Share

Chapter. 07

Author: Villain25
last update Last Updated: 2025-12-28 10:57:01

Ali memerintahkan beberapa pegawai kafe untuk segera mengambil semua uang pendapatan yang diminta oleh Jay. 'Tak mengapa. Toh akhirnya nanti akan diambil kembali oleh nyonya,' pikirnya.

Jay berkata ke pada kawan-kawannya. "Kalian tunggu dan berjaga di luar. Ingat! Jangan biarkan siapa pun menerobos masuk dan mengganggu rencanaku."

"Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, Bos?" tanya Nayaka sambil menunjuk ke arah para pegawai kafe yang telah dibekuk.

Jay menunjuk ke sebuah ruangan. "Masukkan mereka semua ke ruangan itu dan kunci dari luar."

"Siap, Bos!" sahut para anak buah Jay.

Dengan sigap, keenam anak buah Jay segera meringkus semua pegawai kafe dan menahan mereka dalam satu ruangan.

Tak lama kemudian, bertumpuk-tumpuk uang kertas sudah berjejer rapi di hadapan Jay yang sekarang mendominasi keadaan.

Jika dihitung, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah!

Mata Jay berkilat, memandangi lembaran-lembaran rupiah yang teratur rapi dengan seringai di bibirnya.

"Lihatlah ini!" Jay menyentuh tumpukan uang kertas dan meremas dengan perasaan geram.

"Ini adalah uang hasil dari tempat bisnis milik keluargaku yang dibangun dengan keringat, darah serta jerih payah ibu dan ayahku. Tapi sayangnya, lelaki tak berguna itu tergiur kecantikan si wanita jalang yang sekarang merebut gelar nyonya utama!"

"Maka tak salah kalau tempat ini beserta cabang-cabangnya adalah milikku!" lanjut Jay, tangannya terkepal erat.

"Tidak!" Ali berdiri tertatih. "Tempat ini dan seluruh bisnis Keluarga Wijaya sekarang adalah milik Nyonya Diana! Dan Tuan Muda, oh bukan!"

"Dan kamu!" Ali menunjuk wajah Jay. "Kamu sekarang tak ubahnya seorang anjing jalanan yang diusir oleh keluargamu! Kamu seorang perampok!"

Jay dengan cepat meraih tumpukan uang kertas dan membantingnya atas meja dengan wajah merah padam. "Aku mengambil hakku. Merampok milik sendiri itu tidak termasuk kejahatan!"

"Dasar pengkhianat! Kamu hancurkan nama baik keluargamu sendiri!" hardik Ali, meskipun sebenarnya dia merasa takut.

"Nama baik?" Jay meraih kerah baju Ali, menatapnya tajam-tajam. "Nama itu sudah lama ternoda sejak ayahku tidur dengan wanita murahan dan membuang ibu kami seperti sampah. Mereka pikir aku akan tinggal diam saja tanpa melakukan sesuatu?"

"Kamu mau apa?" Ali ketakutan hingga rasanya ia ingin kencing di celana.

PLAK!

Jay memukul Ali hingga pingsan, mendorong tubuh itu ke lantai dengan hentakan kasar.

"Merepotkan!" Jay bertepuk tangan guna membersihkan tangannya dari noda lelaki bernama Ali yang diketahui menjadi kacung ibu tirinya.

"Anak-anak!" Jay berteriak, "Segera bereskan semuanya dan kita segera cabut dari tempat ini!"

"Siap, Bos!"

Anggota Geng JAY'X berhamburan melakukan tugasnya. Ada yang menyimpan uang, ada yang menghancurkan kamera CCTV dan lain sebagainya.

Dari sudut ruangan, seorang pemuda bertubuh kurus dan berkacamata, mengenakan headset kecil, mengangkat tangan memberi isyarat.

Dia adalah Ken, si jenius teknologi dalam kelompok JAY’X. Ia telah menyusup ke ruang keamanan dan mengakses sistem rekaman video.

"Bos, sudah aman," katanya pelan melalui mikrofon kecil di kerahnya.

Jay mengangguk, lalu memandang kafe yang sudah porak-poranda. "Ayo pergi!"

Mereka keluar dari pintu depan sambil tertawa, meninggalkan Hero Cafe dalam puing-puing kehancuran. Para pegawai yang sempat bersembunyi di toilet dan dapur mulai keluar dengan wajah pucat.

Saat Ali siuman, ia hanya bisa duduk di tengah kekacauan, napasnya memburu. Ia segera meraih ponselnya dan menelepon satu-satunya orang yang bisa membereskan semuanya.

Sementara itu di tempat lain.

Di lantai atas rumah besar bergaya Eropa Timur milik Keluarga Wijaya, Diana Legiani mengenakan gaun tidur satin merah marun, duduk di kursi empuk sambil memoles kuku. Telepon berdering. Ia mengangkat dengan malas.

"Ada apa, Ali?" tanya seorang wanita berusia 43 tahun yang masih tampak cantik dan seksi.

"Nyo–nyonya … Hero Cafe cabang tiga lima diserang!"

"Apa?" Orang yang dipanggil nyonya terkejut hingga ia berdiri dari duduknya secara tanpa sadar.

Dari seberang telepon, Diana bertanya, "Kapan dan siapa pelakunya?"

"Itu ... orang itu mirip Tuan Muda Jaya, Nyonya."

Jawaban Ali dari seberang telepon seakan sanggup meledakkan gendang telinga Diana.

"Apa?" Mata Diana terbelalak lebar, tubuhnya gemetar menahan marah. "Anak itu masih belum mati?"

Diana berjalan menghampiri jendela besar dengan gelisah, matanya menyala penuh amarah.

'Jika anak itu masih hidup, bukankah dia akan menjadi ancaman besar bagiku? Dan lagi, kejadian waktu itu ....'

"Jadi ternyata dia masih hidup?"

"Sial!" Diana menghentakkan kaki ke ke lantai dengan kesal.

'Kupikir kejadian itu berhasil membuatnya mati, tapi ternyata dia masih hidup. Bagaimana ini?' Diana tak habis pikir.

"Nyonya!" Suara Ali kembali terdengar. "Nyonya, apakah Nyonya baik-baik saja?"

"Oh!" Diana terkejut, buru-buru menjawab, "Aku tidak apa-apa. Hanya beberapa tikus yang menganggu dan itu tak ada pengaruhnya bagiku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 09

    Sementara itu di tempat lain.Di dalam gudang tua di wilayah utara kota, markas sementara kelompok JAY’X tampak hidup. Komputer menyala dengan banyak jendela data terbuka. Kenzo sibuk mengetik cepat sambil mengunyah mie instan, sementara Nina, satu-satunya wanita di kelompok itu, sibuk membersihkan senjata yang disimpan dalam koper panjang.Pemuda bertubuh besar bernama Gara, tampak sibuk mengangkat peti berisi perlengkapan logistik ke rak besi di pojok ruangan.Jay duduk di sofa tua, menatap dinding penuh coretan strategi. Di tengah, foto seorang anak lelaki tergantung dan menjadi pusat perhatiannya. Orang dalam foto itu adalah Danny Wijaya, kakaknya.Jay meraih bungkus rokok, mengambil sebatang, lalu menyelipkan benda itu di kedua belah bibirnya yang seksi. Nina, asisten pribadi Jay, bergegas datang dengan pemantik api di tangan.Jay membiarkan sang asisten menyulut rokok di bibirnya. Pria itu menaruh kedua kakinya di atas meja dengan sikap santai."Bagaimana, Ken, sudah kamu dapatk

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 08

    Diana menarik napas dalam-dalam.Setelah amarahnya sedikit mereda, ia berkata, "Ceritakan semuanya apa yang terjadi dan sekalian rekaman CCTV, kirim sekarang juga!""Baik, Nyonya. Anda tunggulah sebentar. Saya akan segera melakukan pengecekan." Ali kemudian memutuskan sambungan telponnya.Tak lama kemudian, satu berkas video dikirim ke email pribadinya. Diana langsung memutarnya.Namun, begitu video terbuka .…Mata Diana melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Terdengar suara lagu ulang tahun. Kamera menunjukkan ruangan dengan balon warna-warni, kue besar, dan seorang badut berjoget di tengah. Para tamu tertawa, menari, bersulang.Semua orang terlihat gembira dengan pesta ala bocah taman kanak-kanak yang terlihat dalam video.Emosi Diana meledak, merasa dipermainkan oleh Ali. File yang diinginkan bukan ini.Diana meraih ponsel di atas meja, kembali menghubungi Ali dengan amarah meluap."Ali, video apa yang kamu kirim baru saja?" bentak Diana dengan wajah merah padam."

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 07

    Ali memerintahkan beberapa pegawai kafe untuk segera mengambil semua uang pendapatan yang diminta oleh Jay. 'Tak mengapa. Toh akhirnya nanti akan diambil kembali oleh nyonya,' pikirnya.Jay berkata ke pada kawan-kawannya. "Kalian tunggu dan berjaga di luar. Ingat! Jangan biarkan siapa pun menerobos masuk dan mengganggu rencanaku.""Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, Bos?" tanya Nayaka sambil menunjuk ke arah para pegawai kafe yang telah dibekuk.Jay menunjuk ke sebuah ruangan. "Masukkan mereka semua ke ruangan itu dan kunci dari luar.""Siap, Bos!" sahut para anak buah Jay.Dengan sigap, keenam anak buah Jay segera meringkus semua pegawai kafe dan menahan mereka dalam satu ruangan.Tak lama kemudian, bertumpuk-tumpuk uang kertas sudah berjejer rapi di hadapan Jay yang sekarang mendominasi keadaan. Jika dihitung, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah!Mata Jay berkilat, memandangi lembaran-lembaran rupiah yang teratur rapi dengan seringai di bibirnya."Lihatlah ini!" Jay menyentu

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 06

    Ali datang dengan wajah beringas. "Kalian semua, jangan membuat keonaran di sini! Jika tidak, kami akan bertindak sesuai hukum yang berlaku!"Teriakan orang yang bernama Ali ini tidak digubris oleh orang-orang yang sepertinya datang hanya untuk membuat kerusuhan."Hukum?" Zane, si pembuat kerusuhan, membanting mangkuk besar sebelum berjalan maju menghampiri Ali. "Hukum apa? Dia pikir kami takut dengan ancaman itu. Dasar budak kecil!"Mendengar gumaman Zane, emosi Ali kian memuncak. Ia langsung memanggil satuan pengaman melalui ponselnya. "Cepat ke mari! Ada sekelompok tikus sedang membuat kekacauan di sini!""Baik, Pak!" sahut suara dari seberang telepon.Sambil menyimpan ponsel, Ali berucap penuh emosi. "Humph! Tunggu sebentar lagi, kalian semua akan kami tangkap!"Kerusuhan terus berlangsung hingga sekelompok orang berseragam satuan pengaman datang. Mereka langsung terlibat baku hantam dengan Geng JAY'X yang hanya berjumlah tujuh orang.Tujuh melawan selusin orang mungkin bukan lawa

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 05

    Semua orang terkejut saat terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu.Di pintu masuk yang baru saja dirusak, tujuh orang pemuda berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan langkah mantap, bak para prajurit yang siap bertempur.Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut dengan kehadiran kelompok yang memiliki tanda pengenal khusus berupa logo grup yang sengaja ditempelkan pada pakaian masing-masing, dan simbol itu benar-benar milik kelompok bandit metropolitan yang menamakan dirinya sebagai Geng JAY'X.Biang chaos datang!Kelompok ini terkenal suka berbuat onar di tempat umum dan tergolong cukup meresahkan masyarakat. Namun, siapa yang sanggup menghentikan mereka?Jangankan hanya satuan keamanan kecil, aparat penegak hukum saja sering mereka jadikan permainan.Geng JAY'X memiliki penampilan menakutkan. Mereka mengenakan jaket kulit hitam berbahan sintetis, kacamata hitam, celana hitam yang robek-robek di sana-sini disertai beberapa tambalan stiker-stiker aneh dan r

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 04

    Di koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur. Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia. Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting. Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu. Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?' ***** Tiga minggu berlalu sep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status