Richard terlihat pasrah dengan keadaan. Paling-paling nanti jika memang Laura ingin menendangnya dari kehidupannya, mungkin Richard akan memohon pada wanita sat
Laura melangkah menuju kamarnya, sebelum akhirnya perempuan cantik itu kembali dengan membawa beberapa berkas yang langsung dia tunjukkan pada Edward. Tim investigasi sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Edward. Termasuk, memeriksa ruang bawah tanah di mana banyak sekali harta yang tersembunyi di dalamnya. "Kamu lihat ini. Ini adalah berkas medis kesehatan kamu. Dari tahun sebelum mamaku menikah denganmu, kamu adalah seorang pria yang tidak bisa memiliki keturunan. Ini adalah data lengkapnya." Laura menunjuk salah satu kertas di hadapan Edward yang dibaca pria itu dengan sangat teliti. "Kamu ingat saat itu mamaku harus pura-pura berada di luar negeri untuk melahirkan aku. Padahal mamaku tidak berada di luar negeri. Mamaku mengadopsi aku yang kebetulan saat itu masih bayi. Saat itu kamu tidak peduli dengan ibuku melahirkan atau tidak. Saat itu kamu sedang sibuk dengan selingkuhan kamu."Laura tidak lupa untuk menatap ke arah Lina yang kedua tangannya juga sudah diborgol. Edward
Laura turun dari mobilnya setelah tiba di bagian jalan menuju samping rumah tempat biasa ia masuk jika halaman depan rumahnya sedang dipadati banyak kendaraan atau orang-orang. Perempuan itu turun tidak sendiri melainkan bersama Audi.Saat mereka melangkah memasuki halaman samping rumah, kebetulan mereka bertemu dengan Richard yang berada di pintu bagian samping. Pemuda itu berdiri dengan tenang sambil melipat tangannya di dada, membuat Laura segera menghampirinya diikuti oleh Audi. "Mama, papa, dan Kak Alena sudah ditangkap. Saat ini mereka sedang di ruang tamu karena aparat kepolisian sedang mengumpulkan barang-barang bukti kejahatan mereka," kata Richard.Mendengar jika Lina juga masuk dalam daftar penangkapan, Laura dan Audi saling menatap. "Mamamu terlibat dengan masalah yang menimpa Edward juga?" Audi lah yang pertama bertanya, membuat Richard menggelengkan kepala."Mama dilaporkan oleh teman-teman sosialitanya karena menjual barang-barang palsu. Dari berlian sampai tas dan
Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand
Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny
Laura menatap acuh pada rombongan pria dan wanita yang saat ini sudah menunggu di bawah panggung mini yang disiapkan. Sementara di atasnya berdiri sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri hari ini. Sekelompok orang berdiri di depan panggung mini tentunya bukan tanpa alasan. Mereka men







