Share

Bab 09

Penulis: Olivia Yoyet
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 17:10:16

09

Waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke Jakarta. Sedangkan Zhao Yìchen dan pasukan pimpinan Yusuf, tetap tinggal di Sydney. 

Zhao Yìchen telah pindah ke apartemen yang dibeli Alvaro untuk tim PBK. Gedung apartemen itu lokasinya tidak jauh dari kantor polisi pusat, dan memudahkan tim Indonesia bolak-balik ke sana. 

Alvaro dan Sultan Pramudya, Ayah mertuanya, serta Tio, membeli tiga unit apartemen. Selain Zhao Yìchen dan para ajudan muda tim caravan, ada beberapa staf kantor cabang PBK yang ikut menghuni ketiga unit tersebut. 

Pagi itu, Zhao Yìchen keluar dari lift dan jalan ke teras depan, sambil menenteng helm. Dia membalas sapaan petugas keamanan yang berasal dari PB, sebelum menaiki motor yang telah menunggu sejak tadi. 

Chatur memacu motornya dengan kecepatan sedang. Dia menerangkan banyak tempat yang dilewati, sambil mengingatkan Zhao Yìchen untuk menghafal rute ke kantor HKB, di pusat Kota Sydney. 

Bryan, Keven, dan Hansel, membentuk company bersama yang menjadi anak perusahaan Arvhasatya Grup. HKB juga bergerak di bidang properti serta ekspor impor. Kantor HKB menjadi pusat berkumpulnya para pengusaha Indonesia, jika tengah bertandang ke kota itu.

Beberapa tahun lalu, Tio telah membangun perkumpulan pengusaha Indonesia yang disingkat menjadi PG, yang beranggotakan 50 orang pebisnis muda Indonesia. Baik yang menetap di tanah air, ataupun yang tinggal di negara lain.

Setelahnya, Tio membuat PC dan PCD, yang anggotanya masing-masing 100 orang pengusaha baru buatannya dan anggota PG, ataupun para pebisnis lain yang tidak bisa bergabung ke PG, karena jumlahnya terbatas. 

Bryan, Keven, Tio, Prabu, Alvaro, Dante, Samudra, Yanuar, Harry, Fritz, Calvin, dan Myron, tergabung di dalam PG. Sementara Wirya, Zulfi, Yoga, Andri, Haryono, Zein, dan Hendri, serta Hansel, tergabung dalam PC. 

Timothy Arvhasatya menjadi penggagas banyak proyek di seputar Australia, New Zealand, dan Fiji, yang diikuti banyak bos muda dari Indonesia. Timothy ingin para sahabat ketiga putranya itu bisa menyicipi bisnis besar di luar negeri, yang bisa membantu kekokohan stabilitas masing-masing company  

Selain di ketiga negara itu, Tio dan rekan-rekannya juga mengikuti berbagai bisnis di negara Asia lainnya, Eropa dan Kanada. Tentu saja dengan bantuan rekan-rekan mereka yang bermukim di beberapa wilayah itu. Termasuk keluarga besar Baltissen yang menetap di Bilbao, Spanyol. 

Setibanya di kantor HKB, Zhao Yìchen mengikuti langkah Chatur ke dalam lobi utama. Dia menunggu ajudan Bryan itu mengisi presensi dan buku tamu, kemudian keduanya menaiki tangga guna mencapai lantai dua. 

Mereka memasuki ruangan sisi kanan yang terlihat ramai orang, yang menempati kubikel masing-masing. Keduanya terus melangkah menyusuri koridor panjang, sebelum berhenti di depan pintu ketiga sisi kiri.

"Pak, Koko makhluk purba sudah datang," seloroh Chatur, sesaat setelah memasuki ruang kerja direktur utama HKB. 

"Aku masih muda. Bukan makhluk purba!" desis Zhao Yìchen, sebelum duduk di sofa hitam. 

"Abaikan Chatur, Yichen. Dia memang rese," cakap Bryan sembari berdiri dan mendekati sang tamu. "Bawa minyak nggak? Habis diskusi, aku mau diurut," lanjutnya sembari duduk di sofa seberang. 

"Bawa, Pak," jawab Zhao Yìchen. "Ada tikarnya?" tanyanya sembari memindai sekitar.

"Pakai matras." Bryan menunjuk lemari di sudut kanan. "Thur, keluarin," pintanya yang segera dikerjakan sang ajudan. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya. 

"Sudah. Pakai nasi goreng buatan Beni." 

"Aku baru tahu, kalau anak itu bisa masak." 

"Dia cuma ngaduk-ngaduk nasi di wajan. Bumbunya buatan Varo. Ada 1 toples besar di kulkas." 

"Duh! Aku jadi ngiler. Nasgor pakai bumbu itu, pasti enak." 

"Iya. Varo pandai masak. Sama dengan Wirya, Zulfi, Yoga, Andri dan Yono. Kalau Yanuar, tidak bisa." 

Bryan mengulum senyuman. "Ternyata kamu sudah paham kebisaan ketujuh Power Rangers utama." 

"Aku sering mengamati mereka dan hampir semua staf di kantor PBK. Jadi aku cukup paham dengan karakter mereka." 

"Kamu pengamat yang baik." 

"Terima kasih atas pujiannya." 

"Koko pakai bahasa baku. Aku kayak lagi nonton telenovela," celetuk Chatur yang menempati kursi putar. 

"Apa itu tele ... no ... vela?' desak Zhao Yìchen. 

"Kayak sinetron, Ko. Asalnya dari Eropa, atau Amerika latin," jelas Chatur. "Kampung asalnya Babah Gustavo, Spanyol. Drama televisinya juga termasuk telenovela," lanjutnya. 

Zhao Yìchen manggut-manggut. "Masih banyak kata yang harus kupelajari." 

"Satu-satu, Yichen. Santai saja. Nggak perlu buru-buru," timpal Bryan. 

"Ya," balas Zhao Yìchen. "Ehm, kata Wirya, aku dapat tugas tambahan di sini. Apa itu benar?" ungkapnya. 

"Betul." Bryan memajukan badannya. "Aku dan Keven punya rencana, dan kami butuh bantuanmu," bebernya.

"Katakan." 

"Kami masih kesulitan menembus pasar yang dikuasai komunitas China di sini. Jadi, kami mau, kamu jadi perpanjangan tangan untuk mencari celah di sana." 

"Caranya, bagaimana?" 

Bryan menerangkan maksudnya yang didengarkan Zhao Yìchen dengan serius. Pria bermata sipit itu menyanggupi permintaan Bryan, dan siap bertugas secepatnya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 114

    114Acara selamatan rumah sekaligus 4 bulanan kandungan Elma, sore itu berlangsung dengan lancar. Selain tetangga sekitar yang semuanya adalah pengawal dan para bos muda, keluarga Elma dan para sahabatnya dari Bandung juga turut hadir. Termasuk Maman dan Ika.Pasangan tua itu kentara sekali mengagumi rumah berukuran besar tersebut. Apalagi lokasinya yang berada di komplek elite, menjadikan keduanya terpana. Zhao Yìchen menanggapi pertanyaan Maman dengan sopan. Zhao Yìchen meringis ketika Elma menyahut pertanyaan Maman dengan pongah, mengenai harga rumah yang berkisar di hitungan miliaran. Zhao Yìchen tahu, istrinya sengaja menyombongkan diri, sebagai bentuk balas dendam Elma pada Paman dan bibinya. Meskipun Elma tetap baik pada Agung, tetapi Ibu hamil itu bersikap berbeda pada Maman dan Ika. "Nginap di sini, Pak?" tanya Hendri. "Ya, Kang. Tapi besok kami pulang," jelas Yayan."Jangan pulang dulu. Kita jalan-jalan," ajak Wirya. "Ehm, Bapak nggak bisa cuti lama, Bang," ungkap Yayan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 113

    113 Elma tersenyum seusai melihat tanah kosong di sisi kanan rumah nomor 22, yang telah dipilihnya bersama Zhao Yìchen. Elma sudah jatuh hati pada rumah hook tersebut, setelah mengecek ke tempat itu pada minggu lalu. Zhao Yìchen dan Wirya telah menandatangani kesepakatan, untuk tukar tambah kedua bangunan. Rumah Zhao Yìchen di cluster 9, akan dibeli Haikal, sebagai persiapan buat anak-anaknya kelak. Elma memutuskan mengambil rumah di pojok itu, karena ada kelebihan tanah 3 meter di samping kanan. Dia berencana membuat rumah kaca untuk kebun sayur organik. Seusai melahirkan nanti, Elma akan berhenti bekerja dan hanya menjadi freelance WO. Elma ingin fokus merawat anaknya, dan hal itu tidak bisa dikerjakan secara penuh, jika Elma masih menjadi karyawan tetap.Bunyi beberapa mobil berhenti di depan, menjadikan Elma menoleh ke kiri. Dia bergegas mendekati mobil pick up itu, guna menurunkan barang-barang. "Kamu duduk saja, El," cakap Linggar, yang keluar dari mobil MPV hitam yang berh

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 112

    112"Ta," panggil Jaya sembari mengarahkan badan ke kiri. "Ya?" balas Anita. "Aku ... nggak bisa bermanis-manis kata," ucap Jaya, sebelum mengeluarkan kotak perhiasan merah dari tas kecil. "Aku menyukaimu sejak lama," akunya sambil menatap Anita lekat-lekat. "Aku sudah sangat dewasa, dan ingin memiliki keluarga sendiri. Ehm, maukah kamu menikah denganku?" tanya Jaya sembari menahan degup jantungnya yang kian kencang. Anita memandangi pria yang telah membuat hidupnya berwarna, selama hampir 2 tahun. Anita bermonolog dalam hati, lalu dia mengangguk."Ya, Kang. Aku mau," tukas Anita. Sudut bibir Jaya melengkung ke atas membingkai senyuman. "Alhamdulillah." Jaya membuka kotak perhiasan. "Ini, buatmu," akunya. "Bukannya buat Ibu?" tanya Anita.Jaya menggeleng. "Aku sengaja minta kamu milih, karena ini memang buatmu." Anita mengulum senyuman. "Dengan kata lain, aku beli cincin dari uang sewa rumah yang kubayar." "Ya, dan aku cuma nambahin dikit." "Enggak modal." Keduanya serentak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 111

    111Jaya memandangi Anita yang tengah menunduk di kursi seberang. Dia tahu jika gadis itu tengah menahan malu, karena telah berulang kali merepotkan Jaya. Pria berambut tebal itu mengalihkan perhatian ke amplop di meja. Dia awalnya hendak menolak, tetapi kemudian dibatalkan, saat satu ide melintas di benaknya. Jaya meraih amplop itu dan mengecek isinya. Dia menutup amplop, dan memasukkan benda itu ke saku kemeja putih. Jaya memerhatikan Anita yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. Kala gadis itu menengadah, tatapan mereka bersirobok dan Jaya spontan tersenyum. "Aku terima uang sewa rumah ini," ucap Jaya. "Tapi, bulan depan nggak usah bayar," lanjutnya. Anita menggeleng. "Aku nggak mau utang budi, Kang," tolaknya. "Akang sudah terlalu sering membantuku dan keluarga. Aku nggak bisa balasnya," sambungnya. "Enggak perlu dibalas. Aku ikhlas." "Ehm, ya." "Aku dulu juga hidup susah, Ta. Orang tuaku cuma buruh tani. Kami berempat nyaris nggak pernah ngerasain pegang duit, meski

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 110

    110Zhao Yìchen menghentikan mobil beberapa belas meter sebelum rumah kontrakan Anita. Mobil tidak bisa terus maju, karena banyak orang yang tengah berkerumun di depan. Zhao Yìchen menunggu istrinya turun. Dia mengunci mobil, lalu menggapai tangan kiri Elma dan jalan menerobos kerumunan. Keduanya kesulitan menembus area terdekat dengan rumah, karena banyak pria bertampang sangar yang tengah berdiri di sana. Zhao Yìchen menarik Elma agar berpindah ke belakangnya. Pria berjaket hitam itu memaksa merentangkan tangan untuk membuka jalan, dan Elma segera maju memasuki pekarangan sempit yang banyak barang berhamburan. Elma memasuki ruang tamu sambil mengucapkan salam. Zhao Yìchen menyusul dan segera menyambangi Jaya yang tengah menunggui Norman, yang berbaring di kasur tipis.Elma mengambil alih bocah laki-laki dari gendongan Anisa, yang tengah sibuk menenangkan Siti. Perempuan tua itu sejak tadi mengumpati kelompok pria di depan rumah, yang merupakan anak buah bos rentenir. Anita menya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 109

    109 Pengajian bulanan malam itu di kediaman Wirya, didatangi lebih dari 200 orang. Mereka penasaran dengan sosok aktris China, yang tampil dengan gamis biru dan pasmina putih, yang diberikan Irshava. Vanetta tampak senang, karena para tamu yang hadir sebagian besar bisa berbahasa Mandarin. Dia kaget, kala Zhao Yìchen mengajaknya berbincang dalam bahasa Kanton, yang dibalas perempuan itu dengan semangat. Elma mengamati sang aktris yang tampak berkilau. Dia tersenyum, ketika Zayd mendekati Vanetta dan duduk di pangkuan perempuan tersebut dengan santai. "Kenapa aku jadi mikir, kalau dia yang akan jadi istrinya Bang W?" tanya Salwa. "Kirain aku aja yang mikir, gitu," sahut Leni."Zayd langsung suka. Nempel terus dia dari tadi," papar Elma. "Zid dan Marwa, reaksinya, gimana?" desak Novi. "Mereka juga welcome. Marwa bahkan sudah berani ngelihatin gambar desain buatannya," ungkap Elma. "Mungkin Marwa bisa ngerasa, kalau aura Vanetta itu baik," papar Rida sembari memandangi perempuan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status