MasukEkspresi wajah Arya menjadi serius saat mendengar pertanyaan itu.Sambil berjongkok, Arya mulai menjelaskan semuanya lebih jelas dan rinci. "Begini, Aruna memang bukan ibu kandung yang melahirkan Ara, dia adalah adik perempuan ayah. Tapi karena Aruna yang sudah merawat Ara sejak kecil dan selalu menyayangi Ara, jadi tidak apa-apa Ara memanggilnya mama, sebagai ibu pengganti ibu kandung.""Sedangkan Tante Eve sama sekali tidak boleh dipanggil mama, karena dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Ara. Untuk ibu kandung Ara, orang yang melahirkan Ara, namanya adalah Lana Wijaya.""Lana Wijaya?" Kiara tiba-tiba mengingat sesuatu dan buru-buru bertanya, "Bukankah itu orang yang ayah katakan saat pertama kali bertemu dengan Ara?""Benar," akhirnya Arya bisa tersenyum dan mengangguk senang saat gadis kecil itu mulai mengerti."Lana Wijaya, itulah ibu kandung Ara yang melahirkan Ara.""Jadi Ara punya ibu?""Tentu saja Ara punya ibu!" Aruna ikut berbicara dan menambahkan, "Jika Ara tidak pun
"Apa yang kau lihat?"Tentu saja Evelyn bisa menebak apa yang sedang Arya pikirkan, tapi ia sama sekali tidak mencoba untuk menjelaskannya.Dengan sedikit kesal dan marah, dia bahkan mulai berkata, "Apa kau juga akan menolak kebaikan yang aku berikan? Apakah kau pikir aku sedang merencanakan sesuatu? Jika kau berpikir seperti itu, kau terlalu menganggap dirimu terlalu tinggi! Aku hanya ingin membantumu sebagai seorang mitra bisnis! Apakah ada yang salah dengan itu?""Lupakan saja!"Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Arya segera menggelengkan kepalanya dan membuang pikiran di kepalanya.Menoleh ke arah Aruna, dia berkata, "Terima saja apa yang dia rencanakan!""Tapi, kakak—""Tidak apa-apa! Meskipun wanita ini sedikit menyebalkan, dia bukan orang jahat! Kau bisa mempercayainya.""Apa kau mengatakan aku wanita yang menyebalkan?" Evelyn segera bertanya dengan nada yang sama sekali tidak setuju dengan apa yang Arya katakan.Tanpa menunggu jawaban atau respons Arya, wanita itu juga tiba-
"Pfft..."Aruna dan Karina yang ada di sana tidak bisa untuk tidak berbatuk ringan menahan tawanya saat mendengar kata-kata Kiara.Tapi itu belum selesai, karena setelah Kiara melihat Karina, dia juga kembali berkata, "Itu juga kamu! Bibi kurus dan pendiam!""Hahaha!"Diawali oleh tawa dari orang-orang yang mengantarkan paket ke villa Arya, tawa riuh segera terdengar di halaman villa. Membuat kecanggungan yang terjadi menjadi suasana yang menyenangkan karena kata-kata dan kepolosan Kiara.Arya bahkan tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar saat melihat putri di gendongannya.Tapi yang paling mengejutkan adalah respons Evelyn yang tersenyum manis tanpa sedikit pun amarah oleh kata-kata itu.Berbeda dengan amarah yang dia tunjukkan saat pertama kali ia bertemu dengan Kiara, Evelyn bahkan memberikan senyum lebar dan hangat kepada Kiara.Sambil bertepuk tangan dan sama sekali tidak peduli dengan apa yang Kiara panggil, dia berkata, "Ara, namaku bukan bibi. Namaku Evelyn, kamu bisa memangg
Keluar dari restoran setelah makan siang dan pertemuan yang mengejutkan, Elena tiba-tiba menarik putrinya sedikit menjauh dari mobil mereka.Sambil melihat Arya yang tidak jauh darinya, dia berkata dengan suara lirih tapi penuh semangat kepada Evelyn, "Eve, aku tidak akan mencarikan calon lain lagi kepadamu, aku sudah puas dengannya. Tapi, kapan kau akan melaksanakan pernikahan? Kau tahu, aku sudah lama merindukan seorang cucu untuk menemaniku di rumah?""Menikah?" Evelyn terdiam dan menatap ibunya sambil melirik ke arah Arya dengan beberapa kebingungan."Kenapa?" Melihat putrinya tampak ragu-ragu menjawab, Elena kembali bertanya, "Bukankah dia adalah pilihanmu? Kau juga bahagia dengannya. Jangan katakan bahwa kalian tidak berencana untuk menikah? Jika begitu, aku yang tidak akan setuju! Katakan padaku, bukankah Arya ini orang yang sangat tepat untukmu?""Lupakan saja soal pekerjaan dan sebagainya. Lihat saja koneksinya dengan Walikota Thomas itu sendiri. Pria seperti itu, jika kau ti
Elena terdiam, dan tiba-tiba menatap Arya dengan tatapan kosong!Mendengar setiap kata demi kata yang Arya utarakan, seketika ia memikirkan apa yang selama ini dia lakukan pada putrinya!Menatap Evelyn yang kini tampak sedih dan rapuh di sisi lain meja, Elena tiba-tiba ingat bahwa entah sejak kapan, tampaknya dia sama sekali tidak pernah berpikir akan apa yang harus putrinya lakukan?Dia ingat dengan benar bahwa sejak Evelyn berhasil membangun bisnisnya, dia selalu menanyakan tentang kapan menikah? Kapan kau akan memberikan cucu untuknya?Elena bahkan sadar bahwa sejak Evelyn membiayai setiap kebutuhannya sejak kematian suaminya, dia sama sekali tidak pernah menanyakan, apakah kau baik-baik saja?Bahkan sekadar untuk menanyakan kabar tentang kebahagiaannya pun tidak!Mungkin sejak Evelyn menjadi mandiri dan kehidupan mereka berubah, Elena berpikir bahwa putrinya adalah wanita yang kuat, tapi dia hanya kekurangan satu hal, yaitu memberikan dirinya seorang cucu.Tapi dia lupa bahwa seja
"Aku tidak setuju!" Kata Elena langsung saat menoleh ke arah Evelyn."Aku sudah mempertimbangkan apa yang baik untukmu! Aku sudah memilih setiap calon terbaik dari yang terbaik untukmu. Dan aku sama sekali tidak setuju dengannya!""Kenapa Mama tidak setuju?" Tanya Evelyn sambil melirik ke arah Adrian. "Apakah Mama berpikir bahwa Arya tidak layak untukku?""Bukankah sudah jelas?" Bukan Elena yang menjawab, tapi Adrian yang langsung mencibir sambil memandang Arya."Dibandingkan dengan dirinya, pertanyaannya bukan hanya dia layak untukmu, tapi apakah dia bahkan layak untuk mengenalmu? Lihat saja pakaian dan sosoknya?" Adrian sedikit berhenti sesaat untuk memandang Arya dengan penuh penghinaan dan rasa jijik."Pakaian biasa yang hanya berupa kaos dan celana jeans biasa, tanpa aksesoris ataupun keistimewaan apa pun, bisakah pria miskin yang bahkan tidak mungkin bisa membeli makanan di sini menjadi pacarmu? Dengan pendapatan per bulan yang mungkin hanya beberapa juta, bisakah dia dianggap s
Di villa 01.Arya yang sedang berada di kamar mandi dan menyaksikan putrinya berendam di genangan air berwarna hijau kehitaman tampak mengerutkan keningnya."Apa barusan?"Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Arya merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Hanya saja, apa itu?"Ayah! Ayah!"Pan
"Maaf sekali," dengan senyum sopan, Aruna berkata, "Kakakku sedang ada urusan lain, jadi dia tidak bisa mengantar Ara ke sekolah. Jika Anda punya waktu, Anda bisa datang ke rumah kami nanti."Thomas mengangguk dan tersenyum, tapi sebelum dia bisa membuka mulutnya, Robert segera berkata, "Tidak, tid
Aruna tampak bimbang dan terdiam.Karena seperti yang telah Sonya katakan, jika seandainya bar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya untuk bertahan hidup ini ditutup, Aruna tidak tahu harus bagaimana lagi.Jangankan membayar hutang yang berjumlah ratusan juta, bahkan mungkin untuk bertahan h
Untuk saat ini, meskipun perasaan di hatinya sedikit berkurang karena telah menemui makam kedua orang tuanya, Arya tahu bahwa dia masih tidak bisa melakukan apa pun pada keluarga Wijaya.Tidak, bukannya tidak bisa, tapi Arya tidak ingin mereka menderita penderitaan yang biasa-biasa saja. Tidak sete







