MasukUjung jemari Luna gemetar saat membandingkan dua goresan tinta di atas meja kayu dengan lampu remang yang menyinari.
"Darian Wiratama membunuh ibuku," bisik Luna parau. Suaranya gemetar menembus keheningan kamar. Di sebelah kanan, sebuah buku catatan tua milik pemilik asli tubuh ini —Luna Asteria.
Mata Luna menyisir setiap lekuk huruf. Bukan sekadar mirip, semuanya
Pintu mobil mewah itu terbuka perlahan, memancarkan aroma kulit mahal dan hembusan udara dingin dari pendingin kabin. Pendar sorot lampu jalan melukiskan siluet Darian yang berdiri tegak mengadang kegelapan gang, tangannya bertengger santai di atas daun pintu.Luna menatap celah pintu yang terbuka itu selama beberapa detik. Manik matanya sehitam malam, menyerap setiap inci ekspresi pria di hadapannya."Kenapa harus aku?" suara Luna meluncur pelan, dingin, tanpa seutas pun nada keramahan.Darian mengulas senyum tipis—sebuah senyuman samar yang terlampau sulit diterjemahkan. "Karena wajahmu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Aku … hanya ingin menghibur, barang kali kamu butuh seseorang."Luna tidak memalingkan wajah. Ia justru memajukan tubuhnya satu langkah, melemparkan gertakan menusuk tepat ke dada pengusaha itu. "Bukankah kamu bilang Armand hanyalah teman lama?"Darian terdiam sesaat. Garis rahangnya menegang tipis di bawah remang malam sebelum i
Taksi akhirnya melambat dan berbelok memasuki lorong pemukiman tua tempat tinggal neneknya, napas Luna mendadak tertahan di tenggorokan.Di ujung gang, berdiri sebuah tiang bambu kusam. Sepotong kain bendera merah berkibar pelan diterpa angin malam yang dingin.Jantung Luna serasa dihantam godam raksasa. Warna merah itu menyengat matanya, mengonfirmasi ketakutan terbesarnya tanpa perlu sepatah kata pun. Di depan halaman rumah kayu yang sederhana, beberapa tetangga sudah berkumpul mengenakan pakaian gelap, berbisik-bisik kaku di bawah pendar redup bola lampu teras.“Siapa sangka dia masih hidup?”“Dia bahkan tidak pernah mengunjungi ibunya yang sakit-sakitan.”Luna membayar ongkos taksi dengan jemari yang gemetar hebat, lalu melangkah keluar. Kakinya terasa teramat berat, seolah menginjak lahar panas. “Dia pernah hampir masuk penjara karena kasus memeras orang kaya.”“Lalu bagaimana?”Ada dorongan histeris dalam dadanya untuk berbalik dan berlari sekuat tenaga—berlari sejauh mungkin
Gema keributan yang melengking tadi perlahan memudar, terserap oleh karpet tebal dan tirai beludru hitam rumah duka. Para pelayat borjuis—yang sempat terpaku mematu—kini kembali berbisik-bisik kasak-kusuk, menutupi kecanggungan di balik gurat duka yang dibuat-buat. Di luar ruangan yang menyesakkan itu, malam menghembuskan napas dingin.Luna duduk sendirian di atas bangku kayu pada sebuah taman kecil yang tersembunyi di samping rumah duka. Pendar lampu taman melukiskan bayangan pucat pada garis wajahnya. Jemari lentiknya perlahan terangkat, mengusap pelan pipi kirinya yang masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan keras Selena.Langkah kaki yang memecah kerikil terdengar mendekat. Lion datang membawa dua botol air mineral dingin. Tanpa banyak bicara, cowok itu menyerahkan satu botol kepada Luna, lalu mengambil tempat tepat di sampingnya.Luna menerima botol itu, jemarinya yang terbalut perban membelai permukaan plastik yang basah oleh embun. "Kenapa kamu bilang begitu padanya
Selena membawa Darian menjauh beberapa langkah ke sudut lorong yang agak sepi dari jangkauan para pelayat."Kenapa dia ada di sini?!" desis Selena, napasnya berhembus kencang menahan amarah yang meledak di dadanya."Dia datang bersamaku.""Aku tahu! Justru itu masalahnya!"Darian mengerutkan dahi, raut wajahnya berubah dingin dan penuh peringatan. "Jangan mulai membuat keributan di tempat seperti ini, Selena.""Aku yang membuat keributan?!" Selena tertawa pendek—sebuah tawa kaku penuh kepahitan. "Kamu datang ke pemakaman ini membawa gadis itu tepat dua hari setelah pernikahan kita! Kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan?!"Darian menghela napas berat, memalingkan wajahnya gusar. "Luna hanya tamu.""Tamu?" Selena mendekatkan wajahnya, menunjuk lurus ke arah Luna yang masih berdiri mematung di dekat bunga duka. "Kamu bahkan tidak sadar bagaimana kamu memandanginya sejak tadi! Kamu menatapnya seolah gadis itu adalah barang paling berharga yang pernah kamu miliki!"Darian langsung membisu
"Kamu yakin ingin ikut?" tanya Darian, memecah kesunyian dengan suara serak yang membelah malam.Roda-roda sedan hitam menyusuri jalanan pinggiran kota yang lengang. Di dalam kabin mobil yang hening, aroma kulit jok yang dingin bertarung dengan bau antiseptik yang masih menempel pada perban di telapak tangan Luna. Sepanjang perjalanan, Darian beberapa kali memperhatikan Luna yang duduk diam di kursi penumpang. Wajah gadis itu pucat bagai porselen retak. Tangannya menggenggam ujung rok begitu erat hingga jemarinya memutih.Luna tidak langsung menjawab. Matanya tetap terpaku pada pepohonan kusam di luar kaca mobil yang meluncur kencang. "Aku harus datang.""Kamu bahkan tidak mengenalnya."Luna menoleh perlahan ke arah jendela, membiarkan pendar lampu jalan memantulkan kilau misterius di manik matanya yang sehitam jelaga. "Mungkin aku hanya ingin memberikan penghormatan terakhir."Darian mengamati wajahnya beberapa saat. Ada kedalaman rasa sakit yang tidak biasa pada raut wajah gadis be
“Minggir! Dokter! Suster ada gadis yang kritis! Cepat tangani!”Lantai semen yang dingin berganti menjadi kilau lantai steril rumah sakit. Keheningan pelabuhan tua yang mencekam pun menguap, berganti desing samar instrumen medis dan bau antiseptik yang menusuk hidung.Semuanya terjadi begitu cepat, bagai mimpi buruk yang terpotong-potong. Darian tidak menunggu ambulans. Pria itu menyingkirkan para anak buahnya, memotong tali pengikat tubuh Luna dengan tangannya sendiri, lalu merengkuh tubuh kecil gadis itu ke dalam pelukannya. Ada getaran kepanikan yang teramat asing pada jemari Darian—sebuah keretakan drastis pada topeng dingin sang penguasa yang biasanya tak tersentuh. Pria itu menggendong Luna menembus malam, melarikan mobil mewahnya membelah jalanan kota tanpa memedulikan lampu merah yang menerjang.“Kritis?” Luna hampir tersedak udara di dalam mulutnya sendiri karena itu. Kini, Luna duduk di tepi ranjang ruang penanganan luka. Selama proses pembersihan dan penjahitan luka, b







