Home / Fantasi / Kembalinya Janda Wiratama / |5| Sentuhan Pertama

Share

|5| Sentuhan Pertama

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-06-23 15:09:17

Dua hari berlalu begitu saja. Kalimat terakhir Luna tidak membuat Lion menghubunginya. Senyap tanpa respons, Lion punya pendirian yang luar biasa hebat.

Hari ini sekolah baru dimulai. Luna berjalan menyusuri lorong sekolah. Ramai dan padat, tetapi tak seorang pun akrab dengannya. Hingga langkah kakinya terhenti di depan tangga naik ke kelasnya. Lion Bagaskara.

“Kamu sepertinya menungguku,” ucap Luna padanya. Seulas senyum terlukis di bibir ranumnya.

Lion menolak mengakui fakta itu, meskipun sebenarnya iya.

“Ikut aku.” Dia memberi perintah. Kalimat singkat, lalu pergi dari hadapan Luna, memimpin arah langkah kaki mereka berdua.

Atap sekolah adalah tujuannya. Suasana yang sepi, tak ada mata yang mengawasi atau telinga yang akan mendengar.

Lion berbalik, jaraknya tak cukup jauh dari gadis bersurai hitam panjang itu berada.

“Ceritakan,” kata Lion singkat. “Satu hal saja. Yang tidak ada di berita.”

Luna menarik napas. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut, tetapi karena ingatan. Dia menundukkan kepala, terdiam cukup lama. Sedangkan Lion terus menatapnya, seolah berharap sebuah kalimat muncul dari mulut Luna.

“Aku pergi.” Lion berbicara lagi, berpaling dari hadapan Luna. Hendak meninggalkan gadis itu. Namun, Luna berbicara.

“Dia memintamu untuk diam.” Kalimat Luna sukses menahan langkah kaki Lion. Pemuda itu menoleh dan berbalik badan menatapnya.

Tubuh Lion menegang. Tatapannya menjadi lebih tajam.

Luna mendekatinya. Perlahan, dia mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya di atas bibir, seolah sedang memperagakan sesuatu. Ya, ingatannya sendiri.

“Dan kamu tidak melakukan apa pun malam itu,” ucap Luna lagi. “Hingga kematiannya … kamu hanya diam karena dia memintamu untuk diam.”

Lion menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah sedang berusaha mempercayai fakta yang mengejutkan dari gadis korban buli di kelasnya.

Luna menurunkan tangannya, lalu tersenyum simpul. Langkahnya mendekati Lion dengan jelas. “Kamu percaya padaku sekarang?”

Mereka berdiri saling berhadapan, dua orang yang sama-sama patah, tetapi memilih arah berbeda. Lion adalah bidak catur milik Luna untuk balas dendamnya pada Darian.

“Aku tidak mau balas dendam.” Lion tiba-tiba berubah pikiran. “Karena dia menyuruhku untuk diam.” Selepas itu, ia berpaling lagi. Beranjak meninggalkan Luna di sana.

Luna tahu Lion tak akan luluh semudah itu. Bukan soal watak, tetapi bagaimana mengurai luka yang ditimbulkan malam itu. Luna, jiwa Yalinda, tahu betul betapa besar cinta Lion padanya semasa hidup.

“Aku yang akan melakukannya untukmu.” Dia mencegah kepergian Lion agar tidak terlalu jauh. “Aku yang akan melakukannya.”

“Dengan apa!” Pemuda itu tiba-tiba membentak. Dia mendekati Luna lagi. “Kamu hanya orang miskin. Kita hanya anak SMA!”

Manik matanya tak bergerak. Di sana dia menyadari kemarahan Lion yang memburu pasal Yalinda. Setiap sudut matanya memerah. Bentakan itu adalah curahan amarah yang bercampur aduk dengan ketidakberdayaan.

“Dia yang menyuruhku diam, jadi aku akan diam.” Lion mengakhiri kalimatnya. “Dan kamu … entah apa yang terjadi sama kamu. Lebih baik kamu juga diam. Kamu tidak mengenal siapa pun di antara mereka.”

“Suaminya adalah orang mengerikan. Kamu tidak akan bisa menghadapinya. Jadi … jangan sok berguna! Kamu hanya akan memperkeruh suasana!”

Luna diam sejenak, membaca semua arti tatapan Lion padanya.

“Melawan pembuli saja kamu tidak bisa hingga dibuli bertahun-tahun. Daripada sok jadi superhero untuk orang lain, mending kamu selamatkan dirimu dulu.”

Selepas menyelesaikan kalimatnya, Lion benar-benar pergi. Sekarang Luna tidak mencegahnya. Dia memberikan punggung itu menghilang begitu saja.

Helaan napasnya lelah, pandangan matanya mulai tanpa arah hingga dia menemukan objek yang tak seharusnya ada di sana.

Darian Wiratama.

“Apa yang dia lakukan di sini?” gumam Luna sembari berjalan ke tepi rooftop sekolah untuk melihat lebih jelas.

Darian berjalan tak sendiri. Ada Selena di sana. Juga didampingi beberapa guru di sekolahnya.

Luna berbalik. Langkahnya dipercepat menuruni tangga sekolah. Tujuannya adalah toilet secepat mungkin. Bahkan saat bertemu dengan Lion, dia yang mengabaikannya.

Sesampainya di toilet, dia menutup pintu rapat-rapat dan berdiri di depan cermin sekolah. Rambutnya yang awalnya diikat kuda kini ia lepas. Dibiarkan terurai begitu indah menutupi punggungnya.

“Boleh aku meminta lipstik dan bedakmu?” Luna bertanya kepada teman di sampingnya.

Gadis itu terdiam sebentar, lalu menganggukan kepala.

“Terimakasih.”

Lipstik merah muda perlahan ia oleskan pada bibir dan menambahkan sedikit bedak untuk memperdalam kesan anggun yang ia miliki. Jari jemarinya fokus merapikan rambut dan poni yang jatuh di atas dahinya.

“Sempurna!”

Dia keluar dari toilet sekolah, berjalan menyusuri lorong untuk sampai ke halaman depan. Semesta membantunya! Seorang teman berkacamata bulat membawa tumpukan buku dalam dekapannya.

“Mau ke perpustakaan?” tanya Luna padanya. Lawan bicaranya mengangguk pasti.

Luna tersenyum kuda. “Biar aku saja,” ucapnya. “Berikan bukunya.”

Dia hendak menolak, sebab ini tugasnya. Namun, Luna mengambil alih semua tumpukan buku itu dengan cepat. Dalam sekejap, semua tanggung jawab sudah berpindah tangan.

“Hati-hati, ya! Tebal semua.”

“Tenang,” kata Luna. “Aku kuat.” Dia balas berteriak.

Namun, tujuannya bukan perpustakaan sekolah, melainkan halaman utama tempat Darian berada.

“Di mana dia?” gumam Luna sembari mengedarkan pandangan mata. Lalu, manik matanya terkunci pada satu titik. “Ketemu. Kena kamu bajingan sialan.”

Luna menurunkan pandangannya sedikit, membuat dirinya terlihat lebih kecil, lebih rapuh. Ia mempercepat langkah setengah detik—cukup untuk membuat ritmenya goyah.

Sekarang!

“Aduh!” Buku lepas dari dekapannya dan tercecer di atas tanah lapangan. Teriakannya cukup untuk mengundang fokus Darian yang berdiri tak jauh darinya.

Awalnya pria itu tak peduli, hanya menoleh. Namun, Luna mengubah semuanya ketika dia menyibakkan rambutnya dengan lembut, memperlihatkan leher jenjang miliknya.

Darian melirik, lalu rasa penasaran menuntun langkahnya mendekati Luna seorang diri. Meninggalkan Selena di sana.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Darian sembari mendekati Luna.

Gadis itu menoleh sebentar, lalu tersenyum—semanis mungkin.

Luna kembali menunduk, berlutut untuk memungut buku. Jari-jarinya sedikit gemetar—bukan karena takut, tetapi karena kemarahan yang ia simpan terlalu lama.

“Kamu sakit, tanganmu gemetar,” ucap Darian. Hendak menyentuh punggung tangan Luna.

Luna mendongak perlahan. Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia menatap wajah lelaki yang menghancurkan hidupnya … dari jarak sedekat ini.

Luna lekas memungut semua buku itu, sesekali tangannya bersentuhan dengan Darian. Itulah tujuannya: sentuhan fisik yang halus.

“Terima kasih,” ucap Luna, kembali berdiri dan mendekap erat buku-buku itu. Tatapannya berbinar, menarik perhatian Darian.

Darian hanya mengangguk pelan. Dia melirik dada kiri Luna. Nama Luna Asteria mulai bergema di dalam kepalanya.

“Lain kali hati-hati,” ucap Darian pelan, lalu mundur perlahan, sedikit demi sedikit. Lalu pria itu berbalik badan.

Seulas senyum terlukis di bibir Luna. Dia tahu … Darian sedang menandainya.

Di sisi lain, Lion menyaksikan semua yang terjadi. Matanya tak beralih dan bibirnya tak berucap sepatah kata pun, tetapi batinnya bergejolak hebat. “Dia tidak tahu rupanya bahwa dia sedang masuk ke mulut singa.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
honeybee202024
orang yang sudah berada di kandang singa, tentu sudah kenal cara menanganinya seperti apa perangainya. hahahaha, skakmat!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   97| Teman Lama

    Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep

  • Kembalinya Janda Wiratama   96| Duplikat

    “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.

  • Kembalinya Janda Wiratama   95| Mata Pisau: Bangkai Tikus

    Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.

  • Kembalinya Janda Wiratama   94| Remember Me!

    Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.

  • Kembalinya Janda Wiratama   93| Seporsi Kekalahan

    Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu

  • Kembalinya Janda Wiratama   92| Simpang Jalan

    Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status