Share

Bab 3

Author: Sansan
"Lalu Kak Adrian juga. Dia bahkan sengaja menunda proyek luar negeri dan terbang pulang khusus untuk menemaniku."

"Gimana? Menyerah sekarang?" Nada bicaranya santai, menyiratkan kesombongan khas seorang pemenang. Namun, aku sudah tidak bisa memedulikannya, karena Nara terbangun. Dia membuka mata, lalu merayap dengan hati-hati ke sisiku. Matanya yang besar dipenuhi air mata karena ketakutan.

"Mama, Nara sakit ...."

Jantungku langsung mencelos. Dengan hati remuk, aku hendak memeluknya. Namun di detik berikutnya, penculik itu mencengkeram kakinya dan menyeretnya pergi dengan paksa.

Sambil berjalan, dia memberi isyarat diam ke arahku, menyuruhku melanjutkan permainan ini.

Rasa darah di mulutku semakin pekat.

Entah dari mana datangnya tenaga itu, aku menyeret kursi dan terjatuh ke lantai. Aku bahkan tak sempat merasakan sakit. Dengan suara serak, aku bicara pada Kirana. Pada orang yang mencuri seluruh hidupku, aku memohon dengan serendah-rendahnya.

"Kirana, aku salah. Maaf. Aku nggak seharusnya dibawa pulang oleh Ayah dan Ibu. Aku nggak seharusnya bersaing denganmu."

"Tapi aku nggak berbohong. Aku benar-benar diculik. Aku mohon, tolong bujuk Ayah dan Ibu agar datang sekali saja, bawa anakku pulang."

Aku berteriak sampai suaraku hampir habis. Kirana malah tertawa pelan menikmati permohonanku dan berkata dengan nada iseng, "Boleh saja. Tapi kamu sujud dulu sama aku. Sembilan puluh sembilan kali. Kalau sudah, aku akan mengabulkan permintaanmu."

Tanpa sempat berpikir, aku bangkit dari lantai. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, aku mengangkat kepala dan membenturkannya keras ke tanah.

Benturan pertama, aku teringat pertemuan pertamaku dengan Kirana. Dia mengenakan gaun putri yang belum pernah kulihat seumur hidupku, berdiri di tangga dan menatapku dari atas dengan angkuh.

"Papa, Mama, kalian pungut dia dari tempat sampah ya? Jijik sekali."

Ayah dan Ibu tersenyum canggung. Sambil menegurnya agar tidak asal bicara, mereka memindahkan kamarku dari kamar tidur lantai dua ke gudang di belakang taman.

Benturan kelima, aku teringat saat usiaku 16 tahun. Satu-satunya ulang tahun yang pernah dirayakan Ayah dan Ibu untukku.

Di depan banyak orang, Kirana pura-pura terpeleset. Dari tubuhnya jatuh setumpuk foto vulgar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wajahnya tampak panik. "Maaf, Kak. Aku sebenarnya ingin bantu kamu menyembunyikannya."

Ayah dan Ibu memungut foto-foto itu. Masing-masing menamparku satu kali, lalu melontarkan kata-kata sinis.

"Perempuan murahan."

Lalu ada benturan ke-45, ke-78, dan seterusnya.

Air mata bercampur darah menetes di lantai hingga membentuk genangan kecil. Aku membuka mata lebar-lebar, menghitung jumlah benturan satu per satu seperti mesin. Aku sendiri tidak tahu, apakah aku sedang bersujud, atau sedang menghancurkan harga diriku dengan tanganku sendiri.

Pada benturan ke-99, cahaya di mataku benar-benar padam. Dari tenggorokanku keluar satu kalimat lirih, "Kirana, aku menyerah."

Di seberang telepon, Kirana jelas tertegun. Dia menarik napas tajam, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Serius, Ratna? Aku merebut orang tuamu, merebut rumahmu, mengusirmu sampai kamu harus memungut sampah untuk hidup. Aku sejahat dan sejijik itu, tapi kamu malah bersujud padaku?" ucapnya dengan suara rendah seperti iblis.

"Ratna, kamu benar-benar hina."

Nada sambung terdengar.

Telepon itu diputus.

Aku terbaring di lantai dengan tatapan kosong, seperti sudah mati.

Beberapa saat kemudian, penculik itu mengangkat bahu dengan bosan dan menggenggam pisau, lalu melangkah mendekat. Anakku memeluk kakinya, sambil menangis memanggil Mama.

Dengan susah payah aku bangkit. Dahi berdarahku terpampang jelas. Demi Nara, aku memohon padanya dengan hina.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 11

    Kirana tetap duduk diam, tanpa reaksi sedikit pun. Ibu akhirnya terjatuh dan menangis keras. "Dia itu kakakmu. Dia selalu mengalah untukmu, menyerahkan segalanya padamu. Kenapa kamu tega melakukan ini?"Adrian juga meluapkan amarahnya. "Kirana, Ratna dan Nara juga keluargamu. Apa kamu bisa tidur nyenyak setiap malam?"Sejak dibawa pulang, kondisi mental Nara memang sangat buruk. Setiap malam dia terbangun sambil menangis memanggil Mama. Adrian kelelahan mengurusnya, tapi yang lebih kuat adalah rasa sakit di hatinya, meski selama ini dia memang jarang benar-benar peduli.Kirana perlahan menoleh ke arah Ayah, Ibu, dan Adrian. Tiba-tiba dia terkekeh. "Yang membunuh dia itu kalian, bukan aku.""Kalian masih berani berpura-pura nggak bersalah? Sejak awal kalian tahu aku nggak suka Ratna. Kalian juga tahu aku sengaja menindas dia. Tapi kalian semua memilih pura-pura buta, bukan?"Senyum tipis menggantung di sudut bibir Kirana, tetapi sorot matanya dipenuhi kebengisan."Sejak anak kandung kal

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 10

    Ayah dan Ibu saling menatap dengan mata terbelalak. Di mata masing-masing, terpancar keterkejutan yang sulit dipercaya.Keesokan paginya, Kirana keluar rumah membawa banyak tas belanja.Ibu langsung mengenali tas tangan kulit domba klasik itu. Salah satu hadiah ulang tahun yang dia persiapkan dengan susah payah untuk Kirana.Ayah dan Ibu mengikuti Kirana dari kejauhan, melihat dia masuk ke sebuah toko barang bekas, lalu keluar beberapa saat kemudian dengan tangan kosong.Setelah itu, Kirana mendatangi beberapa bank dan melakukan banyak kali transfer. Saat Ayah melihat total nominal yang tertera di layar ponsel, dia tertegun sesaat."Enam puluh miliar. Dari mana Kirana punya uang sebanyak ini? Dia mau pakai uang sebanyak itu untuk apa?"Wajah Ibu penuh kekhawatiran."Mengingat telepon tadi malam, jangan-jangan dia sedang diancam?"Ayah terdiam sejenak, lalu mengangkat ponsel dan menelpon seseorang."Bawa beberapa orang ke sini."Mungkin karena Kirana terlalu panik dan ingin segera menyi

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 9

    Ibu gemetar saat membuka pintu. Beberapa kali jarinya salah menekan kode.Klik.Pintu akhirnya terbuka.Warna merah yang menyilaukan langsung menghantam pandangannya. Tubuh Ibu bergetar hebat, lalu dia terjatuh ke lantai.Ayah melihat kondisi Ibu dengan bingung dan mendorong pintu masuk. Namun di detik berikutnya, wajahnya mendadak pucat, seluruh tubuhnya ikut gemetar.Adrian melihat reaksi Ayah dan Ibu. Rasa tidak tenang di hatinya makin membesar. Dia mendorong pintu. Pemandangan di dalam rumah sepenuhnya terpampang di hadapan mereka.Merah. Semuanya merah.Di lantai, di dinding, bahkan di langit-langit, penuh bekas darah yang memercik. Adrian menoleh ke sekeliling, lalu pandangannya berhenti di sudut ruangan.Pria itu begitu terkejut sampai lupa bernapas. Dia mundur beberapa langkah berturut-turut, hingga punggungnya menempel ke dinding barulah dia tersadar.Aku tergeletak di sana sambil menatap ke arah pintu. Mataku seakan menatap satu per satu orang yang masuk.....Saat polisi mas

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 8

    "Kami menanyainya cukup lama, tapi tetap nggak tahu apa yang terjadi. Jadi kami bawa dia ke sini dulu."Ayah dan Ibu tampak tidak percaya. Bahkan Adrian yang biasanya selalu tenang pun terlihat tercengang. "Nara? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana ibumu?""Luka-luka ini dari mana? Kenapa dia meninggalkanmu di sini? Dia sekarang di mana?"Nara butuh waktu lama sampai akhirnya sedikit tenang. Dia menatap mereka semua dengan pandangan kosong. Mendengar pertanyaan Adrian, amarah Ayah justru makin menjadi."Ratna bersembunyi di mana lagi sekarang? Bahkan binatang buas pun nggak tega menyakiti anaknya sendiri. Dia tega memperlakukan anak seperti ini!""Kalau tahu sifatnya sejahat ini, dulu seharusnya dia nggak usah dibawa pulang! Dulu Kirana, sekarang Nara. Apa dia baru puas kalau rumah ini benar-benar hancur?!"Ibu menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, suaranya dibuat selembut mungkin. "Nara yang baik, bilang ke Nenek, Mama kamu pergi ke mana? Kalau memang dia yang menelantarkanm

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 7

    Ponselku sudah lama dihancurkan oleh penculik. Mana mungkin dia bisa menghubungiku.Ayah dan Ibu saling berpandangan. Rasa tidak tenang yang tadi sempat ditekan kembali muncul. Mereka tahu, aku tidak pernah menolak telepon dari siapa pun di keluarga ini. Bahkan kalau mereka menelepon hanya untuk memarahiku demi Kirana, aku tetap akan mengangkatnya seketika dan mendengarkan dengan patuh.Namun, sekarang ....Keduanya refleks mencari ponsel. Kirana tidak senang dan melepaskan kaitan lengannya. "Ayah, Ibu, kalau Kak Adrian bisa tertipu, ya sudah. Masa kalian juga lupa semua kelakuan Kakak dulu? Dia sengaja bikin kalian khawatir supaya kalian peduli sama dia."Wajah Ayah tampak ragu. Ibu terlihat mulai goyah."Kirana sayang, Ibu cuma mau memastikan dia aman. Ibu nggak akan pergi menemaninya ...."Saat berbicara, pandangannya tertuju ke ponsel yang layarnya hancur terinjak di kejauhan. Dia tiba-tiba teringat panggilan terakhir yang tidak sempat dia angkat. Wajahnya seketika pucat.Adrian ya

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 6

    Pesan itu terkirim. Aku menatap anakku dan tersenyum padanya, lalu tiba-tiba menerjang penculik itu dan menekannya keras ke lantai."Nara, lari! Lari, Nara!""Ratna, kamu berani menipuku!"Srett ....Belati itu menusuk perut bagian bawahku, keluar masuk berkali-kali.Aneh, aku seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Aku hanya memeluk penculik itu sekuat tenaga."Nara, lari!"Seolah langsung mengerti, anakku menggigit bibirnya dan berlari ke luar. Kaki kecilnya yang tak beralas meninggalkan jejak-jejak kecil berlumur darah di lantai.Penculik itu murka. Dia mendorongku keras dan hendak mengejar, tapi aku kembali memeluk betisnya dengan sisa tenaga. Dia tertawa marah, lalu berbalik dan menendang lukaku berkali-kali. Darah menyembur deras dari perutku.Dia tidak tahu, saat seseorang benar-benar akan mati, rasa sakit itu justru menghilang. Menjelang kesadaranku benar-benar lenyap, kata-kata orang pincang itu kembali terngiang, "Ratna, terima saja nasibmu. Ini memang takdirmu."Dia salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status