LOGINHari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M
"Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib
"Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men
Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se
Nayla akhirnya menemukan kampus yang dia sukai. Setelah mencari informasi yang dia perlukan, akhirnya dia mendaftarkan dirinya. Kebetulan pendaftaran sedang dibuka dan dia bisa mulai ikut tahun ajaran baru yang akan dimulai satu bulan lagi. Sejak hari itu Nayla sibuk mempersiapkan semua hal yang dia perlukan. Termasuk berpamitan dengan teman-temannya di Elevation. Tentu saja hubungannya dengan Rino menjadi rahasia di Elevation. Hanya Adit dan Fajar yang tahu. Nayla mengundurkan diri dengan alasan ingin kuliah lagi setelah hampir dua tahun bekerja. Dia berjanji akan kembali lagi ke Elevation setelah lulus nanti. Willy menjadi orang yang paling kaget dengan keputusan Nayla. Dia tidak menyangka seorang yang gila kerja seperti Nayla akan memilih untuk sekolah lagi."Gue bakal kehilangan temen gue yang paling rajin di gedung ini," ucap Willy.Nayla mengajaknya untuk minum kopi di cafe dekat kantin. Willy adalah orang pertama yang menerimanya di Elevation, jadi dia ingin berpamitan dengan
"Kita mau kemana?" tanya Widya pada Adit begitu masuk dan duduk dalam mobil Adit."Kamu pilih ya, dimana saja yang kamu suka, saya traktir," jawab Adit berusaha menghibur Widya."Bener ya, kalau gitu aku mau makan steak wagyu."Sebenarnya Widya tidak serius, dia hanya ingin melihat apakah Adit akan benar-benar memenuhi keinginannya. "Oke," jawab Adit sambil memasang sabuk pengaman, dan melajukan mobilnya.Widya kaget, lalu tersenyum. Dia tahu Adit akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Widya termasuk perempuan yang banyak didekati pria-pria. Dia bahkan tidak pernah menjomblo lebih dari enam bulan. Namun jika ada sesuatu yang serius menganggu hatinya, dia selalu lebih nyaman dengan Adit dibandingkan kekasih-kekasihnya. "Kenapa Mas gak cerita soal Kak Nay?" tanya Widya."Bukan hak saya untuk menceritakan ke kamu dan Tante Inge. Saya hanya orang luar, Wid.""Tapi Mas kan sudah seperti keluarga sendiri," protes Widya."Tapi masalah ini berbeda Wid, saya gak berhak ikut campur.







