ログインBen tahu betul bagaimana rasanya direndahkan. Sepanjang hidup, mungkin jumlah orang yang memandangnya sebagai manusia yang sederajat bisa dihitung dengan jari. Sementara sisanya menganggapnya remeh, memandang sebelah mata hanya karena ia adalah pria yang besar di panti asuhan. Ben menahan semua hinaan demi Thalia, wanita yang telah berada di sisinya sejak ia beranjak remaja. Hingga akhirnya pernikahan Ben dan Thalia kandas, hak asuh anak mereka jatuh ke tangan Thalia. Ben hanya punya kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan Alisya setiap akhir bulan. Nahas, di saat Ben sedang lengah, Alisya tewas tertabrak mobil. Semua orang menyalahkan Ben atas kematian Alisya, termasuk Ben sendiri. Akan tetapi, suatu hari Ben menemukan suatu kejanggalan di balik kematian Alisya. Dengan penuh tekad, Ben mencoba untuk mencari kebenaran. Meskipun harus melewati proses yang melelahkan dan menyakitkan serta menguras harta kekayaan yang baru ia miliki. Pada akhirnya, ia menemukan target untuknya membalaskan dendam dan kesedihan yang selama ini terpendam.
もっと見る“Bagus! Utangmu lunas dan aku takkan mengambil rumah ini setelah Malati jadi istri keempatku!”
Tawa langsung memenuhi ruangan.
Paman dan Bibi dari Malati bahkan tampak bahagia sekali mendengar penuturan dari lintah darat itu.Mereka mengabaikan gadis berhijab itu yang terus menunduk–menahan pedih di hati karena dijadikan penebus utang.
Sungguh, Malati benar-benar tak menyangka Paman dan Bibinya itu begitu kejam!
Seusai pulang kampus, dia mendadak didandani. Kerudungnya bahkan sempat dipaksa untuk ditanggalkan, hanya untuk menyambut lintah darat ini.
Untungnya, Malati dapat mempertahankannya meski harus meronta-ronta.
Andai saja orang tuanya masih hidup, dia pasti tak akan bisa diperlakukan seperti ini!
“Hey, Cantik! Aku ingin melihat wajahmu yang cantik itu!”
Tiba-tiba saja, Hanan Jagal sudah berada di sampingnya.
Tangannya mengangkat dagu Malati kemudian menilik dengan seksama wajah cantiknya yang mirip dengan wanita yang dulu ia kejar, tapi selalu mengabaikannya.
Malati spontan menatap pria tua bangka itu.
Rasa jijik tiba-tiba mengalir di dirinya.
Entah memperoleh ilham dari mana, Malati pun menggerakan bibir mungilnya dengan hati-hati, “Maaf, tapi saya tak bisa menerima lamaran Tuan Hanan,” ucapnya.
“Apa maksudmu? Kau mau mempermainkanku?” bentak Hanan. Jelas sekali, juragan kaya raya itu tak suka mendengar kata penolakan.
Junaedi dan Nia sontak panik. Jika Malati menolak, tamatlah riwayat keduanya!
Bisa-bisa Paman dan Bibi Malati itu menjadi tunawisma bersama kedua anak mereka.
Sayangnya, belum sempat melakukan sesuatu, Malati sudah kembali berbicara, “Maaf, Tuan Hanan. Tapi, saya sudah tidak perawan. Saya mengatakan ini agar Tuan Hanan tidak menyesalinya setelah mengeluarkan biaya besar untuk pesta pernikahan nanti,” bohongnya.
“Sekali lagi, maafkan saya.”
Perkataan Malati jelas membuat syok semua orang yang berada di sana.
Terlebih, air mata penuh penyesalan tampak di wajahnya, hingga paman, bibi, dan dua sepupunya pun percaya dengan drama yang sedang dilakukannya.
“Sialan!” maki Hanan. Ia lalu menatap paman Malati dengan sorot kemarahan. “Juned, katamu keponakanmu masih perawan? Kalau seperti itu aku sudah bisa mendapatkan jalang dengan harga berapapun. Bahkan lelang perawan juga takkan semahal utang yang kau tunggak,” geramnya.
Plak!
Tak tahan dengan kemarahan Hanan, sebuah tamparan pun didaratkan Junaedi tepat di pipi Malati.
“Kau sudah bikin malu keluarga! Kau sudah membubuhkan arang di wajah Om dan Tantemu,” kata Junaedi dengan muntab.
Dia melimpahkan kesalahan pada Malati.
Hal ini jelas membuat orang-orang Hanan yang masih sanksi dengan pernyataan gadis itu–terkejut.
Brak!
Hanan Jagal menggebrak meja, tak terima. “Dengar! Aku sudah cukup sabar menghadapi kecoa seperti kalian! Aku beri waktu kalian seminggu untuk mengemasi barang-barang kalian dari rumah ini! Atau kau tukar gadis ini dengan putrimu yang lain!”
Junaedi dan Nia tersentak mendengar ultimatum Hanan Jagal.
Pria tua itu tak pernah bermain dengan kata-kata. Ia selalu serius.
Tak mungkin, keduanya menyerahkan putri-putri mereka yang sudah dipersiapkan menjadi menantu pengusaha, kan?
Hanya saja, Hanan Jagal dan rombongannya sudah berlalu sebelum berhasil mereka bujuk.
Beberapa saudara jauh Nia juga memutuskan untuk pulang.
Menyadari rencananya hancur, Junaedi pun pergi entah ke mana.
Kini tinggalah Malati dan Nia yang terlihat seperti monster dan akan menelan gadis itu hidup-hidup.
“Anak sialan! Kau sudah dikasih makan malah menggigit seperti seekor anjing!”
Nia mengamuk, kemudian menjambak kerudung gadis itu dan membenturkan kepalanya ke dinding.
“Ampun Tante!”
Malati memelas. Ia jatuh berjongkok dengan menguncupkan kedua tangannya, melindungi kepalanya agar tidak dibenturkan lagi ke dinding.
Sungguh, kepalanya terasa mau pecah.
“Tiada ampun! Kau harus dikasih pelajaran! Biar tau diri! Malu-maluin keluarga! Semua orang sini sudah tahu kau ini tidak perawan! Malu-maluin!”
Bug!
Nia terus mendorong tubuh mungil Malati hingga terpojok ke dinding.
“Baiklah, karena kau terlanjur jadi jalang kecil, kau akan bekerja di kota ikut Om Setiadji!” ancam Nia tak main-main.
Deg!
Siapa yang tak mengenal Setiadji?
Seorang mucikari yang berkedok penyalur tenaga kerja ke luar kota dan luar negeri.
“Jangan, Tante Nia!” mohon Malati langsung, “aku akan bekerja lebih giat lagi untuk membantu melunasi hutang kalian. Jangan kirim aku ke Om Setiadji! Aku akan melakukan apapun untukmu Tante.”
Malati bahkan langsung memeluk kedua betis Nia.
Namun, Nia sudah gelap mata. Dia justru menyeret kembali tubuh Malati yang ringkih dan mendorongnya hingga terbentur ke dinding untuk kedua kalinya.
Tanpa tedeng aling-aling, wanita paruh baya itu pun langsung menghubungi sang mucikari!
“Stop! Anda sudah melakukan KDRT!”
Suara bariton terdengar dari bibir pintu yang terbuka.
Nia sontak terkejut kala seorang pria berkemeja putih masuk begitu saja meski tanpa dipersilakan oleh sang empunya rumah.
“KDRT?” balasnya Tante Malati itu dengan kasar, “ini namanya sedang memberi pelajaran karena anak ini sudah tidak perawan lagi!!”
“Lagipula, siapa kau?! Ini urusan keluarga kami.”
Nia kembali mendorong Malati hingga terjungkal ke samping.
Untung saja, kepalanya tidak membentur ujung lemari yang sudutnya tajam.
“Aku? Kau tanya siapa aku?” Pria itu melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya–menampilkan wajahnya yang rupawan.
Didekatinya Malati dengan hati-hati. “Sayang, Kau tak usah tinggal di sini lagi! Sudah Mas bilang kita harus segera menikah jadi kau bisa terbebas dari siksaan wanita yang mengaku sebagai walimu!”
Hah?
Malati beberapa kali mengerjapkan matanya. Ia tak paham apa maksud perkataan Aldino Tama Waluyo–kepala sekolahnya waktu SMA ini!
Mengapa pria dewasa itu datang ke rumahnya?
Bukankah beberapa waktu lalu, dia menolak untuk menjadi pembimbing Olimpiade Matematika di sekolahnya dulu?
Lalu, apa maksud perkataannya dengan memanggilnya Sayang?
Di sisi lain, wajah Nia memerah.
Tampak sekali dia sangat emosi. “Siapa dia, anak sialan?” bentaknya, “apa dia yang sudah mengambil keperawananmu!”
Pertanyaan Thalia terus terngiang di benak Ben bahkan setelah hari berganti. Ben merasa tidak terlalu terganggu akan hal itu, tetapi ia tetap memikirkannya karena masih ada hal kecil yang mengganjal. Apakah Ashana juga bertanya-tanya seperti Thalia? Mereka berdua bukan lagi remaja yang menomorsatukan perasaan di atas semuanya. Mereka tetap bersama murni karena mereka cukup cocok satu sama lain. Keberadaan Ashana membuat Ben tidak terlalu tenggelam dalam kesibukan, menyeimbangkan antara waktu istirahat dengan waktu bekerja. Sebaliknya, dengan hadirnya Ben di kehidupan Ashana, gadis itu dapat menjadi sedikit lebih serius dalam menjalani hidup, berhati-hati dalam mengambil keputusan, serta menghargai setiap kejadian baik yang datang kepadanya. Ben merasa cukup dengan semua itu, tidak ada lagi yang ia harapkan. Rasanya tidak perlu melabeli hubungan mereka berdua dengan sebuah nama. “Oke. Segitu dulu untuk hari ini.” Ashana yang sedari tadi berkutat dengan laptopnya berseru. Ia lalu men
Ben sulit memercayai apa yang sedang dilihatnya.Garry, pria yang mulanya bertubuh tinggi semampai, terlihat tegap dan menawan ke mana pun ia berjalan, kini terduduk lesu di atas kursi roda berjok hitam. Kedua kakinya terlihat cukup kurus di balik celana kain coklat tua, kemeja di tubuhnya terlihat sangat longgar, hingga bagian lengannya harus digulung ke atas. Ketampanan di wajahnya luntur, hampir tidak bersisa, bersamaan dengan kantung mata yang menebal, serta kulit yang kusam. Pipi pria itu juga terlihat tirus, membuat rahangnya menonjol dengan aneh.Sebelumnya Ben benar-benar percaya bahwa Garry adalah seorang model profesional yang sedang menyamar jadi orang biasa, tetapi sekarang pria itu bahkan tidak terlihat seperti pria dewasa yang sehat. Apa orang di hadapannya ini benar-benar Garry yang Ben kenal? Ben sulit memproses kenyataan ini.
“Padahal kamu tidak perlu ikut,” ujar Ben ketika ia berjalan menyusuri pemakaman bersama Ashana di sampingnya. “Kamu pasti sibuk. Pergi saja. Nanti kuhubungi.”Ashana merengut. “Apa maksudmu aku tidak perlu ikut? Aku mungkin tidak punya kesempatan untuk lebih mengenal Alisya, tetapi aku sempat cukup dekat dengan Rossa. Tanpamu pun aku tetap akan datang kemari.”“Tapi ayahmu ….”“Ayahku akan baik-baik saja.” Senyum Ashana terlihat begitu lebar dan ceria meski suasana di sekitar mereka terasa sedikit sendu. “Dia sudah jauh berubah lebih baik, apalagi setelah Ibu lebih banyak memperhatikannya. Aslam juga sekarang bersikap lebih perhatian. Akhirnya keluargaku terasa utuh sekarang.”Ben mendengarka
Harum semerbak bunga berwarna putih, krem, dan coklat lembut membelai indra penciuman siapa pun yang datang. Ruangan dengan penerangan yang cukup terang tetap terasa hangat dengan adanya kain-kain yang disusun sedemikian rupa di setiap dinding. Tidak lupa dekorasi yang menyerupai gambaran surga juga memanjakan mata ke mana pun melihat. Pajangan angsa putih serta kue tar besar dan bertingkat yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan menjadi pusat perhatian kedua setelah altar besar yang dibangun dengan kayu-kayu eksotik. Suasananya memukau sekaligus syahdu. Sedikitnya tamu yang datang menambah kesan intim dari acara yang akan diadakan hari ini. Namun, Ben sendiri belum melihat secara langsung ruangan besar itu, sebab ia masih berada di ruangan lain yang jauh lebih kecil untuk mempersiapkan diri. Ia berbalik ke kanan dan kiri di depan cermin besar di hadapannya. Kedua tangannya terus membetulkan letak dasi kupu-kupu coklat yang melengkapi kemeja krem serta jas hitamnya. “Kamu terlihat
“Hukum saja aku, Ben.” Thalia menangis sejadi-jadinya. Keinginannya terbagi, antara ingin berkata jujur atau melindungi orang yang ia cintai. “Maafkan ketidakmampuanku yang membuat kita menderita. Aku bersedia menanggung semuanya. Biar aku saja yang merasakan neraka itu, Ben.”Ben mengep
“Ayah! Sudah kunci pintunya belum?”Ben yang tengah berbaring di atas karpet mengintip dari balik lengannya yang ia tempatkan di atas mata. Melihat anak gadisnya tengah berdiri sambil menyilangkan tangan. &ld
Rasanya Ben ingin putar balik. Kekhawatirannya sia-sia, karena Thalia tampak sangat baik-baik saja.“Jarang sekali ada anggota keluarga yang mengunjungi pasien di sini,” ujar staf Rumah Sakit Jiwa sebelum ia
“Itu dari Rumah Sakit Jiwa tempat Thalia dirawat.” Ben berkata dengan suara pelan setelah ia menyudahi panggilan. Tatapannya terlihat kosong selama ia mencerna informasi yang baru saja diterimanya. “Aku tidak tahu kenapa mereka sampai menghubungik






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと