LOGINSetelah Livia masuk kembali, Andika membuka catatan lain yang dibawanya sejak pagi. Wajahnya menunjukkan ada kabar yang bukan hanya soal piring atau beras sisa.
“Ada kabar dari Kota Jatiraya,” katanya.
Leo menoleh. “Pasar?”
Andika mengangguk. “Pasar Jatiraya akan melelang empat ruko dari total sepuluh ruko pasar. Letaknya dekat pintu pasar, jalur gerobak, dan arus pembeli dari desa menuju kota. Bebera
Livia memegang lengan suaminya dengan tangan yang masih gemetar. “Leo, jangan sampai mereka kembali menyerang hanya karena sekarang sudah ketakutan.”Leo mengangguk sambil tetap memperhatikan mereka. “Aku tidak berniat memperpanjang keadaan ini, tetapi kita harus memastikan mereka benar-benar berhenti mengancam.”Salah seorang penyamun bergerak mundur tanpa menunggu perintah, lalu memandang rekannya dengan kesal karena pekerjaan yang dianggap sederhana sudah berubah menjadi bahaya nyata.“Kalian bilang cukup menakut-nakuti satu pengusaha dan istrinya. Kenapa sekarang justru kita yang harus mencari cara supaya tidak tertembak?”Pertanyaan itu membuat sosok bermasker yang sejak tadi paling jarang berbicara terlihat semakin gelisah. Ia beberapa kali memperhatikan Leo sambil berusaha tidak menonjolkan diri.Pria paling keras tampaknya ingin membela
Namun, gerakan para pria di luar kendaraan semakin menunjukkan bahwa mereka tidak lagi puas hanya dengan memperoleh jawaban mengenai pabrik.Leo dapat melihat mereka menguji keberaniannya dengan mendekat, sehingga percakapan panjang bukan lagi jawaban yang cukup untuk menjaga keselamatan Livia.Leo memperhatikan Livia sekali lagi sebelum berkata dengan nada rendah, “Aku harus menghentikan mereka sebelum salah seorang benar-benar mencoba menyakitimu.”Livia mengikuti pandangannya dengan perasaan gelisah. “Apa yang akan kamu lakukan? Jangan sampai kamu terluka hanya karena mereka sengaja memancingmu.”Leo tidak menjawab dengan janji kosong. Ia memusatkan perhatian pada bahaya yang semakin dekat, lalu memperlihatkan senapan berburu yang tersedia di dalam kendaraan.Senapan tersebut telah diperbarui agar lebih baik digunakan dan tetap sesuai dengan perlengkapa
Gerakan para pria bermasker yang semakin mendekat membuat Livia merapat kepada suaminya, sementara Leo memperhatikan perubahan sikap mereka tanpa lagi menanggapi setiap ejekan.Salah seorang pria mulai menunjukkan ketidaksabaran karena tuntutan mereka belum memperoleh jawaban, sedangkan rekannya tampak menunggu apakah Leo akhirnya akan menyerah.Kedekatan mereka kini membuat Livia melihat perubahan yang sebelumnya hanya terdengar dalam ancaman, dan tangannya mencengkeram lengan Leo semakin kuat.Livia memegang lengan Leo dengan jemari yang sulit dikendalikan. Ia berusaha mengatur napas, tetapi bayangan Kevin yang masih menunggu di rumah membuat ketakutannya semakin berat.“Leo, aku takut mereka benar-benar akan menyakitimu,” katanya dengan suara bergetar sambil memandang orang-orang yang bergerak di dekat kendaraan.Leo menoleh kepada istrinya dan memperhatikan wajah
Pria bermasker yang lebih tenang melirik rekannya sejenak, menyadari bahwa menghina Livia hanya akan membuat keadaan semakin sulit diselesaikan.Namun pria paling keras justru menganggap teguran Leo sebagai bentuk keberanian palsu yang muncul karena dirinya ingin menjaga muka di depan istri.“Wah, ternyata dia mulai marah! Kalau begitu keluarlah dan tunjukkan seberapa hebat kamu ketika tidak ada orang kantor yang melindungi!”Leo tidak terpancing oleh ajakan tersebut. Ia memperhatikan batang pohon yang masih menutup jalan, kemudian kembali menghadapi tuntutan yang belum dijelaskan secara masuk akal.“Kalian datang berempat hanya untuk menyampaikan sesuatu yang sebenarnya bisa dikatakan lewat surat?” tanyanya sambil terkekeh singkat karena cara mereka berbicara.Sindiran itu membuat salah seorang pria yang tadi ikut mengejek berhenti tertawa, sedangkan pria
Leo belum sempat menjawab ketika gerakan dari sisi pepohonan membuat pandangannya beralih. Empat pria dengan wajah tertutup muncul dan mulai mendekati bagian depan kendaraan.Livia segera menyadari kehadiran mereka, lalu tangannya meraih lengan Leo ketika keempat pria tersebut bergerak tanpa menunjukkan tanda hendak membantu memindahkan pohon.“Leo, kenapa mereka menutupi wajah? Apa mereka memang sedang menunggu kendaraan lewat di sini?” tanyanya dengan suara yang mulai berubah.Leo memperhatikan keempat sosok itu sambil menjaga tubuh tetap tenang. “Jangan membuka pintu dulu, Livia. Kita dengarkan apa yang mereka inginkan.”Salah seorang pria bertubuh lebih besar maju beberapa langkah dan memukul ringan bagian depan Kijang dengan telapak tangan sebelum berseru kepada pengemudinya.“Hei, orang kaya! Keluar dan bicara baik-baik, jangan hanya duduk nyam
Toyota Kijang yang dikemudikan Leo meninggalkan kawasan perdagangan Kota Ardhana ketika kesibukan sore mulai memenuhi jalan utama. Di sampingnya, Livia duduk sambil memegang tas dan sesekali memperhatikan kendaraan yang bergerak menuju arah berlawanan.Pertemuan makan siang bersama Maharani dan Adrian masih meninggalkan sedikit kelegaan di hatinya, terutama karena persoalan yang sempat mengganggu pikirannya akhirnya dapat diselesaikan.“Sepertinya Maharani dan Pak Adrian masih ingin membicarakan banyak hal ketika kita pamit tadi,” ujar Livia sambil menoleh kepada suaminya.Leo melirik istrinya sebentar sebelum kembali memperhatikan kendaraan di depan. “Dua orang yang terbiasa berdagang memang sering lupa waktu kalau sudah menemukan topik yang cocok.”Livia tersenyum mengingat bagaimana Maharani semula begitu kesal, tetapi kemudian justru mengajukan pertanyaan bisnis dengan kesungguhan yang tidak kalah besar daripada Adrian.“Aku juga tidak menyangka mereka bisa berbicara sepanjang itu
Darman memencet lagi potongan pati itu dengan kuku, lalu melirik kailnya. "Kalau memang selaku itu, kenapa kamu datang ke aku?""Aku butuh tangan.""Kenapa bukan orang lain?""Karena kamu butuh uang. Karena cangkulmu lebih tajam dari
Subuh baru menggaris tipis di ujung timur ketika Leo duduk di anak tangga rumah dengan mangkuk tanah di tangannya. Endapan pati dari kemarin sudah mengeras, permukaannya putih pucat, padat, dan tidak lagi basah di jari.Ia mencuil sedikit, meremas, lalu menggosokkan serpihan itu di ujung ibu jari.
Leo berdiri di depan rumpun kudzu yang ia pilih dengan hati-hati. Akarnya sebesar lengan orang dewasa, menjalar panjang di bawah lumpur. Batang rambatannya sudah kayu dan keras di bagian pangkalnya."Ini yang tepat," batin Leo yakin. "Akarnya sudah cukup tua."Ia mengangkat cangkul dan mulai mengga
Pagi datang tanpa suara. Cahaya redup menerobos celah dinding bambu, menyapu lantai tanah yang lembap.Leo membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa remuk setelah pukulan kemarin. Memar di pipinya berdenyut setiap kali ia menggerakkan rahang. Tulang rusuknya nyeri saat ia mencoba bernapas dalam.







