LOGINMenemukan pintu ajaib layaknya "Doraemon", Kerajaan Valdros dan Astheria Berseteru, Dan Akira menjadi penyelamat dengan kekuatan setengah dewa yang dahsyat. Menjadi pedagang dua dunia, berawal dari pekerja biasa di toko barang antik, kini Akira kaya raya dengan menjadi pedagang sukses di dua dunia. Kehidupan damai, sedikit pertualangan yang mencekam dan Akira selalu punya cara untuk menyelesaikan semua masalah.
View MoreLangit Kerajaan Valdros diselimuti awan kelabu pekat, seolah alam pun enggan menatap derita yang merayap di bawahnya. Awan-awan itu menggantung rendah, menahan hujan yang tak kunjung turun—seperti harapan yang tertahan di dada rakyatnya.
Di atas setiap bukit yang mengelilingi ibu kota, bendera perang Kekaisaran Astheria berkibar angkuh. Kain hitam dengan naga merah mencengkeram mahkota itu tampak seperti luka menganga di cakrawala, pengingat bahwa musuh tidak hanya datang—mereka bertahan. Dari atas tembok benteng tertinggi, ribuan tenda pasukan musuh membentang luas hingga ke ujung mata memandang, seperti lautan kanvas kelam yang siap menelan kerajaan kapan saja.
Sudah tiga bulan.
Tidak ada serangan.
Tidak ada dentuman meriam sihir yang mengguncang tanah.
Tidak ada hujan panah yang menghitamkan langit.
Tidak ada teriakan perang.
Yang mereka lakukan hanya satu hal, dan itu lebih kejam dari pertempuran apa pun.
Mereka memutus semua jalur perdagangan.
Jalan-jalan utama yang dulu ramai dilintasi karavan kini sunyi. Pos-pos penjagaan di perbatasan ditinggalkan. Jembatan-jembatan strategis diruntuhkan. Setiap celah, setiap jalan setapak, setiap sungai yang bisa dilayari—semuanya diawasi ketat oleh patroli naga terbang Kekaisaran. Tak ada satu pun karavan yang bisa memasuki kerajaan. Bahkan burung merpati pos pun ditembak jatuh sebelum sempat menyeberangi garis blokade.
Di pasar ibu kota, gandum menghilang dari lapak-lapak pedagang seperti air menguap di musim kemarau. Obat-obatan langka habis dalam sepekan pertama. Harga garam—komoditas paling sederhana—melonjak puluhan kali lipat hingga setara dengan emas. Ibu-ibu menangis di depan anak-anak mereka yang kelaparan.
Para petani menjual tanah leluhur hanya untuk sepotong roti basi. Bahkan para bangsawan, yang dulu berpesta pora dengan meja penuh hidangan, mulai mengurangi jatah makan mereka menjadi sekali sehari.
Kelaparan menjadi musuh yang lebih mengerikan daripada perang. Karena perang bisa dimenangkan dengan pedang dan sihir, tapi kelaparan hanya bisa dikalahkan dengan sesuatu yang tak dimiliki Valdros saat ini: waktu dan jalan masuk.
Di dalam ruang singgasana, suasana tak kalah mencekam.
Lilin-lilin di pilar marmer berkedip-kedip gelisah, menerangi wajah-wajah pucat para penasihat kerajaan yang duduk dalam keheningan berat. Permadani merah yang tergambar lambang matahari Valdros kini tampak kusam, debu mulai mengendap di sulur-sulur emasnya. Jendela-jendela tinggi terbuka lebar, tapi angin yang masuk justru membawa bau asap dari kamp-kamp musuh di kejauhan—pengingat yang sangat menyakitkan tentang betapa dekatnya kematian.
"Persediaan makanan kita hanya cukup untuk tujuh hari lagi, Yang Mulia."
Suara Perdana Menteri laksana batu nisan yang jatuh di tengah keheningan. Pria tua berbaju ungu itu menundukkan kepala dalam-dalam, rambut putihnya yang jarang tampak lebih kusut dari biasanya. Di tangannya, gulungan laporan tergenggam erat hingga kukunya memutih.
Sang Raja memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak naik takhta tiga puluh tahun lalu, ia tidak menemukan jalan keluar. Peta kerajaan yang terbentang di lantai marmer terasa mengejek. Setiap kota, setiap desa, setiap titik air yang ia kenal sejak kecil kini seperti pulau-pulau terasing yang perlahan tenggelam.
Keheningan memenuhi ruangan. Bahkan para pahlawan yang dipanggil oleh kerajaan dari dunia lain pun hanya menunduk, tak mampu menawarkan solusi. Mereka kekurangan semua sumber daya untuk menghunuskan pedang ke arah lawan.
Hingga seorang wanita muda melangkah maju.
"Yang Mulia... Ayahanda."
Sang Raja membuka mata. Untuk sesaat, kerutan di dahinya sedikit mengendur. Putri mahkota kesayangannya. Satu-satunya yang masih berani menatapnya langsung di saat-saat seperti ini.
"Ada seseorang yang ingin aku rekomendasikan."
"Siapa?" suara sang Raja lirih, penuh kelelahan.
"Seorang pedagang."
Ruangan itu langsung dipenuhi bisik-bisik. Para menteri saling berpandangan dengan ekspresi tak percaya.
Di luar pintu istana, Akira terlalu lelah menunggu panggilan mereka.
“Ahhh…aku harus bicara apa pada Raja??!!!” gumam Akira yang sangat bingung dan bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari kepalanya di suasana yang dingin itu.
Di dalam ruang perkumpulan, Dahi sang Raja kembali mengerut sangat dalam. Pedagang yang direkomendasikan oleh putrinya tampak tidak memberikan solusi yang konkret bagi yang Mulia Raja.
"Uuntuk apa kamu membawa pedagang putri ku? dia juga tidak akan bisa apa-apa! semua sudah dikepung!" tegas Raja, menceritakan kembali keadaan kerajaan Valdros yang sangat memprihatinkan kepada Putirnya.
Meski nada tegas itu menggema di dalam ruangan, Putri malah tersenyum tipis dibalik kepalanya yang menunduk.
"Paduka, Pedagang ini beda. Sungguh, Demi Tahta yang kau pegang dan demi aku Putri mu, aku mohon, berikan dia kesempatan untuk menjelaskan bagaimana kita dapat keluar dari krisis ini," tutur Putri kepada Ayah tersayangnya dengan penuh keyakinan.
Melihat kesungguhan sang Putri, Raja Kerajaan Valdros akhirnya luluh. Di singgasana itu, dia memberikan senyum ke arah putrinya.
"Baiklah, tidak ada salahnya kita mendengarkan. Panggil dia putriku," tutur Raja yang dengan sangat jelas memancarkan jiwa yang telah separuh menyerah dengan kondisi kerajaan Valdros saat ini.
Kerajaan yang telah dikepung dari berbagai sisi, benar-benar tidak memberikan ruang bagi siapapun untuk keluar masuk kerajaan seperti hari-hari biasanya.
Para kesatria Astheria sangat tega membunuh semua penduduk kerajaan Valdros yang nekat melewati barisan prajurit mereka. Hal ini yang akhirnya membuat seisi kerajaan Valdros, khususnya sang Raja, merasa frustasi dan putus asa.
"Akira! Masuklah!" teriakan Putri sampai ke telinga Akira.
"Eh..Waduh!!" Akira kaget dengan apa yang didengarnya. Kakinya bergetar hebat dan seperti tidak mampu bergerak.
Pintu ruang singgasana itu terbuka.
Dua prajurit menjemput Akira dari luar ruangan.
Keringat Akira tidak berhenti mengucur dari tubuhnya.
Gugup, gemetar, dan ketakutan akan dihukum jika tidak mendapatkan solusi yang diinginkan raja adalah sesuatu yang sangat wajar di dunia lain ini. Akira telah sangat mengerti tentang itu selama dia berada di Verenthia dan mendengar kabar angin tentang dunia itu.
Tiba tiba...
"Akira, bicaralah! aku yang menjamin mu," ujar Putri dengan tegas di hadapan Raja.
"Eh..Baaa...baik," meski jaminan itu telah di dapat, otak dan hati Akira belum sepenuhnya menyatu di suasana yang sangat canggung dan gawat itu.
"BICARALAH KAU WAHAI PEDAGANG!" Pekik Raja dari Singgasanannya.
Pekikan itu seperti sambaran petir yang sangat mengejutkan bagi Akira.
"BAIK!! Yang Mulia Raja," Akira membungkukkan kepalanya dan duduk berjongkok seperti rakyat jelata dihadapan Raja pada umumnya.
"Saya langsung saja, Yang Mulia," tegas Akira.
"Saya Bisa Teleportasi!"
Ucapan itu disambut gemuruh seisi ruangan. Ucapan Akira membuat mata raja terbelalak.
Seisi ruangan tau bahwa sihir teleportasi hanyalah sihir legenda. Tidak ada penyihir manapun di Elysia yang mampu melakukan sihir itu sejak ratusan tahun yang lalu.
Semua mengekspresikan kegaduhanyang sangat dahsyat saat Akira menyatakan kemampuannya dihadapan umum di ruang Singgasana Kerajaan Valdros. Namun, hanya 1 orang yang tersenyum kecil, ya..dia adalah Sang Putri.
"Prajurit! Prajurit!" teriak Akira, napasnya tersengal saat ia mencapai gerbang.Prajurit yang berjaga langsung sigap menghampiri.“Hei kau, ada apa?” Tanya sang Kapten. Matanya menunjukkan kebingungan. “Bukan kah kau yang bersama Tuan Doran kemarin?”Dengan nafas terengah-engah, Akira menjawab, “Ya, itu aku.”“Nama ku Akira,” tegasnya lagi."Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kapten, wajahnya serius."Di jalan sana... di luar hutan... ada sembilan perompak!" kata Akira, masih terengah-engah. "Mereka mencoba merampokku. Mereka... mereka semua pingsan."Kapten mengerutkan alisnya. "Pingsan?"Akira ragu sejenak. Bagaimana menjelaskan ini? Bahwa ia sendiri mengalahkan mereka? Bahwa ia—seorang pengelana kurus dengan pakaian aneh—berhasil membuat sembilan perompak bersenjata tak berdaya."Aku... aku melawan mereka," katanya, suaranya pelan.Kapten menatap Ak
Jalan itu semakin sepi saat ia menjauh dari kota. Suara-suara Verenthia memudar, digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan berbatang perak dan kicauan burung asing di kejauhan.Tiba-tiba..Langkah kaki. Banyak. Datang dari pepohonan di kedua sisi jalan.Akira menghentikan kereta kudanya secara tiba-tiba. Jantungnya mulai berdebar kencang. Kudanya mengeluarkan suara panjang sembari menaikkan kedua kakinya keatas.Sembilan sosok muncul dari balik bayang-bayang hutan. Pria-pria kasar dengan wajah berbekas luka dan senyum kejam. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak bergerigi, tombak, dan satu bahkan membawa busur silang yang diacuhkan ke tanah. Pakaian mereka dari kulit usang dan kain tambal sulam, dan mata mereka berkilau dengan nafsu predator.Perompak.Darah Akira terasa membeku.Yang terbesar di antara mereka—seorang pria botak dengan janggut tebal dan bekas luka mengerikan di pipinya—melang
Tok...Tok..Tok.."Tuan Akira.."Lagi, suara perempuan memanggil akira di balik pintu itu."Tuan..Apakah kau masih tidur?" teriak wanita itu dengan lantang.Lagi.Suara perempuan di balik pintu kamar Akira."Ehm..mmm.." ruh Akira akhinya telah masuk kembali ke dalam raganya.""TUAN AKIRA! Buka Pintunya!" teriak wanita itu."HAH!"Akira seperti sedang menghadapi gempa yang sangat dahsyat. Dia masih trauma dengan suara wanita di balik pintu kamar."Siapa?" jawab Akira sedikit lantang."Apakah disini juga ada layanan ekstra?" gumam Akira dalam hati."Aku Lyra. Kau baru bangun?""Tuan Doran memanggil mu ke ruangannya. Dia mau mengajak mu makan siang.""Eh" Akira menarik nafas lega. "Kreeeweeewekk..."Suara yang sangat merdu itu keluar dari bagian lambung Akira. dia pun bergegas mandi, bersiap, dan berlari ke ruang Doran. Tok..tok..tok.."Tuan Doran, apa kau memanggil ku?" "Kreeweeweweeweeekkk.." basa basi itu langsung disambut dengan nyanyian perut yang sangat mempesona."Ya, Akira. Masu
Sesampainya di penginapan, Akira disambut dengan meriah oleh wanita-wanita seksi yang ada di penginapan itu. Olga dan Luna serta satu wanita baru berbaris menyambut Akira dengan wajah yang merona merah jambu. Sang "Pangeran Kesiangan" pun mengerutkan kening tanda bingung dengan sikap semua wanita di penginapan itu."Eeh.."Tiba-tiba Akira teringat tragedi pagi yang mencekap itu."Apa kabar tentang pagi tadi sudah menyebar ke semua orang di penginapan ini?" gumam Akira dalam hati.Akira langsung terbayang daging yang mengeras dibalik celananya, serta Luna yang begitu seksi di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam berenda berwarna ungu muda."Selamat datang kembali Tuan Akira," sambut mereka bertiga serentak.Olga dan Luna seakan memiliki maksud lain jika dilihat dari rona wajah mereka. Satu wanita baru yang tidak memiliki kenangan buruk dengan Akira hanya memasang wajah imut dan senyum kecil saat berhadapan dengan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.