LOGINAku memohon kepada Rizald Pratama sebanyak 99 kali dan akhirnya dia setuju untuk mengajak putri kami berkemah di pegunungan pada hari ulang tahun putri kami. Pada saat aku menemukan putriku di kaki gunung keesokan harinya, dia sudah meninggal, tangannya memegang erat sebuah foto keluarga. Aku berdiri di depan tubuh kaku putriku, hatiku tersayat pedih. Tiba-tiba, aku melihat Rizald memperbarui status di media sosialnya. Dia menuliskan, "Kamu dan anakku adalah harta berharga dalam hidupku." Dalam foto tersebut, dia dan teman masa kecilnya menggandeng seorang gadis kecil, tengah melihat matahari terbenam di kejauhan. Di sudut kiri bawah foto, terlihat sebuah tangan kecil yang merupakan tangan putriku. Foto yang menyakitkan ini diambil oleh putriku.
View More"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Saat mendengar penuturan Rizald, jantungku mulai berdegup kencang hingga hampir melompat keluar dari dadaku."Kenapa kamu nggak sekalian bawa Cherin ke bawah bukit untuk mencari taksi ? Kalau kamu membawanya ke bawah, mungkin seseorang akan melihat mereka, mungkin dia nggak akan ... meninggal."Wajahku memerah.Rizald memejamkan matanya. "Karena Cherin bilang kupu-kupu di gunung itu sangat cantik dan dia ingin melihatnya lebih lama."Aku kembali teringat kupu-kupu putih di kuburan.Saat itulah terdengar ketukan lagi di pintu. Kali ini suara Wilona sedikit cemas."Kak Rizald, kamu memblokirku, jadi aku nggak bisa menghubungimu. Tolong bukakan pintunya. Aku bawa Nabila, dia ingin bertemu denganmu.""Mulai sekarang, kamu bisa perlakukan dia seperti anakmu sendiri. Bukankah kamu menyayanginya?"Aku mencibir.Rasa malu tergambar jelas di wajah Rizald."Buka pintunya."Aku memerintahkan.Rizald membuka pintu seperti yang aku perintahkan.Wilona langsung menerjang ke arahnya, yang ditangkisny
"Jangan!"Rizald begitu terintimidasi oleh tindakanku. Dia mundur dengan tangan terangkat, tidak berani mendekat ke arahku.Aku menatapnya dengan tajam sampai dia mundur ke jarak yang aman."Aku datang ke sini bukan karena mau main-main denganmu. Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"Tidak ada satu kata pun yang perlu diucapkan.Rizald menatapku dengan gugup."Letakkan dan jangan sakiti dirimu sendiri."Aku tidak akan melukai diriku sendiri.Pembunuh Cherin belum ditemukan dan aku akan tetap hidup.Aku menurunkan tanganku yang memegang pecahan kaca, masih menggenggamnya erat-erat untuk berjaga-jaga jika Rizald melakukan hal yang tidak-tidak."Rizald, apa kamu yang membunuh Cherin?"Setelah bertanya, ruang tamu menjadi sangat hening, bahkan jika ada jarum jatuh suaranya akan terdengar dengan jelas.Pupil mata Rizald perlahan-lahan membesar dan dadanya naik turun dengan keras."Kamu mencurigaiku?"Dia menunjuk dirinya sendiri."Apa aku seperti binatang buas di matamu, yang akan membunuh p
Saat berjalan keluar dari kantor polisi, pikiranku masih teringat dengan apa yang baru saja dikatakan oleh polisi kepadaku.Itu adalah gunung dan lingkungan di sekitar cukup liar. Cherin dan Rizald bukan satu-satunya orang yang pergi berkemah hari itu, ada yang lain."Jangan khawatir, kami akan menemukan pelaku sesegera mungkin dan memberikan keadilan bagi putri Ibu."Polisi menatapku dengan rasa iba karena kehilangan seorang putri, lalu mengembalikan jam tangan yang seharusnya digunakan sebagai barang bukti kepadaku, untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.Matahari menyinari kepalaku, tetapi akal sehatku tidak sadar. Aku hanya berjalan menyusuri jalan seperti mayat hidup.Aku mengingat kembali semua kata-kata dan perilaku Rizald selama dua hari terakhir.Mungkinkah Rizald pelakunya?Mungkinkah dia yang membunuh putrinya sendiri demi bisa bersama Wilona?Aku merasa seperti tenggelam ke dalam air es dan hawa dingin membuatku menggigil.Aku kembali ke rumah karena ingin menanyakan dan me
"Maafkan aku."Dia berlutut dan bersujud kepadaku."Maafkan aku."Dia berbalik dan bersujud kepada Cherin."Maafkan aku."Dia bergumam dengan suara terisak."Aku pantas mati, akulah yang harusnya mati.""Ya, kenapa bukan kamu saja yang mati?"Aku pikir aku tidak akan pernah menangis karena dia. Namun, aku meneteskan air mata karenanya untuk sekali lagi.Aku berusia 20 tahun ketika bertemu Rizald. Di masa keemasanku, aku tidak menginginkan apa pun selain memberinya seorang anak.Dia mengatakan kepadaku berkali-kali."Aliona, andai saja kamu bisa memberiku seorang anak perempuan, secantik dan selucu kamu.""Kalian bisa pakai baju putri dan aku akan menjadi ksatria yang akan mengawal kalian."Dia adalah pembohong terbaik di dunia.Menipuku dengan telak.Aku membayar harga yang sangat mahal karena mudah tertipu dan mempercayai seorang pembohong sepertinya."Rizald, apa kamu sudah tanda tangan surat cerainya? Hari ini kamu ada waktu, jadi kita ke pengadilan saja buat mengurus surat cerainya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews