LOGINTerlihat Seksi Tanpa Baju Bella pergi begitu saja, ia kembali pada pria tua baya yang menampungnya. Sekarang yang ia butuhkan hanya uang untuk bertahan hidup. 'Aku sudah tidak peduli sama kamu. Biarkan saja pria tua itu membunuh kalian. Dendamku kalian usir dan kalian remehkan, akan segera terlaksana' Sementara itu, di rumah Olivia, malam semakin larut, dan dia masih duduk termenung di ruang kerjanya, memandangi foto saat ia di Amerika, foto itu foto dirinya bersama Oscar dan kakek mereka. Foto itu mengingatkannya kalau andai Kata neneknya dan kedua orang tuanya masih hidup, mungkin mereka bisa bersama Olivia dulu hanya gadis yatim piatu yang penuh impian. Namun sekarang, setelah kehilangan hampir segalanya ia menemukan keluarga kandungnya yang masih hidup, dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus berjuang. Telepon di meja kecil dekat ranjang tidurnya berdering, memecah keheningan malam. Olivia meraih telepon dengan cepat. “Olivia,” suara di seb
Jejak Sang Paman "David, tolong aku! Kenapa kau mengikuti aku?" teriak Olivia yang yang di hadang beberapa orang bertopeng. "Olivia... aku tadi diam-diam mengikuti kamu. Aku curiga ada yang tidak beres. Saat kamu pergi, ada seseorang yang diam-diam mengikuti kamu dengan mobil hitam," jawab David. "Kurang ajar! Berani sekali kau ikut campur. Pergilah! Jika kau ingin selamat," kata satu pria bertopeng yang memegang pistol. David dengan cepat mengeluarkan pistol yang ada di saku celananya. Pistol kecil yang bisa menembak mereka. "Oh... jadi kalian pembunuh bayaran yang dibayar untuk membunuh Olivia. Aku peringatkan kalian! Pergi dari sini atau kalian akan aku bunuh juga," ancam David yang begitu marah. "Sialan! Kau siapa? Bersni sekali mengancam kita." empat orang bertopeng saat itu mengepung David. Tapi mereka salah, David tidak sendiri. Saat itu juga David bersiul pertanda ia memanggil anak buahnya yang bersembunyi di balik pepohonan. "Haha.... kau pikir siapa memerinta
Diburu "Kurang ajar! Matikan layar itu. Aku tidak akan takut dengan siapapun. Olivia, maafkan aku! Mereka pasti musuhnya tapi malah menganggu acara peragaan busanamu," kata David. Saat itu juga David menelepon anak buahnya untuk memperbaiki sistem keamanan internet di tempat tersebut. Sehingga video jarak jauh dan pria bertopeng tidak masuk sesuka hati masuk mengacaukan acara mereka. "Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengatur orang dan memperbaiki sistem keadaan di perusahaan fashion kamu dan di tempat peragaan ini. Kamu akan tenang, aku akan terus menyelidiki semuanya. Olivia... aku tidak kamu menderita lagi," ungkap David. "Terima kasih! Tapi tolong usahakan apa yang kamu katakan itu terbukti. Jangan hanya omong kosong belaka." "Aku tahu itu. Mulai sekarang, aku akan menjaga kamu karena kamu lebih baik di sisiku. Joshua pria yang kamu pilih menjadi suami baru kamu, ia telah tiada. Aku akan menggantikannya menjaga kamu dan aku tidak berharap kamu menerima cintaku, aku h
Pilih Salah Satu "Aku sudah mengirimnya ke penjara sepertinya dia kabur. Dia sangat licik sekali Olivia," jawab David. Olivia menggenggam erat tangan David, mencoba menemukan sedikit kenyamanan dalam kontak fisik itu. Entah itu perasaan apa tapi yang jelas di pikirannya dia tidak mungkin kembali pada pria ini. "Apa yang harus kita lakukan, David?" suaranya pecah, cemas dan penuh ketakutan. "Apa yang mereka inginkan dari kita?" "Kita harus memilih," katanya pelan, suara penuh ketegasan yang bahkan ia sendiri tidak yakin. "Mereka ingin kita memilih untuk bertahan hidup. Tapi apa harga yang harus kita bayar untuk itu? Musuhku sepertinya ada dendam padaku dan aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dan dendam karena apa?" Kata-kata pria bertopeng itu kembali menggaung, lebih dalam dan lebih mengerikan. Di dalam layar peragaan busana. "Hanya satu yang bisa bertahan hidup malam ini. Dan jika kalian memilih salah, darah akan mengalir di atas panggung ini, tak ada yang bisa me
Darah di Atas Panggung "Apa yang ingin kamu minta dariku?" tanya David. "Lindungi aku! Jika kau ingin menebus kesalahan kamu. Lalu tolong bantu aku mengurus pemakaman Joshua. Aku akan menjelaskan pada kedua orang tuanya, aku akan mengatakan yang sebenarnya dan bantu aku bicara juga pada mereka," kata Olivia. "Baiklah! Aku akan menemani kamu ke rumah orang tua Joshua. Aku akan mengurus pemakamannnya." "David, aku butuh dokter kejiwaan. Jika aku tidak konsultasi soal kejiwaanku, pikiranku terganggu. Aku bisa gila, aku kehilangan Joshua dan rasanya hatiku hancur. Dia mau menikah denganku demi melindungi aku dari kamu tapi dia meninggal." "Aku tidak akan berbuat jahat lagi padamu aku janji. Jangan menikah dengan orang lain." saat itu David memeluk Olivia dan menghapus air matanya. "Kenapa semaunya jadi hancur? Kenapa aku harus seperti ini? Sebenarnya orang tuaku dan orang tua kamu itu kenapa bisa berurusan dengan beberapa musuh yang berbahaya? Pamanku juga tega jahat padaku."
Kematian Tunangan "Apa mau kamu? Berani sekali kamu mengikat Olivia seperti itu," teriak David saat melihat Olivia diikat tangan dan kakinya dan di dalam mansion itu ternyata ada dua harimau peliharaan pria itu yang sedang duduk di samping pria itu. "David, apa kau ingat! Kenapa Emily mati?" tanya pria itu lagi. "Siapa kamu? Kenapa kamu tahu Emily? Apa kamu dalang dibalik kecelakaan cinta pertamaku?" tanya David lagi kaget karena pria itu tahu masa lalunya bersama Emily. Pria itu hanya diam, tapi pria itu mengelus dua harimau peliharaannya. "Apa kau ingin melihat Olivia wanita yang kamu cintai ini mati seperti Emily? Atau biarkan harimau peliharaanku ini memakannya hidup-hidup?" pria itu tertawa dengan keras. "Jangan... aku akan ikuti kamu. Kamu mau apa? Olivia tolong kamu bertahan." David tidak ingin Olivia meninggal. "David... tolong aku! Aku tidak ingin mati di makan dua harimau itu," kata Olivia. "Aku akan menyelamatkan kamu! Aku akan bunuh pria ini." David naik pi







