LOGINSejak sudah bisa mengingat sesuatu, aku tahu kalau ibuku membenciku. Saat aku berusia tiga tahun, dia memberiku obat tidur. Di usia lima tahun, dia menyuruhku minum racun serangga. Tetapi aku tidak mudah mati. Dan ketika berusia tujuh tahun, aku belajar melawannya tanpa ada yang mengajariku. Kalau dia tidak memberiku makan, aku akan membalikkan meja makan agar semuanya juga tidak bisa makan. Kalau dia memukuliku dengan tongkat hingga terguling di lantai, aku akan memukuli anak laki-laki yang paling dia sayangi hingga wajahnya lebam. Aku sangat keras kepala dan terus melawan hingga usia dua belas tahun. Sampai ketika adik perempuanku yang paling kecil lahir. Dengan gerakan tangan yang canggung, aku mencoba mengganti celana anak kecil yang basah itu. Ibu langsung membantingku ke dinding dengan keras. Dia menatapku dengan jijik dan ketakutan. “Apa yang mau kamu lakukan pada anak perempuanku?” “Dasar anak tukang pemerkosa! Kenapa kamu tidak mati bersamanya saja?!” Saat itu juga, aku akhirnya mengerti mengapa dia tidak pernah mencintaiku. Aku menutup kepalaku yang berdarah dan untuk pertama kalinya tidak melawan saat dipukuli. Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa apa yang dia katakan itu benar. Keberadaanku adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya mati.
View MoreChapter 1
Understanding Isabella
Seventeen.
17 years of life.
17 years of waiting.
Waiting for this boring life to have... well
life.
Everyday it’s just the same damn thing. Wake-up, school, sleep. I have been doing this school thing for most of my life and I can’t say it's fun. I have but only two friends. Who are amazing! Let’s just say I’m not that popular. I’m more on the nerdy side—well if dumb nerds exist.
I’ve been lying in bed for over an hour now and school starts in 2 hours.
7:45 am every day.
Which means I have two hours of exercise and coding. I’m not some workout maniac or anything, but I much prefer to be able to throw a punch if needed. And as for the coding, I work under an alias for gangs around the country. When I say gangs, I’m talking about small mafias, gangs, larger groups of law breakers and anyone that pays good.
No one knows my real name- to them I’m Sphinx.
Weird? I know, but I’ve always loved ancient Egypt, so I thought why not. My friends and family are not aware of my dealings with gangs. They’re under the impression that I sell malware and software support apps to small companies.
They seem some of the money, and by them, I mean my family – family. Strange things aren’t they, generally fucked up to say the least. But sometimes they put on facades. Like mine for instance, I live with my mother, father, and my little sister.
Cute right? ... yeah no.
I have two older brothers, and when I say older, I mean I’m 17 turning 18 soon and they’re in their early thirties. My father was married before, so technically my brothers are only half, but I prefer not to say that he met my mother after; so, their age gap is hefty.
My mom is fourteen years younger than my father.
I remember being about 15 and wanting my older brothers to live with us and to fight and act like siblings do, I remember wanting a grandma who bakes chocolate chip cookies and I can share my secrets with...
But no, I got stuck with brothers who don’t speak to me,
Why?
I wouldn’t know. And a grandma who is too busy playing housewife and pretending she’s still a newlywed wife with a dead-beat son and her ex-fiancé. Yes, I said ex, they are still in contact for reasons which are very unclear.
It’s been an hour since I woke up and now, I’m exhausted, and I haven’t even been to school yet! I’ve been punching and kicking that damn punching bag. Which is in a medium sized room I built on top of my garage, it's stable and strong enough to be a small apartment, it's where I code and workout. Like I did this morning and now I’m sweaty as fu-
Sorry for my French I meant fudgenuggets.
6:45 am
Ugh... I still must shower and catch a bus to school. Our bathroom, which is shared between everyone in the house, isn’t that big. It’s only a shower - which is separate from the bath – a toilet and a small basin. Although there are large mirrors on either side of the bathroom.
Stepping into the hot shower I feel all my tense muscles relax. Personally, I don’t mind hot showers, but cold showers relax me more physically and mentally. With that I turn off the hot tap and allow ice like water to bite at my skin. The feeling unnerving yet somewhat relaxing.
Getting out of the shower I walk to my room, in a towel. My mother wakes up at around 7:00 and my father when I leave the house, so I’m still basically alone. I still have just under an hour to get to school, considering I took a quick 5-minute shower.
Getting dressed in the morning has never been a hassle for me. I practically wear the same thing every day. Combat boots, jeans and a hoodie or cropped hoodie when I’m feeling spontaneous.
Which happens once a year... yay me and my tons of self-confidence!
Can you hear that sarcasm? Yeah definitely sarcasm...
To give you a visual of what I see in the mirror... um
I’ve got dark brown hair that rests on my waist when straight and mid back when curly. My equally dark brown eyes matching my hair with a dark sky kind of glow when I’m happy. My skin is of a somewhat light caramel. I’m what some call short and other tall with my 5”7 height and slightly slim body I suppose.
After combing out my wet hair and tying a quick pony, I quickly grab my bag and phone before heading out and locking the door behind. The walk to the bus stop is close to ten minutes. Leaving me enough time to try and figure out some new code on my phone since I didn’t take a break from the punching bag this morning.
I heard about this new job that might be coming up since there’s this big heist that’s coming up soon. Nobody really knows other than the gang pulling the heist. They want to steal drugs from another gang to get even for, for what- I’m not sure.
Tsssss
As I arrive at the bus stop, the bus's doors swing open revealing Andy. He’s been driving me to school since I was 14 and feels more like an uncle than any of my actual blood relatives.
“Morning Issa,” he chirps as I climb the steps, he’s always happy it’s amazing.
“Morning Andy, how’s Kelly doing?” I smile sympathetically.
Kelly is Andy’s wife, she’s diabetic and she’s always been fine but last week something happened. She fainted; it wasn’t extreme but at the time I’m sure it felt chilling. It sorts of shows you how things can change in a matter of seconds.
“She’s great,” he says as I take my seat in the front- close to the window.
“Doctor said she forgot one of her daily doses that’s all. She came home yesterday actually.” His voice lights up at the end of his sentence.
“I’m happy to hear that, I hope everything gets better,” I say, not really knowing what to say.
One of the best things about Andy is that he gets me, he understands when I want to talk and when I don’t. and currently I’m not really in the mood to chat, he can tell and so he just smiles in the mirror and silence ensues us for the rest of the ride.
Petugas itu tertegun.“Kamu sudah memikirkannya dengan baik? Meski memutar balik waktu, yang tercipta hanya dunia paralel. Itu tidak ada kaitannya dengan dirimu yang sekarang.”“Dan begitu realitas berubah, kamu akan menghilang. Poin yang sudah kamu pakai juga tidak bisa dikembalikan.”Aku mengangguk mantap.Di detik berikutnya pandanganku berkunang-kunang, lalu aku muncul di depan sebuah ladang jagung.“Pergi! Tolong! Aku mohon, aku akan memberikanmu uang! Lepaskan aku!”Aku terhuyung-huyung menembus batang jagung yang lebih tinggi dariku dan berlari ke arah suara itu.Benar saja, wajah yang sangat kukenal muncul di hadapanku.Dengan amarah membara, aku memukul pria yang membelakangiku itu menggunakan tongkat tulang yang kubawa dari alam baka.Aku tak tahu sudah berapa kali memukulnya, aku hanya merasakan sebuah tangan yang basah oleh keringat menggenggam tanganku dengan gemetar.Napasku terengah-engah, kepalaku mendidih dan pandanganku memerah.Aku menunduk dan beradu pandang dengan
Beberapa hari kemudian di suatu pagi yang gerimis, ibuku datang sendirian ke makamku.Itu hanya sebuah gundukan tanah kecil di desa, terlalu sederhana dan terlihat asal-asalan.Dia berdiri di sana sangat lama.Hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi dia seakan tidak menyadarinya.Akhirnya, dia perlahan berjongkok, mengulurkan tangannya yang gemetar, dan menyentuh nisan yang dingin itu dengan lembut.“Maaf.”“Sebenarnya aku sudah sangat membencimu sejak kamu masih di dalam perutku.”Suaranya sangat pelan, seperti sedang mengungkap rahasia yang telah lama disembunyikan.“Gerakanmu di dalam perut seperti raja iblis kecil. Tendangan demi tendangan membuat dadaku gelisah … waktu itu aku berpikir, kamu adalah anak penagih utang yang datang hanya untuk menyiksaku.”Jarinya berulang-ulang menyusuri nama yang begitu familiar di batu nisan itu.“Setelah tumbuh besar pun kamu tetap nakal dan tidak membuatku tenang. Berkelahi, membuat masalah dan pulang dengan tubuh penuh luka, lalu menatapk
Saat itu ibuku sedang menyuapi adikku yang bodoh itu.Begitu pintu terbuka, Jordan langsung menerobos masuk dan menghantam adikku ke lantai, memukulinya habis-habisan.Pukulannya keras dan brutal, suaranya bergetar menahan tangis.“Semua karena dirimu! Kamu pembawa sial!”“Kalau bukan karenamu, mana mungkin saudaraku mati!”Adikku babak belur dan menangis meraung-raung.Mangkuk di tangan ibuku terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.Dia mencoba menarik Jordan, tetapi Jordan mengibaskan tangannya.Wajah Jordan penuh air mata dan ingus. Dia menatap ibuku dan tiap kata keluar seolah menguras seluruh tenaganya. “Bibi, sejak kecil kami selalu bermain di waduk itu … hari itu, saat dia melangkah ke air ....”“Dia menoleh ke arahku! Dia menoleh ke arahku, Bi! Tatapan itu … tatapan itu ....”Seolah tenggorokannya tersumbat, Jordan terengah-engah lalu akhirnya meledak.“Dia memang berniat mati di sana!”“Sebelumnya dia pernah bertanya padaku, bagaimana caranya seseorang bisa mati tanpa j
Setelah pemakaman, rumah kembali tenang.Aku hanyalah orang yang tak penting. Ada atau tidaknya diriku, hidup tetap berjalan sama.Perbedaannya hanya satu, aku hidup di rumah ini seperti hantu.Aku memperhatikan punggung ibuku yang sibuk dan selalu merasa ada yang berbeda dari dirinya.Tetapi aku tidak tahu persis apa yang berubah.Sampai pada suatu larut malam, ketika semua orang sudah tertidur,Ibuku mendorong pintu dan masuk ke kamarku.Saat itu aku sedang duduk di tepi jendela, memaki takdir dalam diam.Ia memberiku asal-usul yang tercela, dan bahkan setelah mati pun aku tak diberi ketenangan.Ibuku masuk begitu saja.Dia tidak menyalakan lampu, berjalan perlahan ke sisi ranjang dan mengusap seprai yang rapi, lalu duduk di sana.Dia hanya duduk, membelakangiku, seperti patung yang membeku.Aku tak kuasa meliriknya dan bersembunyi di dalam bayangan.Dia tidak menangis.Bahkan lingkar matanya pun tidak memerah.Aku melirik lagi.Dia tetap seperti itu, tak bergerak, dan hanya gerakan
Air terciprat ke segala arah. Lengan kurusnya beberapa kali mengibas dengan panik, lalu tubuhnya tenggelam. Yang tersisa hanya rangkaian gelembung …Otakku bahkan belum sempat berpikir.Tubuhku sudah lebih dulu bereaksi.Aku berlari dan melompat masuk.Air waduk yang dingin langsung menyelimuti tubu
Saat paru-paruku terasa seperti terbakar, tiba-tiba ada tenaga kuat yang menarik ibu menjauhiku.Suara nenek terdengar serak dan bergetar, “Kamu sudah gila?!”“Demi dirinya, kamu mau mengorbankan hidupmu sekali lagi? Itu tidak sepadan! Sekali saja sudah cukup …”Ibuku terkulai lemas di pelukan nenek
Begitu pikiran untuk mati itu muncul, anehnya langkah kakiku malah terasa ringan.Aku bahkan mulai memikirkan cara mati seperti apa yang tidak merepotkan orang lain dan tidak meninggalkan jejak.Tetapi rencana itu gagal di tengah jalan. Aku ditangkap polisi yang sedang patroli dan diantar pulang.Ib
Hari sudah gelap saat aku terpincang-pincang sampai di rumah nenek.Melihat tubuhku yang penuh darah dan kotor, nenek sama sekali tidak terkejut.Seolah sudah terbiasa, dia mengambil kotak obat kecilnya untuk mengobatiku, lalu membuatkan semangkuk mi sayur.Biasanya, aku akan memakan mi itu dengan p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews