Share

Bab 08

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-03-28 17:04:47

08

Pekikan Jauhari mengejutkan semua petugas ruang penerimaan tamu. Salah satu dari mereka segera berdiri dan jalan ke belakang. Dia membuka pintu ruang tamu kecil, dan seketika tersenyum. 

Dennis Hamilton memasuki ruangan sambil menutup pintu. Dia duduk di sofa tunggal, lalu menyomot keripik pisang yang tersedia di meja. Ketua regu penjaga itu menonton adegan penyiksaan pada Jauhari, sembari terus mengunyah. 

"Ko, bunuh aja aku!" jerit Jauhari setelah pundak kanannya ditekan kuat sang tukang urut. 

"Diam, Ri!" desis Zhao Yìchen sambil meneruskan pemijatan di lengan kanan pria berkulit bersih tersebut. 

"Sakit!" 

"Ototnya keras. Terpaksa ditekan kuat." 

"Udah, Ko. Ampun!" 

"Berisik! Aku belum selesai!" 

"Stop dulu, Ko. Muka Ari sudah merah," sela Alvaro yang tengah memijat kaki kanan Harzan, yang juga terkilir akibat perkelahian tempo hari.

"Payah!" cibir Zhao Yìchen setelah menjauhi korbannya yang tengah ngos-ngosan. 

"Beneran sakit tadi. Aku nyaris ngompol," rengek Jauhari. 

"Kamu sering mengabaikan tubuh. Berkelahi terus, tapi otot tegang tidak diurus. Jadinya begitu, berbelit uratnya." 

"Hmm, ya. Dari kejadian di Port Stephens, aku memang mengabaikan. Padahal badan sudah sakit-sakit." 

"Speak English, please," pinta Dennis. 

Zhao Yìchen melirik Jauhari. "Dia bilang apa?" tanyanya. 

"Dia minta kita pakai bahasa Inggris," terang Jauhari. 

"Aku tidak bisa," balas Zhao Yìchen. 

Jauhari menjelaskan hal itu pada Dennis, yang sempat tertegun sesaat, sebelum pria itu mengangguk mengerti. Dennis meminta Jauhari untuk mengartikan ucapannya pada Zhao Yìchen. 

"Ri, apa katanya?" desak Zhao Yìchen. 

"Koko harus belajar bahasa Inggris," tutur Jauhari. "Kalau nggak, Koko akan sulit berkomunikasi dengan warga sini," lanjutnya. 

Zhao Yìchen mendengkus pelan. "Bahasa Indonesia saja aku belum terlalu pandai. Sekarang harus belajar bahasa Inggris. Bisa-bisa otakku meledak." 

"Enggak sampai meledak, Ko. Paling mumet aja," goda Harzan. 

"Mumet? Apa itu?" tanya Zhao Yìchen. 

"Pusing, karena kebanyakan pikiran," jelas Harzan.

"Bentar. Kucatat dulu." Zhao Yìchen membuka tas selempangnya dan mengeluarkan buku tebal serta pulpen. "Mu met," gumamnya, sambil menulis kata itu. "Ada lagi kata yang artinya sama dengan ini?" tanyanya. 

"Lieur," jawab Alvaro. 

"Puyeng," timpal Jauhari. 

"Medam," cetus Harzan. 

"Itu bahasa apa?" desak Zhao Yìchen. 

"Melayu Pontianak. Kampung halamanku," ungkap Harzan. 

"Kamu orang Mempawah, Zan. Kalau Bang Zein, aslinya dari Sambas," celoteh Jauhari. 

"Iyain ajalah, Bang," keluh Harzan.

"Aku harus jujur tentang tempat asalmu," balas Jauhari. "Yang asli orang Pontianak itu, Emak OY. Tembuninya ada di sana," lanjutnya. 

"Apa lagi itu tembuni, Ri?" desak Zhao Yìchen. 

"Plasenta bayi. Bahasa umumnya, ari-ari," ungkap Jauhari. 

"Berarti namamu diambil dari sana?" 

Jauhari terdiam sejenak. "Bukan. Namaku diambil dari lagu India. Ari ri ari kya hua." 

"Koko dan Dennis bingung," kelakar Alvaro, sebelum dia terbahak bersama Harzan dan Jauhari. 

*** 

Restoran Hotel Arvhasatya, malam itu terlihat ramai. Kerabat Adhitama telah datang dari Darwin, dan sedang berbincang serius dengan para bos. 

Ketiga bersaudari Chang, yakni Florencia, Sophia dan Paulina, berbincang akrab dengan Dante, Wirya dan Zulfi. Sedangkan para suami dan anak-anak mereka berkumpul bersama gank Alvaro, Bryan, Keven, dan beberapa ajudan muda. 

Zhao Yìchen terlibat percakapan serius dengan Ren Mark, suami Chang Florencia, yang berprofesi sebagai pedagang bahan makanan khaa Asia. Zhao Yìchen menyampaikan keinginannya guna belajar ilmu akupuntur, yang disambut baik pria tua tersebut. 

"Atur waktu. Sebulan sekali, datanglah ke Darwin," ujar Ren Mark dalam bahasa Hakka. 

"Ya, aku juga bermaksud begitu," jawab Zhao Yìchen. 

"Kata Axelle, kamu pandai memijat." 

"Axelle?" 

"Maksudku, Dante." 

"Oh, ya. Aku baru ingat. Nama lengkapnya, Axelle Dante," papar Zhao Yìchen. "Betul, Paman. Aku cukup pandai memijat. Mewarisi bakat ibuku," jelasnya. 

"Lanjutkan. Itu bakat yang bagus." 

"Tentang itu, aku juga mau mempelajari teknik yang lebih baik. Misalnya, untuk memperbaiki tulang yang patah. Apa Paman kenal seseorang yang bisa jadi guruku?" 

Ren Mark berpikir sejenak, sebelum memanggil Adik iparnya dan meneruskan pertanyaan dari Zhao Yìchen. Fan Walter, suami Sophia, menyebutkan satu nama, yang segera dicatat Zhao Yìchen. 

"Bagaimana aku bisa menghubunginya?" tanya Zhao Yìchen. 

"Aku mau hubungi temanku dulu. Dia yang punya nomor telepon Liao Bailey," tukas Fan Walter. "Aku belum saved nomormu," lanjutnya sembari menyerahkan ponselnya pada Zhao Yìchen, yang justru mengalihkan benda itu pada Chatur.

"Kamu yang simpan. Aku tidak hafal nomorku," ungkap Zhao Yìchen. 

"Koko, payah," ledek Chatur Wijatmoko, ajudan Bryan, yang langsung didorong bahunya oleh Zhao Yìchen. 

"Otakku penuh dengan banyak huruf dan kata bahasa Indonesia serta Inggris!" geram Zhao Yìchen.

"Orang tua jangan diledekin, Thur," sela Aditya Bryatta, anggota tim lapis 3, sekaligus sahabat Jauhari, Yusuf dan Beni. 

"Ho oh. Nanti kuwalat," timpal Anggara Dwi Andarji, ajudan kedua Bryan. 

"Dia memang hobi bikin orang emosi," cakap Bunji, ketua pasukan pengawal keluarga Arvhasatya. 

"Tabok aja, Ko. Kubantu pegangin," lontar Beni, sembari berpura-pura memegangi lengan kiri juniornya.

"Chatur nggak usah digebukin. Kebal dia," tutur Ruben, pengawal Keven. 

"Betul. Cukup bekap dia pakai terasi. Dijamin pingsan," kelakar Yusuf. 

"Orang Indonesia tapi nggak suka terasi?" tanya Henley Flinders, direktur operasional HKB. 

"Dia bukan orang Indonesia, tapi orang Rangkas Bitung," goda Kurt, ajudan Keven. 

"Kupikir Chatur itu dari Karawang," lontar Taylor, wakil ketua pasukan pengawal keluarga Arvhasatya. 

"Kalian ini. Aku orang Cirebon. Turunan keraton. Darahku, biru dongker," celetuk Chatur yang seketika diteriaki rekan-rekannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 92

    92Zhao Yìchen mendengarkan cerita Ren Mark dan keluarganya, sembari mengingat momen itu di dalam benak. Sebab harus menuntaskan sekolahnya, Zhao Yìchen tidak bisa sering berkunjung ke Darwin.Kendatipun Zhao Yìchen mendapatkan mandat baru dari Wirya, untuk bertugas bolak-balik ke Australia, tetapi

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 90

    90Seunit mobil van hitam melintasi jalan raya. Sang sopir membelokkan kendaraan ke kiri dan berhenti di depan gerbang besar.Seorang penjaga keamanan mendekat dan menyapa sopir itu dengan ramah. Kemudian penjaga tersebut membukakan gerbang, dan mobil van melaju memasuki area perumahan elite di bara

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 87

    87Acara selamatan atas kebebasan Jauhari dimulai dengan pengajian. Ratusan jemaah masjid besar di Sydney, menghadiri acara tersebut atas undangan Bryan, yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di sana.Bryan yang menjadi mualaf sejak 2 tahun lalu, sering berdiskusi dengan Imam masjid at

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 86

    86Zhao Yìchen menciumi kedua pipi Zayd, sebelum memberikan bocah itu pada pengasuh. Zhao Yìchen memandangi adiknya yang tengah memberikan petuah pada Bayazid dan Marwa, yang membalas ucapan bundanya dengan anggukan. Sekian menit berlalu, Delany melenggang menuju pintu masuk terminal keberangkatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status