Share

A58. Masih Ingat Padaku?

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-11-04 16:16:47

Waktu menunjukkan tepat pukul 12 malam. Tak sengaja Alan terbangun dari mimpi indahnya. Pria itu menggeliat manja sebelum bangun. Namun, saat bangun Alan merasakan sesuatu di kepalanya.

"Kenapa kepalaku sedikit sakit?" rutuknya sambil tangan kanannya memeganginya. Menyibakkan selimut dan menurunkan kedua kakinya. Bergerak melangkah keluar dari kamar, tapi sebelum keluar Alan sempat melirik sekilas pada meja kerjanya, lalu kembali menatap depan untuk memutar knop pintu.

"Kenapa gelap?" beo Alan lirih. Pria itu tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. "Apa Alex tidur di ruang depan?" lanjutnya bertanya pada dirinya sendiri.

Kemudian Alan melangkah ke ruang depan sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Kepala Alan menoleh kanan dan kiri mencari sesuatu, akan tetapi pria itu tidak menemukan apapun.

"Di mana dia?" ucapnya lirih. "Mungkinkah ada di kamar tamu?" pikir Alan.

Alan bergerak masuk ke kamar tamu yang keadaan ruangan gelap, lalu dia menyalakan lampu di kamar ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A100. Psikotropika

    Keinginan itu datang seperti gelombang kedua, lebih rendah dari yang pertama, namun lebih licik. Yura duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menggenggam kain seprai yang sudah kusut. Matanya menatap pintu kamar yang tertutup. Tidak ada suara langkah, tidak ada kata perpisahan. Hanya keheningan yang menyisakan gema penolakan. Ia menelan ludah. Tenggorokannya kering, seperti dilapisi pasir. Tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di jangkauan ... hening palsu yang pernah membungkus pikirannya, membuat dunia terasa bisa ditoleransi. Obat itu. "Aku cuma perlu sedikit," bisiknya pada ruangan kosong. "Biar bisa tidur." Itu kebohongan kecil yang terdengar masuk akal, bahkan bagi dirinya sendiri. Tubuh Yura mulai bereaksi sebelum pikirannya selesai membantah. Jari-jarinya bergetar halus. Bahunya menegang. Ada rasa panas yang naik ke tengkuk, disusul dingin yang merayap ke tulang punggung. Ia berdiri, langkahnya goy

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A99. Tidak Ingin Melihat Ibu

    Yura tidak berniat melakukannya. Setidaknya, begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri saat pintu kamar mandi tertutup dan dunia mengecil menjadi empat dinding pucat. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kebutuhan yang menyala, menuntut dipenuhi. Ada rasa kosong yang berdenyut di balik tulang rusuknya, seperti lubang yang tidak bisa ditutup dengan napas panjang atau kata maaf. Sekali saja, katanya. Agar kepala ini diam. Ia menatap cermin. Wajahnya tampak asing—mata cekung, bibir pucat, senyum yang tidak pernah sampai ke mata. Di balik pantulan itu, bayangan malam-malam panjang berdesak—panic attack, teriakan yang menakuti Zea, langkah kecil yang menjauh. Semua itu terlalu berat. Yura mengalihkan pandang. Ia tidak ingin melihat siapa dirinya sekarang. Sensasi itu datang cepat. Bukan bahagia, tapi lebih seperti hening yang menipu. Suara-suara mereda, sudut-sudut tajam di kepalanya melunak. Tubuhnya

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A98. Sang Hantu Pegadaian

    Di rumah Alex, Zea duduk di meja dapur dengan secangkir teh hangat. Alex menjaga jarak, memberinya ruang."Kamu bisa tinggal di sini," katanya. "Tidak apa-apa."Zea mengangguk. "Aku sayang Ibu," katanya lirih. "Tapi aku capek dimarahi."Alex tidak menjawab. Ia hanya menaruh selimut di kursi sebelah. Malam itu, kota tetap bergerak. Bayangan-bayangan masih mencari. Tapi di balik kejaran dan rencana, ada luka yang tumbuh diam-diam di dalam rumah—retak yang tidak terdengar, namun membesar.Dan Yura tahu, jika ia tidak menghadapi ketakutannya, ia bisa kehilangan yang paling berharga. Bukan karena musuh di luar, melainkan karena badai di dalam dirinya sendiri.***Zea menyebutnya begitu pertama kali. Tanpa tahu bahwa julukan itu akan melekat. 'Hantu Pegadaian' sangat cocok dengan pribadi Alex yang super angker dan jarang bicara. Di tambah lagi penampilan yang terlihat menyeramkan.Rumah Alex berdiri di ujung gang, te

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A97. Ini Tidak Gratis

    Di sisi lain kota, perintah telah dijalankan. Anak buah Benigno menyebar seperti tinta di air. Tidak ribut, tidak terburu, dan begitu tenang. Mereka bergerak rapi, mengisi celah, mengunci jalur. Scott memimpin dengan dingin. Ia menyukai ketepatan, bukan kekacauan. Peta kota terbentang di meja, titik-titik merah menyala. "Mereka tidak akan lari jauh," katanya. "Orang yang takut selalu membuat pola." Nick berdiri di sampingnya, senyum tipis di sudut bibir. Ia lebih menyukai insting daripada peta. Perburuan dimulai tanpa suara dan tanpa ancaman. Hanya kesabaran. Target memang dua orang, tapi Scott selalu memperhitungkan sesuatu dengan seksama. Terlebih lagi anak buah Rolland. Mereka juga sangat berbahaya. Scott menerima kabar singkat. Sebuah kendaraan terdeteksi, rute menyimpang dari jalur utama. "Itu mereka," katanya. "Nick, ambil tim timur. Jangan sentuh dulu." Nick tersenyum. "Biarkan mereka me

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A96. Aku Bukan Pengkhianat

    Peter berdiri di tepi sungai, menatap arus gelap yang mengalir tanpa peduli. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena keputusan yang sudah lama ia tunda dan akhirnya tiak bisa dihindari."Kalau kita pergi sekarang," bisiknya, "tidak ada jalan pulang."Yura berdiri di sampingnya. Matanya yang letih menatap Peter, seolah mencari kepastian terakhir. "Aku tidak punya rumah untuk pulang," jawabnya pelan. "Gudang itu bukan rumah."Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada ancaman mana pun. Peter mengangguk. Ia selalu tahu.Benigno memberinya segalanya yang palsu. Uang cepat, rasa aman semu, dan kebiasaan yang menjerat pelan-pelan. Peter menjadi pengedar karena itu cara tercepat bertahan. Ia menjadi pemakai karena itu cara tercepat melupakan, tapi satu hal yang tidak pernah ia serahkan sepenuhnya adalah Yura.Ia menyelundupkan kabar. Menyimpan sedikit uang, menghafal rute, dan mengamati jam jaga. Semua ia lakukan diam-diam, sambil be

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A95. Di Balik Pintu Besi

    POV 1. Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Di gudang ini, waktu tidak pernah berjalan seperti di luar. Lampu selalu menyala pucat, siang dan malam sama saja. Yang membedakan hanya rasa lelah di badan. Aku—Tania. Umurku sepuluh tahun. Setidaknya itu yang Ibu bilang sebelum aku tidak pernah melihatnya lagi. Tanganku pegal. Jari-jariku kaku. Aku berhenti sebentar, tapi suara sepatu langsung mendekat. Aku menunduk lagi. Di sini, menunduk adalah cara bertahan. Di sebelahku, Dany duduk, ia lebih kecil dari usiaku. Ia selalu menggigit bibir jika takut. Aku pernah bilang—jangan, tapi dia bilang itu membantu supaya tidak menangis. "Tan," bisiknya pelan. "Kau dengar itu?" Aku mendengar dan semua orang mendengar. Suara jauh—seperti pintu dibanting, teriakan yang ditelan dinding, lalu sunyi lagi. Aku menggeleng, bukan karena tidak mendengar, tapi karena aku tidak berani mengakuinya. Kami tidak pernah bertanya. Anak-anak yang bertanya biasanya dipindahkan. Ke mana? Tidak ada yang tahu. Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status