Mag-log inSejak sudah bisa mengingat sesuatu, aku tahu kalau ibuku membenciku. Saat aku berusia tiga tahun, dia memberiku obat tidur. Di usia lima tahun, dia menyuruhku minum racun serangga. Tetapi aku tidak mudah mati. Dan ketika berusia tujuh tahun, aku belajar melawannya tanpa ada yang mengajariku. Kalau dia tidak memberiku makan, aku akan membalikkan meja makan agar semuanya juga tidak bisa makan. Kalau dia memukuliku dengan tongkat hingga terguling di lantai, aku akan memukuli anak laki-laki yang paling dia sayangi hingga wajahnya lebam. Aku sangat keras kepala dan terus melawan hingga usia dua belas tahun. Sampai ketika adik perempuanku yang paling kecil lahir. Dengan gerakan tangan yang canggung, aku mencoba mengganti celana anak kecil yang basah itu. Ibu langsung membantingku ke dinding dengan keras. Dia menatapku dengan jijik dan ketakutan. “Apa yang mau kamu lakukan pada anak perempuanku?” “Dasar anak tukang pemerkosa! Kenapa kamu tidak mati bersamanya saja?!” Saat itu juga, aku akhirnya mengerti mengapa dia tidak pernah mencintaiku. Aku menutup kepalaku yang berdarah dan untuk pertama kalinya tidak melawan saat dipukuli. Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa apa yang dia katakan itu benar. Keberadaanku adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya mati.
view moreBeing knocked off of his feet and thrown into the fiery pits of hell, is not what Andre Kim expected to happen this hockey season.
Show up, slay the ice, take home a championship, have recruiter eyes on him next year as he graduates... It's perfect. A seamless plan even, except it’s all up in flames when his eyes land on the most gorgeous man he’s ever seen in his life. Andre isn’t naive, he is well aware that there are countless beautiful people in the world. But ones that have black curls and big round glasses and … and is that a fucking belly button ring? Jesus. Andre chokes on a breath, trying not to get caught staring. He doesn’t know who that guyis but he wants to. He really really wants to. Like he’s already mapping out the quickest way to get off the ice when the game is over and find him but then a voice calls out, “Daniel’s, that your boyfriend over there? Why is he wearing Kim’s number instead of yours?” Huh? Andre follows Daniel’s curses and laughs over towards that same spot in the stands where he was just staring. Only to find that pretty little thing behind the glass, spinningaround and showing off his number with a cheeky little smile on his face. Of fucking course. Andre ’s co-captain Daniel, scoffs and laughs maniacally, explaining that the guy… “Dylan…lost a bet and clearly decided to be a brat–riling up his boyfriend by wearing another guys number.” But damn did he have to rile up Andre too? because now he has to sit in the locker room and hear the guys give Daniel shit about his nerdy boyfriend being a total fucking smoke show and Andre . just wants to die because damn Dylan walked right out of his dreams. Genuinely, seriously, if Andre looked inside his mind to visualize the type of person he could stare at everyday for the rest of his life and never get bored? It’s that . Him. All gorgeous and adorable and his eyes were like little galaxies sparkling through the glass. Oh and of course, he’s already someone else’s. As if he isn’t already having a miserable fucking day, when Andre gets home it’s to a completely flooded the dorm. Pipes burst in the ceiling and left his place a disaster. Thankfully he just crashes the night with Daniel. The next day when he’s reassigned and Andre moves dorms, he wasn’t expecting to find Dylan there. He figured it’d be another athlete. Considering they usually do their best to pair students accordingly. He guesses a last minute dorm change in the beginning of the semester doesn’t leave many options. But of all the options, did they have to pull the straw that’s going to fuck him over entirely. Andre was willing and prepared for whatever this new dorm trew at him. Except, for it being that gorgeous boy with those thick round glasses and his long hair tossed up in a messy ponytail behind his head. Dylan of all people. Hunched over his bed with notebooks and highlighters everywhere while the discovery channel is playing on the tv as background noise. How is this the same person with the little silver belly button ring that Andre hasn’t gotten out of his mind and washboard abs it decorates? Fucking , fuckk!Petugas itu tertegun.“Kamu sudah memikirkannya dengan baik? Meski memutar balik waktu, yang tercipta hanya dunia paralel. Itu tidak ada kaitannya dengan dirimu yang sekarang.”“Dan begitu realitas berubah, kamu akan menghilang. Poin yang sudah kamu pakai juga tidak bisa dikembalikan.”Aku mengangguk mantap.Di detik berikutnya pandanganku berkunang-kunang, lalu aku muncul di depan sebuah ladang jagung.“Pergi! Tolong! Aku mohon, aku akan memberikanmu uang! Lepaskan aku!”Aku terhuyung-huyung menembus batang jagung yang lebih tinggi dariku dan berlari ke arah suara itu.Benar saja, wajah yang sangat kukenal muncul di hadapanku.Dengan amarah membara, aku memukul pria yang membelakangiku itu menggunakan tongkat tulang yang kubawa dari alam baka.Aku tak tahu sudah berapa kali memukulnya, aku hanya merasakan sebuah tangan yang basah oleh keringat menggenggam tanganku dengan gemetar.Napasku terengah-engah, kepalaku mendidih dan pandanganku memerah.Aku menunduk dan beradu pandang dengan
Beberapa hari kemudian di suatu pagi yang gerimis, ibuku datang sendirian ke makamku.Itu hanya sebuah gundukan tanah kecil di desa, terlalu sederhana dan terlihat asal-asalan.Dia berdiri di sana sangat lama.Hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi dia seakan tidak menyadarinya.Akhirnya, dia perlahan berjongkok, mengulurkan tangannya yang gemetar, dan menyentuh nisan yang dingin itu dengan lembut.“Maaf.”“Sebenarnya aku sudah sangat membencimu sejak kamu masih di dalam perutku.”Suaranya sangat pelan, seperti sedang mengungkap rahasia yang telah lama disembunyikan.“Gerakanmu di dalam perut seperti raja iblis kecil. Tendangan demi tendangan membuat dadaku gelisah … waktu itu aku berpikir, kamu adalah anak penagih utang yang datang hanya untuk menyiksaku.”Jarinya berulang-ulang menyusuri nama yang begitu familiar di batu nisan itu.“Setelah tumbuh besar pun kamu tetap nakal dan tidak membuatku tenang. Berkelahi, membuat masalah dan pulang dengan tubuh penuh luka, lalu menatapk
Saat itu ibuku sedang menyuapi adikku yang bodoh itu.Begitu pintu terbuka, Jordan langsung menerobos masuk dan menghantam adikku ke lantai, memukulinya habis-habisan.Pukulannya keras dan brutal, suaranya bergetar menahan tangis.“Semua karena dirimu! Kamu pembawa sial!”“Kalau bukan karenamu, mana mungkin saudaraku mati!”Adikku babak belur dan menangis meraung-raung.Mangkuk di tangan ibuku terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.Dia mencoba menarik Jordan, tetapi Jordan mengibaskan tangannya.Wajah Jordan penuh air mata dan ingus. Dia menatap ibuku dan tiap kata keluar seolah menguras seluruh tenaganya. “Bibi, sejak kecil kami selalu bermain di waduk itu … hari itu, saat dia melangkah ke air ....”“Dia menoleh ke arahku! Dia menoleh ke arahku, Bi! Tatapan itu … tatapan itu ....”Seolah tenggorokannya tersumbat, Jordan terengah-engah lalu akhirnya meledak.“Dia memang berniat mati di sana!”“Sebelumnya dia pernah bertanya padaku, bagaimana caranya seseorang bisa mati tanpa j
Setelah pemakaman, rumah kembali tenang.Aku hanyalah orang yang tak penting. Ada atau tidaknya diriku, hidup tetap berjalan sama.Perbedaannya hanya satu, aku hidup di rumah ini seperti hantu.Aku memperhatikan punggung ibuku yang sibuk dan selalu merasa ada yang berbeda dari dirinya.Tetapi aku tidak tahu persis apa yang berubah.Sampai pada suatu larut malam, ketika semua orang sudah tertidur,Ibuku mendorong pintu dan masuk ke kamarku.Saat itu aku sedang duduk di tepi jendela, memaki takdir dalam diam.Ia memberiku asal-usul yang tercela, dan bahkan setelah mati pun aku tak diberi ketenangan.Ibuku masuk begitu saja.Dia tidak menyalakan lampu, berjalan perlahan ke sisi ranjang dan mengusap seprai yang rapi, lalu duduk di sana.Dia hanya duduk, membelakangiku, seperti patung yang membeku.Aku tak kuasa meliriknya dan bersembunyi di dalam bayangan.Dia tidak menangis.Bahkan lingkar matanya pun tidak memerah.Aku melirik lagi.Dia tetap seperti itu, tak bergerak, dan hanya gerakan
Air terciprat ke segala arah. Lengan kurusnya beberapa kali mengibas dengan panik, lalu tubuhnya tenggelam. Yang tersisa hanya rangkaian gelembung …Otakku bahkan belum sempat berpikir.Tubuhku sudah lebih dulu bereaksi.Aku berlari dan melompat masuk.Air waduk yang dingin langsung menyelimuti tubu
Saat paru-paruku terasa seperti terbakar, tiba-tiba ada tenaga kuat yang menarik ibu menjauhiku.Suara nenek terdengar serak dan bergetar, “Kamu sudah gila?!”“Demi dirinya, kamu mau mengorbankan hidupmu sekali lagi? Itu tidak sepadan! Sekali saja sudah cukup …”Ibuku terkulai lemas di pelukan nenek
Begitu pikiran untuk mati itu muncul, anehnya langkah kakiku malah terasa ringan.Aku bahkan mulai memikirkan cara mati seperti apa yang tidak merepotkan orang lain dan tidak meninggalkan jejak.Tetapi rencana itu gagal di tengah jalan. Aku ditangkap polisi yang sedang patroli dan diantar pulang.Ib
Hari sudah gelap saat aku terpincang-pincang sampai di rumah nenek.Melihat tubuhku yang penuh darah dan kotor, nenek sama sekali tidak terkejut.Seolah sudah terbiasa, dia mengambil kotak obat kecilnya untuk mengobatiku, lalu membuatkan semangkuk mi sayur.Biasanya, aku akan memakan mi itu dengan p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu