LOGIN09
Waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke Jakarta. Sedangkan Zhao Yìchen dan pasukan pimpinan Yusuf, tetap tinggal di Sydney.
Zhao Yìchen telah pindah ke apartemen yang dibeli Alvaro untuk tim PBK. Gedung apartemen itu lokasinya tidak jauh dari kantor polisi pusat, dan memudahkan tim Indonesia bolak-balik ke sana.
Alvaro dan Sultan Pramudya, Ayah mertuanya, serta Tio, membeli tiga unit apartemen. Selain Zhao Yìchen dan para ajudan muda tim caravan, ada beberapa staf kantor cabang PBK yang ikut menghuni ketiga unit tersebut.
Pagi itu, Zhao Yìchen keluar dari lift dan jalan ke teras depan, sambil menenteng helm. Dia membalas sapaan petugas keamanan yang berasal dari PB, sebelum menaiki motor yang telah menunggu sejak tadi.
Chatur memacu motornya dengan kecepatan sedang. Dia menerangkan banyak tempat yang dilewati, sambil mengingatkan Zhao Yìchen untuk menghafal rute ke kantor HKB, di pusat Kota Sydney.
Bryan, Keven, dan Hansel, membentuk company bersama yang menjadi anak perusahaan Arvhasatya Grup. HKB juga bergerak di bidang properti serta ekspor impor. Kantor HKB menjadi pusat berkumpulnya para pengusaha Indonesia, jika tengah bertandang ke kota itu.
Beberapa tahun lalu, Tio telah membangun perkumpulan pengusaha Indonesia yang disingkat menjadi PG, yang beranggotakan 50 orang pebisnis muda Indonesia. Baik yang menetap di tanah air, ataupun yang tinggal di negara lain.
Setelahnya, Tio membuat PC dan PCD, yang anggotanya masing-masing 100 orang pengusaha baru buatannya dan anggota PG, ataupun para pebisnis lain yang tidak bisa bergabung ke PG, karena jumlahnya terbatas.
Bryan, Keven, Tio, Prabu, Alvaro, Dante, Samudra, Yanuar, Harry, Fritz, Calvin, dan Myron, tergabung di dalam PG. Sementara Wirya, Zulfi, Yoga, Andri, Haryono, Zein, dan Hendri, serta Hansel, tergabung dalam PC.
Timothy Arvhasatya menjadi penggagas banyak proyek di seputar Australia, New Zealand, dan Fiji, yang diikuti banyak bos muda dari Indonesia. Timothy ingin para sahabat ketiga putranya itu bisa menyicipi bisnis besar di luar negeri, yang bisa membantu kekokohan stabilitas masing-masing company
Selain di ketiga negara itu, Tio dan rekan-rekannya juga mengikuti berbagai bisnis di negara Asia lainnya, Eropa dan Kanada. Tentu saja dengan bantuan rekan-rekan mereka yang bermukim di beberapa wilayah itu. Termasuk keluarga besar Baltissen yang menetap di Bilbao, Spanyol.
Setibanya di kantor HKB, Zhao Yìchen mengikuti langkah Chatur ke dalam lobi utama. Dia menunggu ajudan Bryan itu mengisi presensi dan buku tamu, kemudian keduanya menaiki tangga guna mencapai lantai dua.
Mereka memasuki ruangan sisi kanan yang terlihat ramai orang, yang menempati kubikel masing-masing. Keduanya terus melangkah menyusuri koridor panjang, sebelum berhenti di depan pintu ketiga sisi kiri.
"Pak, Koko makhluk purba sudah datang," seloroh Chatur, sesaat setelah memasuki ruang kerja direktur utama HKB.
"Aku masih muda. Bukan makhluk purba!" desis Zhao Yìchen, sebelum duduk di sofa hitam.
"Abaikan Chatur, Yichen. Dia memang rese," cakap Bryan sembari berdiri dan mendekati sang tamu. "Bawa minyak nggak? Habis diskusi, aku mau diurut," lanjutnya sembari duduk di sofa seberang.
"Bawa, Pak," jawab Zhao Yìchen. "Ada tikarnya?" tanyanya sembari memindai sekitar.
"Pakai matras." Bryan menunjuk lemari di sudut kanan. "Thur, keluarin," pintanya yang segera dikerjakan sang ajudan. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya.
"Sudah. Pakai nasi goreng buatan Beni."
"Aku baru tahu, kalau anak itu bisa masak."
"Dia cuma ngaduk-ngaduk nasi di wajan. Bumbunya buatan Varo. Ada 1 toples besar di kulkas."
"Duh! Aku jadi ngiler. Nasgor pakai bumbu itu, pasti enak."
"Iya. Varo pandai masak. Sama dengan Wirya, Zulfi, Yoga, Andri dan Yono. Kalau Yanuar, tidak bisa."
Bryan mengulum senyuman. "Ternyata kamu sudah paham kebisaan ketujuh Power Rangers utama."
"Aku sering mengamati mereka dan hampir semua staf di kantor PBK. Jadi aku cukup paham dengan karakter mereka."
"Kamu pengamat yang baik."
"Terima kasih atas pujiannya."
"Koko pakai bahasa baku. Aku kayak lagi nonton telenovela," celetuk Chatur yang menempati kursi putar.
"Apa itu tele ... no ... vela?' desak Zhao Yìchen.
"Kayak sinetron, Ko. Asalnya dari Eropa, atau Amerika latin," jelas Chatur. "Kampung asalnya Babah Gustavo, Spanyol. Drama televisinya juga termasuk telenovela," lanjutnya.
Zhao Yìchen manggut-manggut. "Masih banyak kata yang harus kupelajari."
"Satu-satu, Yichen. Santai saja. Nggak perlu buru-buru," timpal Bryan.
"Ya," balas Zhao Yìchen. "Ehm, kata Wirya, aku dapat tugas tambahan di sini. Apa itu benar?" ungkapnya.
"Betul." Bryan memajukan badannya. "Aku dan Keven punya rencana, dan kami butuh bantuanmu," bebernya.
"Katakan."
"Kami masih kesulitan menembus pasar yang dikuasai komunitas China di sini. Jadi, kami mau, kamu jadi perpanjangan tangan untuk mencari celah di sana."
"Caranya, bagaimana?"
Bryan menerangkan maksudnya yang didengarkan Zhao Yìchen dengan serius. Pria bermata sipit itu menyanggupi permintaan Bryan, dan siap bertugas secepatnya.
130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak
129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan
128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk
127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku
126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca
125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya
08Pekikan Jauhari mengejutkan semua petugas ruang penerimaan tamu. Salah satu dari mereka segera berdiri dan jalan ke belakang. Dia membuka pintu ruang tamu kecil, dan seketika tersenyum. Dennis Hamilton memasuki ruangan sambil menutup pintu. Dia duduk di sofa tunggal, lalu menyomot keripik pisan
07Suasana haru memenuhi ruangan luas di kantor polisi Sydney. Puluhan orang menandangi adegan kedua pria yang tengah berangkulan lama. Jauhari terisak-isak dalam dekapan Wirya yang juga meneteskan air mata. Keduanya baru menjauh, setelah dipisahkan Alvaro. Zhao Yìchen menghela napas berat dan mel
06Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam. Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain mus
05Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, sudah hampir sebulan Zhao Yìchen tinggal di rumah Dante. Setiap pagi dia akan menyapu halaman depan dan belakang, meskipun telah dicegah Dante dan istrinya. Menjelang siang, Zhao Yìchen akan belajar bahasa Indonesia pada Edelweiss, yang mengajari pria







