LOGIN"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.
Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek. Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah. Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka. "Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?" "Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "Dan, klausul tambahan di halaman tiga menyatakan dengan jelas, jika dalam waktu tepat tiga puluh hari terhitung sejak hari ini kau gagal melangsungkan pernikahan sah, seluruh hak suara mayoritas dan sahammu akan otomatis hangus dan berpindah tangan kepada dewan keluarga." Arkael membalik lembaran kertas tebal itu dengan cepat, membaca setiap butir pasal hukum yang tertera di sana. Darahnya mendidih seketika. Klausul itu dirancang bukan sekadar sebagai syarat formal, melainkan sebuah jebakan maut yang dipersiapkan matang-matang agar ia gagal total dalam batasan waktu yang sangat sempit. Dhandra sengaja menjebaknya di sudut ring, berharap ia akan menyerah atau salah mengambil langkah hukum. "Ini jebakan murahan," seru Arkael dingin, suaranya menghantam dinding perpustakaan dengan penuh tekanan. "Kau sengaja memasukkan klausul ini di detik-detik terakhir agar aku tidak punya waktu bernapas!" "Jebakan atau bukan, hukum adalah hukum, Tuan Muda," potong Jenar Baskara dengan nada penyesuaian yang hati-hati, mencoba meredam ketegangan. "Dokumen ini ditandatangani langsung oleh mendiang Kakek Anda di hadapan notaris publik sebelum beliau wafat. Tidak ada celah hukum untuk membatalkannya secara sepihak." Kalandra melangkah maju, melipat tangan di depan dadanya sambil menatap rendah dari ujung kepala hingga ujung kaki Arkael. "Kau pikir menjadi bagian dari keluarga Mozaus semudah membalikkan telapak tangan, bocah? Kami sudah menyiapkan solusinya agar kau tidak perlu pusing mencari wanita dari jalanan." Dhandra mengibaskan tangannya ke udara, dan seorang sekretaris pribadi di sudut ruangan langsung menyerahkan map putih tebal ke atas meja. Dhandra mendorong map tersebut tepat di hadapan Arkael dengan seringai sinis. "Pilih salah satu dari mereka," ucap Dhandra memerintah. "Putri dari kolega bisnis kita di Jenewa, atau cucu direktur bank sentral nasional. Mereka adalah wanita-wanita terhormat dari kalangan elite yang pantas duduk di samping pewaris Mozaus." Arkael melirik map tersebut sekilas tanpa sedikit pun berniat menyentuhnya. Arkael mendengus pelan, menatap lurus mata Dhandra dengan sorot penuh tantangan. "Wanita-wanita pilihan kalian? Jangan buat aku tertawa. Mereka bukan calon istri, melainkan mata-mata busuk yang akan kalian pasang untuk mengawasiku setiap detik." "Jaga mulutmu, Arkael!" bentak Dhandra, meja kerjanya sedikit bergetar akibat hantaman kepalan tangannya. "Kau tidak punya hak untuk menolak! Tanpa persetujuan kami, kau tidak akan pernah bisa menemukan wanita dari kalangan atas yang mau bersuamikan mantan pesuruh jalanan!" "Aku tidak butuh wanita dari kalangan kalian," balas Arkael tegas, suaranya dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Syaratnya hanya menikah dalam waktu satu bulan, bukan? Aku akan mencari jalanku sendiri untuk memenuhi syarat itu, tanpa bantuan dari para serigala busuk di ruangan ini." Dhandra terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan arogan Arkael. "Mencari jalan sendiri? Di kota besar ini? Kau bahkan tidak tahu dunia sosial kelas atas, Arkael. Siapa yang mau menerimamu?!" Kalandra ikut tertawa sinis, menatap Arkael dengan tatapan penuh penghinaan yang teramat sangat. "Silakan cari kalau begitu, keponakan malangku. Lihat apakah ada wanita suci di luar sana yang mau pada mantan pesuruh jalanan sepertimu.” Tawa Kalandra menggema di sudut ruangan perpustakaan yang megah, menciptakan resonansi yang menusuk telinga. Wanita itu menggelengkan kepala perlahan, menatap Arkael seolah pemuda di hadapannya hanyalah badut jalanan yang nyasar ke panggung opera. "Kau benar-benar naif, Arkael," ucap Kalandra dengan nada suara yang merendahkan, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan mutlak. "Dunia elite tidak beroperasi atas dasar cinta atau drama murahan seperti di film-film televisi kelas bawah. Di sini, pernikahan adalah aliansi strategis, pertukaran saham, dan perluasan kekuasaan. Wanita mana dari kalangan terhormat yang sudi melirik pria tanpa latar belakang keluarga, tanpa silsilah terpandang, dan yang hidupnya hanya diwarisi bau amis jalanan?" Arkael tidak bergeming. Ia tetap berdiri tegak, kedua tangannya mengepal di dalam saku celana kain hitamnya untuk menyembunyikan jemari yang menegang akibat amarah yang mendidih di dada. "Kalian boleh meremehkan darimana aku berasal. Tapi ingat, sejarah keluarga Mozaus sendiri dibangun di atas lumpur dan darah, bukan di atas karpet merah istana ini." Dhandra menyipitkan mata, tatapannya menajam mendengar sindiran telak yang menghantam titik nadir masa lalu pendiri dinasti mereka. Wajah paman tua itu mengeras, garis-garis keriput di sekitar mulutnya tertarik membentuk seringai benci. "Jangan samakan kerja keras kakekmu membangun imperium dengan nasib sialmu yang kebetulan diakui sebagai darah daging keluarga. Kau hanyalah kecelakaan sejarah yang kebetulan lolos dari lubang jarum." "Kecelakaan atau bukan, kenyataannya aku berdiri di sini sekarang, memegang hak suara mayoritas yang membuat kalian gemetar ketakutan di balik jas mahal itu," balas Arkael tajam, suaranya menghantam kesunyian ruangan dengan beban psikologis yang membuat Kalandra spontan mundur satu langkah. Jenar berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang kian membara di antara anggota keluarga tersebut sebelum pertumpahan darah sungguhan terjadi di dalam ruang kerja mendiang kakek. Pengacara tua itu merapikan kacamata berbingkai emas di batang hidungnya, lalu menatap Arkael dengan pandangan memperingatkan. "Tuan Muda Arkael ada benarnya, Tuan Dhandra," ujar Jenar hati-hati, memilih kata dengan sangat cermat. "Wasiat Tuan Besar tidak mensyaratkan bahwa istri Tuan Arkael harus berasal dari kalangan aristokrasi atau dewan direksi. Syaratnya mutlak dan sederhana secara hukum, pernikahan yang sah secara pencatatan sipil dan agama dalam kurun waktu tiga puluh hari terhitung sejak hari ini." Dhandra mendengus kasar, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang memperlihatkan kegelapan malam di luar halaman istana. "Silakan saja cari gadis jalanan mana yang mau kau jadikan nyonya muda di istana ini, Jenar. Tapi, begitu batas waktu tiga puluh hari itu lewat dan dokumen pernikahannya tidak sah di mata hukum, aku pastikan seluruh aset perusahaan disita tanpa ampun." "Waktu saya baru dimulai," ucap Arkael tenang, membalikkan badan tanpa menunggu izin atau basa-basi lagi. "Simpan tenaga kalian untuk meratap saat aku merebut kursi direktur utama dari tangan kalian." Arkael melangkah keluar dari perpustakaan pribadi, membanting pintu kayu jati berukir itu hingga suaranya berdentum keras menggema di sepanjang koridor sepi lantai dua. Langkah kakinya membawa kembali ke kamar utamanya yang luas dan dingin. Di dalam ruangan temaram tersebut, ia langsung menyambar ponsel pribadinya dari atas meja samping tempat tidur. Jari-jarinya menekan tombol panggil dengan cepat, mendengarkan nada dering sambung yang berputar di seberang sana dalam keheningan malam yang mencekam. Beberapa detik berlalu sebelum suara lembut bercampur napas lega terdengar menyapa telinganya. "Arkael? Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu terdengar tegang?" Mendengar suara Aurora di ujung telepon seketika meredakan sebagian badai amarah di kepala Arkael. Namun, bayangan klausul pernikahan tiga puluh hari itu kembali menghantam kesadarannya, membawa dilema baru yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman fisik para pengawal Paman Dhandra. Aurora adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia inginkan untuk mendampingi sisa hidupnya, namun menyeret wanita itu ke dalam lingkaran darah dan intrik busuk keluarga Mozaus sama saja dengan melemparkannya ke sarang singa yang kelaparan. "Aurora... dengarkan aku," ucap Arkael pelan, suaranya berubah drastis menjadi sangat lembut dan penuh kehangatan. "Aku butuh kau percaya padaku, apa pun yang terjadi dalam beberapa hari ke depan." "Aku selalu percaya padamu, Arkael," jawab Aurora di seberang sana tanpa ragu sedikit pun. "Ada apa sebenarnya di tempat kerja barumu itu? Suaramu membuatku cemas." Arkael memejamkan mata sejenak, menelan ludah pahit yang mendesak tenggorokannya. Arkael tahu waktu terus berjalan cepat, dan musuh-musuhnya di istana sedang menghitung mundur detik-detik kejatuhannya. Pilihannya kini hanya ada satu, melindungi Aurora dengan cara membawanya masuk ke dalam benteng istana sebagai seorang istri sah, atau membiarkan wanita itu menjadi sandera empuk bagi kelicikan Paman Dhandra. "Kemasi barang-barangmu secukupnya, Aurora," perintah Arkael dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. "Besok pagi, aku akan mengirim mobil khusus untuk menjemputmu ke istana.”"Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau
Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem
"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya
Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala
"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D
"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru







