MasukBel sekolah berbunyi nyaring, memotong sisa ketegangan yang masih menggantung di dada Luna sejak pertemuannya dengan Darian pagi tadi. Ia menarik napas pelan, merapikan bajunya, lalu berbelok menuju ruang guru sebelum masuk ke kelas.
Lorong itu sepi. Bau kertas dan kopi bercampur jadi satu. Ketika Luna masuk ruang guru, semuanya berubah. Sedikit ramai dan kacau menjelang pelajaran jam pertama. “Bu.” Luna menyapa guru jaga yang tengah memeriksa berkas. Perempuan tua itu menoleh. “Saya diminta wali kelas untuk mengambil lembar ujian harian kelas XII-B.” Guru itu mengangguk, lalu menggeser map ke arahnya. “Ambil saja, ada di antara tumpukan itu.” Luna mengangguk sekali. Jari jemarinya mulai memilah. Namun di tengah kesibukannya yang mandiri, percakapan masuk ke dalam telingannya. “Namanya Pak Darian Wiratama. Pagi ini dia datang sebagai calon donatur yayasan sekolah kita.” Luna terdiam, jari jemarinya menghentikan aktivitas. Nama itu kembali jatuh ke kepalanya seperti batu yang tepat mengenai sasaran. “Dari jumlah uang yang akan disumbangkan, dia akan jadi donatur utama dalam waktu dekat.” Gadis itu menoleh, lalu tersenyum singkat. “Tuhan memihakku sekarang,” gumamnya dengan lirih. “Jarang-jarang perusahaan besar dan sibuk mau menjadi donatur SMA swasta.” Seringai muncul ketika Luna berhasil menemukan lembar ujian milik kelasnya. Dia berpamitan pada guru jaga di sisinya. Lalu berpaling dan keluar dari ruang guru. Langkah Luna menyusuri lorong kelas terasa lebih mantap. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh Luna Asteria, ia merasa—bukan hanya hidup kembali, tetapi diberi panggung. *Tuhan tidak menghidupkan dia tanpa alasan. Dia memberinya jarak sedekat ini untuk menghancurkannya perlahan.* $$$ Kelas XII-B ramai begitu ia masuk. Beberapa kepala menoleh, beberapa berbisik-bisik langsung berhenti. Luna menuju mejanya setelah meletakkan map ujian di meja guru. Wali kelas datang tak lama kemudian. Setelah absen singkat, ia langsung membuka kelas dengan agenda hari itu. “Hari ini kita mulai dengan tugas kelompok,” ucapnya. “Berpasangan. Saya akan sebutkan namanya.” Nama demi dama dipanggil. Hingga jatuh pada Lion Bagaskara. “Lion Bagaskara, kamu berpasangan dengan ….” Beberapa murid perempuan langsung saling melirik. Lion mengangkat kepala malas dari mejanya. Semua sedang mengantre untuk jadi kekasihnya, ah tidak! Jadi rekan kerjanya. “Pasanganmu adalah ….” “Saya!” Luna memotong kondisi. Seketika kelas sunyi. Semua pandangan tertuju pada gadis di bangku paling belakang. Wali kelas mengangkat alis. “Luna Asteria? Tumben sekali kamu bersuara di kelas saya,” ucapnya. Senyum mengembang di bibir Luna. “Saya yang jadi pasangan Lion. Saya saja, Bu.” Luna berdiri dengan tenang, membungkuk ringan kemudian. Semua mata masih tertuju padanya. Lion menoleh perlahan, menatap Luna seolah baru pertama kali benar-benar melihatnya. Wali kelas menimbang sebentar, lalu mengangguk. “Baik kalau begitu. Kalian satu kelompok.” Luna duduk kembali. Jantungnya berdetak stabil. Ia bisa merasakan tatapan Lion masih tertancap di wajahnya, dingin dan penuh tanya. Namun, kepercayaan diri Luna lebih besar. Dia mengabaikan tatapan dingin Lion padanya. $$$ Jam istirahat tiba. Luna membawa nampan makan siang gratis yang sengaja disediakan sekolah setiap hari ke sudut kantin yang agak sepi. Ia duduk di sana ketika bayangan seseorang jatuh menutupi mejanya. “Sekarang kamu berubah jadi penggoda?” Suara Arumia terdengar dingin. Luna mengangkat wajahnya pelan. Arumia berdiri dengan dua anak buahnya, tangan terlipat di dada. Matanya mengancam seperti predator yang menemukan mangsa. “Kamu lagi ngomong sama aku?” tanya Luna santai. Menunjuk dirinya sendiri. Sekali lagi, dia bertanya. Kali ini dengan nada sedikit menyebalkan. “Aku?” Arumia menyeringai. “Kamu ini kesambet setan apa sekarang jadi berani menatap mataku, huh!” desis Arumia. “Jangan sok berubah keren hanya karena sekali melawan. Aku membiarkan kamu begitu, karena aku memberi kesempatan sama anak culun–” Luna menghela napas panjang. “Gadis muda ini tidak punya tata krama rupanya,” bisiknya hampir seperti gumaman. Tanpa ragu, Arumia mengangkat kaleng susu di tangannya, dan … air susu itu jatuh di atas makan siang Luna. Cairan putih menutup nasi dan lauknya sekaligus, bahkan beberapa percikan mengenai seragam Luna. Beberapa siswa menoleh. Mereka mulai lagi, begitulah kiranya arti pandangan mata mereka. Luna menunduk, menatap makan siangnya yang kini berubah menjadi sup susu. Lalu, kembali mengangkat wajahnya kembali. “Kamu mau apa sebenarnya?” Dia tertawa sinis. “Makan saja. Kamu sejak dulu suka sup susu.” Luna terdiam. Matanya tertitik pada Arumia. Jari jemarinya mengepal kuat. “Kenapa? Mau melawan lagi?” “Tidak.” Luna berdiri. Ia mendekat satu langkah. Suaranya tetap rendah, tetapi jelas. “Bereskan itu. Itu kekacauanmu. Kalau lapar, makan saja. Anggap aku berbagi sup susu kesukaanku.” Selepas menyelesaikan kalimat, Luna berpaling. Namun, kepergiaannya dicegah oleh Arumia. Gadis licik itu menarik pundak Luna dengan kasar. Luna menampiknya tak kalah kasar. Adegan saling pandang terjadi beberap detik. Luna menoleh pada dada kiri, membaca nama Arumia. “Dengarkan aku.” “Aku bukan Luna yang dulu. Jiwaku sudah berbeda.” Arumia malah tertawa. “Orang dungu ini ngomong apa, sih.’’ “Jadi, menyentuhku sekali lagi … kamu akan menyesalinya sampai lulus.” Tawa Arumia tertahan. “Ngancam?” “Memberi pilihan,” jawab Luna singkat. Ia berpaling dan pergi begitu saja, meninggalkan meja dan sup susu buatan Arumia. Lalu keheningan aneh menyala di mana-mana. $$$ Pulang sekolah, langit sedikit mendung. Luna berjalan ke gerbang ketika seseorang menyalip langkahnya begitu saja. Lion. “Lion!” Satu panggilan diabaikan. Luna tak mau mengulang kesalahan yang sama. Dia berlari, menyamai langkah Lion dan meraih earphone di telinganya. “Sudah aku duga!” Lion menoleh sembari mengerutkan keningnya. “Kembalikan!” Luna malah tertawa melihat ekspresi Lion. “Nanti aku kembalikan setelah kita bicara.” “Aku tidak tertarik bicara denganmu,” jawab Lion sinis. “Tugasnya hanya untuk tiga hari!” Luna menyenggol lengan lelaki itu, karena memang tingginya hanya sampai di sana. Lion menghela napas. “Kita kerjakan di kafe tempatmu kerja. Aku yang kerjakan.” “Tidak!” Luna mempercepat langkahnya, lalu menghadang Lion di hadapannya. “Kita ke rumahmu.” Lion berhenti melangkah. Menatap Luna lama. “Kenapa di rumahku?” “Karena rumahmu bagus, mungkin. Kamu anaknya orang kaya.” Senyum kikuk mengembang di bibir Luna. Gadis itu melirik jam murahan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Akhir pekan pukul 08:46 aku datang.” Lion hanya terdiam, lagi-lagi menatap gadis di depannya. Luna memberikan earphone milik Lion dan mengulurkan tangannya. “Berikan jamuan yang enak, okey Bro?” Senyum mengembang begitu saja. Luna melangkah mundur sembari melambaikan tangannya. Senyum Luna membuat Lion terdiam tanpa bahasa. Gadis itu tak pernah begitu. Dia selalu menunduk, menjadi korban buli, dan menerima hidupnya yang miris. Tidak pernah berbicara, apalagi menyapa. Namun, hari ini Lion menatap Luna versi paling ceria yang menggemaskan. Berubah dalam sekejap mata. –Dan hatinya … seolah mendapat kekuatan setelah kesedihan menghantam atas kematian Yalinda.Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.
Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.
Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.
Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu
Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be







