Short
Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku

Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku

By:  GoldCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sejak sudah bisa mengingat sesuatu, aku tahu kalau ibuku membenciku. Saat aku berusia tiga tahun, dia memberiku obat tidur. Di usia lima tahun, dia menyuruhku minum racun serangga. Tetapi aku tidak mudah mati. Dan ketika berusia tujuh tahun, aku belajar melawannya tanpa ada yang mengajariku. Kalau dia tidak memberiku makan, aku akan membalikkan meja makan agar semuanya juga tidak bisa makan. Kalau dia memukuliku dengan tongkat hingga terguling di lantai, aku akan memukuli anak laki-laki yang paling dia sayangi hingga wajahnya lebam. Aku sangat keras kepala dan terus melawan hingga usia dua belas tahun. Sampai ketika adik perempuanku yang paling kecil lahir. Dengan gerakan tangan yang canggung, aku mencoba mengganti celana anak kecil yang basah itu. Ibu langsung membantingku ke dinding dengan keras. Dia menatapku dengan jijik dan ketakutan. “Apa yang mau kamu lakukan pada anak perempuanku?” “Dasar anak tukang pemerkosa! Kenapa kamu tidak mati bersamanya saja?!” Saat itu juga, aku akhirnya mengerti mengapa dia tidak pernah mencintaiku. Aku menutup kepalaku yang berdarah dan untuk pertama kalinya tidak melawan saat dipukuli. Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa apa yang dia katakan itu benar. Keberadaanku adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya mati.

View More

Chapter 1

Bab 1

Hari sudah gelap saat aku terpincang-pincang sampai di rumah nenek.

Melihat tubuhku yang penuh darah dan kotor, nenek sama sekali tidak terkejut.

Seolah sudah terbiasa, dia mengambil kotak obat kecilnya untuk mengobatiku, lalu membuatkan semangkuk mi sayur.

Biasanya, aku akan memakan mi itu dengan penuh amarah sambil berteriak bahwa besok aku akan membalas mereka.

Tetapi kali ini, aku hanya menatap kuah mi yang bening itu dan bertanya pelan, “Nek … aku bukan anak ayahku, kan?”

Nenek tidak menjawab. Tetapi sorot matanya yang mendadak penuh penolakan dan jijik sudah menjawab semuanya.

Dia langsung berdiri dan berulang kali mengelap meja tempat kotak obat tadi diletakkan dengan sehelai kain lap tua.

Saat itu aku mengerti. Darah di tubuhku ini kotor.

Aku adalah anak seorang pemerkosa.

Pantas saja ibuku membenciku.

Rasa mual yang asing naik ke tenggorokanku. Aku berlari keluar, bersandar pada pagar kecil di halaman dan terus-menerus muntah.

Angin malam berhembus, dan luka di wajahku terasa sangat perih.

Dulu saat ibu memukuliku, aku merasa luka-luka ini adalah sebuah hutang. Cepat atau lambat pasti akan kutagih kembali.

Sekarang, rasanya aku bahkan tidak punya keberanian untuk menatapnya.

Aku tidak kembali ke rumah nenek. Dan tentu saja, nenek juga tidak keluar mencariku.

Aku terpincang-pincang menyusuri jalan dan berkeliaran tanpa tahu harus ke mana.

Sampai ketika aku melihat sebuah restoran. Di dalam sana, ada satu keluarga sedang berkumpul merayakan ulang tahun dengan hangat.

Yang di tengah kerumunan itu pasti adalah sang ibu. Senyum bahagianya membuatku tanpa sadar mundur selangkah.

Tahun lalu saat ulang tahun ibuku, sebelum dia melihatku wajahnya juga tersenyum seperti itu.

Tetapi begitu dia melihatku masuk, senyum itu langsung berubah menjadi tatapan jijik.

Seingatku, dulu ada tugas mengarang dengan judul Ibuku.

Di dalam karanganku, aku menggambarkan ibu sebagai sosok iblis yang kejam.

Guru bahasa memanggilku ke ruangannya dan memarahiku sepanjang satu jam pelajaran.

Aku tidak ingat apa saja yang dia katakan. Aku hanya ingat satu kalimatnya.

Dia bilang, di dunia ini tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya.

Aku pun percaya.

Aku membeli sebuah kue ulang tahun untuk ibu dengan uang hasil menjual barang bekas yang kukumpulkan sedikit demi sedikit.

Aku hanya ingin dipeluk, seperti dia memeluk adikku.

Tetapi tatapan dinginnya menusukku lagi, aku yang membawa kue itu terlihat seperti orang bodoh.

Kepalaku langsung dipenuhi amarah. Saat mereka lengah, aku menangkap beberapa kodok di halaman dan memasukkannya ke dalam kue.

Aku masih ingat teriakan ibuku ketika kodok-kodok itu melompat keluar.

Saat itu, muncul kepuasan yang aneh di dalam hatiku. Aku merasa dia tidak pantas menjadi seorang ibu.

Dia pantas mendapatkannya.

Tetapi sekarang, aku mengerti.

Yang tidak pantas itu aku.

Keberadaanku sendiri adalah luka baginya.

Aku menatap senyum ibu di restoran itu, dan membuat sebuah keputusan di dalam hatiku.

Di ulang tahun ibu tahun ini, aku akan memberikan hadiah yang pasti disukainya.

Hadiah yang bisa membuatnya bebas sepenuhnya.

Aku memutuskan untuk mati.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status