LOGIN104 Ketibaan Wirya dan kelompoknya di siang hari ketiga, disambut isak tangis banyak orang. Wirya mendatangi Harsaya dan langsung mendekap bapaknya, sembari merengek mengutarakan kesedihannya. Harsaya mengusap punggung putra sulungnya sembari menenangkan Wirya. Dia juga menguatkan hati sang putra, karena ketiga cucunya butuh ketegaran Wirya. Seusai menyalami Murti, Wirya menyambangi kedua mertuanya di ruang tengah. Wirya bersujud di lantai sambil memohon ampun, karena tidak bisa menjaga Delany dengan baik. Qianfan dan Nancy bekerjasama membujuk menantu mereka yang sesenggukan. Keduanya juga turut menguatkan Wirya, supaya pria itu bisa lebih tenang. Wirya memanggil ketiga anaknya dan menciumi pipi mereka satu per satu. Kemudian Wirya mendekap ketiganya sembari terisak-isak, yang menyebabkan hadirin turut berurai air mata.Sekian menit berlalu. Wirya memutari area guna menghampiri para tetua. Meskipun jiwa dan raganya penat, tetapi Wirya berusaha untuk tetap beramah tamah dengan me
103Kabar wafatnya Delany, menghantam keras dada Zhao Yìchen. Dia meraung menyebut nama sang adik, sembari menangis di sofa ruang kerja Tio, di mana Yoga telah menyampaikan informasi itu pada orang-orang terdekat Wirya. Andri termangu di sofa tunggal. Bulir bening luruh dari kedua matanya, sebelum dia meraih saputangan dari saku kemeja, yang digunakan untuk menutupi mukanya. Tio yang menempati kursi putar, menelungkup di meja. Bahunya berguncang seiring dengan isakannya. Rangga terdiam cukup lama, sebelum memejamkan mata dan menangis. Hal serupa juga dilakukan Haryono, Fajar, Nugraha dan Aswin. Hanya Yoga dan Mardi yang bertahan tetap tegar, sembari menelepon banyak orang untuk menyampaikan berita duka.Dalam hitungan menit, banyak orang berdatangan ke ruangan itu. Hamid dan Haikal yang terbiasa tenang, juga tampak syok seperti yang lainnya. Tim Hisyam tidak mengatakan apa pun dan hanya menunduk sambil bersila di lantai, karena semua kursi penuh. Sedu sedan terdengar di seputar rua
102Sepanjang hari itu, suasana rumah Wirya terlihat tegang. Meskipun ketiga bocah tidak diberitahu tentang kabar dari tanah suci, tetap saja mereka gelisah. Bayazid dan Marwa kesulitan untuk terlelap. Sedangkan Zayd berulang kali merengek, sambil memanggil bundanya. Hal itu menjadikan semua orang dewasa di rumah juga makin cemas. Merasa lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Zhao Yìchen bangkit berdiri dan jalan keluar kamar depan. Dia tertegun melihat Rangga dan Fikri, yang tengah mengaji di ruang tengah dengan suara pelan. Zhao Yìchen berpindah ke dapur guna membuat teh. Dia terkejut menyaksikan Harsaya keluar dari kamar belakang, sembari menggendong Zayd yang masih merengek. "Sini, Pak. Biar aku yang gendong," ucap Zhao Yichen sembari mengulurkan tangannya.Harsaya memindahkan sang cucu yang memeluk leher Zhao Yìchen dengan erat, sembari menempelkan kepalanya ke pundak kiri sang om. Harsaya tercenung kala Zhao Yìchen mengusap rambut dan punggung Zayd, sebelum menotok belakang le
101Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Zhao Yìchen dan banyak anggota keluarga Adhitama lainnya, tengah berada di terminal keberangkatan luar negeri, khusus untuk jemaah haji ONH plus plus. Mereka hendak mengantarkan Wirya dan Delany, yang akan berangkat ke tanah suci, bersama Zulfi, Sabrina, Alvaro, Mayuree, Yanuar, Malanaya, Zein dan Hendri. Serta beberapa asisten mereka. Zhao Yìchen memandangi perempuan berjilbab putih, yang tengah memeluk Bayazid, Marwa, dan Zayd. Isakan Delany nyaris tidak berhenti, dan itu membuat semua pengantar turut terharu. Setelah Delany menjauhkan diri, Rangga segera menggendong Zayd. Delany berpindah untuk menciumi pipi Tadya, anak Rangga, dan Dilbaz. Perempuan bermata sipit itu kembali sesenggukan dalam pelukan Irshava, dan Zaheera, istri Rangga, yang telah pulang dari London dan menetap di Jakarta bersama sang suami, sebelum lebaran kemarin. Kala Delany berpindah untuk menyalaminya dengan takzim, Zhao Yìchen memeluk adiknya yang kembali terisak
100 Embusan napas hangat Zhao Yìchen menyentuh tengkuk Elma, yang seketika membuka mata. Elma membiarkan lelakinya terus mencumbu, dan dia sangat menikmatinya.Elma memutar badan ke belakang dan mengusap wajah suaminya, sesaat sebelum Zhao Yìchen menyatukan bibir mereka. Cecapan lembut dilancarkan sang penyintas waktu, sembari meraba tubuh istrinya dengan pelan. Gumaman yang terdengar dari mulut Elma menjadikan hasrat lelakinya kian mencuat. Namun, Zhao Yìchen tidak mau terburu-buru dan bergerak lambat sembari menghafal lekuk badan pasangannya.Satu helai kain terlepas dan disusul helaian lainnya. Keduanya terus saling mencumbu sembari menunggu hati siap untuk menyatu. Elma mengusap rambut dan punggung lelakinya, sambil membalas ciuman Zhao Yìchen dengan hangat. Elma memekik tertahan ketika tangan pria tersebut membelai area bawah tubuhnya dengan pelan, dan menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Tangan kanan Zhao Yichen bermain dengan cukup lincah. Dia mempraktikkan semua ilmu ber
99 Pesta usai menjelang magrib. Zhao Yìchen dan Elma memasuki ruang ganti khusus pengantin di seberang ballroom. Mereka bergantian mandi dan bertukar baju. Kemudian keduanya menunaikan salat Magrib berjemaah. Menjelang jam 7 malam, pasangan tersebut keluar dari ruang ganti. Zhao Yìchen menyeret dua koper ukuran sedang, dan memberikan benda-benda itu pada petugas hotel, guna diantarkan ke kamar pengantin di lantai lima. Pasangan pengantin baru itu berpindah ke ballroom yang masih ramai orang, terutama tim HWZ dan PBK. Mereka bersantap terlebih dahulu, sebelum mendatangi setiap meja guna beramah tamah. "Ko, Ari video call," cakap Yusuf sambil memberikan ponselnya. Zhao Yìchen menarik tangan kiri Elma agar mendekat. Keduanya melambaikan tangan kanan yang dibalas orang-orang di Sydney dengan hal yang sama. "Selamat menempuh hidup baru, Koko dan Kak Elma," ujar Avreen. "Selamat menikah, dan semoga samawa," tambah Jauhari. "Makasih, Ari dan Avreen," jawab Zhao Yìchen. "Kak Elma, man
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila







