Share

Bab 4

Author: Sansan
"Beri aku satu kesempatan lagi. Aku masih punya kesempatan terakhir."

Penculik itu mengangkat alis. "Ayah dan ibumu saja sudah membuangmu. Masih mau menelepon siapa lagi? Terima saja nasibmu."

Saat orang pincang itu mengikatku dan hendak mengirimku ke ranjang orang lain, dia juga berkata begitu. Terima saja nasib. Katanya itulah takdirku.

Aku tidak mau terima. Aku menggigit pria itu, lalu lari ke pintu masuk desa. Tepat di sana, aku bertabrakan dengan Ayah yang sedang mencari anak perempuannya.

Aku berhasil mengubah nasibku sendiri.

Jadi saat ini, meski pergelangan tanganku teriris dalam oleh ikatan hingga luka menganga, meski setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk es, aku seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Aku menatap penculik itu dengan keras kepala.

"Aku mau kesempatan ketiga."

Telepon ketiga, aku menelepon Adrian. Dia adalah ayah dari Nara. Kejadian tak terduga di usia 21 tahun telah mengikat hidup kami berdua dengan paksa. Dia tidak mencintaiku, aku tahu itu. Akan tetapi, Nara adalah anaknya. Usianya baru tiga tahun. Dia tidak pantas mati.

"Adrian, aku diculik. Penculik bilang akan melepaskan anakku. Bisa nggak kamu datang sebentar dan bawa Nara pergi? Alamatku sekarang ...."

"Cukup."

Adrian memotong ucapanku. Dia menghela napas. "Ratna, kamu mau bikin masalah apa lagi?"

"Aku sibuk. Nggak ada waktu meladenimu main drama. Uang nafkah bulan ini tetap akan aku suruh orang kirim tepat waktu. Setelah terima uangnya, bersikaplah baik dan jangan terus menggangguku."

Anakku mendengar suaranya. Tiba-tiba dia melepaskan diri dari tangan penculik dan menangis sambil memanggil, "Papa."

Pria di seberang telepon itu tertegun. Napasnya terdengar lebih berat. Aku sempat mengira hatinya melunak. Dengan mata memerah, aku hendak bicara lagi. Baru saja aku membuka mulut, suara pria itu yang dingin dan penuh kejengkelan langsung memotong ucapanku.

"Aku sudah bilang, trik mengemis simpati nggak ada gunanya buatku. Uang nafkah yang seharusnya kamu terima nggak akan kurang sepeser pun. Tapi kalau kamu berani mengajari anakku hal buruk demi rebut perhatian, aku nggak akan memaafkanmu."

Dari gagang telepon terdengar suara Kirana yang manja. "Kak Adrian, kue ulang tahunnya mau dipotong. Cepat temani aku."

Adrian tertawa kecil, lalu meninggalkan sepatah kalimat sebelum buru-buru menutup telepon. "Minggu depan aku jemput kamu dan anak untuk makan di rumah."

Kesempatan ketiga, hilang begitu saja.

Aku menjerit, meronta ingin meraih ponsel dan menelepon sekali lagi. Saat jariku hampir menyentuhnya, penculik itu menendang ponsel itu menjauh. Dia mencengkeram salah satu kaki anakku dan menyeretnya ke hadapanku. Senyum haus darah terangkat di sudut bibirnya.

"Lihat? Sudah kubilang, terima saja nasibmu. Kamu saja yang nggak mau percaya. Sekarang, sudah terima belum?"

Anakku menangis dan memelukku, wajahnya memerah karena ketakutan.

"Mama, Nara takut ... Mama ...."

Aku mengusap rambutnya yang kusut, lalu menyembunyikannya di belakang tubuhku. "Nara jangan takut. Mama di sini. Mama akan melindungimu."

Penculik itu terkekeh.

"Dengan apa? Dengan dirimu?"

Aku menarik napas dalam-dalam, hidung terasa perih, tapi tatapanku tetap teguh. "Beri aku satu kesempatan lagi. Kalau tetap nggak berhasil, aku akan terima nasib."

Senyumnya membeku.

"Baik. Aku beri kamu kesempatan terakhir. Kali ini aku turunkan syaratnya. Asal ada anggota keluargamu yang mau mengangkat telepon, aku akan melepaskanmu dan anakmu."

"Kalau nggak ada yang menjawab, aku bukan hanya akan membunuhmu, tapi juga akan memotong anakmu menjadi tiga bagian dan mengirimkannya ke ayah dan ibumu."

"Baik. Kita sepakati."

....

Telepon keempat, aku menelepon Ibu. Nada sambung berdering tujuh kali, tetap tidak ada yang mengangkat. Penculik itu mengangkat sudut bibirnya, wajahnya penuh kepuasan.

"Lihat? Aku ...."

"Halo?"

Telepon itu tersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 11

    Kirana tetap duduk diam, tanpa reaksi sedikit pun. Ibu akhirnya terjatuh dan menangis keras. "Dia itu kakakmu. Dia selalu mengalah untukmu, menyerahkan segalanya padamu. Kenapa kamu tega melakukan ini?"Adrian juga meluapkan amarahnya. "Kirana, Ratna dan Nara juga keluargamu. Apa kamu bisa tidur nyenyak setiap malam?"Sejak dibawa pulang, kondisi mental Nara memang sangat buruk. Setiap malam dia terbangun sambil menangis memanggil Mama. Adrian kelelahan mengurusnya, tapi yang lebih kuat adalah rasa sakit di hatinya, meski selama ini dia memang jarang benar-benar peduli.Kirana perlahan menoleh ke arah Ayah, Ibu, dan Adrian. Tiba-tiba dia terkekeh. "Yang membunuh dia itu kalian, bukan aku.""Kalian masih berani berpura-pura nggak bersalah? Sejak awal kalian tahu aku nggak suka Ratna. Kalian juga tahu aku sengaja menindas dia. Tapi kalian semua memilih pura-pura buta, bukan?"Senyum tipis menggantung di sudut bibir Kirana, tetapi sorot matanya dipenuhi kebengisan."Sejak anak kandung kal

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 10

    Ayah dan Ibu saling menatap dengan mata terbelalak. Di mata masing-masing, terpancar keterkejutan yang sulit dipercaya.Keesokan paginya, Kirana keluar rumah membawa banyak tas belanja.Ibu langsung mengenali tas tangan kulit domba klasik itu. Salah satu hadiah ulang tahun yang dia persiapkan dengan susah payah untuk Kirana.Ayah dan Ibu mengikuti Kirana dari kejauhan, melihat dia masuk ke sebuah toko barang bekas, lalu keluar beberapa saat kemudian dengan tangan kosong.Setelah itu, Kirana mendatangi beberapa bank dan melakukan banyak kali transfer. Saat Ayah melihat total nominal yang tertera di layar ponsel, dia tertegun sesaat."Enam puluh miliar. Dari mana Kirana punya uang sebanyak ini? Dia mau pakai uang sebanyak itu untuk apa?"Wajah Ibu penuh kekhawatiran."Mengingat telepon tadi malam, jangan-jangan dia sedang diancam?"Ayah terdiam sejenak, lalu mengangkat ponsel dan menelpon seseorang."Bawa beberapa orang ke sini."Mungkin karena Kirana terlalu panik dan ingin segera menyi

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 9

    Ibu gemetar saat membuka pintu. Beberapa kali jarinya salah menekan kode.Klik.Pintu akhirnya terbuka.Warna merah yang menyilaukan langsung menghantam pandangannya. Tubuh Ibu bergetar hebat, lalu dia terjatuh ke lantai.Ayah melihat kondisi Ibu dengan bingung dan mendorong pintu masuk. Namun di detik berikutnya, wajahnya mendadak pucat, seluruh tubuhnya ikut gemetar.Adrian melihat reaksi Ayah dan Ibu. Rasa tidak tenang di hatinya makin membesar. Dia mendorong pintu. Pemandangan di dalam rumah sepenuhnya terpampang di hadapan mereka.Merah. Semuanya merah.Di lantai, di dinding, bahkan di langit-langit, penuh bekas darah yang memercik. Adrian menoleh ke sekeliling, lalu pandangannya berhenti di sudut ruangan.Pria itu begitu terkejut sampai lupa bernapas. Dia mundur beberapa langkah berturut-turut, hingga punggungnya menempel ke dinding barulah dia tersadar.Aku tergeletak di sana sambil menatap ke arah pintu. Mataku seakan menatap satu per satu orang yang masuk.....Saat polisi mas

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 8

    "Kami menanyainya cukup lama, tapi tetap nggak tahu apa yang terjadi. Jadi kami bawa dia ke sini dulu."Ayah dan Ibu tampak tidak percaya. Bahkan Adrian yang biasanya selalu tenang pun terlihat tercengang. "Nara? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana ibumu?""Luka-luka ini dari mana? Kenapa dia meninggalkanmu di sini? Dia sekarang di mana?"Nara butuh waktu lama sampai akhirnya sedikit tenang. Dia menatap mereka semua dengan pandangan kosong. Mendengar pertanyaan Adrian, amarah Ayah justru makin menjadi."Ratna bersembunyi di mana lagi sekarang? Bahkan binatang buas pun nggak tega menyakiti anaknya sendiri. Dia tega memperlakukan anak seperti ini!""Kalau tahu sifatnya sejahat ini, dulu seharusnya dia nggak usah dibawa pulang! Dulu Kirana, sekarang Nara. Apa dia baru puas kalau rumah ini benar-benar hancur?!"Ibu menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, suaranya dibuat selembut mungkin. "Nara yang baik, bilang ke Nenek, Mama kamu pergi ke mana? Kalau memang dia yang menelantarkanm

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 7

    Ponselku sudah lama dihancurkan oleh penculik. Mana mungkin dia bisa menghubungiku.Ayah dan Ibu saling berpandangan. Rasa tidak tenang yang tadi sempat ditekan kembali muncul. Mereka tahu, aku tidak pernah menolak telepon dari siapa pun di keluarga ini. Bahkan kalau mereka menelepon hanya untuk memarahiku demi Kirana, aku tetap akan mengangkatnya seketika dan mendengarkan dengan patuh.Namun, sekarang ....Keduanya refleks mencari ponsel. Kirana tidak senang dan melepaskan kaitan lengannya. "Ayah, Ibu, kalau Kak Adrian bisa tertipu, ya sudah. Masa kalian juga lupa semua kelakuan Kakak dulu? Dia sengaja bikin kalian khawatir supaya kalian peduli sama dia."Wajah Ayah tampak ragu. Ibu terlihat mulai goyah."Kirana sayang, Ibu cuma mau memastikan dia aman. Ibu nggak akan pergi menemaninya ...."Saat berbicara, pandangannya tertuju ke ponsel yang layarnya hancur terinjak di kejauhan. Dia tiba-tiba teringat panggilan terakhir yang tidak sempat dia angkat. Wajahnya seketika pucat.Adrian ya

  • Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya   Bab 6

    Pesan itu terkirim. Aku menatap anakku dan tersenyum padanya, lalu tiba-tiba menerjang penculik itu dan menekannya keras ke lantai."Nara, lari! Lari, Nara!""Ratna, kamu berani menipuku!"Srett ....Belati itu menusuk perut bagian bawahku, keluar masuk berkali-kali.Aneh, aku seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Aku hanya memeluk penculik itu sekuat tenaga."Nara, lari!"Seolah langsung mengerti, anakku menggigit bibirnya dan berlari ke luar. Kaki kecilnya yang tak beralas meninggalkan jejak-jejak kecil berlumur darah di lantai.Penculik itu murka. Dia mendorongku keras dan hendak mengejar, tapi aku kembali memeluk betisnya dengan sisa tenaga. Dia tertawa marah, lalu berbalik dan menendang lukaku berkali-kali. Darah menyembur deras dari perutku.Dia tidak tahu, saat seseorang benar-benar akan mati, rasa sakit itu justru menghilang. Menjelang kesadaranku benar-benar lenyap, kata-kata orang pincang itu kembali terngiang, "Ratna, terima saja nasibmu. Ini memang takdirmu."Dia salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status