Masuk08
Pekikan Jauhari mengejutkan semua petugas ruang penerimaan tamu. Salah satu dari mereka segera berdiri dan jalan ke belakang. Dia membuka pintu ruang tamu kecil, dan seketika tersenyum.
Dennis Hamilton memasuki ruangan sambil menutup pintu. Dia duduk di sofa tunggal, lalu menyomot keripik pisang yang tersedia di meja. Ketua regu penjaga itu menonton adegan penyiksaan pada Jauhari, sembari terus mengunyah.
"Ko, bunuh aja aku!" jerit Jauhari setelah pundak kanannya ditekan kuat sang tukang urut.
"Diam, Ri!" desis Zhao Yìchen sambil meneruskan pemijatan di lengan kanan pria berkulit bersih tersebut.
"Sakit!"
"Ototnya keras. Terpaksa ditekan kuat."
"Udah, Ko. Ampun!"
"Berisik! Aku belum selesai!"
"Stop dulu, Ko. Muka Ari sudah merah," sela Alvaro yang tengah memijat kaki kanan Harzan, yang juga terkilir akibat perkelahian tempo hari.
"Payah!" cibir Zhao Yìchen setelah menjauhi korbannya yang tengah ngos-ngosan.
"Beneran sakit tadi. Aku nyaris ngompol," rengek Jauhari.
"Kamu sering mengabaikan tubuh. Berkelahi terus, tapi otot tegang tidak diurus. Jadinya begitu, berbelit uratnya."
"Hmm, ya. Dari kejadian di Port Stephens, aku memang mengabaikan. Padahal badan sudah sakit-sakit."
"Speak English, please," pinta Dennis.
Zhao Yìchen melirik Jauhari. "Dia bilang apa?" tanyanya.
"Dia minta kita pakai bahasa Inggris," terang Jauhari.
"Aku tidak bisa," balas Zhao Yìchen.
Jauhari menjelaskan hal itu pada Dennis, yang sempat tertegun sesaat, sebelum pria itu mengangguk mengerti. Dennis meminta Jauhari untuk mengartikan ucapannya pada Zhao Yìchen.
"Ri, apa katanya?" desak Zhao Yìchen.
"Koko harus belajar bahasa Inggris," tutur Jauhari. "Kalau nggak, Koko akan sulit berkomunikasi dengan warga sini," lanjutnya.
Zhao Yìchen mendengkus pelan. "Bahasa Indonesia saja aku belum terlalu pandai. Sekarang harus belajar bahasa Inggris. Bisa-bisa otakku meledak."
"Enggak sampai meledak, Ko. Paling mumet aja," goda Harzan.
"Mumet? Apa itu?" tanya Zhao Yìchen.
"Pusing, karena kebanyakan pikiran," jelas Harzan.
"Bentar. Kucatat dulu." Zhao Yìchen membuka tas selempangnya dan mengeluarkan buku tebal serta pulpen. "Mu met," gumamnya, sambil menulis kata itu. "Ada lagi kata yang artinya sama dengan ini?" tanyanya.
"Lieur," jawab Alvaro.
"Puyeng," timpal Jauhari.
"Medam," cetus Harzan.
"Itu bahasa apa?" desak Zhao Yìchen.
"Melayu Pontianak. Kampung halamanku," ungkap Harzan.
"Kamu orang Mempawah, Zan. Kalau Bang Zein, aslinya dari Sambas," celoteh Jauhari.
"Iyain ajalah, Bang," keluh Harzan.
"Aku harus jujur tentang tempat asalmu," balas Jauhari. "Yang asli orang Pontianak itu, Emak OY. Tembuninya ada di sana," lanjutnya.
"Apa lagi itu tembuni, Ri?" desak Zhao Yìchen.
"Plasenta bayi. Bahasa umumnya, ari-ari," ungkap Jauhari.
"Berarti namamu diambil dari sana?"
Jauhari terdiam sejenak. "Bukan. Namaku diambil dari lagu India. Ari ri ari kya hua."
"Koko dan Dennis bingung," kelakar Alvaro, sebelum dia terbahak bersama Harzan dan Jauhari.
***
Restoran Hotel Arvhasatya, malam itu terlihat ramai. Kerabat Adhitama telah datang dari Darwin, dan sedang berbincang serius dengan para bos.
Ketiga bersaudari Chang, yakni Florencia, Sophia dan Paulina, berbincang akrab dengan Dante, Wirya dan Zulfi. Sedangkan para suami dan anak-anak mereka berkumpul bersama gank Alvaro, Bryan, Keven, dan beberapa ajudan muda.
Zhao Yìchen terlibat percakapan serius dengan Ren Mark, suami Chang Florencia, yang berprofesi sebagai pedagang bahan makanan khaa Asia. Zhao Yìchen menyampaikan keinginannya guna belajar ilmu akupuntur, yang disambut baik pria tua tersebut.
"Atur waktu. Sebulan sekali, datanglah ke Darwin," ujar Ren Mark dalam bahasa Hakka.
"Ya, aku juga bermaksud begitu," jawab Zhao Yìchen.
"Kata Axelle, kamu pandai memijat."
"Axelle?"
"Maksudku, Dante."
"Oh, ya. Aku baru ingat. Nama lengkapnya, Axelle Dante," papar Zhao Yìchen. "Betul, Paman. Aku cukup pandai memijat. Mewarisi bakat ibuku," jelasnya.
"Lanjutkan. Itu bakat yang bagus."
"Tentang itu, aku juga mau mempelajari teknik yang lebih baik. Misalnya, untuk memperbaiki tulang yang patah. Apa Paman kenal seseorang yang bisa jadi guruku?"
Ren Mark berpikir sejenak, sebelum memanggil Adik iparnya dan meneruskan pertanyaan dari Zhao Yìchen. Fan Walter, suami Sophia, menyebutkan satu nama, yang segera dicatat Zhao Yìchen.
"Bagaimana aku bisa menghubunginya?" tanya Zhao Yìchen.
"Aku mau hubungi temanku dulu. Dia yang punya nomor telepon Liao Bailey," tukas Fan Walter. "Aku belum saved nomormu," lanjutnya sembari menyerahkan ponselnya pada Zhao Yìchen, yang justru mengalihkan benda itu pada Chatur.
"Kamu yang simpan. Aku tidak hafal nomorku," ungkap Zhao Yìchen.
"Koko, payah," ledek Chatur Wijatmoko, ajudan Bryan, yang langsung didorong bahunya oleh Zhao Yìchen.
"Otakku penuh dengan banyak huruf dan kata bahasa Indonesia serta Inggris!" geram Zhao Yìchen.
"Orang tua jangan diledekin, Thur," sela Aditya Bryatta, anggota tim lapis 3, sekaligus sahabat Jauhari, Yusuf dan Beni.
"Ho oh. Nanti kuwalat," timpal Anggara Dwi Andarji, ajudan kedua Bryan.
"Dia memang hobi bikin orang emosi," cakap Bunji, ketua pasukan pengawal keluarga Arvhasatya.
"Tabok aja, Ko. Kubantu pegangin," lontar Beni, sembari berpura-pura memegangi lengan kiri juniornya.
"Chatur nggak usah digebukin. Kebal dia," tutur Ruben, pengawal Keven.
"Betul. Cukup bekap dia pakai terasi. Dijamin pingsan," kelakar Yusuf.
"Orang Indonesia tapi nggak suka terasi?" tanya Henley Flinders, direktur operasional HKB.
"Dia bukan orang Indonesia, tapi orang Rangkas Bitung," goda Kurt, ajudan Keven.
"Kupikir Chatur itu dari Karawang," lontar Taylor, wakil ketua pasukan pengawal keluarga Arvhasatya.
"Kalian ini. Aku orang Cirebon. Turunan keraton. Darahku, biru dongker," celetuk Chatur yang seketika diteriaki rekan-rekannya.
94Elma memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Meskipun dia MUA yang sudah lama malang- melintang di dunia tata rias, tetap saja Elma takjub dengan hasil dandanan Roni, ketua tim MUA EO M&E, yang selalu jadi andalan para bos jika hendak menikah.Roni menempuh pendidikan tentang riasan itu di Jerman. Selain para bos, banyak artis tanah air dan keluarga pejabat yang menggunakan jasanya. Ptibadinya yang ramah dan hangat, menjadikan pelanggan Roni terus bertambah, dan klien lama pun tetap setia menggunakan jasanya.Elma menoleh ke kiri ketika mendengar gelakak keempat sahabatnya, yang tengah dicandai Roni. Pria berkacamata itu terus mengoceh dengan cepat, menggunakan bahasa Sunda campur Inggris, sembari sekali-sekali menggoyangkan badannya, seolah-olah tengah menirukan gerakan ben-ces.Pintu terbuka dan Nilam memasuki ruangan bersama Leni. Nilam mengamati putrinya, sedangkan Leni membantu Elma mengenakan selop biru muda, yang senada dengan setelan kebaya pengantinnya. "Rombon
93Hari bahagia yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen deg-degan. Setiap hari dia berlatih mengucapkan ijab kabul dengan pasangan yang berganti-ganti. Dimulai dari Wirya, Zulfi, Dante, Harry, Yoga, Andri, bahkan Finley turun tangan langsung untuk membantu keponakan angkatnya tersebut. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, acara pengajian dilakukan di kediaman Dante. Ratusan orang turut menghadiri acara tersebut, di mana sebagian besarnya adalah tim PBK. Acara pengajian usai tepat sebelum azan asar. Zhao Yìchen yang berada di pelaminan kecil, menyalami semua tamu sembari membagikan goodiebag. Untuk yang sudah sepuh, Zhao Yìchen mendatangi mereka satu per satu, guna beramah tamah. Seusai para tamu umum pergi, hampir semua pria bergegas berangkat ke masjid yang berada di blok terdepan. Mereka menunaikan salat Asar berjemaah, lalu kembali ke rumah Dante guna melaksanakan siraman. Zhao Yìchen yang telah menukar celana panjangnya dengan sarung hitam motif garis-garis, menduduki bangku k
92Zhao Yìchen mendengarkan cerita Ren Mark dan keluarganya, sembari mengingat momen itu di dalam benak. Sebab harus menuntaskan sekolahnya, Zhao Yìchen tidak bisa sering berkunjung ke Darwin.Kendatipun Zhao Yìchen mendapatkan mandat baru dari Wirya, untuk bertugas bolak-balik ke Australia, tetapi itu hanya sebatas di seputar Sydney, ataupun beberapa kota besar di mana ada proyek baru. Sedangkan di Darwin belum ada proyek lainnya. Zhao Yìchen mengarahkan pandangan ketika dipanggil Ren Mark yang menanyakan tentang kepastian waktu pernikahannya dengan Elma. "Sebulan lagi, Paman," jawab Zhao Yìchen. "Undangan acara resepsi di Jakarta, nanti kukirimkan, karena sekarang belum jadi," lanjutnya. "Tidak perlu. Kami akan datang, walaupun tanpa undangan fisik," jawab Ren Mark.Zhao Yìchen mengangguk mengiakan. "Mengenai akomodasi, semuanya ditanggung Dante bersaudara. Papa Erick sedang menyelesaikan pembelian pesawat Adhitama. Kalian nanti dijemput pakai pesawat itu." "Syukurlah. Tadinya a
91Dilbert meringkus lawannya dengan memelintir tangan kanan orang tersebut. Dilbert mengikat tawanannya dengan tali yang sudah dipersiapkan di saku celana. "Ternyata kamu memang perempuan," cakap Dilbert seusai membuka penutup wajah orang itu. Sedetik kemudian Dilbert menggeser badannya ke kanan untuk menghindari jarum kecil yang ditiupkan perempuan itu dengan kuat. "Sial!" pekik Dilbert seusai merasakan tangan kirinya mulai kebas.Tanpa memedulikan jika lawannya adalah perempuan, Dilbert menendangi perempuan itu, yang seketika terlempar ke jalan. Tidak berhenti sampai di situ, Dilbert menarik lengan kiri lawannya, dan mendorong perempuan itu ke halaman rumah Bryan.Dilbert menyambungkan tali di tangan perempuan itu dengan tali di pohon. Kemudian dia memindai sekeliling, lalu menembaki kepala seekor ular kobra yang tadi dilemparkan musuh. Dilbert mengambil bangkai ular itu, lalu melumuri wajah lawannya dengan cairan dari ular, hingga tawanannya menjerit-jerit. "Kamu yang melempa
90Seunit mobil van hitam melintasi jalan raya. Sang sopir membelokkan kendaraan ke kiri dan berhenti di depan gerbang besar.Seorang penjaga keamanan mendekat dan menyapa sopir itu dengan ramah. Kemudian penjaga tersebut membukakan gerbang, dan mobil van melaju memasuki area perumahan elite di barat Kota Sydney. Seorang petugas lainnya yang berada di pos, menghubungi rekannya melalui sambungan telepon. Kemudian dia keluar dari pos dan jalan menuju motornya, yang diparkirkan dekat kantor pengelola. Petugas keamanan itu memacu motornya menuju blok kedua, sebelum blok tiga di mana rumah Bryan berada. Sang petugas menghentikan kendaraan di depan rumah ujung kanan, yang telah disewa sejak seminggu lalu. Frey memasuki rumah itu dan mendatangi teman-temannya yang berada di ruangan belakang. Mereka tidak berbicara sedikit pun, melainkan langsung mengenakan berbagai atribut khas pengamanan.Tidak berselang lama, kelompok kecil pimpinan Dilbert itu telah melangkah ke halaman belakang. Mereka
89Suara obrolan Zikria dan Yang Halburt, terdengar dari luar kamar yang pintunya terbuka lebar. Zhao Yìchen memusatkan pikiran untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita Tian Johanna, yang tengah menjadi pasiennya.Hasil pemeriksaan medis perempuan tua tersebut menyatakan dia menderita gerd. Namun, Zhao Yìchen curiga itu bukan hanya sekadar gerd, tetapi ada unsur lainnya. Zhao Yìchen memanggil Zikria yang segera memasuki ruangan. Zhao Yìchen meminta Zikria untuk mengerahkan tenaga dalamnya, guna mendeteksi adanya elemen gaib di tubuh pasien.Zhao Yìchen belum dibaiat hingga tenaga dalamnya belum kuat. Dia mengamati Zikria yang tengah menggeser kedua telapak tangannya di atas badan Tian Johanna. "Nyonya, tolong tarik napas dan tahan sebentar," pinta Zikria yang segera dikerjakan perempuan tua tersebut. Zikria memejamkan mata dan memusatkan pikirannya ke telapak tangan kanan. Kedutan yang cukup kuat terasa dan Zikria meminta Johanna untuk mengulang inhale serta exhale. Kala denyu
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg







