LOGINBerpura-pura idiot, Richard berencana membongkar kebusukan ayah dan ibu tirinya. Ia ingin mengungkapkan kematian kedua orang tua kandung dan tentunya mengambil kembali hak serta kekuasaan atas harta yang ditinggalkan oleh mendiang Kenta Arganta, ayah kandung Richard yang saat itu berada dalam genggaman Lusiana. Dengan berpura-pura idiot, ia bisa mendapatkan semua informasi mengenai rahasia yang selama ini tidak ia ketahui. "Aku akan membalas dendam dengan cara yang lebih kejam," kata Richard.
View MoreOLIVIA
It felt like forever since I’d seen him. Two whole weeks without his scent, his voice, or the warmth of his touch. My fated mate had been away in the human world, tending to business. He was the manager of the second biggest penthouse in the city, so he had to split his time between that life and the one here in the pack. Still, it didn’t make the distance any easier. I glanced at my reflection one last time, pressing my lips together to perfect the red lipstick. The deep shade stood out against my fair skin, and I wanted him to see me that way when he walked through the door. My gaze drifted to the small box at the edge of the bed. Inside was the new lingerie I’d gotten just for tonight. I ran my fingers over the silky fabric and felt my cheeks warm. I could already picture his reaction, the way his eyes would darken the moment he saw me in it tonight, after our outing. My heart skipped just thinking about it. It had been too long… two whole weeks without him, and I couldn’t wait to feel that closeness again. I let out a small laugh, shaking my head at myself. I was super excited, maybe a little too much, but I didn’t care. He was finally coming home, and I wanted everything to be perfect. As if the Moon Goddess herself had heard my thoughts, the doorbell rang. I smoothed my dress, trying to calm the sudden rush of excitement fluttering in my chest, and hurried to the door. The moment I opened it, all my restraint vanished. “Logan!” I gasped, before throwing myself into his arms. He caught me effortlessly, his strong arms gripping my waist tight. “Gods, I missed you so much,” he murmured into my hair. I inhaled deeply, my wolf purring inside me at the comfort of his scent. “I missed you more,” I whispered, pulling back just enough to see his face. His gaze swept over me slowly, and a crooked smile tugged at his lips. “You look stunning, Olivia,” he said. Then his voice dropped, as he bit his lower lip. “I can’t wait to take this dress off you.” Heat rushed to my cheeks. “Oh, I can’t wait either,” I replied, matching his tone with a playful smirk. He chuckled softly, brushing his thumb along my jaw. “Shall we?” I nodded, slipping my fingers through his. “We shall,” I whispered, my heart racing as I followed him inside. I was still grinning when we stepped outside toward his car, my hand tucked comfortably in his. He opened the car door for me like he always did, and I was just about to slip inside when a soft sob caught my attention. I frowned, leaning a little as I turned toward the sound and pulled the door wider… only to freeze. There, sitting comfortably in my seat, my seat… was Mia. My stepsister. For a heartbeat, I just stared, my fingers tightening around the door handle. Are you for real? That spot had always been mine, but now… she was sitting there like it belonged to her. Ever since Mia left her mother’s place and moved in with us, everything’s gone sideways. She’d been hurt by her mate’s rejection last full moon, and ever since then, Logan had made it his mission to be there for her… saying he didn’t want her to feel lonely, that she needed comfort and care. And I understood that. I did. But understanding didn’t make it sting any less. This outing was supposed to be ours… our long-awaited alone time, a chance to reconnect after weeks apart. Yet here she was again, wedging herself right between us without a hint of hesitation. I forced a breath, pasting on a small, strained smile. “Hey… Mia,” I said softly, though my voice wavered just a little. She sniffled again, her eyes red and glossy. “I… I was lonely inside,” she said softly, her voice trembling. “Then I saw Logan’s car parked out here, and I just… I don’t know, I didn’t know how to ask but… I wanted to come with you guys. Please, can I?” I blinked, completely thrown. Oh, not today. What is all this? Before I could even gather my thoughts, Logan stepped closer, his expression softening. “Hey, hey,” he said gently, taking her hand in his. “Stop crying, please.” His voice dropped, “She’s been through a lot, Olivia,” he murmured, his thumb brushing against Mia’s knuckles. “I’d really want her to come with us. Maybe it’ll help her clear her head a little.” Then he turned to me, his tone shifting to that quiet, pleading one he knew I could never ignore. “Baby, please… can she come?” I stared at him and my chest burned. Mia looked at me again, her eyes brimming with tears. “Please, Olivia,” she whispered, her lower lip trembling. I wanted to say no. I wanted to tell her this trip was supposed to be ours… mine and his. But the sight of her crying made my heart falter. Even when I was furious, I couldn’t bring myself to be cruel. I sighed, looking away for a second to steady myself. “Fine,” I said quietly, forcing a small smile. “Of course she can come.” “Go get dressed,” I muttered. “And please, don’t take long.”Richard menatap serius pada John yang kini sepertinya sedang mengincar kewarasannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu, akan tetapi Richard sangat yakin jika yang dilakukan olehnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan mental. Mungkin, John sedang berniat untuk menjatuhkan kembali mental seorang Richard yang dia yakini saat ini masih menjadi sosok yang idiot seperti beberapa tahun yang lalu. "Anak tidak tahu di untung sepertimu memang pantas kehilangan kedua orang tua. Anak nakal dan tidak tahu terima kasih membuatmu menjadi seorang anak yang kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya, termasuk kedua orang tuamu. Apa kau sudah melupakan itu? Melupakan bahwa kedua orang tuamu tiada karenamu?" Richard mengepalkan tangannya marah, seolah terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh John barusan. Kata-kata memojokkan dan mengintimidasi, yang bagi John akan mempengaruhi kewarasan anak tirinya itu. "Bagus! Marahlah! Kau harus menyadari apa yang kau lakukan beberapa tahu
Jhon berjalan cepat menuju ke gudang. Laki-laki itu kemudian keluar dengan membawa setumpuk benda di dalam kardus. Wajahnya terlihat murka, tanda jika dia sedang tidak baik-baik saja. "Apa yang akan kau lakukan, Suamiku?" tanya Lusiana yang dari tadi mengikuti langkah suaminya. "Aku akan membuat anak tirimu itu kembali menggila, supaya dia bisa kembali ke pusat rehabilitasi." Jawaban dari John membuat Lusiana terkejut. "Kenapa?" tanya wanita itu. "Karena aku sangat muak dengan anak tirimu itu!" Lusiana berjalan cepat, kemudian menghadang langkah suaminya. "berhenti sebentar! Aku ingin tau, apa yang akan kau lakukan, Suamiku?!" katanya. "Jangan ikut campur! Panggil saja anak tirimu itu ke halaman belakang! Biarkan dia kembali menggila dengan kegilaan yang akan aku lakukan!" Lusiana terdiam di tempatnya, menatap pada John yang kini berjalan menuju halaman belakang. Entah apa yang ada di dalam kardus itu, tapi pikiran Lusiana mendadak tidak tenang. Dia kemudian berbalik arah dan
Richard menatap tajam pada John. Memberikan tatapan penuh peringatan dari matanya. Tersirat amarah berkobar dari mata elang itu. Akan tetapi, kini dia tak bisa langsung memukul wajah yang begitu dia benci. Sama halnya dengan Richard, Jhon juga menatap padanya dengan tatapan elang. Kalimat terakhir dari Richard membuat laki-laki itu meradang. "Apa maksud kalimatmu barusan? Kau ingin mengusir aku dari sini?" ujar Jhon dengan nada suara membentak. Beringsut, pura-pura terkejut. Richard memasang wajah takut. Ia menatap pada Jhon, lalu beralih pada Jojo, begitu berulang kali. "Anak idiot! Jawab aku! Kau ingin mengusirku dari sini? Kau pikir, kau siapa bisa mengusir aku dari sini, hah?" sentak Jhon. Richard pura-pura berjingkit dan melemah, menatap Jhon penuh rasa takut. Padahal sebenarnya, ingin sekali ia mematahkan rahang laki-laki di hadapannya ini. "Kau hanyalah anak idiot yang tidak tahu diri. Sudah baik, aku membiarkanmu tetap berada di sini dan membiarkanmu tinggal. Apa kau mau
Terik matahari mulai menyingsing di peraduan. Cahayanya yang semburat kuning, kini mulai tampak di sebuah kamar dengan nuansa anak-anak tersebut. Akan tetapi manusia yang seharusnya masih terbaring di atas ranjang itu sudah tidak ada lagi. Sepertinya, Richard sudah terbangun dari tidurnya. Ranjang yang telah terasa dingin, membuat Samuel bertanya-tanya tentang keberadaan sang kakak tiri yang entah di mana dia sekarang. Mata laki-laki berusia 25 tahun itu meneliti ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati beberapa pakaian terhambur begitu saja tanpa rapi tertata. “Kenapa para pelayan itu tidak membersihkan kamar kakak? Atau jangan-jangan malah kakak sendiri yang membuatnya berantakan?” Rasa khawatir tentang keberadaan kakaknya tiba-tiba menusuk relung hati. Samuel segera bergerak menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan kakaknya, mana tahu ternyata Richard terpeleset di kamar mandi atau bagaimana. Seseorang dengan kondisi seperti Richard tidak bisa dibiarkan sendiri, dia bisa melak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.