LOGIN"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.
Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas. Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan. Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada. "Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian." Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras. Wanita paruh baya dengan perhiasan berlian melingkar di lehernya itu mendengus tajam, melipat tangan di dada. "Kurang ajar! Bocah bau jalanan ini datang dari comberan mana hingga tidak tahu cara berbicara kepada orang tua?" "Jaga mulutmu, Kalandra," suara berat dan serak memotong dari ujung sofa utama. Paman Dhandra Mozaus menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kulit, menatap Arkael dari atas kepala hingga ujung sepatu boots usang yang masih melekat di kaki pemuda itu. "Biar bagaimana pun, darah busuk yang sama mengalir di nadinya. Meskipun otak dan tata kramanya tertinggal di tempat sampah tempat ia dibesarkan." Arkael maju dua langkah mendekati meja marmer tengah, mengabaikan tatapan merendahkan dari sang paman. "Kau tidak perlu khawatir soal tata krama, Paman Dhandra. Aku datang ke sini bukan untuk bertukar teh sore dengan para parasit keluarga, melainkan untuk menagih apa yang seharusnya menjadi hak milikku." "Hak milik?" Dhandra tertawa dingin, suara tawa yang sarat akan arogansi kekuasaan puluhan tahun. "Kau pikir lembaran kertas wasiat tua dari kakek pikun itu bisa mengubah statusmu dalam semalam? Kau bukan apa-apa dihadapan dewan direksi Mozaus Corp!" "Apakah lembaran kertas ini juga Anda anggap sepele, Tuan?" Jenar Baskara melangkah maju menengahi, mengangkat amplop tebal berlak merah di hadapan seluruh anggota keluarga yang duduk terpaku. Kalandra mendengus keras. "Jenar! Jangan coba-coba kau lindungi anak haram ini dengan trik hukum murahanmu!" "Ini bukan trik, Nyonya Kalandra," jawab Jenar tegas, suaranya menggema di seluruh sudut ruangan. Dengan tenang, sang pengacara membuka dokumen resmi tersebut dan membacakannya di hadapan publik keluarga besar Mozaus. "Berdasarkan klausul nomor empat belas wasiat terakhir mendiang Tuan Besar Mozaus, seluruh kepemilikan saham pengendali mutlak dan hak veto tertinggi jatuh kepada cucu kandung sah garis keturunan pertama, Arkael Nox Mozaus." "Itu tidak masuk akal!" seru salah seorang sepupu jauh dari sudut ruangan, berdiri setengah menggebrak meja kecil di dekatnya. "Bagaimana mungkin perusahaan multinasional diserahkan kepada seorang pemuda yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan bisnis formal?!" Jenar melirik sekilas ke arah pemuda pengkritik itu sebelum kembali membacakan teks hukum. "Hukum korporasi dan negara telah mengesahkan klausul ini secara parsial maupun penuh. Posisi Tuan Muda Arkael dilindungi oleh undang-undang mutlak. Tidak ada satu pun dari kalian di ruangan ini yang memiliki hak veto untuk membatalkannya." Dhandra mengepalkan tangan di atas lututnya, urat-urat di pelipisnya menonjol menahan amarah yang mendidih. Tatapannya berubah menjadi mata pisau yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani merebut singgasananya. "Kau boleh memegang dokumen itu, Jenar. Tapi ingat, memegang kursi singgasana jauh lebih sulit daripada sekadar membaca tulisan di atas kertas." Arkael tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari mata Dhandra. "Kita lihat saja nanti, Paman. Siapa yang pada akhirnya tersingkir dari istana ini." Suasana ruang tamu mendadak hening mencekam setelah perdebatan sengit itu mereda. Jenar memberi isyarat agar Arkael mengikuti langkahnya menuju koridor sayap timur tempat kamar pribadi telah disiapkan. Saat Arkael berbalik badan dan melangkah melewati kerumunan keluarga, Bramantyo, anak kandung Dhandra yang berpostur tinggi besar, sengaja bangkit dari sofanya dan menabrakkan bahunya dengan kasar ke tubuh Arkael. Bramantyo mendekatkan wajahnya ke telinga Arkael, berbisik dengan nada penuh ancaman mematikan. "Nikmati kursi itu sebentar saja, Brengsek. Sebelum aku sendiri yang menyeret mayatmu keluar dari gerbang istana ini." Arkael berhenti sejenak, melirik dingin ke arah Bramantyo tanpa sedikit pun rasa gentar di matanya. "Jangan lupa siapkan peti mati yang bagus untuk dirimu sendiri, Sepupu.” Bramantyo mendengus keras, wajahnya memerah karena emosi yang tersulut oleh ketenangan mutlak di wajah Arkael. "Kau benar-benar tidak tahu diri, bajingan kecil! Menginjakkan kaki di istana ini saja sudah merupakan keajaiban bagi orang sepertimu, apalagi berani mengancamku!" "Cukup, Bramantyo!" Suara berat Dhandra memotong dari seberang ruangan, menghentikan tangan putranya yang nyaris melayangkan pukulan ke udara. Dhandra mengangkat tangan kanannya perlahan, memberi isyarat agar suasana kembali terkendali di hadapan para kerabat yang mulai berbisik-bisik. "Biarkan anjing jalanan itu menikmati aroma kemewahan untuk terakhir kalinya sebelum ia menyadari bahwa singgasana ini adalah kuburannya sendiri." Arkael tersenyum tipis, sebuah seringai dingin yang membuat punggung Kalandra merinding seketika. "Simpan saja kata-kata mutiaranya untuk batu nisanmu nanti, Paman. Aku pastikan aku tidak akan datang terlambat ke pemakaman keluarga kita." Tanpa membuang waktu atau meladeni provokasi murahan lebih lanjut, Arkael kembali melangkahkan kakinya menyusul Jenar Baskara yang sudah menanti di ujung koridor marmer. Suara langkah sepatu boots usangnya beradu nyaring dengan lantai yang mengkilap, menciptakan gema yang seakan menegaskan dominasi baru di dalam benteng pertahanan keluarga Mozaus. "Kau terlalu memancing mereka di hari pertamamu, Tuan Muda," bisik Jenar pelan saat mereka menaiki tangga melingkar menuju lantai dua istana. Pengacara tua itu merapikan jasnya dengan tangan sedikit bergetar. "Tuan Dhandra tidak akan tinggal diam, ia sudah menguasai dewan direksi selama lebih dari sepuluh tahun. Seluruh kepala divisi di perusahaan adalah orang-orang pilihannya." Arkael memasukkan kedua tangannya ke saku jaket kulitnya, menatap lurus ke jajaran lukisan leluhur keluarga Mozaus yang tergantung rapi di sepanjang dinding lorong. "Orang yang paling lama berkuasa biasanya adalah orang yang paling ceroboh karena merasa tidak terkalahkan, Jenar. Biar mereka meremehkanku. Itu justru membuat langkahku jauh lebih mudah untuk merobohkan singgasana mereka dari dalam." Jenar terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan mengakui ketajaman pola pikir pemuda yang baru saja ditarik dari lumpur jalanan itu. Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda berukiran kayu jati tua dengan lapisan emas di setiap sudutnya. Jenar memutar kunci kuningan besar, membukanya lebar-lebar untuk memperlihatkan kamar tidur utama seluas apartemen mewah yang kini resmi menjadi tempat peristirahatan sang pewaris sah. "Ini adalah kamar mendiang kakekmu, sekaligus ruangan paling aman di seluruh kompleks istana ini," kata Jenar sambil melangkah masuk menyalakan lampu gantung kristal. "Kamera pengawas independen terhubung langsung ke tablet pribadiku, dan tidak ada satu pun pelayan yang diizinkan masuk ke ruangan ini tanpa seizin Anda." Arkael melangkah masuk, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra hitam terbentang di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak buku tua dan meja kerja mahoni yang dipenuhi tumpukan arsip perusahaan. Suasana kamar itu terasa sunyi, dingin, dan sarat akan sejarah kelam masa lalu keluarga Mozaus, ia mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah gerbang utama, melihat mobil-mobil keluarga besar mulai meninggalkan halaman parkir satu per satu. "Keluar dari sini, Jenar. Aku ingin istirahat," ucap Arkael tanpa menoleh ke belakang. "Baik, Tuan Muda. Pintu penghubung ke ruang kerja pribadi ada di sebelah kanan. Jangan ragu menghubungi saya jika terjadi sesuatu di tengah malam," jawab Jenar setengah membungkuk, lalu melangkah mundur keluar ruangan dan menutup pintu ganda itu rapat-rapat. Keheningan malam kembali mendekap erat tubuh Arkael begitu ia sendirian di dalam kamar luas tersebut. Arkael melepaskan jaket kulitnya yang kumuh, meletakkannya di atas kursi sofa beludru mewah. Perutnya terasa lapar, namun pikirannya jauh lebih mendominasi rasa lelah fisik yang mendera. Arkael tahu pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan darah orang tuanya menuntut keadilan yang hanya bisa dibayar dengan kejatuhan total dinasti Mozaus di tangan mereka yang berkhianat."Jangan sok mengatur di kamar ini, Tania. Kita hanya rekan bisnis." Arkael melepas jasnya dengan kasar di kamar pengantin mereka yang mewah.Suara hempasan kain jas yang jatuh ke atas sofa beludru memecah keheningan malam di dalam kamar tidur utama istana Mozaus. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding pualam. Arkael berdiri tegak di hadapan meja rias besar, melonggarkan ikatan dasi hitam di lehernya dengan gerakan kasar yang mencerminkan sisa-sisa emosi akibat insiden di ruang makan tadi.Tania yang masih berdiri di dekat pintu masuk melipat kedua tangannya di dada.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan rasa jengkel. "Kau tidak perlu bersikap seolah-olah aku berniat merusak malam pertama kita, Arkael. Aku juga tidak punya ketertarikan sedikit pun pada mantan pesuruh jalanan yang mendadak jadi pengusaha ini."Arkael berbalik, menatap tajam wanita di hadapannya dengan sorot mata sedingin es. "Bagus kalau
Cahaya lampu kristal raksasa memantulkan kemegahan ruang makan utama istana Mozaus, tempat di mana meja panjang berbahan kayu jati tua dipenuhi berbagai hidangan mewah. Bau daging panggang bercampur rempah mahal menguar di udara, namun atmosfer di sekeliling meja justru terasa sangat membeku dan penuh ketegangan. Dhandra, Kalandra, dan Bramantyo duduk menempati kursi kehormatan dengan ekspresi wajah yang mengeras sempurna begitu pintu ganda ruang makan terbuka lebar.Langkah kaki tegas menggema di atas lantai marmer, memecah kesunyian malam saat dua sosok manusia melangkah masuk berdampingan."Kenalkan, ini wanita yang akan dinikahi oleh pewaris tunggal keluarga Mozaus," ucap Arkael dingin, suaranya membelah ruangan tanpa keraguan sedikit pun.Ia menggandeng lengan Tania erat, membiarkan sosialita bergaun malam sutra hitam itu berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan di sampingnya.Kehadiran Tania di tengah-tengah benteng keluarga inti Mozaus langsung memicu gempa kecil yang mem
"Menikah denganmu demi harta keluarga Mozaus? Penawaran yang menarik, tapi apa untungnya buat aku, Arkael?" Tania menatap tajam sambil menyesap wine mahalnya.Suasana sudut VIP kelab malam yang remang-remang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.Cahaya lampu gantung kristal kecil di atas meja mereka memantulkan kilau merah keunguan di permukaan cairan merah pekat di dalam gelas kristal Tania.Wanita itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit hitam, melipat kedua tangan di depan dada dengan postur tubuh yang menunjukkan dominasi penuh.Arkael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, meresapi aroma alkohol dan parfum mewah yang menguar di sekitarnya. "Kau sudah menyebutkannya sendiri tadi, Tania. Kursi kepemimpinan Mozaus Corp tidak bisa diakses oleh orang luar tanpa aliansi darah atau pernikahan sah. Dengan menikahiku, kau otomatis melompati tembok pembatas kaum elite yang selama ini mengasingkanmu dari lingkaran inti dewan direksi."Tania mendengus pelan, sudut bibirnya
Dentuman bass musik elektronik berdenyut keras di balik dinding kedap suara klub malam Vortex, tempat di mana kemewahan dan dosa berpadu tanpa batas.Aroma alkohol mahal, parfum berkelas, dan asap shisha memenuhi udara remang-remang yang disiram cahaya laser merah-biru.Di sudut bar eksklusif lantai dua, Arkael melangkah pelan mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada penguntit dari kubu Paman Dhandra yang mengekorinya. Arkael datang bukan untuk mencari pelarian atau kembali ke masa lalunya yang kotor sebagai pria sewaan, melainkan untuk menemui informan lama demi mengamankan dokumen aset pribadinya sebelum klausul tiga puluh hari mengunci pergerakannya."Mencari mangsa baru atau sedang bersembunyi dari takdirmu, Arkael?"Suara desisan halus berbalut aroma parfum *om Ford yang pekat menghentikan langkah Arkael tepat di depan meja bar.Arkael menoleh perlahan.Di hadapannya, Tania, wanita sosialita elit dengan gaun mala
"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka."Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?""Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "D
"Selamat datang di kandang serigala, cucu malang." Sambutan penuh racun dari Bibi Kalandra menyambut langkah pertama Arkael menapaki lantai marmer putih kediaman utama Mozaus.Arkael menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan yang luasnya menyerupai balai istana kerajaan.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi memantulkan cahaya berkilau di atas permadani wol merah tua yang membentang luas.Di sekeliling ruangan, belasan anggota keluarga besar Mozaus duduk di kursi sofa bergaya klasik dengan tatapan menilai, mencemooh, dan merendahkan.Aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan udara yang pekat memenuhi rongga dada."Kandang serigala?" Arkael balas menatap Kalandra tanpa gentar sedetik pun.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis. "Sayangnya, aku terbiasa hidup di jalanan di mana kelaparan jauh lebih berbahaya daripada anjing peliharaan rumahan seperti kalian."Kalimat dingin itu langsung membuat rahang Kalandra mengeras.Wanita paru







