Share

Bab 2

Author: Sansan
Namun, hidupku juga bukan sepenuhnya pahit. Pada ulang tahunku yang ke-15, untuk pertama kalinya aku makan sampai kenyang.

Aku masih ingat, makanan waktu itu adalah semangkuk bubur millet panas, dengan lapisan minyak beras yang kental di permukaannya. Aromanya begitu harum.

Orang pincang itu berkata, dia sudah menerima uang lamaran dari desa sebelah dan akan menjualku ke keluarga mereka, untuk dinikahkan dengan anak lelaki bodoh berusia 40 tahun. Katanya aku akan hidup enak.

Ayah dan Ibu menemukanku tepat pada saat itu.

Mereka membawaku yang baru saja berhasil kabur pulang ke rumah, mengatakan aku adalah anak perempuan mereka yang hilang, dan mulai sekarang tidak akan membiarkanku ditindas siapa pun lagi.

Namun setelah tiba di rumah, aku baru tahu Ayah dan Ibu masih punya satu anak perempuan lain, namanya Kirana. Dia cantik, manis, dan sangat pengertian. Dia adalah harta paling disayang di hati Ayah dan Ibu.

Aku tidak pernah sekolah. Kedua tanganku lebih kasar daripada tangan pembantu dan keberadaanku di rumah itu terasa sangat janggal.

Saat usiaku 21 tahun, kakak tetangga yang diam-diam disukai Kirana, bernama Adrian, diberi obat saat pesta Keluarga Atmaja. Dalam keadaan tidak sadar, dia menerobos masuk ke gudang tempat aku tinggal.

Keesokan harinya, aku diseret turun dari ranjang dengan pakaian berantakan. Kirana menangis tersedu-sedu sambil bersandar di pelukan Adrian. Tatapan Ayah dan Ibu ke arahku penuh kebencian, seolah ingin membunuhku.

Baru saat itu aku benar-benar mengerti. Ternyata aku hanya berpindah tempat untuk tetap menjadi ilalang. Air mata jatuh satu per satu, tetapi aku tidak lagi merasa pahit. Karena aku akan mati.

Anakku yang tergeletak di dekat kakiku bergerak sedikit, lalu tanpa sadar memanggil, "Mama."

Napas seketika terhenti. Aku tersenyum pahit, lalu menatap penculik yang sedang merekam video.

"Beri aku kesempatan kedua."

Telepon kedua, aku menelepon Ibu. Dia adalah dermawan terkenal di kalangan elite. Namanya hampir selalu mendominasi berita. Dalam setahun, uang donasi yang dia keluarkan bisa menggemparkan ibu kota.

Aku pernah melihat wawancaranya di panti asuhan.

Hanya karena melihat sebuah lukisan anak kecil, wanita bangsawan berpakaian mewah itu langsung menitikkan air mata.

Dengan mata memerah, dia berkata bersedia mengeluarkan 10 miliar untuk mengadakan pameran lukisan bagi anak-anak itu, dan kelak saat mereka dewasa, dia bahkan akan menyekolahkan mereka ke luar negeri.

Padahal, Nara tidak butuh sebanyak itu. Anakku hanya butuh seseorang yang mau menjemputnya, membawanya pergi, dan membiarkannya hidup. Itu saja sudah cukup.

Telepon kali ini tersambung lebih cepat dari sebelumnya.

Aku tidak berani menunda. Aku segera bicara, "Ibu, aku diculik. Dia mau bunuh aku. Bisa nggak Ibu bantu lapor polisi, atau sekarang datang dan bawa Nara pulang?"

Di seberang sana, sempat hening sejenak. Lalu terdengar tawa keras.

Adik angkatku, si putri palsu Kirana, merebut ponsel itu. Dia tertawa terbahak-bahak dengan puas.

"Kakak, kalau mau bohong, tolong pintar sedikit. Dengan tampang miskin sepertimu, disuruh gratis saja aku sudah jijik. Diculik? Hahahahaha. Mau mati ketawa aku."

"Ibu, benar, 'kan?"

Ibu menyentuh rambut Kirana yang terawat sempurna dengan penuh kasih. Senyumnya anggun dan bermartabat. "Iya, semua yang Kirana bilang benar."

Lalu dia melirik ponsel yang masih tersambung dengan ekspresi jijik. Nada bicaranya dingin dan datar.

"Tutup saja. Jangan hiraukan kakakmu. Sejak di desa dulu, dia sudah dibesarkan dengan cara yang salah. Ilalang tetaplah ilalang. Dari namanya saja sudah nggak pantas dibawa ke mana-mana."

Kata-kata dingin itu menembus telingaku. Bibirku bergerak sedikit, rasa amis darah memenuhi seluruh rongga mulutku.

Aku ingin bilang aku tidak berbohong. Aku ingin bilang aku tidak dibesarkan dengan cara yang salah. Aku ingin mengingatkannya, namaku bukan Ilalang. Namaku Ratna Atmaja. Dia sendiri yang memberikanku nama itu. Ratna, harta paling berharga milik Keluarga Atmaja.

Kirana tidak langsung memutus telepon. Dengan alasan ingin berbicara denganku sebentar lagi, dia membawa ponsel ke balkon.

"Ratna, dengar jelas ya. Ayah dan Ibu nggak punya waktu untukmu. Jangan lagi berpura-pura menyedihkan demi menarik perhatian mereka. Hari ini ulang tahunku. Di hati dan di mata mereka, hanya ada aku seorang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 11

    Kirana tetap duduk diam, tanpa reaksi sedikit pun. Ibu akhirnya terjatuh dan menangis keras. "Dia itu kakakmu. Dia selalu mengalah untukmu, menyerahkan segalanya padamu. Kenapa kamu tega melakukan ini?"Adrian juga meluapkan amarahnya. "Kirana, Ratna dan Nara juga keluargamu. Apa kamu bisa tidur nyenyak setiap malam?"Sejak dibawa pulang, kondisi mental Nara memang sangat buruk. Setiap malam dia terbangun sambil menangis memanggil Mama. Adrian kelelahan mengurusnya, tapi yang lebih kuat adalah rasa sakit di hatinya, meski selama ini dia memang jarang benar-benar peduli.Kirana perlahan menoleh ke arah Ayah, Ibu, dan Adrian. Tiba-tiba dia terkekeh. "Yang membunuh dia itu kalian, bukan aku.""Kalian masih berani berpura-pura nggak bersalah? Sejak awal kalian tahu aku nggak suka Ratna. Kalian juga tahu aku sengaja menindas dia. Tapi kalian semua memilih pura-pura buta, bukan?"Senyum tipis menggantung di sudut bibir Kirana, tetapi sorot matanya dipenuhi kebengisan."Sejak anak kandung kal

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 10

    Ayah dan Ibu saling menatap dengan mata terbelalak. Di mata masing-masing, terpancar keterkejutan yang sulit dipercaya.Keesokan paginya, Kirana keluar rumah membawa banyak tas belanja.Ibu langsung mengenali tas tangan kulit domba klasik itu. Salah satu hadiah ulang tahun yang dia persiapkan dengan susah payah untuk Kirana.Ayah dan Ibu mengikuti Kirana dari kejauhan, melihat dia masuk ke sebuah toko barang bekas, lalu keluar beberapa saat kemudian dengan tangan kosong.Setelah itu, Kirana mendatangi beberapa bank dan melakukan banyak kali transfer. Saat Ayah melihat total nominal yang tertera di layar ponsel, dia tertegun sesaat."Enam puluh miliar. Dari mana Kirana punya uang sebanyak ini? Dia mau pakai uang sebanyak itu untuk apa?"Wajah Ibu penuh kekhawatiran."Mengingat telepon tadi malam, jangan-jangan dia sedang diancam?"Ayah terdiam sejenak, lalu mengangkat ponsel dan menelpon seseorang."Bawa beberapa orang ke sini."Mungkin karena Kirana terlalu panik dan ingin segera menyi

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 9

    Ibu gemetar saat membuka pintu. Beberapa kali jarinya salah menekan kode.Klik.Pintu akhirnya terbuka.Warna merah yang menyilaukan langsung menghantam pandangannya. Tubuh Ibu bergetar hebat, lalu dia terjatuh ke lantai.Ayah melihat kondisi Ibu dengan bingung dan mendorong pintu masuk. Namun di detik berikutnya, wajahnya mendadak pucat, seluruh tubuhnya ikut gemetar.Adrian melihat reaksi Ayah dan Ibu. Rasa tidak tenang di hatinya makin membesar. Dia mendorong pintu. Pemandangan di dalam rumah sepenuhnya terpampang di hadapan mereka.Merah. Semuanya merah.Di lantai, di dinding, bahkan di langit-langit, penuh bekas darah yang memercik. Adrian menoleh ke sekeliling, lalu pandangannya berhenti di sudut ruangan.Pria itu begitu terkejut sampai lupa bernapas. Dia mundur beberapa langkah berturut-turut, hingga punggungnya menempel ke dinding barulah dia tersadar.Aku tergeletak di sana sambil menatap ke arah pintu. Mataku seakan menatap satu per satu orang yang masuk.....Saat polisi mas

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 8

    "Kami menanyainya cukup lama, tapi tetap nggak tahu apa yang terjadi. Jadi kami bawa dia ke sini dulu."Ayah dan Ibu tampak tidak percaya. Bahkan Adrian yang biasanya selalu tenang pun terlihat tercengang. "Nara? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana ibumu?""Luka-luka ini dari mana? Kenapa dia meninggalkanmu di sini? Dia sekarang di mana?"Nara butuh waktu lama sampai akhirnya sedikit tenang. Dia menatap mereka semua dengan pandangan kosong. Mendengar pertanyaan Adrian, amarah Ayah justru makin menjadi."Ratna bersembunyi di mana lagi sekarang? Bahkan binatang buas pun nggak tega menyakiti anaknya sendiri. Dia tega memperlakukan anak seperti ini!""Kalau tahu sifatnya sejahat ini, dulu seharusnya dia nggak usah dibawa pulang! Dulu Kirana, sekarang Nara. Apa dia baru puas kalau rumah ini benar-benar hancur?!"Ibu menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, suaranya dibuat selembut mungkin. "Nara yang baik, bilang ke Nenek, Mama kamu pergi ke mana? Kalau memang dia yang menelantarkanm

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 7

    Ponselku sudah lama dihancurkan oleh penculik. Mana mungkin dia bisa menghubungiku.Ayah dan Ibu saling berpandangan. Rasa tidak tenang yang tadi sempat ditekan kembali muncul. Mereka tahu, aku tidak pernah menolak telepon dari siapa pun di keluarga ini. Bahkan kalau mereka menelepon hanya untuk memarahiku demi Kirana, aku tetap akan mengangkatnya seketika dan mendengarkan dengan patuh.Namun, sekarang ....Keduanya refleks mencari ponsel. Kirana tidak senang dan melepaskan kaitan lengannya. "Ayah, Ibu, kalau Kak Adrian bisa tertipu, ya sudah. Masa kalian juga lupa semua kelakuan Kakak dulu? Dia sengaja bikin kalian khawatir supaya kalian peduli sama dia."Wajah Ayah tampak ragu. Ibu terlihat mulai goyah."Kirana sayang, Ibu cuma mau memastikan dia aman. Ibu nggak akan pergi menemaninya ...."Saat berbicara, pandangannya tertuju ke ponsel yang layarnya hancur terinjak di kejauhan. Dia tiba-tiba teringat panggilan terakhir yang tidak sempat dia angkat. Wajahnya seketika pucat.Adrian ya

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 6

    Pesan itu terkirim. Aku menatap anakku dan tersenyum padanya, lalu tiba-tiba menerjang penculik itu dan menekannya keras ke lantai."Nara, lari! Lari, Nara!""Ratna, kamu berani menipuku!"Srett ....Belati itu menusuk perut bagian bawahku, keluar masuk berkali-kali.Aneh, aku seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Aku hanya memeluk penculik itu sekuat tenaga."Nara, lari!"Seolah langsung mengerti, anakku menggigit bibirnya dan berlari ke luar. Kaki kecilnya yang tak beralas meninggalkan jejak-jejak kecil berlumur darah di lantai.Penculik itu murka. Dia mendorongku keras dan hendak mengejar, tapi aku kembali memeluk betisnya dengan sisa tenaga. Dia tertawa marah, lalu berbalik dan menendang lukaku berkali-kali. Darah menyembur deras dari perutku.Dia tidak tahu, saat seseorang benar-benar akan mati, rasa sakit itu justru menghilang. Menjelang kesadaranku benar-benar lenyap, kata-kata orang pincang itu kembali terngiang, "Ratna, terima saja nasibmu. Ini memang takdirmu."Dia salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status