Se connecterKantor Elevation benar-benar terlihat sibuk belakangan ini. Edisi ulang tahun ini membuat wajah tim-tim menjadi lebih serius dari biasanya. Adit ingin semuanya sempurna, dan setiap kali ada yang tidak sesuai dengan harapannya, dia tidak segan-segan menolaknya dan meminta untuk segera diperbaiki.Kondisi itu sangat berat bagi karyawan-karyawan yang ritme kerjanya selalu santai dan tenang selama ini. Mereka langsung kewalahan dengan kondisi belakangan ini. Wajah-wajah stress sudah mulai menghiasi ruang kerja Elevation yang biasanya damai. Adit rutin mengadakan rapat dengan tim intinya. Kali ini dia menjaga semua informasi hanya pada orang-orang kepercayaannya. Dia tidak mau kesalahan yang sama terulang. Sementara itu Fajar juga mendapat tugas khusus untuk mencari dalang dari kebocoran informasi kemarin. "Permisi, Mas," Nayla mengetuk pintu ruangan Adit. Di tangannya dia membawa sebuah kotak makanan dan kemudian memberikannya pada Adit."Ada titipan dari Tante Ina buat Mas Adit. Katany
Masalah baru di Elevation membuat Nayla terus lembur belakangan ini. Memang tidak diharuskan, namun dia tidak tega jika Adit harus kerepotan sendiri. Karena kesibukannya, baru akhir pekan ini dia sempat mengurus kepindahannya ke rumah Iwan dan Ina. Tentu saja dibantu oleh Nugie. "Gimana, Nay, masalah di kantor?" tanya Nugie saat bantu membereskan barang-barang di rumah Nayla."Masih belum beres, Gie. Beberapa ide baru udah ada, tapi Mas Adit belum memutuskan mau pakai yang mana. Sepertinya Mas Adit lagi berhati-hati, Gie.""Semoga bisa segera beres ya.""Iya, aku gak tega lihat Mas Adit. Dari kenal kayaknya baru sekarang aku lihat wajahnya penuh beban."Nugie tidak memberikan respon. Walaupun Nayla sudah resmi jadi kekasihnya, hatinya masih sering terganggu setiap mendengar Nayla mengucapkan nama Adit. "Gie, yang itu gak usah dibawa. Biarin aja tetap di rumah ini biar gak kosong banget," Nayla menunjuk ke beberapa barang di ruang tamu agar tidak perlu dimasukkan dalam kardus. "Nay,
'Mas, aku ada dua kabar bahagia. Gak sabar mau langsung kasih tau Mas Adit.'Nayla mengirimkan sebuah pesan pada Adit malam itu. Dia tidak sabar menunggu besok pagi. Hanya hitungan detik, ponselnya bunyi. Telepon dari Adit. "Halo, Nay," sapa Adit dari seberang sana."Halo, Mas. Wah maaf ya jadi ganggu malem-malem, Mas.""It's oke. Ada berita bagus apa nih, Nay?""Mas, aku udah jadian sama Nugie," ucap Nayla dengan nada malu-malu.Adit terpaku sesaat. "Wah selamat ya, Nay," ucap Adit dengan nada tenang seperti biasanya. "Makasih ya Mas, aku gak akan lupain pesan Mas di London malam itu. Aku pengen Mas jadi orang pertama yang tahu, karena Mas selalu dukung aku selama ini."Adit hanya tersenyum kecil saat mendengarnya. Dia selalu mendukung Nayla mengejar kebahagiaannya, termasuk soal pasangan, tapi kenapa hatinya merasa aneh. Nayla kemudian menceritakan juga tentang apa yang terjadi di rumah Iwan dan Ina. Adit merasa lega akhirnya Nayla punya orangtua angkat. "Baguslah, Nay. Saya ik
Hari itu sepulang kerja, Nayla berencana untuk ke rumah Iwan dan Ina. Selain sudah cukup lama tidak bertemu, Nayla ingin menyampaikan keinginannya untuk mencari Ayah kandungnya. Menurut Nayla, Iwan dan Ina juga berhak tahu tentang hal ini. Nugie yang tahu rencana Nayla langsung menawarkan jemputan. Alasannya dia juga ingin bertemu dengan Iwan dan Ina yang sudah lama tidak dia temui. Bagimanapun mereka adalah klien pertamanya yang membuat karirnya bisa sejauh ini. Nayla pun setuju.Ina kaget bukan main saat melihat Nayla datang bersama Nugie. "Nugie? Ini kamu kenal sama Nayla? Kok bisa? Ya ampun, dunia sempit sekali. Ayo masuk-masuk," Ina tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Kok kamu gak cerita sih, Nay? Kalau tahu mau dateng sama Nugie kan Tante bisa masak dulu," lanjutnya sambil mempersilahkan kedua tamunya duduk. "Lho, Nugie?" Iwan yang baru keluar dari kamarnya tidak kalah kaget saat melihat Nayla dan Nugie datang bersama. "Kalian saling kenal?"Nugie pun menceritakan sem
Entah apa yang merasuki Nayla, tapi sejak pertemuan dengan Heri, dia terus memikirkan tentang Ayahnya. Ada keinginan kuat untuk mencari tahu tentang siapa Ayah kandungnya. Padahal dia sudah memutuskan untuk mengubur masa lalunya, tapi entah kenapa sekarang dia tergerak untuk membuka kembali. “Kamu yakin mau cari Ayah kamu?” tanya Nugie yang merasa khawatir dengan keputusan Nayla.Nugie adalah orang pertama yang diberi tahu Nayla tentang rencananya itu. Mereka janjian makan siang bersama, dan Nayla memutuskan untuk menceritakan semuanya. “Aku cuma mau tau kenapa dia meninggalkan Ibu.”“Terus untuk apa, Nay? Gimana kalau nantinya itu malah bikin kamu jadi tambah sedih?”“Paling gak aku tau kebenarannya, Gie. Aku berharap kamu bisa support aku.”Nugie menghela nafas panjang, dia tahu keputusan Nayla sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.“Oke Nay, kalau memang itu yang terbaik buat kamu, aku akan support kamu," ucap Nugie sambil menggenggam tangan Nayla. "Terus kamu udah tau mau mu
Lagi-lagi Nayla dipanggil ke ruangan Pak Rino. Ini adalah kedua kalinya Nayla harus masuk ke ruangan direktur sejak kehadiran Widya. Kali ini pun pasti berhubungan dengan Widya. Anak manja itu pasti sudah mengadu pada Papanya betapa berat pekerjaan yang diberikan oleh Nayla padanya.Walaupun ada perasaan takut akan mendapat teguran, Nayla tetap menguatkan dirinya sendiri untuk bersikap tenang. Dia meyakinkan dirinya kalau apa yang dilakukannya tidak salah, sehingga tidak perlu merasa takut.“Silahkan masuk, Nay,” sapa Pak Rino begitu Nayla mengetuk pintu ruangannya.Kali ini tidak ada orang lain selain Pak Rino. Tidak ada Adit, dan tidak ada Widya. Nayla jadi semakin bertanya-tanya apa yang akan disampaikan atasannya itu.“Bapak manggil saya?” tanya Nayla dengan sopan.“Iya, silahkan duduk dulu," Pak Rino mempersilahkan Nayla duduk sambil merapikan dokumen yang sedang dibacanya tadi. “Nay, saya mau berterima kasih sama kamu. Kamu memang luar biasa.”Nayla mulai tenang mendengar dua ka







