MasukSelesai Hans berkata, dan jelas-jelas menjilat Arya, Robert dan dua lainnya mulai memandang pria ini dalam diam dan heran. Terutama Ryan yang sebelumnya mengetahui jika beberapa waktu lalu Hans ini sempat merencanakan sesuatu kepada Arya. Tapi setelah melihat kehebatannya, dia berubah seratus delapan puluh derajat daripada Hans yang biasanya ia kenal. Tapi juga tidak ada yang menyalahkannya. Karena dengan kekuatan dan keahlian yang selama ini Arya tunjukkan, siapapun yang melihatnya pasti akan berusaha untuk menjilatinya. "Hans," tapi Robert yang berpengalaman masih memperingatkan. "Sebaiknya kau jaga ucapanmu! Sekalipun kau tahu bahwa apa yang kau katakan benar, kau harus hati-hati saat membicarakan seorang Grandmaster." "Grandmaster! Sosok itu bukanlah sesuatu yang bisa kita hina dan bicarakan begitu saja!" Ekspresi Hans seketika mengeras saat mendengar peringatan itu. Tapi dia masih mengangguk berat dan mengingat peringatan yang Robert berikan. "Kau juga," Robert mengalihka
Tiba-tiba Raka menyadari sesuatu dan ekspresinya mulai berubah beberapa kali. "Apakah ayah berpikir Grandmaster legendaris itu akan keluar dan membalaskan kematian Master Jaya?" "Hehe..." Surya tertawa dingin dan dengan penuh percaya diri mengatakan, "Grandmaster Reksanatha, orang itu bukan hanya orang yang sangat kuat dan tidak masuk akal, tapi juga sangat menyayangi muridnya, Master Jaya. Mengingat muridnya dibunuh dengan cara-cara kejam, bagaimana mungkin monster tua itu tidak akan keluar." Wajah Raka berubah, dan akhirnya menyadari apa yang dimaksud ayahnya di awal. Pada saat yang sama, ia juga mengagumi cara berpikir ayahnya. Karena saat keluarga-keluarga lainnya berlomba-lomba untuk menjilati Grandmaster Anan untuk mendapatkan manfaat, ayahnya malah berpikir lebih jauh ke depan, dan akhirnya menyadari bahaya yang sebenarnya. Memang, bergerak sekarang untuk mendekati Grandmaster Anan adalah keputusan terbaik, tapi mengingat tentang Master Jaya yang ia bunuh, Grandmaster Re
Beberapa waktu kemudian. Setelah akhirnya kembali ke villa tempat tinggalnya, Arya akhirnya bisa bernapas lega saat melihat Kiara sudah tertidur, dan berhasil mengubah ingatan berdarah yang tidak seharusnya gadis kecil itu saksikan sebelumnya. Pertarungan berdarah dan kejam sebelumnya, sebenarnya Arya benar-benar tidak menyadari bahwa Grandmaster akan selemah itu. Awalnya ia berpikir bahwa dengan Jaya yang menerobos Grandmaster, ia akan bisa menahan serangan terlemah dan biasa-biasa yang ia gunakan, tapi tanpa diduga pria itu akan menjadi sangat lemah. Bukan hanya tidak bisa menahan serangan sporadisnya, tapi dia juga langsung tewas tanpa tubuh yang utuh. Grandmaster, apakah mereka memang selemah itu? Atau mungkin karena Grandmaster Jaya baru saja menerobos? Arya tidak tahu, dan hanya berharap seorang Grandmaster yang sesungguhnya tidak akan selemah itu. "Kau..." Di sisi lain, Thalya yang sejak datang ke pertemuan beladiri, dan tidak pernah berbicara sampai sekarang tiba-tiba
Mata dan mulut semua orang terbuka lebar. Tidak ada yang bisa berkata-kata saat menyaksikan energi internal Arya mulai berbentuk dan memadat di udara. Intinya bukan hanya sekedar bisa mengeluarkan atau mengendalikan energi internalnya, melainkan kepadatan dan jumlahnya yang mencengangkan. Melayang di sekitar tempat Arya berdiri, bukan hanya satu, melainkan puluhan pedang yang terbentuk dari energi internal, berwarna putih keperakan, tampak nyata dan realistis muncul di hadapan semua orang. Menciptakan dan mengendalikan energi internal sampai sejauh itu, bahkan seorang Master Gang Qi sekalipun tahu betapa sulit dan rumitnya melakukan hal semacam itu. Karena untuk bisa melakukannya, setidaknya kau harus memiliki energi internal yang melimpah, kontrol presisi, dan pengendalian yang ekstrem. Bandingkan dengan Grandmaster Jaya yang tadi hanya bisa mengeluarkannya secara acak, dan tidak bisa mengendalikannya secara bebas. Satu per satu dari mereka mulai sadar, apa yang tadi mereka angg
Beberapa seniman beladiri yang melihat tawa Master Jaya tampak merasakan gejolak di hatinya. Grandmaster!? Itu adalah impian yang selama ini mereka dambakan, tapi hampir sembilan puluh persen seniman beladiri gagal untuk mencapainya. Tapi saat ini, sosok Master Jaya sebenarnya berhasil menerobos ambang batas, dan menjadi Grandmaster di hadapan semua orang. Bahkan jika keadaannya terlihat menyedihkan, aura yang sangat kuat dan terlihat mendominasi yang secara tak sadar ia keluarkan adalah sesuatu yang membuat siapapun merasa iri. Andai saja mereka bisa menggantikan sosok Master Jaya di sana. Tidak! Di saat semua orang sedang berpikir, mereka tidak bisa untuk tidak menoleh ke arah Arya yang masih berdiri di tempatnya dengan tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun di sana dengan mata panas. Pemuda ini, sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk membantu seorang Master Gang Qi yang menerobos Grandmaster! Apa artinya ini? Bukankah berarti siapapun yang mengenal da
Cukup lama Master Jaya tertawa terbahak-bahak, ia akhirnya berhenti dan menatap Arya dengan tatapan seolah-olah melihat orang bodoh. Dengan ekspresi lucu, dan tampak jijik, ia berkata, "Bocah, aku tidak tahu dari mana kau berasal. Dibandingkan dengan orang lain, keberanianmu memang besar saat berani turun ke arena. Tapi, apakah kau tahu apa itu Grandmaster?" Master Jaya berhenti dan mulai memperhatikan sosok Arya dari atas kepala sampai ujung kaki selama beberapa waktu, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Sebelum kau melukai dirimu sendiri, sebaiknya kau turun dan pulang ke rumah untuk melanjutkan game fantasimu." Arya tersenyum kecil, sama sekali tidak marah atau tersinggung atas penghinaan itu. Dalam diam, dia juga mulai berjongkok dan mengambil kerikil dari pecahan beton arena pertarungan itu, dan memainkannya menggunakan jari-jarinya. Merasa cukup puas dengan apa yang ia temukan, dia kembali berdiri dan menatap Master Jaya sambil tersenyum kecil. "Hmph?" Entah kenapa,







