Share

A19. Tak Disangka

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-09-09 16:21:06

Zea sungguh tidak menyangka jika ibunya akan berbicara begitu pada wali kelasnya. Zea benar-benar sangat marah pada ibunya. Padahal yang dituduhkan oleh sang ibu belum tentu benar.

Zea berjalan sambil menyepak angin di atas aspal, "Paman Alex tidak seperti yang ibu bilang. Dia memang menakutkan, tapi sebenarnya dia adalah orang baik. Ibu belum mengenalnya secara keseluruhan. Ibu hanya menilainya dari luar saja," keluh Zea.

Hati menjadi gundah gulana dan Zea tidak ingin pulang ke rumah. Entah kenapa dia tidak ingin melihat wajah sang ibu terlebih dahulu. Zea melangkah menyusuri deretan ruko-ruko.

Justru dalam benak Zea, dia ingin pulang ke rumah Alex. Namun, tadi Zea melihat Alex sedang pergi ke arah lain.

"Apa aku harus menunggu di dekat rusun Paman Alex? Tapi kan aku tidak tahu rumahnya nomor berapa?" Zea berdiri diam di depan sebuah rusun. "Lebih baik aku tunggu dia di dalam saja. Lagipula aku bisa duduk di tangga dulu untuk menunggunya," celoteh Zea.

Akhinya Zea masuk dan menunggu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A119. Paman ... Tolong Aku!

    Alex memperhatikan gambar yang ada di tangannya. Sebuah gambar pendekar yang diberi oleh Zea. Alex memutuskan untuk kembali. Zea sempat marah pada Alex karena sang ibu. Bagaimana juga walaupun Yura pemakai, ia tetap adalah ibu kandung Zea. Alex membuntuti Zea sampai di gang. Ada drama sedikit pada saat itu. Baru kali itu juga Alex melihat air mata Zea. Zea begitu saja meninggalkannya. Namun, Alex membiarkan Zea sendiri. Mungkin ia rindu dengan ibunya. Zea melangkah pulang ke rumah. Saat sampai di rumah, Zea mendengar suara ibunya yang seperti ditahan. Saat ia membuka pintu, Zea langsung diberi tontonan yang tidak seharusnya ia lihat. Mulut ibunya dibekap, ditutup dengan kain agar ia tidak bisa teriak. Sedangkan wajah sang ibu penuh dengan luk dan darah. Di sampingnya ada seorang pria yang tersenyum smirk saat melihat Zea masuk. "Halo, anak manis" sapanya. "Emm ... emm ..." Begitulah suara Yura

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A118. Harga Sebuah Nama

    Nada sambung telepon itu pendek. Terlalu pendek untuk sebuah keputusan yang bisa merusak hidup. "Aku dengar namamu mulai beredar lagi," suara TJ terdengar datar, tapi Alex tahu di balik nada itu ada peringatan. "Bukan di tempat yang bersih." Alex berdiri di atap, angin malam menampar wajahnya. "Seberapa jauh?" "Cukup jauh untuk membuat orang-orang salah tertarik," jawab TJ. "Dan cukup dekat untuk menyentuh hal yang kau lindungi." Alex tidak bertanya apa. Mereka berdua tahu jawabannya. "Pasukanku tidak bergerak," lanjut TJ. "Belum. Ada yang ingin kau kembali, ada yang berharap kau tetap hilang. Aku menahan mereka … untuk sekarang." Alex menutup mata. "Aku tidak minta diselamatkan." "Aku tahu," sahut TJ. "Itu sebabnya aku menelepon. Kau harus memilih—sendirian atau bersama kami." Panggilan terputus. Tidak ada janji. Tidak ada pelukan nostalgia. Hanya

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A117. Dijadikan Tumbal

    Malam itu sunyi, tetapi sunyi yang tidak pernah benar-benar kosong. Alex berdiri di balik kaca jendela apartemennya, memandang jalanan yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu kota memantul seperti pecahan kenangan—terang, lalu patah. Di telapak tangannya, ponsel bergetar sekali. Pesan singkat, dingin, tanpa salam. Tugas aktif. Jalur lama. Tutup tanpa suara. Alex menghela napas. Kalimat itu tidak memerintah, melainkan hanya menekan dan selalu begitu. Mereka tidak perlu ancaman jika sudah memegang sesuatu yang berharga. Ia mengenakan jaket gelap, menutup bekas luka lama di pergelangan tangan. Kebiasaan lama kembali dengan sendirinya. Langkah tanpa bunyi, sudut pandang menyapu, napas diatur. Tubuhnya ingat apa yang pikirannya coba lupakan. Jalur lama yang dimaksud berada di pinggir kota. Sebuah gudang logistik yang kini dipakai sebagai titik transit. Bukan markas mafia besar, bukan pula operasi berskala kota. 'Pembersihan sun

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A116. Babak Baru Dimulai

    Alex tidak tidur malam itu. Ia duduk di kursi dapur, ponsel di tangan, layar gelap memantulkan wajahnya yang tegang. Kami hanya ingin berbicara. Alex tahu bahasa itu. Ia pernah memakainya. Itu bukan undangan. Pagi datang tanpa warna. Alex menyiapkan sarapan, gerakannya mekanis. Pintu terketuk dari luar. Lantas Alex membuka dan beridirilah sosok Zea. Zea menatap Alex. "Paman sakit?" Alex tersenyum. "Tidak. Hanya banyak memikirkan sesuatu." Zea mengangguk, seolah paham. "Kalau capek mikir, gambar aja." Zea masuk mengikuti Alex dan duduk di ruang makan. Alex mengambil sarapan untuk Zea. "Bagaimana ibumu?" Zea menatap Alex dan memasang wajah sedih. "Masih sama." Ia mengeluarkan krayon dan mulai mencoret kertas. Alex memperhatikan dari jauh. Setiap garis adalah pengingat—apa pun langkahnya hari ini, Zea harus tetap aman. Sesekali Zea menyua

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A115. Api Kemarahan

    Kota tidak pernah benar-benar berduka. Ia hanya menyesuaikan diri. Pagi setelah kematian Rolland datang dengan keheningan yang aneh. Klub malam yang biasanya berdetak sampai fajar tertutup rapat. Jalur gelap menahan arusnya, seperti paru-paru yang enggan menghirup udara terlalu dalam. Para pemain kecil menunggu isyarat, siapa yang kini memegang pisau, dan siapa yang akan jatuh berikutnya. Nama Rolland menguap cepat. Yang tertinggal hanyalah kekosongan. Benigno berdiri di ruang kerjanya, lengan kirinya diperban. Luka itu bukan apa-apa dibandingkan laporan yang menumpuk di mejanya. Kertas-kertas itu berbicara lebih jujur daripada manusia. Dua gudang kehilangan penjaga. Tiga pemasok menunda pengiriman. Satu regu menghilang tanpa jejak. "Kita menang," kata seseorang di ruangan itu, mencoba terdengar yakin. Benigno tidak menjawab. Ia menatap peta kota, jari-jarinya mengetuk pelan seperti ritme orang yang seda

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A114. Darah yang Diadu Domba

    Bukan perang saudara. Ini hanya pancingan yang dibuat oleh seseorang. Seseorang yang menginginkan seseorang itu hancur berkeping-keping. Umpan yang dilemparkan cukup sangat mulus sehingg target memakannya tanpa curiga. Kemenangan hampir ada di dalam genggamannya. Selagi belum hancur lebur, maka api perang akan terus menyulut hingga membakar semuanya yang ada di dekatnya. "Sangat bodoh. Ia punya otak, tapi tidak pernah memakainya." "Dasar g*bl*k!" *** Perang tidak selalu dimulai dengan tembakan. Kadang, ia dimulai dari bisikan. Dari mulut ke mulut, bukan begitu? Kubu Benigno terpecah pelan dan nyaris tidak terdengar. Anak buah yang dulu saling melindungi kini saling curiga. Perintah berlapis datang dari jalur berbeda, saling bertentangan, saling meniadakan. Gudang yang seharusnya aman diserang oleh orang-orang yang membawa sandi lama. Nama Yoris disebut-sebut di lorong-lorong gelap, dibungkus ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status