LOGINDua hari berlalu begitu saja. Kalimat terakhir Luna tidak membuat Lion menghubunginya. Senyap tanpa respons, Lion punya pendirian yang luar biasa hebat.
Hari ini sekolah baru dimulai. Luna berjalan menyusuri lorong sekolah. Ramai dan padat, tetapi tak seorang pun akrab dengannya. Hingga langkah kakinya terhenti di depan tangga naik ke kelasnya. Lion Bagaskara. “Kamu sepertinya menungguku,” ucap Luna padanya. Seulas senyum terlukis di bibir ranumnya. Lion menolak mengakui fakta itu, meskipun sebenarnya iya. “Ikut aku.” Dia memberi perintah. Kalimat singkat, lalu pergi dari hadapan Luna, memimpin arah langkah kaki mereka berdua. Atap sekolah adalah tujuannya. Suasana yang sepi, tak ada mata yang mengawasi atau telinga yang akan mendengar. Lion berbalik, jaraknya tak cukup jauh dari gadis bersurai hitam panjang itu berada. “Ceritakan,” kata Lion singkat. “Satu hal saja. Yang tidak ada di berita.” Luna menarik napas. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut, tetapi karena ingatan. Dia menundukkan kepala, terdiam cukup lama. Sedangkan Lion terus menatapnya, seolah berharap sebuah kalimat muncul dari mulut Luna. “Aku pergi.” Lion berbicara lagi, berpaling dari hadapan Luna. Hendak meninggalkan gadis itu. Namun, Luna berbicara. “Dia memintamu untuk diam.” Kalimat Luna sukses menahan langkah kaki Lion. Pemuda itu menoleh dan berbalik badan menatapnya. Tubuh Lion menegang. Tatapannya menjadi lebih tajam. Luna mendekatinya. Perlahan, dia mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya di atas bibir, seolah sedang memperagakan sesuatu. Ya, ingatannya sendiri. “Dan kamu tidak melakukan apa pun malam itu,” ucap Luna lagi. “Hingga kematiannya … kamu hanya diam karena dia memintamu untuk diam.” Lion menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah sedang berusaha mempercayai fakta yang mengejutkan dari gadis korban buli di kelasnya. Luna menurunkan tangannya, lalu tersenyum simpul. Langkahnya mendekati Lion dengan jelas. “Kamu percaya padaku sekarang?” Mereka berdiri saling berhadapan, dua orang yang sama-sama patah, tetapi memilih arah berbeda. Lion adalah bidak catur milik Luna untuk balas dendamnya pada Darian. “Aku tidak mau balas dendam.” Lion tiba-tiba berubah pikiran. “Karena dia menyuruhku untuk diam.” Selepas itu, ia berpaling lagi. Beranjak meninggalkan Luna di sana. Luna tahu Lion tak akan luluh semudah itu. Bukan soal watak, tetapi bagaimana mengurai luka yang ditimbulkan malam itu. Luna, jiwa Yalinda, tahu betul betapa besar cinta Lion padanya semasa hidup. “Aku yang akan melakukannya untukmu.” Dia mencegah kepergian Lion agar tidak terlalu jauh. “Aku yang akan melakukannya.” “Dengan apa!” Pemuda itu tiba-tiba membentak. Dia mendekati Luna lagi. “Kamu hanya orang miskin. Kita hanya anak SMA!” Manik matanya tak bergerak. Di sana dia menyadari kemarahan Lion yang memburu pasal Yalinda. Setiap sudut matanya memerah. Bentakan itu adalah curahan amarah yang bercampur aduk dengan ketidakberdayaan. “Dia yang menyuruhku diam, jadi aku akan diam.” Lion mengakhiri kalimatnya. “Dan kamu … entah apa yang terjadi sama kamu. Lebih baik kamu juga diam. Kamu tidak mengenal siapa pun di antara mereka.” “Suaminya adalah orang mengerikan. Kamu tidak akan bisa menghadapinya. Jadi … jangan sok berguna! Kamu hanya akan memperkeruh suasana!” Luna diam sejenak, membaca semua arti tatapan Lion padanya. “Melawan pembuli saja kamu tidak bisa hingga dibuli bertahun-tahun. Daripada sok jadi superhero untuk orang lain, mending kamu selamatkan dirimu dulu.” Selepas menyelesaikan kalimatnya, Lion benar-benar pergi. Sekarang Luna tidak mencegahnya. Dia memberikan punggung itu menghilang begitu saja. Helaan napasnya lelah, pandangan matanya mulai tanpa arah hingga dia menemukan objek yang tak seharusnya ada di sana. Darian Wiratama. “Apa yang dia lakukan di sini?” gumam Luna sembari berjalan ke tepi rooftop sekolah untuk melihat lebih jelas. Darian berjalan tak sendiri. Ada Selena di sana. Juga didampingi beberapa guru di sekolahnya. Luna berbalik. Langkahnya dipercepat menuruni tangga sekolah. Tujuannya adalah toilet secepat mungkin. Bahkan saat bertemu dengan Lion, dia yang mengabaikannya. Sesampainya di toilet, dia menutup pintu rapat-rapat dan berdiri di depan cermin sekolah. Rambutnya yang awalnya diikat kuda kini ia lepas. Dibiarkan terurai begitu indah menutupi punggungnya. “Boleh aku meminta lipstik dan bedakmu?” Luna bertanya kepada teman di sampingnya. Gadis itu terdiam sebentar, lalu menganggukan kepala. “Terimakasih.” Lipstik merah muda perlahan ia oleskan pada bibir dan menambahkan sedikit bedak untuk memperdalam kesan anggun yang ia miliki. Jari jemarinya fokus merapikan rambut dan poni yang jatuh di atas dahinya. “Sempurna!” Dia keluar dari toilet sekolah, berjalan menyusuri lorong untuk sampai ke halaman depan. Semesta membantunya! Seorang teman berkacamata bulat membawa tumpukan buku dalam dekapannya. “Mau ke perpustakaan?” tanya Luna padanya. Lawan bicaranya mengangguk pasti. Luna tersenyum kuda. “Biar aku saja,” ucapnya. “Berikan bukunya.” Dia hendak menolak, sebab ini tugasnya. Namun, Luna mengambil alih semua tumpukan buku itu dengan cepat. Dalam sekejap, semua tanggung jawab sudah berpindah tangan. “Hati-hati, ya! Tebal semua.” “Tenang,” kata Luna. “Aku kuat.” Dia balas berteriak. Namun, tujuannya bukan perpustakaan sekolah, melainkan halaman utama tempat Darian berada. “Di mana dia?” gumam Luna sembari mengedarkan pandangan mata. Lalu, manik matanya terkunci pada satu titik. “Ketemu. Kena kamu bajingan sialan.” Luna menurunkan pandangannya sedikit, membuat dirinya terlihat lebih kecil, lebih rapuh. Ia mempercepat langkah setengah detik—cukup untuk membuat ritmenya goyah. Sekarang! “Aduh!” Buku lepas dari dekapannya dan tercecer di atas tanah lapangan. Teriakannya cukup untuk mengundang fokus Darian yang berdiri tak jauh darinya. Awalnya pria itu tak peduli, hanya menoleh. Namun, Luna mengubah semuanya ketika dia menyibakkan rambutnya dengan lembut, memperlihatkan leher jenjang miliknya. Darian melirik, lalu rasa penasaran menuntun langkahnya mendekati Luna seorang diri. Meninggalkan Selena di sana. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Darian sembari mendekati Luna. Gadis itu menoleh sebentar, lalu tersenyum—semanis mungkin. Luna kembali menunduk, berlutut untuk memungut buku. Jari-jarinya sedikit gemetar—bukan karena takut, tetapi karena kemarahan yang ia simpan terlalu lama. “Kamu sakit, tanganmu gemetar,” ucap Darian. Hendak menyentuh punggung tangan Luna. Luna mendongak perlahan. Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia menatap wajah lelaki yang menghancurkan hidupnya … dari jarak sedekat ini. Luna lekas memungut semua buku itu, sesekali tangannya bersentuhan dengan Darian. Itulah tujuannya: sentuhan fisik yang halus. “Terima kasih,” ucap Luna, kembali berdiri dan mendekap erat buku-buku itu. Tatapannya berbinar, menarik perhatian Darian. Darian hanya mengangguk pelan. Dia melirik dada kiri Luna. Nama Luna Asteria mulai bergema di dalam kepalanya. “Lain kali hati-hati,” ucap Darian pelan, lalu mundur perlahan, sedikit demi sedikit. Lalu pria itu berbalik badan. Seulas senyum terlukis di bibir Luna. Dia tahu … Darian sedang menandainya. Di sisi lain, Lion menyaksikan semua yang terjadi. Matanya tak beralih dan bibirnya tak berucap sepatah kata pun, tetapi batinnya bergejolak hebat. “Dia tidak tahu rupanya bahwa dia sedang masuk ke mulut singa.”Napas Luna tertahan begitu melihat bayangan Darian memantul di dinding apartemen. Hanya dengan melihat siluet itu saja, seluruh tubuhnya mendadak kaku. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram lengan Lion kuat-kuat.Lion menoleh, berbisik halus. "Kamu kenapa?"Luna menggeleng cepat. "Ssst! Diam," bisiknya nyaris tak bersuara."Tapi—""Diam, Lion."Suara langkah Darian mengayun masuk ke ruang tengah. Tok. Tok. Tok.Matanya terpejam. Yalinda –dalam tubuh Luna– hapal benar ritem langkah kaki itu. Tanpa melihat, ia bisa membayangkan bagaimana Darian menikmati setiap langkah melintasi sofa, meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu melepaskan jas mahalnya. Kebiasaan kecil yang dulu begitu akrab saat ia masih menjadi istrinya. Sekarang, kebiasaan yang sama justru terasa seperti teror panjang yang tak berujung.Lion memperhatikan wajah Luna yang pucat pasi, bibirnya memang mengatup rapat, tetapi jari telunjuk di depan bibirnya itu gemetar hebat, menandakan takut ketahuan menyelinap."Kamu mengen
Kepingan vas bunga masih berserakan di lantai. Suara bola-bola kecil di dalam vas yang menggelinding berhenti perlahan, menyisakan keheningan yang terasa menyesakkan. Lion mengusap pelipisnya. Darah mengalir tipis di balik celah rambut hitamnya, sementara tatapan pemuda itu tak berpindah dari Luna–yang mematung di depannya karena terkejut.Napasnya gadis itu naik turun, perlahan teratur setelah memastikan Lion adalah orang yang berdiri di depannya, bukan Darian. Tak ada yang bicara, juga tak ada yang bergerak. Hanya saling menatap. Sedang mencerna posisi masing-masing."Aku harusnya lapor polisi. Seorang pencuri mau membunuhku." Kalimat Lion terdengar datar. Sarkasme yang indah.Luna menggenggam ponsel di tangannya lebih erat. "Aku … aku s–salah masuk unit. Harusnya …. a–aku … maksudku …. Kenapa kamu di sini?" Dia gelagapan setengah mati. Lion tertawa pendek. Bukan karena lucu. Melainkan karena alasan itu terdengar terlalu buruk untuk dipercaya."Kamu berharap aku percaya?"Luna me
Bel istirahat berbunyi nyaring. Suasana kantin langsung penuh oleh suara kursi yang digeser dan langkah kaki para murid yang berebut makan siang.Luna baru saja menuruni tangga ketika beberapa pasang mata mulai berbisik."Eh ... itu Luna.""Katanya habis dipukuli.""Masih berani masuk sekolah?"Bekas lebam di sudut bibirnya masih samar terlihat meski ditutup bedak tipis. Luka di pelipis tertutup rambut yang sengaja dibiarkan terurai.Ia berjalan seolah tidak mendengar apapun. Namun langkahnya terhenti. Arumia berdiri tepat di tengah kelas. Tangannya bersedekap. Di kanan kirinya berdiri dua sahabatnya."Kamu masih hidup?" Nada suaranya terdengar seperti kecewa.Luna mengangkat kepala. "Kelihatan, ‘kan?"Arumia berjalan mendekat. "Berani juga datang.""Aku memang sekolah di sini," jawab Luna malas. Memutar pelan bola matanya. "Tapi setelah kemarin ...." Arumia tersenyum tipis. "Aku kira kamu bakal pindah."Luna ikut tersenyum. "Kalau cuma dipukul sama orang gila, belum cukup buat bikin
Cahaya putih dari layar menjadi satu-satunya penerangan di ruangan sempit itu. Pesan itu masih ada. Kamu mencuri tubuhnya. Kamu bukan Luna. Luna mengusap layar dengan ibu jarinya. Berharap kalimat itu ikut terhapus. Tidak. Pesan itu tetap di sana.Kalimat itu masih memenuhi layar ponsel ketika sebuah batu menghantam jendela kamar Luna. Kaca bergetar keras. Luna langsung berdiri.Jantungnya melonjak. Ia menoleh ke arah jendela. Lorong sempit di belakang rumahnya kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya sebuah batu sebesar kepalan tangan yang tergeletak di lantai. Di bawahnya terlipat secarik kertas.Luna membuka kertas. Di sana hanya ada satu kalimat. Berhenti menemui Darian kalau masih ingin hidup.Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan.Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, setidaknya mencari jejak yang ditinggalkan oleh angin malam. Namun, nihil. Jari jemari Luna bergetar, pikirannya mulai kosong. Orang ini … bukan sekadar tahu rahasianya. Dia juga … mengawasinya.Luna menggenggam kertas i
"Suruh dia masuk." Suara itu membuat tubuh Luna membeku. Bukan karena lega. Bukan karena akhirnya seseorang menolongnya. Namun, karena suara itu terlalu ia kenal. Perlahan, Luna mengangkat wajah. Dan dunia seolah kembali melemparkannya ke malam itu.Darian Wiratama.Untuk beberapa detik, Luna hanya menatapnya. Seharusnya dia berlari, menjauh. Namun, tubuhnya terlalu lelah untuk mendengarkan pikirannya.Darian membuka pintu mobil dari dalam. "Masuk."Suaranya tetap sama. Tenang. Terkendali. Sama seperti ketika dia memanggil namanya malam itu."Luna?"Panggilan itu membuatnya tersentak. Dia baru sadar bahwa dirinya masih berdiri di luar mobil seperti orang bodoh.
"Aku penguntit! Aku stalking kamu! Karena aku suka kamu! Puas?"Luna mengacak rambutnya sendiri begitu keluar dari kompleks apartemen Lion. Langit Jakarta mulai berubah jingga. Akhir pekan membuat jalanan dipenuhi kendaraan.Langkahnya menghentak trotoar, sementara wajahnya memerah karena kesal."Dasar bocah menyebalkan," gerutunya pelan. "Pertanyaannya banyak sekali. Padahal dia lemah lembut sama Yalinda. Bagaimana bisa berubah jadi bocah setan kalau sama Luna?"Ia menirukan suara Lion dengan nada mengejek. “Dari mana kamu tahu nomor unit apartemenku? Siapa kamu sebenarnya?”







