LOGINPusat perbelanjaan kota selalu ramai menjelang akhir pekan. Sore ini Luna tak bekerja, jatahnya libur. Aroma khas menyambut kedatangannya. Suara troli beradu dan lampu putih yang terlalu terang. Luna berdiri di depan etalase kosmetik, menatap pantulan wajahnya sendiri.
Dengan wajah muda yang cantik ini, dia bisa menaklukkan Darian. “Boleh aku coba yang ini?” tanyanya pada pramuniaga, menuju lipstik bernuansa rosewood. Pramuniaga tersenyum ramah, menyerahkan produk tester. Luna mengoleskannya perlahan. Warna itu jatuh pas di bibirnya–tidak mencolok, tidak polos. Dewasa dan tenang. Dia mengangguk kecil. “Ini cukup.” Ia melangkah ke rak bedak, memilih satu yang tipis. Luna tidak ingin tampak berlebihan. Ia hanya ingin … terlihat layak berdiri di depan siapa pun. Mengubah Luna yang pendiam menjadi gadis pantas untuk di pandang. Termasuk pada Lion juga pada Darian. “Luna?” Suara itu membuatnya menoleh. Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya, memeluk tas kain lusuh di dada. Rambutnya dikuncir rendah, wajah lembut dengan mata yang selalu tampak waspada. “Kamu manggil aku?” Luna menunjuk dirinya sendiri. Dia ingat wajahnya, tetapi tidak namanya. Tubuh barunya tak meninggalkan apapun untuk diingat. Seolah memaksa Yalinda untuk mengulang semuanya dari awal. Gadis itu tersenyum. “Kita satu kelas. Tentu aja aku manggil kamu.” Bertanya nama akan membuatnya jadi gadis aneh, jadi Luna hanya tersenyum dan mengangguk. “Aku Thea,” ucapnya mendekat. Seolah tahu kebingungan Luna. Thea melihat keranjang kecil berisi beberapa kosmetik yang dipegang Luna. “Kamu belanja semua ini untuk dirimu sendiri?” Luna manggut-manggut. “Itu aneh?” tanyanya ketika melihat perubahan wajah Thea. “Aneh banget.” Thea langsung menuju point pembicaraan. “Luna tidak pernah berdandan. Dia tidak tertarik selain belajar. ” Thea melanjutnya. “Luna yang dulu hanya diam. Duduk di bangku belakang paling pojok dan menunggu apapun datang padanya. Termasuk … bulian Arumia.” Seulas senyum canggung melengkung begitu saja. Dia tidak punya alasan, selain … “Aku ingin berubah. Menjadi lebih baik.” Mereka berjalan berdampingan, menyusuri setiap etalase yang ada. Tidak ada percakapan hingga Luna sampai ke meja kasir lalu membayar semua belanjaannya. Keluar dari toko kosmetik, melewati lorong pakaian. Thea berhenti di depan rak gaun sederhana, jari jemarinya menyentuh kain tipis lalu menariknya kembali, seolah takut meninggalkan bekas. “Kamu ingat waktu Arumia dan gengnya mengunciku di gudang olahraga?” tanya Thea tiba-tiba. “Kadang aku ingin membalas mereka.” Luna mengangguk ragu. Dia hanya mengambil alih tubuh Luna, bukan memori ingatannya atau pun luka gadis muda ini. Semua yang dia terima adalah makanan baru dengan sendok kayu yang sudah lusuh. Mau tidak mau, hanya membuka mulut sambil menerka kemana arah makanan ini akan dicerna. “Kamu yang membuka pintunya,” ucap Thea sembari tersenyum. “Kamu mengadu ke guru … dan setelah itu … mereka berhenti menggangguku.” Luna terdiam, seolah menyusun memori barunya. “Dan setelah itu ….” Suara Thea melemah. “Mereka mulai membuli kamu setiap hari.” Luna menatap gaun di tangannya. Kain biru tua, sederhana dan anggun. Luna yang dulu tidak akan membeli gaun seperti ini–begitu pikirnya. “Aku selalu merasa bersalah sama kamu karena harus menggantikan aku dibuli,” gumam Thea lagi. Kalimatnya belum selesai. “Jadi selalu ingin meminta maaf dan berteman sama kamu.” Luna menoleh padanya. “Kenapa tidak kamu lakukan itu? Kamu bilang Luna itu baik, jadi dia pasti menerima kamu jadi temannya.” “Aku takut dibuli lagi jika berteman sama kamu. Secara tidak langsung aku sudah terbebas.” Thea menunduk, memainkan jari jemarinya yang sedikit berkerut. “Rasanya seperti aku adalah orang jahat yang menari bebas di atas penderitaan kamu.” Helaan napas panjang nan berat Luna berikan untuk mengakhiri kalimat Thea. “Kamu nggak salah, gadis ini yang terlalu baik,” gumam Luna hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Juga … sedikit bodoh. Seperti aku.” Thea meraih pundak Luna, membuat mereka saling berhadapan. “Lalu, tiba-tiba kamu berubah. Kamu melawan mereka dan bahkan berani menatap Arumia.” “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kamu bahkan membeli make up untuk dirimu sendiri, Luna.” Canggung menggantung di udara. Luna tak punya banyak yang ingin dijelaskan, kecuali mengaku bahwa jiwanya sudah bukan Luna lagi. “Apapun yang terjadi sama kamu. Aku …” “Thea,” panggil Luna lirih. “Jika suatu saat kamu menemukan Luna yang pemalu dan sendiri itu kembali lagi, jadilah temannya. Agar dia tidak kesepian. Dia pasti membutuhkan teman seperti kamu.” Keduanya saling pandang, tak ada yang berbicara. Thea hanya tersenyum simpul mendengar kalimat Luna yang baginya aneh dan asing, seperti tubuh dan jiwa yang tak saling mengenal. $$$ Mereka berpisah di depan pintu keluar. Hujan gerimis mulai turun. Luna berjalan ke halte bus terdekat, menenteng kantong berisi gaun dan kosmetik yang ia beli–hal-hal yang dulu terasa tidak pantas ia miliki. Ia duduk di bangku halte, sendirian, menunggu bus datang. Lampu billboard di seberang jalan menyala terang, berisi iklan-iklan produk lokal dan beberapa berita kilat terkini. “Darian Wiratama akan segera menikah dengan sekretaris pribadi yang telah menemani perjuangannya.” Luna mendongak ... dan dunia seolah berhenti. “Menemani perjuangannya?” Sudut bibir Luna terangkat begitu saja. Kematian malam itu adalah memori terakhir dirinya sebagai Yalinda. Wajah Darian memenuhi layar. Rapi. Tersenyum. Berwibawa. Tak akan ada yang menyangka bahwa pria itu telah membunuh istrinya sendiri. Di sampingnya, Selena bersandar manis mengenakan gaun putih senada dengan jas yang dikenakan Darian. Tulisan besar muncul sebagai tajuk berita kilat malam ini. Pengumuman pernikahan Darian Wiratama dan Selena Aditya. “Dia benar-benar luar biasa,” gumam Luna pada dirinya sendiri. “Bahkan kematianku belum 40 hari.” Napas Luna tercekat. Tangannya mencengkeram kantong belanja hingga plastiknya berkerut. “Makamku saja … bajingan itu tidak pernah peduli.” Kepalanya berdenyut. Ingatan menghantam tentang darah, kaca, tawa Selena yang tertahan, dan tangan Darian yang mendorongnya jatuh malam itu. Billboard berganti animasi. Tanggal pernikahan, lokasi, dan hotel mewah. Amarah Luna naik perlahan–bukan meledak. Semua terasa dingin, teratur, dan mematikan. “Oke,” ucap Luna perlahan. “Aku bisa menerkam dua mangsa sekaligus jika begitu.” Luna menoleh ke sisi lain, potret perawakan tinggi ditangkap oleh lensa matanya. Seulas senyum terpampang nyata di bibirnya. Dia beranjak dari tempatnya ketika bus datang sesaat kemudian. Namun, pandangan matanya tidak berubah. Di sana, jauh dari tempatnya berdiri. Lion berjalan mendekat, melihat ke arahnya di bawah gerimis Jakarta. “Lion. Maafkan aku. Wanita yang kamu cintai ini harus memanfaatkan kamu untuk balas dendamnya.” Bus berhenti tepat di depan halte. Pintu terbuka perlahan. Namun Lion tidak bergerak di tempatnya. Ia berhenti beberapa langkah di depan Luna. Tatapannya jatuh pada kantong belanja di tangan gadis itu, lalu berpindah ke billboard raksasa yang masih menampilkan wajah Darian dan Selena. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Lion mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sebuah foto. Foto Yalinda. Ia mengangkat layar itu tepat di depan wajah Luna. "Kalau kamu memang bukan orang aneh ...." Suaranya rendah. "... kenapa setiap kali melihat kamu, ekspresimu selalu sama seperti orang yang sedang kehilangan dalam amarah?" Napas Luna terhenti. Gadis itu terus menatapnya. Apapun yang dilakukan Lion malam itu. Samar-samar, Lion mengucapkan satu kalimat yang membuat darahnya membeku. "Siapa kamu sebenarnya?”Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.
Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.
Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.
Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu
Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be







